Boe
Sense, Conscience and Faith
Sunday, April 04, 2010
Topeka, Koteka dan Kathokan: information gap theory in action
Saya yang pagi-pagi sudah tertipu Google dan baru sadar sejam atau dua setelahnya merasa bahwa 'cerita' ini antik menarik. Begitu banyak hal unik di dalamnya: kreatifitas khas Google dengan 'Fiber for communities' nya, ungkapan terimakasih inovatif Topeka dengan mengganti nama menjadi Google selama sebulan, dan balasan 'tongue in cheek' Google atas ganti nama tadi. Maka iseng pula lah saya menulis kata 'Topeka' yang mewakili sebegitu banyak konsep dan event menarik tadi di status facebook awak. Tanpa terduga, beberapa teman lama membaca status tak jelas tadi dan menimpal komentar atasnya. Dua komentar pertama setelah 'TOPEKA'? well ... 'KOTEKA' dan 'KATHOKAN'. Dua teman yang menawarkan komentar ini memang agak-agak berlebih daya imajinasinya. Uniknya, mereka lulusan sekolah menengah kejuruan yang sama di Semarang sana. Komentar-komentar sisanya intinya senada: penasaran. Apaan sih Topeka itu?
Saya tergolong jarang mengupdate status di facebook. Senada dengan jarangnya blog ini diupdate. Dan kalaupun sempat mengupdate status, super jarang ada yang sampai tertarik mengomentari balik. Saya mahfum, topik-topik yang saya biasa taruh di status itu memang lebih sering personal, berpanjang kata dan terlampau spesialis. Tidak menarik khalayak ramai. Tapi kenapa selarik 'Topeka' justru bikin orang penasaran sampai-sampai sudi berkomentar?
George Loewenstein, ekonom lulusan Yale yang gemar mencampur psikologi ke dalam adonan ilmiahnya punya teori menarik tentang rasa penasaran. Teori Loewenstein dijuduli 'Information Gap Theory' dan intinya berargumen bahwa rasa penasaran seseorang terpancing ketika (1) ada gap informasi dalam benak yang tersadari dan (2) situasi tengah memungkinkan untuk menutup gap informasi ini. Ahoy, menarik juga! Perhatikan kata 'Gap', 'jeda', di sini. Kalau kita umpamakan serangkaian informasi yang terhubung sama lain sebagai batu bata yang dideret horizontal, kata 'gap' di sini mengimplikasikan absennya salah satu bata di deretan tadi. Artinya kita punya (setidaknya berpikir kalau kita punya) pengetahuan tertentu tentang deretan bata yang ada sebelum jeda, dan mungkin informasi tertentu (atau setidaknya ekspektansi tertentu) tentang deretan bata setelah jeda. Setiap kita punya jeda informasi. Ada begitu banyak informasi di dunia ini, tak mungkin seseorang tahu semua informasi yang ada. Namun tak setiap hari kita disuguhi kesadaran bahwa kita sedang menghadapi jeda informasi dan, sedapnya lagi, sedang dalam situasi yang memungkinkan untuk menutup jeda informasi ini.
Saya pikir, mungkin ini juga yang terjadi dengan status saya yang lain dari biasa tempo hari. Teman-teman saya tahu (dan mungkin berharap) bahwa status saya di facebook akan senantiasa membosankan atau paling tidak bertele-tele. Nah ketika suatu kali saya muncul dengan status yang cuma sekata dan artinya tidak serta-merta jelas macam 'Topeka', jeda informasi menghembalang sistem kognitif mereka. "Ini apaan?", mungkin mereka sempat pikir. Penasaran. Di sisi lain, sistem komentar di facebook memberi mereka fasilitas untuk menutup jeda informasi tadi. "Ngapain nebak-nebak kalau bisa tanya?" pikir mereka lagi. Maka merekapun menuntut penjelasan demi tutupnya gap informasi di benak masing-masing.
Saya pertama kali membaca tentang information gap theory nya George Loewenstein di buku menarik, 'Made to Stick' tulisan kakak beradik Chip & Dan Heath. Di buku ini Chip Heath, professor organizational behavior di Stanford menyarankan kalau teori Loewenstein bisa dipakai sebagai salah satu pointer dalam mengkomunikasikan ide ke satu kelompok audiens. Inti ide mereka: jangan sekedar mendeskripsikan satu ide, alih-alih ciptakan situasi di mana audiens njenengan merasa bahwa ada gap informasi dalam sistem kognitif mereka dan janjikan bahwa ide yang njenengan sedang 'jual' akan menutup jeda informasi tadi. Cerdas.
Tuesday, March 30, 2010
Mengajar = Menjelaskan + Menjual
Leo Szilard, ilmuwan asal Hungaria berdarah Yahudi ini termasuk dalam gelombang migrasi ilmuwan dari Eropa daratan menghindari pasang naik antisemitisme di Jerman. Sebelum meninggalkan Eropa, Szilard adalah salah satu murid Einstein dan Max Plank di Berlin. Tak lebih dari setahun sebelum Fermi hijrah ke Columbia University, Szilard sudah lebih dulu diundang untuk melakukan penelitian di universitas ini. Szilard adalah pemikir fisika pertama yang menduga kemungkinan reaksi fisi nuklir berantai yang memungkinkan akumulasi energi maha besar ala bom nuklir. Szilard juga memegang hak paten reaktor nuklir pertama bersama Enrico Fermi.
Sedikit berbeda dari Fermi yang lebih berkonsentrasi ke sisi akademik penelitian nya, Leo Szilard gelisah akan implikasi geopolitis riset nuklir. Konon, peneliti-peneliti Jerman yang bersimpati akan ide Sosial Nasionalisme pun telah menemukan prinsip-prinsip fundamental reaksi fisi, dan penelitian ke arah pembangunan senjata pemusnah massal menggunakan prinsip ini mengintip di balik tikungan sejarah. Leo Szilard khawatir bahwa Nazi Jerman akan lebih dulu membangun bom nuklir ketimbang lawan-lawannya. Terlebih lagi, pemerintah Amerika nampaknya suam-suam kuku saja menanggapi perkembangan yang buat Szilard sangat mengkhawatirkan ini. Maka Szilard pun bergerak aktif melobi guru lamanya, Albert Einstein, untuk membujuk presiden Frank D. Roosevelt bersegera melancarkan penelitian terapan yang lebih gencar dalam merakit bom nuklir. Sebagian karena aktivitas Szilard lah proyek Manhattan terbentuk dan bom nuklir terlahir di tanah Amerika.
Satu episode menarik dari drama besar ini terjadi ketika Einstein telah bersetuju dengan Szilard untuk menulis surat ke Presiden Roosevelt menegaskan pentingnya Amerika bergegas merakit bom nuklir. Banyak fisikawan di masa itu mampu dan mumpuni memberi kuliah panjang lebar tentang mekanisme fisi nuklir dan menerangkan kemungkinan pembangunan senjata mutakhir menggunakan mekanisme ini. Namun Einstein mempercayakan misi untuk meyakinkan Roosevelt akan issue kritis ini bukannya ke salah satu fisikawan, namun justru ke seorang ahli ekonomi, Alexander Sachs.
Alexander Sachs lahir di Lithuania namun hijrah ke Amerika Serikat ketika masih berusia 11 tahun. Sachs meraih gelar pasca sarjananya dari Harvard untuk kemudian menjadi professor ekonomi di Princeton. Di era 1930an, Sachs adalah salah seorang penasihat ekonomi presiden Roosevelt.
Konon, Leo Szilard sempat berkomentar pesimis akan kemampuan Sachs memahami dan menjelaskan konsep-konsep susah fisika nuklir ke presiden Roosevelt secara runut dan logis. Tanggapan Einstein akan keberatan Szilard ini buat saya punya insight menarik akan esensi komunikasi dan, secara tidak langsung, mengajar:
"Szilard, kamu memandang cara pikir rasional terlalu tinggi. Terkadang dalam hidup, kita mesti menjual, bukan menerangkan."
Menarik.
Saya pikir, persis di sinilah masalah kita dalam mengajar. Seringkali proses mengajar dalam kelas bertumpu terlalu berat pada aktivitas menerangkan. Padahal, kalau mau dievaluasi secara kasar, saya pikir anak sekolah di Indonesia, Amerika atau mana saja, akan lebih mudah mengulang jingle atau motto salah satu iklan yang mereka dengarkan di TV atau lihat di spanduk pinggir jalan ketimbang mengulang satu kalimat yang guru mereka utarakan di kelas hari itu. Saya bahkan berani bertaruh kalau kita faktorkan variabel frekuensi ke dalam perbandingan ini, dengan mengijinkan sang guru mengulang-ulang satu kalimat yang sama sejumlah ulangan salah satu jingle iklan di TV dalam sehari, saya pikir si anak masih akan tetap lebih bisa mengingat jingle iklan tadi. Menjual sesuatu bukanlah sekedar mengulang selarik kalimat lagi dan lagi. Ada lebih banyak rahasia dan lika-liku yang terlibat di satu proses menjual.
Kalau kita ibaratkan keduanya sebagai penembak tepat di masa perang, 'menjelaskan' punya sasaran yang berbeda dari 'menjual'. Proses menjelaskan suatu konsep mencoba bicara ke sisi kognitif individu yang tengah diajar, sementara proses menjual suatu benda atau konsep mengikutkan sisi emosi individu yang sama. Seseorang yang sekedar menjelaskan sesuatu tak perlu ambil pusing apakah hal yang tengah diajarkannya menarik atau relevan bagi murid didiknya. Sementara seseorang yang tengah menjual sesuatu mesti mencoba mengaitkan 'barang' (atau konsep) yang tengah dijualnya dengan konteks dan kebutuhan pelanggannya. Ia mesti mulai dari menciptakan sebentuk kekosongan dalam diri sang pelanggan yang hanya dapat diisi dengan barang jualannya.
Dalam pengalaman saya mencoba mengajar, sering tertemukan wajah-wajah capek atau acuh dalam kelas. Tak peduli sejelas ataupun selengkap apapun saya mengajar, wajah-wajah capek dan acuh tadi biasanya tak berubah jadi berbinar mengerti dan antusias. Bisa jadi di sinilah praktik saya mengajar, dan praktik siapapun juga yang punya tugas mengajar, bisa diperkaya dari komentar Einstein tadi: manusia bukan melulu makhluk rasional. Penjelasan-penjelasan gamblang tidak otomatis membangkitkan inspirasi dan rasa ingin tahu dalam diri manusia. Dari 24 jam yang seseorang punya dalam sehari, besar kemungkinan hanya se per delapan nya terhabiskan sebagai makhluk rasional yang mengambil keputusan secara logis. Sementara sisanya, kita mesti dibujuk, dibuali, dihipnotis untuk membayar perhatian ke satu even atau satu ide eksklusif. Itu sebabnya advertising dan marketing adalah seni tersendiri. Mungkin kalau saya, dan guru-guru lain, mulai belajar jualan, menciptakan 'kebutuhan untuk tahu sesuatu' di benak dan emosi murid-murid saya sebelum nyerocos menjelaskan prinsip, konsep dan mekanisme, mungkin kelas-kelas saya akan punya lebih banyak wajah antusias dan ingin tahu. Dan sangat mungkin, hanya setelah kita belajar untuk menjual dan menjelaskan, baru kita tahu benar cara mengajar.
Monday, March 08, 2010
Ada apa di balik segregasi rasial?
Tidak sampai seratus tahun lalu, segregasi rasial yang terterjemahkan dalam bentuk pemisahan fasilitas antara mereka yang berkulit putih dan gelap adalah hal jamak di Amerika Serikat. Di dalam bus, mereka yang berkulit hitam mesti duduk di tempat paling belakang dan kalau ada yang berani-berani menempati tempat duduk yang dikhususkan buat orang kulit putih, hukuman verbal (dan seperti di kasus Rosa Parks, konsekuensi legal) biasanya tak terelakkan. Konon kabarnya, Martin Luther King Jr. punya pengalaman traumatis macam ini semasa sekolah. Sepulang memenangkan kompetisi orasi di kota lain bersama salah seorang gurunya, Martin muda kena semprot karena 'lancang' duduk di tempat yang 'salah'. Ketika ia mencoba untuk menerangkan bahwa tidak ada tempat duduk lain di bus dan Martin serta gurunya lebih dulu naik ke bus bersangkutan, cacian yang menimpali bukannya menyurut. Dalam salah satu tulisan autobiografisnya, Martin Luther King Jr. mengingat bahwa selama berdiri beberapa jam dalam bis dalam perjalanan pulang ke Atlanta, ia "belum pernah merasa semarah itu sebelumnya, dan bahkan semenjak itu." Martin muda merekam observasi intuitif yang saya rasa terngiang juga di benak kolektif kita, "... ada sesuatu yang benar-benar salah di sistem ini."
Di Amerika pra 1950'an, bukan hanya bus saja yang tersegregasi, fasilitas-fasilitas sepele macam pancuran tempat minum dan kamar mandi pun tak lepas dari politik pemisahan ras. Bagaimana dengan fasilitas-fasilitas yang lebih besar dan kompleks macam sekolah, universitas dan rumah sakit? Tak ada bedanya. Bahkan organisasi-organisasi yang dalam bayangan saya otomatis punya nilai universal macam Boy Scout (semacam Pramuka) dan YMCA (Young Men's Christian Association) pun tak luput dari belenggu paradigma segregasi. Gerakan hak asasi sipil yang sepanjang era 1950 sampai 1960an banyak membawa perubahan dalam tatanan sosial masyarakat Amerika Serikat, termasuk di dalamnya intervensi-intervensi pemerintah dalam menghentikan praktek segregasi rasial.
Di tahun 1954, Mahkamah agung Amerika Serikat memandatkan integrasi rasial di seluruh sekolah di Amerika. Artinya, sekolah-sekolah di banyak tempat di Amerika Serikat saat itu yang sebelumnya tertutup buat anak-anak dari ras di luar kaukasoid mesti membuka pintunya untuk menerima murid-murid berkulit hitam (kuning, merah atau cokelat). Tidak semua komunitas di Amerika setuju atau peduli akan mandat tersebut. Kantong-kantong komunitas yang sebagian besar berlokasi di negara-negara bagian selatan macam Alabama dan Mississippi, bersikeras membangkang dengan alasan negara mesti melindungi hak-hak individu. Seiring dengan waktu, jumlah sekolah yang masih bersikeras menerapkan politik segregasi dalam menerima siswa baru pun makin menipis. Saat ini, saya rasa tidak ada sekolah di Amerika Serikat yang masih terang-terangan menerapkan prinsip segregasi dalam menerima siswa-siswa nya.
Setidaknya itu perasaan saya sampai tertonton film dokumentasi berjudul "Prom night in Mississippi". Film menarik ini (Official Selection, Sundance Film Festival 2009) bercerita tentang sebuah sekolah setaraf SMA di Charleston, Mississippi. Charleston bukan kota besar, populasinya pun cuma 2100 orang. Terletak di salah satu wilayah setara kecamatan termiskin di Mississippi, negara bagian yang jamak tertemukan di tiga besar negara bagian termiskin di Amerika Serikat, perubahan berjalan selambat siput di Charleston High School. Meski palu mandat integrasi rasial untuk sekolah-sekolah di Amerika Serikat sudah terketok tahun 1954, Charleston High School baru membuka pintunya buat pelajar kulit hitam di tahun 1970. Lebih uniknya lagi, Charleston High School punya tradisi Prom terpisah. Prom, sebutan singkat untuk 'Promenade', adalah acara dansa akhir tahun untuk siswa-siswa jenjang terakhir, macam acara perpisahan setelah kelulusan yang marak juga di Indonesia. Di Charleston High School, Prom biasanya diatur oleh orang tua murid dan sekolah. Sampai tahun 2008 lalu, Charleston High School punya dua Prom tiap tahunnya: satu buat siswa kulit putih, satu buat siswa kulit gelap. Segregasi rupa-rupanya masih hidup di Charleston, MS.
Charleston, meski kecil dan terbelakang, rupa-rupanya punya magi tersendiri. Morgan Freeman (Shawsank Redemption, Invictus), salah satu aktor watak kawakan kesukaan saya, memilih untuk tinggal di kota sepi ini. Semasa kecil, Morgan sempat tinggal di Charleston bersama kakeknya. Demi mendengar praktik segregasi di SMA lokal, Morgan pun tergelitik untuk berkontribusi memutus tradisi kadaluwarsa ini. Dalam bahasanya sendiri, "... kita mesti jadi katalis untuk menghentikan praktik bodoh ini." Apa akal? Sederhana. Morgan Freeman menawarkan untuk membayar pengeluaran untuk Prom tahun 2008 kalau anak-anak Charleston High School diperbolehkan untuk mengatur Prom nya sendiri, dan membuat event Prom tersebut bersama antara yang kaukasoid dengan yang berwarna. Sekolah mengizinkan, sebagian besar anak-anak Charleston High pun antusias menyambut tawaran tadi. Seorang bahkan sempat bertanya, "Sir, what is our budget limit?", kami punya anggaran berapa 'ya untuk Prom ini? Morgan Freeman menjawab dengan senyum dikulum "limitless." Terserah kamu. Wow.
"Prom Night in Mississippi" bercerita tentang perjalanan persiapan dan perayaan Prom bersama ini, dari saat Morgan Freeman melempar tawaran sampai di malam Prom nya sendiri. Film ini merekam emosi, opini, antusiasme dan skeptisisme banyak pihak: kepala sekolah, guru-guru, siswa yang pro Prom bersama, siswa yang kontra Prom bersama, dan orang tua murid. Dan dari beberapa puluh sketsa ini, muncul gambar yang buat saya menarik. Pertanyaan yang menghembalang benak saya adalah: bagaimana bisa satu komunitas yang sudah tiga puluh tahun terintegrasi, setidaknya demikian tampaknya dari luar, ternyata masih menyimpan paradigma laten yang mempercayai pentingnya segregasi antar ras?
Dalam studi psikologi sosial, pertanyaan macam ini punya sejarah diskusi panjang (Pettigrew & Tropp 2005). Konon di akhir abad ke-19, ide terdepan psikologi sosial mendikte bahwa kontak antar dua grup (banyak hal dapat membentuk 'grup' seperti gender, sumber pemasukan dan latar belakang pendidikan, salah satu yang paling jamak: ras) hampir pasti berakhir di konflik. William Graham Sumner, professor sosiologi pertama di Amerika Serikat (Yale College), berpendapat bahwa, secara otomatis, tiap grup punya pendapat bahwa dirinya lebih superior dibanding grup lain dan karenanya konflik tak mungkin terelakkan ketika dua grup bertemu.
Beberapa penelitian empiris di 1930 sampai 1950an menunjukkan hasil-hasil yang tak selalu sesuai dengan ide Sumner akan hasil akhir kontak antar grup. Salah satu riset empiris yang mulai mengubah paradigma akan interaksi antar grup ini sempat diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "Interracial Housing" di tahun 1951. Di tahun 1949, pemerintah Amerika memutuskan untuk memperbaharui wilayah-wilayah kumuh di kota-kota dan membangun kompleks-kompleks apartemen baru yang lebih layak. Kebijakan ini punya konsekuensi yang lebih luas dari pada peremajaan kota, karena dalam praktiknya banyak kompleks apartemen baru yang kemudian membuka pintunya untuk penghuni dari segala ras. Sebelumnya, paradigma segregasi rasial yang marak di utara dan selatan Amerika Serikat membuat praktik ini sama sekali tak terbayangkan. Bahkan di tahun 1949 pun, tak semua kompleks apartemen baru mempersilahkan penghuni dari semua warna kulit. Sebagaimana sekolah-sekolah, banyak juga kompleks-kompleks yang bersikukuh menyewakan apartemennya hanya ke penghuni kulit hitam atau kulit putih. Morton Deutsch dan Mary Evans Collins, sosiolog dari New York University melihat kesempatan menarik untuk menelisik efek kontak antar ras di beberapa apartemen terhadap cara seseorang berpikir dan merasa akan ras lain. Di pihak lain, hasil ini dapat kemudian dibandingkan dengan cara seseorang yang memilih tinggal di apartemen eksklusif ras berpikir dan merasa akan ras lain. Hasilnya? Deutsch dan Collins menemukan bahwa kontak dengan grup rasial lain ternyata punya dampak positif akan image seseorang akan grup rasial bersangkutan. Semakin lama seseorang tinggal, bertukar sapa dan bertetangga dengan seorang lain dari ras yang berbeda, semakin terkikis prasangka rasial yang ia punya.
Berangkat dari buku Deutsch dan Collins dan buah-buah riset lain dari tahun 1930-1950an, Gordon Allport, professor psikologi dari Harvard, menulis sintesis klasik akan prasangka: "The Nature of Prejudice". Buku ini sempat diterbitkan dua kali, tahun 1954 dan 1979, dengan versi pendek (abridged) diterbitkan tahun 1964. Di bab 16, The effect of contact, Allport menulis ide menarik menantang ide psikologi sosial abad sebelumnya: kontak antar grup (termasuk di dalamnya grup rasial) tak selalu berakhir dalam konflik. Terkadang, dengan menetralisir prasangka antar ras, kontak antar grup punya dampak positif terhadap hubungan antara kedua grup. Di kala lain, kontak antar grup justru membuat prasangka antara ke dua grup yang tengah bertemu makin menjadi. Walhasil konflik lah buntutnya. Allport menyarankan bahwa ada beberapa hal yang mesti terjadi untuk membuat kontak antar grup rasial efektif menetralisir prasangka antara keduanya: (1) Kedua grup mesti punya status yang setara ketika mereka bertemu, (2) Grup-grup yang tengah bertemu mesti punya tujuan bersama (contoh: di kesebelasan internasional macam Chelsea, Didier Drogba dan Joe Cole punya tujuan bersama) (3) Tujuan bersama ini hanya bisa tercapai jika kedua grup bekerja sama (4) Ada dukungan institusi sosial yang lebih tinggi (contoh: pemerintah dalam proyek perumahan bersama dalam penelitian Deutsch dan Collins di atas, klub bola dan fans sedunia dalam kasus Drogba dan Cole).
Menarik, pikir saya. Di komunitas macam Charleston High School, faktor-faktor seperti kesetaraan status dan keberadaan institusi sosial yang lebih tinggi (contoh: sekolah) jelas ada. Namun apakah siswa-siswa di sana punya tujuan bersama di mana mereka mesti bekerja sama? Hmm.. mungkin nggak juga. Mungkin itu sebabnya 30 tahun kontak tak membuat integrasi jadi otomatis? Mungkin justru di sinilah ide Morgan Freeman menunjukkan sisi jeniusnya tersendiri: dengan memercikkan kemungkinan Prom bersama, didukung dana tak berbatas dan menyerahkan organisasinya ke siswa-siswa sendiri, Freeman menciptakan tujuan bersama yang hanya bisa dicapai dengan kerja sama antara kedua grup.
Lima puluh tahun sejak "The Nature of Prejudice" pertama kali diterbitkan, Thomas Pettigrew, salah satu murid Gordon Allport, mengevaluasi ulang hipotesis gurunya. Thomas Pettigrew dan Linda Tropp (2004) menganalisis ulang hasil dari 515 penelitian kontak antar grup dari tahun 1940an sampai tahun 2000. Dari ke 515 penelitian ini, didapat 714 kasus kontak antar grup yang melibatkan 250,943 orang dari 38 negara. Dari meta-analisa kasus-kasus ini, Pettigrew dan Tropp menunjukkan bahwa di 95% dari 714 kasus, kontak antar grup berhasil menurunkan prasangka antara keduanya. Menariknya hanya 19% dari seluruh kasus menunjukkan keberadaan empat faktor positif sebagaimana yang disarankan Allcot. Artinya? Baik dengan atau tanpa empat faktor positif tadi, kontak antar grup punya efek positif akan hubungan antara ke dua grup. Pettigrew kemudian menyarankan bahwa mungkin hipotesis Allport mesti sedikit dimodifikasi: mungkin kontak antar grup sudah semestinya mengikir prasangka antara keduanya, namun ada faktor-faktor negatif yang dapat menghalangi proses ini. Pettigrew menyarankan beberapa hal yang dapat menjadi faktor negatif penghalang: emosi macam kegelisahan dan rasa terancam yang sering kali terjadi di awal kontak antar grup, misalnya.
Setengah ke dalam film "Prom Night in Mississippi", perlahan nampak bahwa tak semua siswa di Charleston High bungah akan ide Freeman. Alasannya bermacam: ada yang bilang, "takut gak lagi diaku anak kalau sampai ketahuan ikutan Prom bersama", ada juga yang terang-terangan bilang kalau Prom bersama itu "ide bodoh". Satu potret menggelitik muncul juga dari kalangan orang tua murid. Terasa ada perasaan aprehensif, was-was, akan apa yang akan terjadi. Lebih dari itu, terasa juga bahwa tidak ada orang tua yang merasa bahwa Prom bersama adalah ide bagus. Komentar mereka berbagai-bagai meski senada: "Hmmm... dulu waktu jaman kami nggak begitu...". Bedanya, ada yang kemudian menyerahkan keputusan ke anak-anaknya dan ada yang mengambil keputusan buat anaknya: kamu gak boleh datang ke Prom barengan itu. Di sisi lain, ada anak-anak yang setuju dengan orang tua mereka, sementara ada yang diam-diam tak setuju namun tak kuasa menolak otoritas pragmatis orang tua.
Terasa ada yang janggal dari kedegilan beberapa orang tua murid menolak ide Prom bersama ini. Di salah satu bagian film, beberapa orang tua kulit putih bertemu dan ngobrol tentang ide Prom bersama ini. "Nggak akan kami ijinkan anak kami datang ke Prom bersama itu", kata seorang. "Iya, bayangkan anak-anak kita bakal berdansa dan bergesek kulit dengan anak-anak kulit hitam.", timpal yang lain, bergidik. Buat mereka, yang jadi masalah bukanlah dansa atau bergesek kulitnya sendiri, namun dengan siapa anak-anak mereka melakukannya. Ada tensi, ketakutan, kegelisahan (??) sensual yang mencuat di sini.
Di bagian film lain, beberapa pertanyaan personal dilempar ke siswa-siswa Charleston High: "pernah nggak ngedate ama cowok atau cewek dari ras lain?". Selain satu pasangan antar ras di sekolah itu, jawaban mereka universal: "belum". Ketika ditanya "bakal nyoba nggak di masa depan?", banyak mereka dengan agak malu bilang, "nggak." Bahkan mereka yang tak berkeberatan pergi ke Prom bersama, berteman baik dengan seseorang dari ras lain pun bilang "nggak." Ada yang menarik di sini.
Sempat juga tertangkap Morgan Freeman merenungi segregasi rasial di kota tempat tinggalnya, "kamu nggak akan denger ini dibicarakan terang-terangan, tapi segregasi yang sebenarnya itu antara cewek kulit putih dan cowok kulit hitam."
Sekali lagi: seks dan intimasi antar ras. Inikah sumber ketakutan yang menghalangi proses interaksi antara kedua ras di Charleston High selama ini?
Bisa terbayangkan seseorang dengan paradigma evolusi menyarankan bahwa faktor negatif yang mengganggu proses interaksi antara dua ras ini (dan mungkin semua grup lain?) pada akhirnya adalah ketakutan akan kikisnya populasi ras sendiri. Tanpa sadar kita mencoba untuk melanggengkan gen-gen yang membentuk ras kita (ala "selfish gene"nya Richard Dawkins) dan melihat kemungkinan akan campur cemampurnya gen antar ras sebagai ancaman tersendiri. Penjelasan ini terasa terlalu simplistis. Jika penjelasan macam ini benar, tembok yang ada antar grup rasial bakal lebih tebal dan sulit ditembus oleh siapapun di Amerika Serikat (atau di mana pun di dunia). Fakta bahwa di tahun 2008, Charleston High School adalah kasus unik di Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 99% populasi Amerika Serikat tidak lagi (atau mungkin tidak pernah benar-benar merasakan) merasakan kegelisahan 'genetis' ala Dawkins.
Ada kemungkinan situasi Charleston yang terpencil dan terisolasi dan fakta bahwa belum pernah ada kesempatan untuk mengambil langkah 'raksasa' mengadakan Prom bersama sebelumnya ada hubungannya dengan retensi ketegangan rasial di komunitas ini.
Di pihak lain, bisa jadi segregasi rasial dalam skala mikro seperti yang terjadi di Charleston High sebenarnya adalah fakta hidup di mana pun kita berada, tanpa ada hubungannya dengan status isolasi sosial suatu komunitas. John Dixon, peneliti di departemen psikologi di Lancaster University, Inggris, punya dua paper menarik bersama dengan kolega-koleganya mendokumentasikan segregasi mikro macam ini. Paper mereka yang pertama menilik interaksi grup-grup rasial di pantai-pantai publik Afrika Selatan sementara paper ke dua mendokumentasikan interaksi grup-grup rasial di kafeteria salah satu kampus di Inggris. Dixon menunjukkan bahwa segregasi mikro dalam bentuk pemakaian ruang bisa diamati di kedua kasus di atas. Di pantai-pantai di Afrika Selatan, wilayah-wilayah tertentu biasanya dipakai oleh grup-grup rasial tertentu pula. Demikian juga di kafeteria di salah satu kampus di Inggris. Lebih menariknya, ketika jumlah pemakai pantai dari salah satu grup rasial meningkat melebihi titik tertentu, biasanya orang-orang dari grup rasial yang lain kemudian bertendensi untuk angkat kaki dari pantai tadi. Merasa tak nyaman, mungkin? Terancam?
Boleh jadi pada akhirnya, hubungan antar grup manusia, grup apapun juga, adalah soal sulit yang membutuhkan banyak kerja dan waktu untuk membuatnya berjalan mulus. Mungkin memang ada yang, secara inheren, salah dengan cara kita berinteraksi dengan yang lain, sehingga tak butuh banyak untuk membuat interaksi antar manusia melenceng, disalah mengerti, dan berakhir pada konflik. Di depan latar muram ini, ada secercah pengharapan. Fakta bahwa di sebagian besar Amerika Serika sekolah-sekolah (dan fasilitas-fasilitas umum lain sudah terintegrasi penuh setidaknya secara makro menunjukkan bahwa sesulit-sulitnya hubungan antar grup manusia, harmoni adalah sesuatu yang tidak mustahil. Kita cuma perlu memahami bahwa kerja menuju harmoni yang sungguh meresap di skala mikro belum selesai.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Allport, G.W. 1954. The Nature of Prejudice. Addison-Wesley: Cambridge, MA.
Dixon, J.A., Tredoux, C. and Clack, B. 2005. On the microecology of racial division: a neglected dimension of segregation. South African Journal of Psychology 35:395-411.
Clack, B., Dixon, J.A., and Tredoux, C. 2005. Eating Together Apart: Patterns of Segregation in a Multi-ethnic Cafeteria. Journal of Community and Applied Social Psychology 15:1-16.
Pettigrew, T.F. and Tropp, L.R. 2005. Allport's Intergroup Contact Hypothesis: Its History and Influence. in Dovidio, J.F., Glick, P., and Laurie, A.R. (eds) On the Nature of Prejudice: Fifty Years after Allport. Blackwell: Malden, MA.
Saturday, January 30, 2010
Puff the magic dragon: illustrated
The trio has aged, yet there is something sweet and playful in the way they sang the song differently when they have aged. There's a comfortable and an open hand way about the way they sang it in the second clip. I just love the way they interjected the 'present tense' stanza to the old number. It may yet be another clue to growing, and I'm sure I'm shooting in the dark when I say this: growing may well entail finding (or stumbling on) that magic of being less self-conscious. I'm not saying it right. But that may be because I'm still groping about it myself. In any case, enjoy the two clips:
old
new
Thursday, January 28, 2010
Puff the Magic Dragon
What had happened to that youthful ideal? To the dreams of adventures and journeys? To things imagined and dreamed?
Growing and living dreams do have their own dangers: you get used to your dreams and their initial glows dimmed quite significantly. Daily life happened and stole your perspectives. It is a precarious act indeed to gain wisdom and true perspective of the world, yet to remain hopeful and enthusiastic about the world.
A song by Peter, Paul and Mary pictures it beautifully, and then some. In "Puff the Magic Dragon" they eloquently sang it: "Painted wings and giant's rings make way for other toys". To me, it is a poignant picture of growing pains. Of, without meaning it, letting go old familiar dreams and yearnings for other, more grown up, things. Yet, there may be truth to be gleaned from this: if the whole life is just a toy hunt after another, maybe it deserves to loose its glow. Thus may be the wisdom: not that our toys should change with the passing of season and years. But that the excitement once satisfied only with toys should now be fulfilled by other things. These things may well be beauty, wisdom, kindness, friendship, a possibility of lending hands and sharing. Growing, indeed, is a process of palate refinement.
Friday, January 08, 2010
What is a job?
What is a job?
Is it something that you do as a function of your passion? or your skill? or your training? or a need in the society? or simply something that you do to earn money? or all of the above? or none of the above?
Is it justifiable to have some sort of a combination of these five factors (or other possibilities that I have not listed there)? Maybe passion and training but not a need in the society? Or skill and a way to make money but not a passion? I can surely think of cases where it is justifiable. In times of war when luxuries like research on some obscure insect's ecology is not a priority, I think it makes sense that not everyone with training, skill and passion of such research should get to do it, if any. Yet again, even such limiting situations are limited. Not all situations are limited situations. If any, I do think that we live in a somewhat less lilmited situation. Where all the five factors can be pursued rather freely. In this kind of situation then, what is the justification of working a job that is either not your passion, or not fulfilling some need in the community?
Friday, November 27, 2009
Dari sini
Setelah sekian belas tahun, sekian ratus kali sakit kepala, sekian puluh bahagia (karena pemahaman dan pengetahuan punya efek ekstasinya sendiri, percayalah), dan sekian ribu ragu-ragu, setelah itu semua, terbit juga pengakuan dari satu padepokan, satu institusi pendidikan: dirimu adalah philosophiae doctor, guru filsafat. Bukan, bukan (atau tidak selalu) filsafat sebagai carang ilmu. Namun filsafat dalam artinya yang lebih luas: filo-sofia. Cinta akan kebijaksanaan.
Beberapa hal yang tersadari: dari titik ini, keingintahuan itu mesti mencari jalannya sendiri. Jalan terstruktur yang dibikin orang untuk memenuhkan keinginan untuk tahu berhenti di sini. Sekarang saat untuk aktif membuat jalan serupa buat orang lain.
Di sisi lain, justru di titik ini proyek ambisius untuk memetakan batas-batas pengetahuan tadi bisa dievaluasi lagi. Tersadar juga bahwa pengetahuan manusia luas dan dalam benar cakupannya. Tak tercapai benak untuk bisa menyelesaikan proyek ini. Dan di sini, seseorang bisa memilih: frustrasi atau terbebaskan. Bukannya terbebaskan untuk kemudian tidak meneruskan proyek tadi. Namun terbebaskan dari refleks rasa rendah diri ketika lapangan maha luas tak terjangkau. Dan terbebaskan untuk dengan rendah hati memilih lapak kecil di antara luasnya lapangan tadi. Lapak kecil yang jadi bagian sendiri. Dan berkonstrasi, mencurahkan seluruh diri dalamnya.
Thursday, October 01, 2009
China: it's complicated...
Pagi tadi saya nyetel TV dengan secangkir kopi di tangan, berharap mendapat kabar tentang gempa di Padang. Gambar di layar menunjukkan gedung ikonikdi New York dan sempat pula tertangkat sepenggal kalimat sang pembawa berita "... Empire State Building with yellow and red collor to honor the anniversary of the People's Republic of China." Eh?Ah ya. Hari ulang tahun RRC. Itu saya sudah tahu. Tiap Rabu malam, gereja saya di sini menggelar community course Conversational English. Kelas-kelas Conversational English ini biasanya kebak dipadati mahasiswa-mahasiswa dari China yang berniat mengasah kemampuan ngobrol bahasa Inggris. Tapi malam tadi, tiba-tiba kelas-kelas kami lengang. Di kelas yang saya ampu, lima siswa dari Cina tak datang malam tadi. Ada dua research scholar dari China yang tetap datang, sisanya murid-murid dari Korea, Jepang dan Ethiopia.
Di saat rehat, saya sempat ngobrol dengan salah satu visiting scholar.
"Wah, sepi juga ya nggak ada temen2 mahasiswa dari China yang datang malam ini."
"Iya," katanya, "mereka pada pergi ke student center, nonton pawai dan perayaan proklamasi di layar lebar. Sehabis kelas ini nanti, saya dan Jing (research scholar yang satu lagi) juga mesti buru-buru ke sana."
"O ya?" Dengan naifnya saya berkomentar, "Wah wah.. pada segitunya ya.. Di Indonesia kayanya nggak sebegitunya deh. Saya dan teman-teman sebaya di Jerman dan di sini biasanya nggak sampai bela-belain nonton pawai perayaan kemerdekaan di Indonesia."
Ping tertawa dengan matanya. Sejenang ditatapnya muka saya dengan senyum mengambang yang entah kenapa, terasa misterius. "Ah, alasan politik kok itu. It's complicated." Dan dengan senyum yang masih mengambang di bibirnya, ia pun berbalik ke arah dispenser air minum.
Tinggal saya sendiri yang ngungun sekaligus bergidik akan implikasi komentar Ping barusan. "Buset... ini tahun 2009 kan ya?"
(gambar Empire State Building di atas saya culik dari emergingcapital.blogspot.com)
Tuesday, July 14, 2009
Kanker, Allah dan Iman
Pukul 08.30 saya tengah bersiap berangkat ke lab, Saisree menelepon lagi. "Buyung, bisa minta tolong diantar ke rumah sakit?", hmm.. pikir saya, serius juga kedengarannya. "OK, datang kemari ya." Saya bilang. Tak ada lima belas menit Saisree sudah sampai di rumah bersama Michael, seorang teman lain yang rupa-rupanya menemani Saisree ke klinik barusan. Michael menerobos masuk ke kamar saya, menangis tak berhenti. Lho lho.. lha kok pakai menangis segala? Mata Saisree pun merah, suaranya tertahan di kerongkongan. "Ada apa?" tanya saya, kali ini yakin kalau ada apa-apa. "Kanker." Michael cuma berhasil membuka mulut untuk seucap kata yang beratnya bak palu godam itu. Beberapa jenak saya cuma bisa bengong. Kanker? Di usia 25? Saisree baru tahun lalu memulai kuliah post grad nya di bawah bimbingan profesor saya. Ia masih muda, brillian, jenaka pula. Baru bulan lalu paper nya diterima dan dibacakan di konferensi Plant Growth Promoting Rhizobacteria internasional di India. Kanker?
Sisa Jumat lalu serba kabur di benak saya. Kami terburu menuju East Alabama Medical Center, beberapa ampul darah kembali diambil, dokter datang dan memberi kabar: potensi CML, Chronic Myelogenous Leukemia. Kanker darah putih kronis. Untuk diagnosis yang lebih pasti, test mutasi genetis mesti dilakukan pada genome dalam darah. Mesti menunggu seminggu lagi. Kami banyak diam hari itu. Meski saya coba juga mencairkan suasana, namun kelu dan kaku hati sendiri susah diajak bercanda. Perkara hidup-mati rupa-rupanya masih punya harga tersendiri: enggan ia berbagi tempat dengan sisi ringan hidup macam canda dan ketawa. Sabtu dan Minggu bergerak super cepat. Kami banyak berdoa dengan Saisree. Pertanyaan tak terelakkan pun terucap dari bibirnya: "Kenapa ya Allah?" Kenapa?
Saya bisa mengerti. Sayapun akan menanyakan hal yang sama. Manusia sudah menanyakan hal yang sama sejak lama. Sebagian umat kehilangan imannya karena pertanyaan macam ini seolah tak terjawab: membal di hadapan dinding bisu realitas. Dalam bahasa dillema David Hume: Allah yang maha baik tidak akan membiarkan manusia yang dikasihiNya menderita. Allah yang Maha Kuasa akan mampu mencegah penderitaan (seperti bencana alam, atau kanker) menimpa manusia yang dikasihiNya. Kalau pada kenyataannya kita melihat begitu banyaknya manusia yang menderita (oleh bencana alam, perang ataupun penyakit), apakah artinya Allah tak Maha Kuasa atau Allah tak Maha Baik?
Saya tak sedang ingin berpanjang argumen menyanggah Hume, meski saya pikir banyak yang bisa dikritik dari premis-premis dillema Hume di atas. Adalah satu hal untuk bicara filsafat di kelas, di forum terbuka di antara kontributor yang sama-sama hobi berpikir sambil serupat-seruput kopi hitam tanpa gula. Adalah hal lain untuk memikirkan dan merenungkan masalah ini di hadapan teman baik yang berlinang air mata dan dengan sungguh hati menanyakan pertanyaan yang sama pada Allah.
Saya tak punya kata-kata bestari buat Saisree. Tak ada insight istimewa yang mampu menerangi keadaanya saat ini. Dari tempat saya berdiri, tak ada jawaban, searif apapun, dari masalah Theodisi ala Hume di atas yang bisa bikin hati Saisree lebih sumringah. Ironis. Kita formulasi masalah praktis jadi problem filsafat, dan kita kutak-katik problem tadi dengan logika. Namun ketika problem filsafat tadi terterjemahkan kembali sebagai masalah praktis, logika tak memberi penghiburan.
Yang terbersit dalam benak saya justru ini: mari berdoa agar iman kita tak goyah di hadapan pertanyaan yang seolah menegasikan keberadaan Allah. hehe.. di titik ini saya bisa mengerti mengapa Marx melihat agama sebagai Opium des Volkes. Opiumnya masyarakat kebanyakan. Buat mereka yang melihat diri sebagai umat yang tercerahkan, pasti aneh permintaan saya barusan: mari kita berdoa untuk kuatnya pondasi doa kita kepada Oknum yang keberadaannya sedang dipertanyakan oleh situasi yang bikin kita berdoa...
Namun bukankah itulah iman? Bukti dari segala yang tidak kita lihat? Justru dalam kukuh dan yakinnya Saisree untuk tetap berdoa dan berserah bahkan ketika subyek di seberang sana sedang dipertanyakan kebaikan dan kemahakuasaannya, saya melihat iman. Dan dalam doa yang dipanjatkan dengan hati hancur dan air mata itu, saya melihat bukti kebaikan dan kemahakuasaan Allah.
Kalau boleh saya minta keleluasaan saudara untuk ikut mendoakan saudari saya Saisree: please pray that her faith will not fail. And for God's mercy upon her health.
Friday, July 10, 2009
Nasionalisme
Saya punya love-hate relationship dengan nasionalisme. Mari mulai dari sisi 'love' sebelum kita beranjak ke sisi yang lebih sengak. Saya setuju dengan Karl Barth, theolog Swiss yang tertendang dari posisi mengajarnya di Jerman ketika Hitler memegang tampuk pemerintahan. Dalam essainya "The Christian Community and the Civil Community" Barth berargumen bahwa justru karena theologi Kristen melihat manusia sebagai makhluk yang terkorupsi oleh dosa, yang tanpa kekangan hukum eksternal akan secara natural melaju menuju kekacauan total (chaos), komunitas dan individu Kristen sudah sepantasnya melihat kebutuhan akan dan aktif mengupayakan keberadaan komunitas sipil dalam bentuk pemerintahan dan hukum bersama. Pertalian sejarah dan istiadat jamaknya menjadi dasar terbentuknya satu komunitas sipil. Dan sungguh saya cinta akan sejarah dan kekayaan istiadat yang jadi bagian dari kemanusiaan saya. Dalam pandangan saya, blangkon itu lebih nyeni dan lively dari topi cowboy, dan dalam beberapa kesempatan untuk berpakaian resmi saya lebih memilih memakai batik ragam Dayak daripada three-piece suit. Yang saya punya masalah adalah ketika nasionalisme sendiri mesti kemudian bergesek panas dengan nasionalisme bangsa lain, macam beberapa kali kita alami dengan Singapura, Malaysia dan Australia.
Mulainya sejak umur sepuluh tahunan dulu. Sebagian keluarga ibu saya tinggal dan berkewarganegaraan Belanda, dan kami rutin bertukar kabar dengan mereka via pos (waduh.. pos.. old school banget yak). Suatu kala, saya iseng meminta salah satu Oom di sana untuk bercerita tentang pahlawan-pahlawan mereka di Belanda. Namun bahkan ketika tengah menuliskan permintaan itu, masih ingat betul saya, terbersit rasa tak enak dalam hati. Teringat cerita di komik Teuku Umar yang berperang melawan serdadu Marsose. Teringat pula Pangeran Diponegoro yang bergerilya beradu otot dengan Belanda. Waduh.. jangan-jangan cerita tentang pahlawan Belanda ini nanti bakal berupa cerita tentang perang-perang yang sama diceritakan dari pihak seberang. Duh duh.. trus gimana dong? Kalau buat mereka Cornellis de Houtman atau Snouck Horgronje itu 'pahlawan', atas dasar apa saya mesti menolak itu label? Lha wong tuan-tuan Londo itu berjasa juga buat bangsa mereka je, sebagaimana Diponegoro dan Teuku Umar berjasa buat bangsa saya. Dilema berkecamuk di pedalaman anak 10 tahun yang kepanjangan berpikir. Sejak itu, dilema serupa tak pernah pergi meninggalkan saya.
Pagi-pagi saya sudah memutuskan untuk menganugerahkan gelar pahlawan bukan pada tokoh macam Panglima Sudirman, Tjut Nja' Dien atau bahkan Bung Karno. Jangan salah, saya hargai dan saya rasa berhutang pada mereka akan kemerdekaan praktis dan politis yang saya nikmati hari ini. Buat saya, mereka adalah prajurit dan pemikir-negarawan yang secara historis instrumental dalam memungkinkan saya hidup sedemikian rupa seperti saat ini, namun pahlawan mereka bukan. Sebagaimana eyangnya eyang saya sungguh instrumental dalam memungkinkan eksistensi saya namun, dengan penuh hormat, benak dan hidup saya tak terinspirasi oleh benak dan hidup beliau. Dalam dunia saya, orang-orang macam Romo Mangun, Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr. lah pahlawan-pahlawan. Mereka pahlawan dalam hati saya sebagaimana Soekarno pahlawan dalam hati banyak orang Indonesia. Buat saya, pidato nasionalis Bung Karno menarik menggelitik tapi nggak bikin saya tergerak. Tapi sungguh, pidato 'I have a dream...' nya Martin Luther King Jr. lebih menantang hidup sesehari dari orasi Bung Karno yang mana pun. Roro Mendutnya Romo Mangun lebih menyentuh menginspirasi dari cerita kepahlawanan Tjut Njak Dien.
Mungkin saya nya saja yang nggak tahu diri. Mungkin juga saya cuma produk dari putar roda historis: satu epos sejarah biasanya melahirkan antagonis-antagonis nya sendiri. Imperialisme melahirkan nasionalisme. Dan sangat mungkin nasionalisme melahirkan globalisme dan universalisme. Satu lagi kemungkinan: saya memang lebih cenderung pasifis, makanya simpati betul hati ini pada tokoh-tokoh pasifis radikal macam Gandhi, King dan Romo Mangun. Mungkin ide terakhir ini yang paling kuat bergaung di lorong idealisme saya: Gandhi, King dan Romo Mangun memperjuangkan nilai universal dengan cara yang benar. Kesetaraan dan hak tiap manusia untuk diperlakukan dengan adil adalah nilai universal. Dan cara yang mereka tempuh untuk melawan kekuatan besar opresif di muka pun, buat saya sungguh masuk akal: dengan nalar dan cinta, bukan bedil ataupun komentar sengit. Yang mereka tengah perjuangkan bukanlah kebenaran pribadi, namun kebenaran yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.
Yang seperti itu tak terkecap sama sekali oleh lidah saya ketika kita berpotong kepentingan dengan Malaysia atau Australia. Meski mungkin yang tengah kita perjuangkan adalah sesuatu yang universal: hak untuk dihormati sebagai manusia atau komunitas manusia, namun selalu terasa ada yang salah dengan cara kita memperjuangkannya. Tiap kali kita punya friksi dengan negeri-negeri jiran ini, saya sempatkan untuk jalan2 membaca komentar-komentar online di surat kabar, forum kaskus atau forum-forum lainnya. Dan selalu saja terasa oleh saya bahwa nasionalisme yang kita punya lebih mirip gengsi jawara daripada nasionalisme yang berakar pada nilai universal macam hak asasi ataupun harga diri manusia. Itu sebabnya cepat kali kita berkoar menantang, membalas hinaan dengan hinaan, cibiran dengan makian.
Kita tidak sendiri, tentu saja. Malaysia dan Amerika Serikat pun rasanya sama saja. Nasionalisme sempit yang berkar dan berbuah pada cara berpikir: kami lebih baik dari kalian, lumrah betul di muka bumi ini. Mungkin itu sebabnya saya bilang punya love-hate relationship dengan nasionalisme. Mungkin jauh dalam hati ini, saya ragu akan kemungkinan keberadaan nasionalisme yang bukan hanya santun namun betul-betul mampu menghargai bangsa tetangga sebagai entitas yang berdiri sama tinggi dengan bangsa sendiri.