Kebahagiaan Friday, September 21, 2007

Robert Louis Stevenson, penulis bagus yang memberkahi kita dengan kisah-kisah sedap macam “Treasure Island” dan “Strange Case of Dr. Jeckyll and Mr. Hyde” sempat berkomentar akan manusia “There’s no duty we so much underrate as the duty of being happy.” Ah ya… saya setuju.

Romantisasi kebahagiaan ala film “The Pursuit of Happyness” punya pesan yang saya kira menghunjam dalam di batin banyak orang akhir-akhir ini: bahwa kebahagiaan adalah barang langka dan karenanya butuh kerja keras untuk mengakuisisinya. Saya tak sepenuhnya setuju. Kebahiaan memang minta ‘kerja keras’ untuk digapai, namun bukan karena jumlahnya yang lebih sedikit dari pada permintaan dunia.

Sejak dulu, saya sudah curiga dan senantiasa bersikeras bahwa kebahagiaan tertemukan justru di antara rajutan benang-benang situasi sesehari, dalam bagian-bagian hidup kita yang sederhana dan tidak istimewa. Namun justru karena sederhana dan tidak istimewa itu tadi, ada aura nyaman yang tak tertemukan dalam barang dan situasi nan istimewa dan tidak sederhana.
Bak bantal lama (atau selimut, atau piyama, atau kamar tidur atau apapun lah yang pernah jadi pengalaman saudari saudara) yang seolah sudah jadi prasyarat mimpi indah. Bantal baru semahal apapun tak sanggup menggantikan magi persahabatan antara kepala kita dengan bantal lama tadi.

Masalahnya, hukum kebahagiaan serupa saya kira terpakai juga dalam hubungan romantis antara dua anak manusia.

Kebahagiaan yang memercik-mercik di awal hubungan itu tak lebih dari kembang api 4 Juli (atau 17 Agustus lah kalau di Jakarta), indah dan glamour. Ironisnya ledak warna percik api itu hanya indah dan glamour ketika nyala sebentar di tetak langit hitam. Ledak warna semacam yang senantiasa nyala tanpa pernah mati justru kehilangan indahnya, macam billboard neon yang mempertunjukkan imaji itu-itu saja di Vegas sana, membosankan dan bikin jengkel.
Segera setelah pertunjukkan kembang api itu selesai, kenyataan menyapa: memulai satu hubungan romantis pada dasarnya adalah mengundang satu variable yang sama sekali baru dalam hidup sendiri. Sama sekali baru. Dan seperti hukum yang sudah terlanjur saya yakini di atas bilang: kebahagiaan tak terdapatkan dalam sesuatu yang baru.

Kebahagiaan yang sesungguh-sungguhnya, saya pikir, tersimpan buat mereka yang bertahan dalam satu hubungan. Melewati segala salah mengerti dan jengkel. Lebih dari sekedar bertahan, justru dalam evolusi saling mengerti dan menerima antara dua orang yang sama sekali berbeda, tertemukan kenyamanan. Mungkin di sini banyak orang gagal: evolusi ini tak terjadi begitu saja. “… takes a lot of growing up”, kata Kibaki, teman saya dari Kenya yang baru menikah awal tahun ini. Dan seperti yang kita tahu, jadi tua itu otomatis, jadi dewasa itu pilihan.

Sam Pickering, dosen sastra Inggris di Universitas Connecticut yang jadi inspirasi Peter Weir dalam menulis tokoh John Keating (guru fiktif favorit saya) di film Dead Poet Society menulis dalam {Autumn Spring}, kumpulan esai nya yang baru terbit tahun ini,
“Last week I accompanied Vicky to Wal-Mart in Willimantic. She bought a basket of things, among others, pliers, a pair of Blue Jay slippers with red and white flowers blooming over the toes,…. Vicky finished sopping at noon, and deciding to treat ourselves to lunch, we ate at the Wendy’s near the entrance of Wal-Mart. I ordered the kid’s meal. I don’t like pickles, and instead of a single slice of pickle the hamburger contained three slices. All went well, however, because Vicky ate the slices. Even better I did not suffer heart palpitations after the meal because I ate only two French fries. Someone has parked a retarded girl in the restaurant, and she sat down at our table and talked to me. She spoke in syllables, and I did not understand anything she said. She liked fries, however, and she ate all of mine. … For dessert Vicki and I shared my Frosty. “A good morning,” Vicky said, as we left the parking lot beside Wendy’s. “You bet,” I said, settling back into the passenger seat.”

Aaahh.. kebahagiaan yang lahir dari kasualitas, keterbiasaan, kenyamanan. Tak sabar saya sampai ke sana.

1 comments:

bistok said...

buat saya kebahagian adalah kondisi pikiran dan bukan fisik. dan mungkin ini banyak diilhami sebagai orang indonesia yg selalu berkata "untung..." dalam banyak hal, walaupun hal tsb sebenarnya secara fisik merugikan :D.
ternyata ada untungnya juga jadi orang indonesia :P.

Yup, saya juga kurang sreg menonton film the pursuit of happiness, tapi yah bukannya itu bercerita tentang american dream-saya lebih senang menyebutnya mimpi bercita rasa amerika atau pencapaian sebuah mimpi tsb.

dah lama ga baca blognya lagi mas