Monday, April 14, 2008

Life is supposed to be lived, not reported

Momen menyenangkan dari baca buku, buat saya, adalah ketika tertemu butir pikir sendiri terungkap lewat tulisan, bahasa dan langgam orang lain.
Siang tadi mata saya tertabrak satu kalimat di fiksi theologi super ngocol "Saving Erasmus" besutan Steven Cleaver, "Life is supposed to be lived, not reported."
Eureka!
Saya setuju.
Sudah berbulan-bulan belakangan ini saya berpikir dan berproses dengan asumsi serupa, namun tak pernah terformulasikan sejelas kutipan Cleaver tadi. Dan karena asumsi di atas tadi, blog ini jadi super jarang diupdate.
It's official then. Life is supposed to be lived, not reported. Setidaknya untuk sekarang dan beberapa waktu ke depan, entah sampai kapan.

Tuesday, March 25, 2008

Adakah Engkau di lab kami ya Allah?

Apakah bekerja Kau lihat sebagai doa, ya Allah?
Adakah Engkau di sudut-sudut laboratorium tempat virus-virus diidentifikasi dan diteliti?
Ulangan-ulangan metode dan lembar-lembar laporan ini ya Allah, berartikah bagiMu?

Jika Engkau ada di dalam semua itu ya Allah,
mengapa aku tak merasakanMu di sana?

Tuesday, January 08, 2008

Berkat bernama buku

Dalam 'The Namesake', novel apik perdana Jhumpa Lahiri yang barusan diadaptasi ke layar lebar oleh Mira Nair, kakek Gogol Gangguli, sang protagonis, sempat bertutur "That is what books are for. To travel the world without moving an inch."

Ironis mungkin, sebab ayah Gogol, kepada siapa petuah tadi dialamatkan pada akhirnya tetap memutuskan untuk hijrah. Melihat dan mengalami sudut lain dari dunia dengan mata kepala sendiri dan bukannya lewat jejak pena seorang lain.

Namun buku tak hanya mengabarkan pada kita fakta akan sisi lain dunia. Buku mengundang kita untuk menikmati benak dan emosi manusia. Buku mengajak kita untuk jadi kontemplatif, berdiam sebentar mengamati drama dalam hidup manusia lain, entah fakta atau fiksi, dan melaluinya bercermin mematut hidup sendiri.

Buku pula yang bercerita pada kita akan peri hidup yang sama sekali lain. Misterius namun memikat. Ritual reproduksi lebah madu dan hibernasi beruang. Strategi berburu kumbang api dan suar morse kunang-kunang.

Buku membawa rumor akan dunia dan kenyataan lain, dunia dan kenyataan yang transenden, yang tak kasad mata. Lewat buku, Allah memilih untuk menyatakan diri pada manusia.

Minggu pertama tahun ini saya habiskan membaca buku bagus tulisan Brennan Manning. "The Signature of Jesus". Manning, veteran perang Korea dan mantan biarawan Fransiskan, menulis dengan diksi segar. Sudut ambil nya akan hidup spiritualitas seorang Kristen sungguh berbeda dari penulis-penulis lain, membuat konsentrasi dan motivasi saya tak surut di sepanjang buku ini. Dan seperti buku bagus lainnya, buku ini tak berhenti sebagai peta harta karun, ia juga memberi diri terambil sebagai bagian dari pondasi keyakinan dan inspirasi saya. Seperti paragraf berikut:

"The kingdom, Jesus tells us, is in our very midst, in the mistery of our relationships with each other. We are within its gates when we draw close to one another with the love that is fired by the Spirit. We are already on sacred ground when we reach out to understand rather than condemn, when we forgive rather than seek revenge, when as unarmed pilgrims we are ready to meet our enemies. What Jesus teaches is too simple and too wonderful for those who want magic in their religion."

dan:

"According to the evangelical criterion for holiness, the person closest to the heart of Jesus Christ is not the one who prays the most, studies the Scripture the most, or the one who has the most important position of spiritual responsibility entrusted to his or her care. It is the one who loves the most..."

Sedap sungguh, bikin semangat untuk baca buku-buku bagus lain sepanjang tahun 2008 ini. Di antara buku-buku di book list saya untuk tahun ini, ada 'Come be my light' nya Mother Teresa, 'Ragamuffin Gospel' besutan Manning, 'The Cost of Discipleship' tulisan Bonhoeffer, 'Commodore Pery's Minstrel Show', oleh Richard Willey, 'For the Love of Insect' nya Thomas Eisner dan 'The Hiding Place', memoir menarik Corrie Ten Boom.

Book list sampeyan gimana?

Tuesday, December 25, 2007

'Allah'

Malam natal itu sesuatu nan ajaib terjadi. Ketika malam menelungkupkan jubahnya di atas bumi, gemintang berbaris rapi, membentuk selarik kata di atas kanvas legam: “Allah”. Komet dengan ekornya meledak terang menarik garis lurus di huruf ‘A’. Tak satu bintang pun absen, semua di sana. ‘Allah’.

Hanya selarik kata. Kata yang di banyak lingkaran sudah nyaris vulgar, tak pantas diutarakan di muka publik, ofensif. Kata yang bila diucap dengan keyakinan berlebih lalu sama dengan arogansi, ignoransi dan chauvinisme. Kata yang demi toleransi hidup bersama, lebih baik tak terucapkan sering-sering. ‘Allah’, menyemburat di langit gelap.

Umat manusia ternganga. Ilmuwan dari penjuru bumi memeriksa perhitungan mereka. Model A, B dan C dikonstruksi, menghitung seberapa besar kemungkinan fenomena ini tak lebih dari probabilitas stokastik belaka. Astrolog anu dan itu diwawancara, CNN, BBC, MSNBC tergesa memproduksi talkshow, dokumentasi, diskusi. Gempita, kaget, ‘Allah’???

Di gereja, masjid dan vihara, mereka yang telah lama berpegang hanya pada seutas iman nan retas demi mempercaya IA yang tak kasad mata bersyukur, berdoa, bertanya. ‘Allah’?

Youtube disesaki video langit dengan gemintang besar mengutara asma Yang Maha, dari kutub utara, Korea, Australia, Palestina. Lalu datang pula upload gelombang video berikut: pengakuan dosa, komunitas menangis menyesal, pertobatan besar-besaran, dari St. Pauli di Hamburg, dari Las Vegas di Nevada, dari sudut-sudut bumi.

Alkitab, Alquran, Vedha dibagikan di pojokan jalan. Tak ada yang berteriak menyangkal. Tak ada yang berani melarang. Kalap. Dalam terkejutnya, manusia mencari selamat dari ‘Allah’.

Malam demi malam, tulisan yang sama menggantung di sana. Sisi-sisi langit malam sepi, absen dari gemintang yang berkumpul sama di tengah kanvas, membentuk satu kata ‘Allah’.

Sampai satu malam, seorang anak menatap ke satu kata yang menggantung di langit malam. Inosen dan jernih dalam berpikir. ‘Allah’ tercermin di bola matanya. Dan ia pun bertanya ‘So what?’, ‘Terus kenapa?’

Terus kenapa kalau Allah ada?

Terus kenapa kalau Allah hidup?

Terus kenapa kalau Allah lah yang mencipta dunia, manusia dan semua yang ada?

Terus kenapa?

--

Pada akhirnya, pertanyaan Yesus kepada salah seorang muridnya menggema melewati abad-abad sampai ke telinga kita “Menurutmu, siapakah aku ini?”

Dan menyambut jawab kita akan pertanyaan Yesus, terngiang pula pertanyaan sang anak “And so what?”

Selamat Natal buat semua, semoga Natal ini menemukan kita berpikir akan Allah dan hidup kita masing-masing. Adakah kita menghidupi hari-hari seolah Allah ada?

Terlebih lagi, adakah kita menghidupi hari ini seolah Allah telah hadir ke dunia dua ribu tahun lalu dan menyelamatkan kita dari diri kita sendiri?

:inspirasi dari ‘Secrets in the Dark: A life in sermon’ oleh Frederick Buechner:

Thursday, December 13, 2007

Petrus

Saya nggak kenal Petrus secara pribadi. Petrus juga nggak kenal saya. He's friend of a friend.
Petrus ini punya MBA dari Harvard Business School, sekolah bisnis mentereng di pantai timur. Ketika sedang belajar bisnis di sini, banyak teman-temannya di Indonesia yang terkagum-kagum, "Wah.. hebat si Petrus, bisa keterima di HBS.", kata yang satu, "Sudah terjamin tuh masa depan", timpal yang lain.

Konon kabarnya, lulusan HBS memang gampang cari kerja. Butik-butik konsultan manajemen berebut alumni sekolah satu ini. Pekerjaan berbanderol gaji lima digit dollar per tahun sepertinya lumrah saja buat lulusan HBS.

Lulus dari HBS, Petrus pulang ke Indonesia. Ibunya sakit. Selang sekemudian, sang ibu meninggal. Petrus nggak kembali ke Amerika untuk bekerja, nggak juga ke Australia atau Singapura. Ia memilih untuk bekerja di perusahaan menengah di Indonesia yang bergerak di bidang healthcare service. Gaji relatif kecil, gengsi tak gemerlap. Teman-temannya terbengong-bengong. "Lha, kalau cuma mau kerja di perusahaan itu aja sih lulusan lokal juga bisa. Bisa-bisa lebih tinggi malah pangkat ama gajinya ketimbang si Petrus.", celetuk yang satu, "Petrus, Petrus... ngapain sekolah tinggi-tinggi sampai ke ujung dunia kalau cuma mo kerja macam gitu?", tanya yang lain, ngungun..

Komentar sinis, cemooh kaget, bahkan simpati yang (lucunya) nyaris sama dengan bela sungkawa saya ikut dengar dari sini. Seolah Petrus sudah menyiakan waktunya 'sekolah tinggi-tinggi sampai ke ujung dunia' ..

Komentar Petrus melambari keputusannya bekerja di perusahaan menengah itu saya juga dengar. "Kepengen punya kontribusi ke healthcare service di Indonesia. Mama dulu kan sempat lama pakai service semacam ini..."

Kontribusi ke komunitas yang lebih luas (dibanding kontribusi ke kantong dan masa depan sendiri). Layak memang lulusan HBS mampu berpikir sedemikian. Pada akhirnya toh, banyak kita memang 'sekolah tinggi-tinggi sampai ke ujung dunia' justru demi meluaskan pandang macam begini. Membebaskan diri dari belenggu kepentingan sempit seketika. Bravo Petrus!

Wednesday, December 12, 2007

Waktu, kisanak..

Kalau saja, kisanak, waktu berhenti ketika kita bersantai dan berlari ketika kita bekerja
alih-alih terbang tanpa bekas ketika kita bersantai dan seolah berhenti beku, membosankan, ketika kita bekerja...

Thursday, November 29, 2007

Thank You, Lord

Ujian itu sudah berjalan sejam setengah ketika pintu diketuk. Dr. Mike Williams, otoritas sistematika serangga kecil mungil berjudul kutu kebul melangkah masuk. Di tangannya ada sekotak spesimen. Sepuluh spesimen, saya memandang sekilas. Dua hymenoptera, dua diptera, satu orthoptera, satu coleoptera, satu hemiptera, satu mecoptera, satu neuroptera, dan satu lepidoptera. Ia meletakkan kotak itu di depan hidung saya. Professor-professor lain tersenyum. Ada yang meringis. Hehehe.. dia ahli virus tanaman. Mungkin saya tahu lebih banyak tentang serangga-serangga di kotak ini dibanding si bapak meringis yang duduk di sisi jauh meja panjang itu.

Mungkin.. mungkin juga nggak. Saya mulai mengutak-atik spesimen-spesimen di kotak tadi. Ini salah satu bagian PhD candidacy yang paling bikin saya merinding. Mana lah mungkin benak saya yang luar biasa cluttered dan fragmented ini menyimpan informasi taksonomis untuk mengidentifikasi sekian juta jenis serangga. Smithsonian Institute memperkirakan ada sedikitnya 2 juta spesies serangga (itu perkiraan paling konservatif, opini yang lebih liberal meprediksi ada setidaknya sekitar 30 juta spesies serangga yang masih hidup).

Benar saja, cuma empat dari sepuluh spesimen di kotak itu yang bisa saya identifikasi sampai ke level family, cuma dua yang saya tahu genus nya. Time to panic..

Tik tok.. jam dinding sok tahu mengumumkan waktu berlalu, menyebalkan. Hand lens di tangan jadi licin, tangan basah. Spesimen ke lima teridentifikasi. Bukan identifikasi cerdas, lebih ke informed guess. Spesimen ke enam dan tujuh lewat dengan cara yang sama.

Spesimen ke delapan minta waktu lebih dari tiga menit. Seseorang menguap bosan di seberang meja. Dr. Williams bilang "Larva serangga ini predator penting buat aphid mu lho.." Aphid, serangga mungil funky bertubuh lunak adalah fokus penelitian saya. "Syrphidae..?" jawab saya dengan nada tak yakin sama sekali. Ia mengangguk kecil. Delapan di kantong. Dua lagi.

Spesimen ke sembilan jelas tawon. Masalahnya, ada lima sub family di bawah family apidae: ada bumble bee, carpenter bee, honey bee, digger bee, dan cuckoo bee. Lha ini yang mana yak.. Yang saya ingat cuma: beda di antara mereka bisa dilihat dari pola venasi di sayap. Wis cuma itu thok. Tapi pola venasi masing-masing sub-family? Waduh.. mana saya ingat? Wis lah.. shoot in the dark. "Bumble bee!", jawab saya sok yakin. "Nope, it's a carpenter bee." Dr. Williams tersenyum kecil. Tahu kalau saya sekedar ngawur.

Seekor ngengat jadi spesimen terakhir yang mesti saya identifikasi. "I do not even care to guess anymore.", pikir saya. "I don't know what this is." Simple. Dari ekor mata tertangkap profesor pembimbing saya tertawa. Dr. Williams ikutan tertawa. "Giving up, already?", tanyanya. "Yes.", jawab saya pendek saja. "It's a sphingidae." Oh goodness.. sphinx moth kan GUAMPANG banget diidentifikasi. Oh well.. di titik tadi saya toh sudah brain dead. "Eight out of ten. Not too bad." Dr. Williams mencomot kue kering dari baki panjang di depannya, kemudian bangkit dari kursi membawa kotak dengan sepuluh spesimen tadi. "Not bad at all." ulangnya lagi sambil mengedip sebelah mata sebelum menutup pintu tempat saya sedang diuji.

The rest was downhill..

Thank You, Lord. For the gift of learning, the freedom to shoot in the dark and the grace for not taking ourselves too seriously ;)

Saturday, November 24, 2007

Life's messy

Selasa minggu depan saya dijadwalkan untuk duduk di kursi panas sekali lagi. Padepokan tempat saya ngenger sekarang punya dua kali ujian besar buat calon doktor mereka, seperti halnya padepokan-padepokan lain di tanah ini. Yang pertama, Candidacy exam, di mana para pengenger yang terhormat diuji tentang sepenuh pengetahuan mereka di subyek keilmuan bersangkutan. Di kasus saya, ini berarti semua mata kuliah yang pernah saya ambil sejak beberapa tahun lalu di Bogor. Buset. Mana saya ingat semua itu. Anyway, ujian besar terakhir berjudul Final exam, di mana materi ujian diikat lebih ketat, lebih fokus: hanya subyek-subyek yang berkait dengan materi penelitian sang pengambil ujian. Minggu depan saya bakal ambil ujian yang pertama.

Beberapa minggu panjang belakangan saya mencoba untuk mempersiapkan diri untuk ujian ini. Kind of a joke, really. How can you expect to rehearse all things you ever taken in your academic life?

Namun justru di tengah aktivitas ala Sisifus ini terbersit satu pertanyaan di benak saya. All this hard knowledge and then what? Dalam bayangan saya, seperti halnya mendaki Everest, pertanyaan bodoh macam ini bisa diikuti sampai dua kemungkinan konklusi berbeda: kemungkinan begitu luas bisa bikin hati kelu, kaki lemas, hilang selera; namun bisa pula bikin diri bergegas dan tangan gatal tak sabar. Sungguh, jarang ada sesuatu yang lebih membakar semangat dari pada kesempatan tanpa batas, seperti halnya jarang ada hal lebih menakutkan dari pada kesempatan tanpa batas. Uniknya, saya temukan keduanya tak saling eksklusif. Seperti halnya manusia mampu mengalami sedih sekaligus geli, dua konklusi nan seolah saling meniadakan di atas seringkali teralami bersama.

Entah kenapa pula semua di atas mesti terjadi ketika saya sedang belajar mengenal diri sendiri. Twenty-something. Rentang usia di mana seseorang mulai curiga bahwa keyakinan akan apa yang diri ingini tak lah tertancap berakar dalam. Lebih kocak lagi, mungkin ini pula rentang usia di mana seseorang tercelikkan dan jadi vokal akan semua yang salah di dunia. Di sini pula seseorang jadi sadar bahwa jadi vokal tanpa tercebur basah adalah sesuatu yang lucu lagi ironis dalam dirinya sendiri. Di sisi lain, di sini juga satu rumor mulai terdengar. Rumor bahwa tercebur basah mengubah apa yang salah dengan dunia meminta sesuatu yang lebih dari apa yang bisa diberi orang 'biasa'. Dan satu lagi rumor lain yang lebih mengganggu: rumor bahwa dunia tak lah sepenuhnya salah. Bahwa jadi salah satu sekrup, atau sekring, atau otak dari mesin besar bernama dunia bukanlah pilihan buruk. Bukan hanya karena implikasi ekonomis atau sosial dari pilihan semacam. Pilihan macam ini bukanlah pilihan buruk karena alasan yang lebih hakiki: bahwa tak ada yang salah dari dunia, at the first place. Dan kalaupun ada yang terasa salah dari dunia, akar dan solusi dari 'rasa salah' ini bukanlah sesuatu yang material, namun spiritual. Atau kalaupun ada yang salah dari dunia, solusi yang realistis bukanlah sesuatu nan global, namun aksi bite size. Kecil dan sederhana.

Ah ya, satu lagi. Di usia dua puluh sekian, saya pikir sudah pernah terbaca oleh kita kutipan dari Socrates: Unreflected life is not worth living. Dan justru di usia sekian pula kita mulai curiga: Over-reflected life is not worth living.

Dan di tengah sepenuh gempita ide dan refleksi kacau ini, saya disuruh nulis ujian. Oh well... life's messy, don't you think?

Cafe

Cafe, aroma kopi pekat langu, musik terlantun tanpa mengganggu. Kursi-kursi membagi-bagi ruang jadi dunia-dunia privat. Sartre dibaca di satu meja, dua orang saling pandang tanpa bicara, Sports Illustrated lecek di meja lain.

Cafe, penerangan individual. Temaram yang spesifik. Melankolik tanpa jadi dramatik. Garpu, pisau beradu berdenting. Piring keramik. Mug bulat besar, kopi hitam kental. Orang bicara, tertawa, berbisik. Rahasia, kabar berita dari ceruk sesehari, angan masa depan, catatan masa lalu, lekuk liku benak dewa-dewa. Bisik mesra.

Cafe, di mana lelah menguap menuhi udara. Henti nan tergesa. Sekedar cukup buat secangkir jeda. Latte, espresso, americano, chai, just black, yang manapun. Manis, pahit, pesta. Lidah kelu berhenti mengecap, sekedar merindu gelitik cangkir berikut. Yang manapun.

Cafe, realisme sintetik. Selentingan akan kenyataan yang diam-diam menelusup ke tengah panggung. Potret sempurna nan retak di tengah. Makin lama makin ke pinggir, meluas, meretas. Kopi dingin. Bising jalan di luar mengundang, memeluk. Aku melangkah pergi.

Wednesday, October 17, 2007

Beat Bama Food Drive

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket Adakah hal baik datang dari perseteruan?

Membayangkan perseteruan antara dua tim olah raga, yang terbayang di benak bukan semata kualitas olah raga yang makin tajam. Alih-alih, imaji yang saya punya terpolusi fenomena macam hooligan urakan yang tak tahu berhenti di batas wajar, komersialisasi (dan degradasi) olah raga jadi sekedar tontonan dan membalonnya nilai kemenangan keluar proporsi. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara Asia lain, Afrika, Eropa, dan Amerika fenomena semacam bisa ditemukan. Satu entry di wikipedia ditulis khusus untuk mendokumentasikan insiden-insiden hooliganisme dari Argentina sampai Zimbabwe.

Perseteruan semacam terjadi juga di American football. Iya, olahraga yang berani menyandang nama 'football' meski dalam praktik permainannya, bola ditendang tak lebih dari 10 kali itu. Di Amerika, permainan yang perlahan menggeser basebal sebagai 'national past time' ini dimainkan di hampir semua level: elementary school, middle school, college, dan profesional. Dua level teratas, college (universitas) dan profesional, menyedot banyak perhatian. Menariknya, jumlah fans college football tak kalah banyak dengan fans club football profesional. Besar kemungkinan, tingginya persentase populasi yang sempat duduk di bangku universitas adalah salah satu hal yang menerangkan hal ini. Lumrahnya tiap lulusan universitas bangga akan, dan jadi fans seumur hidup dari tim universitasnya.

Auburn, universitas tempat saya ngendon sekarang, punya tim football yang lumayan bagus. Dari tahun ke tahun, Auburn jamak terhitung sebagai 10 tim terbaik nasional. University of Alabama, universitas tetangga, punya tim yang terkadang bagus (hehehehe... BIAS? biarin!). Sebagai hasilnya? Bisa diduga, rivalry, perseteruan antar Auburn dan Alabama (yang nggak cuma terbatas di football, tapi juga di ranah akademik dan riset) mendidih menggelegak. Konon, perseteruan macam ini lumayan lumrah di seantero Amerika. Lebih uniknya, masing-masing perseteruan punya sejarah panjang (beberapa perseteruan sudah mulai lebih dari 100 tahun lalu, seperti Auburn-Georgia yang mulai tahun 1982) dan julukannya sendiri-sendiri. Stanford berseteru dengan University of California, Berkeley (Big game), Harvard-Yale (The Game), University of Mississippi versus Mississippi State University (Battle for the Golden Egg), dan tentu saja: Auburn-Alabama (Iron Bowl).

Tahun ini, pertandingan Auburn-Alabama bakal mengambil tempat di Jordan-Hare Stadium, Auburn. Sepanjang sejarah, pertandingan yang selalu jadi gong penutup musim ini, adalah game yang paling dinanti oleh fans kedua tim. Tak mengapa tak juara, yang penting jangan kalah dari Alabama...

Yang menarik buat saya menjelang pertandingan ini adalah tradisi relatif muda (baru 14 tahun berjalan, dibanding perseteruannya sendiri yang sudah mulai tahun 1893) berjudul Beat Bama Food Drive. Dari 15 Oktober sampai 15 November tiap tahunnya, sebelum tim masing-masing beradu di lapangan, fans Auburn dan Alabama bakal beradu dalam mengumpulkan makanan kalengan. Fans tim yang mengumpulkan total makanan kalengan terberat (alih-alih menghitung jumlah kaleng, mereka menimbang total makanan terkumpul) memenangkan kompetisi food drive ini! Makanan kalengan yang terkumpul kemudian didonasikan ke Alabama Food Bank, organisasi yang bertugas untuk menyalurkan makanan ke mereka yang membutuhkan atau menyimpannya sebagai cadangan di saat darurat seperti bencana alam macam badai Katrina dua tahun ke belakang.

Kompetisi, adalah salah satu adiksi terberat orang Amrik. Mereka cinta kompetisi. Kreatifitas mereka dalam menyalurkan energi kompetitif yang sudah seabad umurnya ke satu aktifitas demi kepentingan orang lain jadi saksi betapa perseteruan tak harus berakhir buruk. Buat saya, menyaksikan hal macam ini dari dekat, ada inspirasi yang terpercik: bahwa ide kreatif punya tempat dalam mentransformasi satu komunitas dan kanal-kanal energinya. Menyulap yang ulterior dan banal jadi sesuatu yang altruistik dan positif.

Tuesday, October 09, 2007

Indonesia = membingungkan

Theodore Friend, sejarawan Asia Tenggara asal Amerika, mantan presiden Swarthmore College, menulis buku menarik tentang 'sejarah nation-state Indonesia: dari perjuangan melawan Belanda sampai pergulatan melawan terorisme'. Buku ini menyarikan 'sejarah' sebagaimana tergali dari dokumen atau rekaman sejarah, wawancara, sastra, agama dan psikologi sosial Indonesia. Judul bukunya 'Indonesian Destinies'.

Di kata pembukanya, Theodore Friend mencoba untuk menggambarkan betapa cair nan elusifnya Indonesia dan keIndonesiaan. Membingungkan. Sebagaimana kata Clifford Geertz tentang tendensi orang Jawa untuk "menghidupi hidup yang sebagian berupa ungkapan tanpa emosi sementara sebagian lagi berupa emosi yang tak diungkapkan." Bahwa orang Jawa membingungkan, saya sudah tahu. Bahwa Indonesia secara keseluruhan membingungkan, saya dari dulu sudah curiga.

Dr. Friend memberi illustrasi menarik tentang kebingungan orang Indonesia sendiri akan akar dan identitas keIndonesiaannya. "Dr. Friend," seorang pensiunan pejabat kenalannya bertanya "menurut Anda, kenapa bangsa kami yang halus dan semanak ini bisa tiba-tiba meledak emosi nya dan melakukan pembunuhan massal?". Pensiunan pejabat yang -konon kabarnya- suka membanggakan diri mampu bermimpi dan bercinta dalam bahasa Inggris ini tengah melamuni tragedi bom Bali hampir 5 tahun lalu (ingat 12 Oktober 2002!!). Theodore Friend cuma bisa mengangkat bahu. Sejurus kemudian, ia mengajukan pertanyaan serupa kepada seorang mantan menteri. Pak mantan menteri ini bukannya menjawab pertanyaan tadi, tapi malah mengutip catatan admiral Zheng He yang sempat mampir di Indonesia (sempat kesasar di Semarang lho!!) di abad XV yang mendeskripsikan orang-orang yang tinggal di pulau2 yang sekarang dikenal sebagai Indonesia ini sebagai 'orang-orang berdarah panas yang gemar menguji keampuhan pisau mereka ke tubuh tetangganya'. Di telinga saya, sang mantan menteri tengah berkelit dengan cerdas. Ia membelokkan energi pertanyaan tadi ke pernyataan menarik: jangan pikir bagaimana bangsa yang halus dan beradab ini bisa terperosok sedemikian jauh sehingga menghalalkan darah sesamanya, tapi pikir bagaimana mungkin bangsa yang dasarnya kasar dan urakan ini bisa membangun peradaban sebagaimana yang tercermin dalam nilai2 tradisi yang mereka punya sekarang ini...

Yang mana pun yang saudara nilai lebih benar, saya pikir pernyataan berikut masih tetap sahih: Indonesia= membingungkan.