Tak kurang dari Carl von Linne sendiri yang memberi nama serangga ini: Cimex lectularius, alias kutu busuk. Suka ngendon di lipatan selimut sampai sisi tempat tidur yang nempel di dinding, lembab dan gelap. Berbeda dari anggapan banyak orang, kutu busuk tidak menyebarkan penyakit apapun. Meski demikian, mulut mereka yang ala pedang panjang itu lumayan efektif juga untuk dipakai menusuk permukaan kulit dan menghisap darah dari korban santap malamnya.
Ditengarai sedang menanjak naik populasinya di Amerika Serikat, hotel-hotel di pantai timur dan barat sedang getol-getolnya mengirim sampel ke universitas-universitas yang memiliki program entomologi. Sampel-sampel ini diidentifikasi keabsahannya sebagai kutu busuk, dan bila memang benar maka program eradikasi mesti segera dijalankan di hotel tersebut.
Setelah diidentifikasi, apa yang terjadi pada sampel tadi? Kebanyakan memang datang sudah mengapung dalam botol berisi alkohol. Tapi ada juga yang tertangkap hidup-hidup, dan selamat pula sepanjang perjalanan ke Auburn. Seperti yang satu ini, ibu kutu sudah beberapa bulan belakangan jadi anggota kesayangan laboratorium morfologi Auburn. Bahkan ketika bersalin pun kami ikut menunggui. Pun ketika ia lapar, tak sedikit mahasiswa pasca sarjana yang merelakan darahnya dihisap.
Kalau itu kutu cuma sendiri sih memang asyik menarik menonton ia mencari-cari permukaan kulit yang tidak terlalu tebal untuk ditembus mulutnya, dan mulai menghisap darah sampai gendut menggembung. Tapi kalau kutunya banyakan, amit-amit! Bisa-bisa jadi seperti ibu di foto ini. Tapi dengar-dengar ia menang ribuan dollar sebagai kompensasi dari hotel tempatnya menginap.
Kisah ibu kutu Tuesday, April 25, 2006
Posted by Boe at 1:32 AM 1 comments
Kebenaran: perlukah punya nilai pragmatis? Monday, April 24, 2006
Entomological Society of America dalam majalan internalnya edisi bulan ini menyiarkan sikap mereka perihal Intelligent Design yang disetujui dalam Konggres Nasional tahun lalu di Fort Lauderdale. Ialah bahwa Intelligent Design tidak dapat digolongkan sebagai hipotesa sains yang sah.
Saya tidak berkeberatan dengan kesimpulan ini. Buat saya, Intelligent Design memang tidak menawarkan sesuatu yang bisa diuji dengan eksperimen, dan karenanya wajar jika digolongkan sebagai sesuatu di luar sains.
Namun yang menarik, dalam komentar singkat yang menemani pernyataan sikap itu, ikut termaktub: "dan karena Intelligent Design tidak memiliki nilai pragmatis bagi kehidupan manusia.." maka "ia bukanlah sains".
Intelligent Design sendiri, menurut saya, lahir dari kegerahan sementara orang yang susah menerima evolusi sebagai narasi besar lajunya roda kehidupan. Sejak awal mulanya, motivasi pengadaan 'teori' ini adalah untuk menerangkan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Sementara konsekuensi dari teori Intelligent Design untuk apa yang tengah dan akan terjadi di masa depan memang kabur. Di sinilah sebenarnya evolusi sebagai teori memenangkan perdebatan, setidaknya di mata petinggi ESA. Bahwa Teori evolusi menyediakan prediksi untuk apa yang akan terjadi di masa depan. Dan karenanya punya nilai pragmatis.
Banyak dari kita akan mengangkat alis membaca pernyataan di atas: apa nilai pragmatis evolusi?
Satu yang kebetulan ada di jangkauan radar sesehari saya adalah manajemen resistensi. Serangga hama yang terus menerus dikendalikan dengan menggunakan pestisida tertentu akan mengalami perubahan struktur populasi dengan jumlah serangga resisten semakin lama semakin besar. Teori evolusi meramalkan hal ini: ketika seleksi di alam terjadi secara intens (penyemprotan insektisida secara kontinyu), maka perubahan di level populasi akan terjadi sama intensnya. Meski dari morfologi luar serangganya tidak berubah, namun resistensi terhadap satu racun tertentu mengisyaratkan adanya perubahan yang cukup radikal (sekaligus menguntungkan) dalam sistem fisiologis serangga bersangkutan. Setiap mahasiswa hama penyakit tanaman tingkat 3 tahu akan hal ini.
Dan 'berkat' framework teori evolusi pula, manajemen resistensi jadi dapat dilaksanakan: rotasi penggunaan bahan kimia sebagai insektisida untuk menghindari lahirnya strain resisten dalam satu populasi serangga.
Intelligent Design tidak punya feature pragmatis serupa. Seperti yang saya katakan tadi: ia lebih banyak bicara tentang apa yang sudah terjadi. Bukan apa yang akan terjadi. Teori ini lahir dari kegelisahan untuk mengilmiahkan pemahaman spiritual.
Mereka yang mencetuskan teori ini mungkin geregetan untuk mencelikkan mata pekerja ilmiah kontemporer akan 'kebenaran' dari primula kehidupan. Sementara itu, komentar ESA tadi jadi menarik juga: kalaulah Intelligent Design mengungkapkan suatu kebenaran, ia tetap tak berguna karena tak memiliki aplikasi praktis.
Perlukah kebenaran punya nilai pragmatis untuk diakui sebagai sesuatu yang berguna?
Posted by Boe at 4:23 AM 0 comments
Simbol Saturday, April 15, 2006

Kekuatan simbol, atribut, pernik memang sungguh dahsyat. Dalam keseharian, seringkali meski tak selalu, kita menggunakan simbol, atribut atau pernik yang menempel di tubuh ini untuk berkomunikasi dengan liyan. Pesan yang terkandung dari atribut-atribut pun beragam adanya. Dari satu pernyataan pribadi akan sesuatu yang dianggap penting, cara kita untuk bilang bahwa kita adalah bagian dari satu komunitas yang lebih besar sampai sekedar mengutarakan simpati (atau antipati) terhadap satu ide.
Dunia tempat kita hidup memang sudah serba bising. Yang kapitalis, yang sosialis dan yang agamis bersama-sama berebut corong bicara ke khalayak ramai. Soliloqui tak lagi tulus, nyanyi sunyi hanya layak disenandungkan jika ia bisa mendatangkan pengaruh. Ironis. Hidup di dunia yang semacam ini, punya satu cara untuk menyatakan diri mungkin memang jadi penting.
Yang mungkin berbahaya, adalah kecenderungan untuk menyamakan kepemilikan simbol dengan pencapaian ideal yang tersimbolkan. Ziarah ke tempat suci kemudian otomatis memampukan seseorang senantiasa bertindak suci, misalnya.
Yang lain yang sama menakutkannya, adalah ketika simbol kemudian menutup ruang untuk berdialog. Tatkala kita tersihir oleh mantra simbol, dan jadi serba getol serba cepat mengutuk mereka yang tak bersimbol sama. Konon panji perang punya kuasa serupa. Apatah panji-panji kalau bukan sekedar kain bergambar? Namun ia bisa mengobarkan semangat ratusan, ribuan, ratusan ribu manusia yang mengadopsinya sebagai perlambang satu idealisme. Di saat yang sama, simbol mereka yang berdiri di seberang kemudian nampak sebagai muka iblis sendiri. Dan mereka yang berdiri di bawahnya tak lebih dari sekedar antek Yang jahat. Tertutup sudah kemungkinan untuk duduk bersama tanpa curiga dan praduga.
Menyedihkan.
:gambar dari situs Sidney Morning Herald:
Posted by Boe at 4:35 AM 0 comments
Semi Saturday, April 08, 2006

You better let somebody love you,
before it's too late
Desperado, by Eagles
Kaca jendela di hadapanku mendaki menyentuh lengkung atap perpustakaan. Di luar sana, daun-daun hijau muda menyapa pandang mendahului menara kembar Samford Hall di sisi jauh. Hangat merah bata membaur manis dengan kanvas biru langit Alabama. Nun di bawah sana, sesemakan Azalea menawarkan ribuan bunganya. Sore semi selatan Amerika.
Hari ini angin memeluk Auburn sepanjang hari. Sudah sejak setelah makan siang tadi aku duduk di depan jendela besar ini, dan daun-daun pepohonan halaman perpustakaan tak henti meliuk menari. Pukul enam lebih lima menit sekarang, warna-warna semi masih akrab menemani. Gelap masih sejam perjalanan dari sini.
Tak penuh konsentrasiku hari ini sayang. Lap top perpustakaan di atas meja hardwood di depanku tak sering tersentuh tutsnya. Aku mencetak artikel-artikel yang perlu kupahami sebelum Kamis depan, mencoba membaca. Namun makna, pemahaman tak mampir di sudut tempatku duduk hari ini. Benakku bermain ke sana kemari. Bak anak kecil nakal berlari-lari di atas permadani hijau tua, di antara rak-rak buku. Seperti anak kecil, yang ikal rambut, gemuk pipi dan kerling nakalnya mengingatkanmu akan sesuatu. Sesuatu yang tak ada di sini.
Setelah empat jam memaksakan diri duduk di sini, aku sadar dan menyerah, sayang. Aku lelah bangun pagi, makan siang dan berangkat tidur sembilan jam penerbangan jauhnya darimu. Aku kangen kamu.
Posted by Boe at 1:21 AM 3 comments
RUU APP Monday, April 03, 2006
Akhirnya saya menyerah juga. Cukup lama saya mencoba untuk menghemat kapasitas benak yang memang super terbatas ini dengan tidak mengolak-alik perkara UU Anti Pornogorafi dan Pornoaksi. Tapi malam ini setelah bosan melakukan apa yang benak saya biasa lakukan akhirnya saya mampir ke Technorati dan mengetik "UU Anti Pornografi" di kolom search. Kenapa Technorati? Karena buat saya, apa yang dibilang orang kebanyakan itu yang penting (meski sayangnya seringkali bukan yang menentukan).
Hasilnya lumayan, seperti yang saya tebak, argumen dari kedua kubu mengemuka. Sayang sungguh sayang, kebanyakan mereka saya temukan nggak sedang berdialog. Ketika yang satu mengemukakan subyektivitas penafsiran yang lain menudingnya sebagai liberalisme. Dan ketika yang satu bicara tentang nilai dan kepantasan, yang lain berteriak soal hak. Belum lagi cara tulis artikel yang seringkali sebegitu sinisnya, hingga-hingga tak lagi terasa cerdas.
Yang timbul pada akhirnya adalah noise, kebisingan yang sama-sama mau menang sendiri. Mungkin pada akhirnya memang demikianlah adab hidup bersama sejatinya dinegosiasikan? Mungkin juga, kita toh melihatnya di mana-mana di muka bumi ini. Saya memang skeptis kok ke kapasitas manusia (himpunan besar dengan saya sendiri sebagai anggotanya) untuk jadi tercerahkan. Sangat besar kemungkinan, pencerahan (dan segala atribut yang datang bersamanya, seperti kebijaksanaan, kemampuan untuk tahu kapan mesti berhenti bicara dan mulai mendengar dsb dst) memang bukan sesuatu yang massal. Pencerahan adalah sesuatu yang langka, entahlah apakah memang demikian mestinya, namun demikianlah nyatanya.
Satu catatan kecil lainnya yang menarik buat saya adalah betapa sederhananya cara banyak kita menempelkan label tertentu ke satu himpunan umat. Bahwa yang "Arab" berarti konservatif sementara yang "Amerika", atau "Barat" sebagai permisif liberal... Simplistis. Entah kapan kita mau belajar bahwa keragaman adalah sesuatu yang inheren, baik di timur maupun di barat.
-- btw, ketika GM menulis 'RUU APP' nya, saya kira ia memaksudkan keprihatinan akan kemungkinan diktatorisme satu nilai di tengah kemajemukan suku budaya. Tapi kok di beberapa blog yang sempat terbaca banyak yang kemudian mengambilnya dari sudut pandang yang sama sekali berbeda ya? Salahkah mereka? Nggak kok, tafsir toh memang subyektif sifatnya :) --
Posted by Boe at 3:44 AM 3 comments
