Tak jauh dari permulaan buku, ketika Linda dan dua anak perempuannya yang sudah sama-sama dewasa menyeberang dari Bali ke Jawa dalam perjalanan ke Borneo, Linda menuliskan kesan menarik akan pria Jawa, "Java is different. Even in the middle of the night, it's crowded, male, and Muslim. As a woman, one feels no vibration except of the sexual sort, which is not sympathetic but prevalent. The funny thing about this vibration is that it's both curious and censorious. Hello, I love you, why are your arms so bare? It's not a food idea to be a woman, but to be a Western woman is worse. We offend with every breath and gesture."
Hehehe... sejak membaca paragraf di atas minggu lalu saya masih belum bisa menendangnya keluar dari pikiran ini. Masa iya sih? Segitunya ya kaum pria suku saya ini terlihat ndomblong malu-malu tapi kepingin demi melihat kulit putih halus mulus mbak-mbak dan ibu-ibu yang barusan menyeberang dari Bali itu. Saya mereka-reka seberapa besar praduga dan prasangka Linda van Toronto ini akan Islam (dan tradisi konvensionalnya yang besar kemungkinan terpotretkan serba kaprah dalam lingkaran-lingkaran tertentu di belahan bumi barat) terselip tanpa sadar dalam caranya merasa dan memaknai pandang mata dan 'vibrasi-vibrasi' lain yang tertangkap radar beliau.
Di satu sisi jeli juga Linda mencatat bahwa getar-getar perhatian yang terpanahkan ke arahnya 'both curious and censorious'. Pas! Buat saya memang sungguh 'Jawa'lah ekspresi 'curious and censorious' itu. Dalam bahasa Jawa seseharinya 'ngono yo ngono tapi yo ojo ngono'... Penasaran ya penasaran, tapi ya jangan keliatan-keliatan bangetlah kalau lagi penasaran. Di pihak lain, saya pikir ada yang berlebih dari cara Linda memaknai perhatian tadi, 'no vibration except the sexual sort?' Mosok sih pria Jawa separah itu dalam memandang wanita? Bahkan di trilogi 799 halamannya Romo Mangun: "Rara Mendut", "Genduk Duku" dan "Lusi Lindri" pun ada juga citra pria Jawa yang tahu adat dan aturan, tahu cinta yang tak semena nafsu.
Atau jangan-jangan, ada juga persentase benarnya vonis nylekit penulis Kanada ini? Mungkin fokus masalahnya adalah imaji wanita bule di mata pria Jawa (atau suku-suku lain, mungkin?). Teringat lagi obrolan-obrolan di gym di Semarang di mana saya (oleh himbauan tegas orang tua) sempat memeras keringat selama dua minggu. Hampir semua obrolan dengan tiap-tiap individu di sana akan akhirnya menyinggung juga iklim interaksi seksual di Amerika. "Apa bener to mas yang ada di film-film itu?" Well, tergantung film yang mana yang panjenengan tonton?, tanya saya ke hampir semua. Menakjubkan memang betapa efektifnya pencitraan media akan suatu obyek mempengaruhi pedalaman konsumen media bersangkutan. Menariknya, semenjak berdiam di Auburn, Alabama, saya jadi terekspos juga kok ke media yang memotret Amerika apa adanya: yang nggak kelewat sensual dan nggak selalu kebak kekerasan. Tapi kenapa ya, media yang mampir di tanah air kok ya kebanyakan justru yang serba sexy dan berdarah-darah? Jangan-jangan distribusi sungsang macam ini justru terang memperlihatkan potret selera kita sebagai konsumen ketimbang Amerika sebagai obyek konsumsi? Lha kalau gitu, berarti ada benarnya juga dong komentar menyedihkan Linda Spalding tentang pria Jawa (dalam kategori mana saya menghitung diri): "As a woman, one feels no vibration except of the sexual sort..."
Duh!
PS: gimana ya pendapat perempuan jawa dan non-jawa?
1 comments:
Iya mas, suseh bener.. ini jg baru nulis lagi tapi model pendek2 dl seperti model percikan dari otak dl aja. hehehe.
kembali ke subjeknya, mungkin seperti itu yg dirasakan semua orang dari suatu sistem yg lebih "terbuka" dibanding tempat orang2 yg ia kunjungi. dan jawa dahulu sepertinya memang lebih "tertutup" dibanding kanada.
Post a Comment