<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381</id><updated>2011-07-08T14:48:04.987+02:00</updated><title type='text'>Boe</title><subtitle type='html'>Sense, Conscience and Faith</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>292</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2730757789465825994</id><published>2010-04-04T03:50:00.002+02:00</published><updated>2010-04-04T04:46:28.356+02:00</updated><title type='text'>Topeka, Koteka dan Kathokan: information gap theory in action</title><content type='html'>Hari pertama bulan April kemaren, Google melempar lelucon April mop menarik ke ranah maya. Siapapun yang membuka search engine Google 1 April lalu tidak disambut dengan logo 'Google' yang meski sering berganti kulit namun selalu dapat dikenali sebagai 'Google'. Alih-alih, 1 April lalu logo Google berganti eja jadi 'Topeka'. Seketuk pointer di logo tak wajar ini mengantarkan kita ke halaman blog Google yang menerangkan bahwa &lt;a href="http://googleblog.blogspot.com/2010/04/different-kind-of-company-name.html"&gt;Google telah berganti nama menjadi Topeka&lt;/a&gt;. Cerita di balik ganti nama ini cukup menarik, konon kota Topeka di timur laut Kansas &lt;a href="http://edition.cnn.com/2010/TECH/03/02/google.kansas.topeka/index.html"&gt;mengganti namanya menjadi 'Google'&lt;/a&gt; selama sebulan merayakan keikutsertaan mereka dalam program ambisius Google: "&lt;a href="http://www.google.com/appserve/fiberrfi"&gt;Fiber for communities&lt;/a&gt;". Satu hal yang sengaja tertinggal di artikel dalam weblog google tadi adalah: 'ganti' nama Google jadi Topeka ini cuma sehari saja usianya. Namanya juga April Mop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang pagi-pagi sudah tertipu Google dan baru sadar sejam atau dua setelahnya merasa bahwa 'cerita' ini antik menarik. Begitu banyak hal unik di dalamnya: kreatifitas khas Google dengan 'Fiber for communities' nya, ungkapan terimakasih inovatif Topeka dengan mengganti nama menjadi Google selama sebulan, dan balasan 'tongue in cheek' Google atas ganti nama tadi. Maka iseng pula lah saya menulis kata 'Topeka' yang mewakili sebegitu banyak konsep dan event menarik tadi di status facebook awak. Tanpa terduga, beberapa teman lama membaca status tak jelas tadi dan menimpal komentar atasnya. Dua komentar pertama setelah 'TOPEKA'? well ... 'KOTEKA' dan 'KATHOKAN'. Dua teman yang menawarkan komentar ini memang agak-agak berlebih daya imajinasinya. Uniknya, mereka lulusan sekolah menengah kejuruan yang sama di Semarang sana. Komentar-komentar sisanya intinya senada: penasaran. Apaan sih Topeka itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tergolong jarang mengupdate status di facebook. Senada dengan jarangnya blog ini diupdate. Dan kalaupun sempat mengupdate status, super jarang ada yang sampai tertarik mengomentari balik. Saya mahfum, topik-topik yang saya biasa taruh di status itu memang lebih sering personal, berpanjang kata dan terlampau spesialis. Tidak menarik khalayak ramai. Tapi kenapa selarik 'Topeka' justru bikin orang penasaran sampai-sampai sudi berkomentar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sds.hss.cmu.edu/src/faculty/loewenstein.php"&gt;George Loewenstein&lt;/a&gt;, ekonom lulusan Yale yang gemar mencampur psikologi ke dalam adonan ilmiahnya punya teori menarik tentang rasa penasaran. Teori Loewenstein dijuduli 'Information Gap Theory' dan intinya berargumen bahwa rasa penasaran seseorang terpancing ketika (1) ada gap informasi dalam benak yang tersadari dan (2) situasi tengah memungkinkan untuk menutup gap informasi ini. Ahoy, menarik juga! Perhatikan kata 'Gap', 'jeda', di sini. Kalau kita umpamakan serangkaian informasi yang terhubung sama lain sebagai batu bata yang dideret horizontal, kata 'gap' di sini mengimplikasikan absennya salah satu bata di deretan tadi. Artinya kita punya (setidaknya berpikir kalau kita punya) pengetahuan tertentu tentang deretan bata yang ada sebelum jeda, dan mungkin informasi tertentu (atau setidaknya ekspektansi tertentu) tentang deretan bata setelah jeda. Setiap kita punya jeda informasi. Ada begitu banyak informasi di dunia ini, tak mungkin seseorang tahu semua informasi yang ada. Namun tak setiap hari kita disuguhi kesadaran bahwa kita sedang menghadapi jeda informasi dan, sedapnya lagi, sedang dalam situasi yang memungkinkan untuk menutup jeda informasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, mungkin ini juga yang terjadi dengan status saya yang lain dari biasa tempo hari. Teman-teman saya tahu (dan mungkin berharap) bahwa status saya di facebook akan senantiasa membosankan atau paling tidak bertele-tele. Nah ketika suatu kali saya muncul dengan status yang cuma sekata dan artinya tidak serta-merta jelas macam 'Topeka', jeda informasi menghembalang sistem kognitif mereka. "Ini apaan?", mungkin mereka sempat pikir. Penasaran. Di sisi lain, sistem komentar di facebook memberi mereka fasilitas untuk menutup jeda informasi tadi. "Ngapain nebak-nebak kalau bisa tanya?" pikir mereka lagi. Maka merekapun menuntut penjelasan demi tutupnya gap informasi di benak masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pertama kali membaca tentang information gap theory nya George Loewenstein di buku menarik, '&lt;a href="http://www.madetostick.com/"&gt;Made to Stick&lt;/a&gt;' tulisan kakak beradik Chip &amp;amp; Dan Heath. Di buku ini Chip Heath, professor organizational behavior di Stanford menyarankan kalau teori Loewenstein bisa dipakai sebagai salah satu pointer dalam mengkomunikasikan ide ke satu kelompok audiens. Inti ide mereka: jangan sekedar mendeskripsikan satu ide, alih-alih ciptakan situasi di mana audiens njenengan merasa bahwa ada gap informasi dalam sistem kognitif mereka dan janjikan bahwa ide yang njenengan sedang 'jual' akan menutup jeda informasi tadi. Cerdas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2730757789465825994?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2730757789465825994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2730757789465825994' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2730757789465825994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2730757789465825994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2010/04/topeka-koteka-dan-kathokan-information.html' title='Topeka, Koteka dan Kathokan: information gap theory in action'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2531965863079380582</id><published>2010-03-30T03:23:00.004+02:00</published><updated>2010-03-31T02:37:58.129+02:00</updated><title type='text'>Mengajar = Menjelaskan + Menjual</title><content type='html'>Nama Enrico Fermi kita sering dengar. Menjabat profesor fisika nuklir pertama di Italia di usia 24, Fermi memenangkan hadiah Nobel di umur 37 tahun. Setahun kemudian, Fermi dan keluarganya hijrah ke New York demi menghindari prasangka antisemit yang mulai marak di Italia. Istri Fermi berdarah Yahudi, meski Fermi sendiri Itali totok. Di Columbia University, penelitian Fermi tentang reaksi fisi nuklir mengantarkan Amerika ke proyek Manhattan yang berbuah bom nuklir yang di kemudian hari meledakkan Hiroshima dan Nagasaki. Nama Leo Szilard, di pihak lain, agak lebih jarang terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leo Szilard, ilmuwan asal Hungaria berdarah Yahudi ini termasuk dalam gelombang migrasi ilmuwan dari Eropa daratan menghindari pasang naik antisemitisme di Jerman. Sebelum meninggalkan Eropa, Szilard adalah salah satu murid Einstein dan Max Plank di Berlin. Tak lebih dari setahun sebelum Fermi hijrah ke Columbia University, Szilard sudah lebih dulu diundang untuk melakukan penelitian di universitas ini. Szilard adalah pemikir fisika pertama yang menduga kemungkinan reaksi fisi nuklir berantai yang memungkinkan akumulasi energi maha besar ala bom nuklir. Szilard juga memegang hak paten reaktor nuklir pertama bersama Enrico Fermi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit berbeda dari Fermi yang lebih berkonsentrasi ke sisi akademik penelitian nya, Leo Szilard gelisah akan implikasi geopolitis riset nuklir. Konon, peneliti-peneliti Jerman yang bersimpati akan ide Sosial Nasionalisme pun telah menemukan prinsip-prinsip fundamental reaksi fisi, dan penelitian ke arah pembangunan senjata pemusnah massal menggunakan prinsip ini mengintip di balik tikungan sejarah. Leo Szilard khawatir bahwa Nazi Jerman akan lebih dulu membangun bom nuklir ketimbang lawan-lawannya. Terlebih lagi, pemerintah Amerika nampaknya suam-suam kuku saja menanggapi perkembangan yang buat Szilard sangat mengkhawatirkan ini. Maka Szilard pun bergerak aktif melobi guru lamanya, Albert Einstein, untuk membujuk presiden Frank D. Roosevelt bersegera melancarkan penelitian terapan yang lebih gencar dalam merakit bom nuklir. Sebagian karena aktivitas Szilard lah proyek Manhattan terbentuk dan bom nuklir terlahir di tanah Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu episode menarik dari drama besar ini terjadi ketika Einstein telah bersetuju dengan Szilard untuk menulis surat ke Presiden Roosevelt menegaskan pentingnya Amerika bergegas merakit bom nuklir. Banyak fisikawan di masa itu mampu dan mumpuni memberi kuliah panjang lebar tentang mekanisme fisi nuklir dan menerangkan kemungkinan pembangunan senjata mutakhir menggunakan mekanisme ini. Namun Einstein mempercayakan misi untuk meyakinkan Roosevelt akan issue kritis ini bukannya ke salah satu fisikawan, namun justru ke seorang ahli ekonomi, Alexander Sachs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alexander Sachs lahir di Lithuania namun hijrah ke Amerika Serikat ketika masih berusia 11 tahun. Sachs meraih gelar pasca sarjananya dari Harvard untuk kemudian menjadi professor ekonomi di Princeton. Di era 1930an, Sachs adalah salah seorang penasihat ekonomi presiden Roosevelt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, Leo Szilard sempat berkomentar pesimis akan kemampuan Sachs memahami dan menjelaskan konsep-konsep susah fisika nuklir ke presiden Roosevelt secara runut dan logis. Tanggapan Einstein akan keberatan Szilard ini buat saya punya insight menarik akan esensi komunikasi dan, secara tidak langsung, mengajar:&lt;br /&gt;"Szilard, kamu memandang cara pikir rasional terlalu tinggi. Terkadang dalam hidup, kita mesti menjual, bukan menerangkan."&lt;br /&gt;Menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, persis di sinilah masalah kita dalam mengajar. Seringkali proses mengajar dalam kelas bertumpu terlalu berat pada aktivitas menerangkan. Padahal, kalau mau dievaluasi secara kasar, saya pikir anak sekolah di Indonesia, Amerika atau mana saja, akan lebih mudah mengulang jingle atau motto salah satu iklan yang mereka dengarkan di TV atau lihat di spanduk pinggir jalan ketimbang mengulang satu kalimat yang guru mereka utarakan di kelas hari itu. Saya bahkan berani bertaruh kalau kita faktorkan variabel frekuensi ke dalam perbandingan ini, dengan mengijinkan sang guru mengulang-ulang satu kalimat yang sama sejumlah ulangan salah satu jingle iklan di TV dalam sehari, saya pikir si anak masih akan tetap lebih bisa mengingat jingle iklan tadi. Menjual sesuatu bukanlah sekedar mengulang selarik kalimat lagi dan lagi. Ada lebih banyak rahasia dan lika-liku yang terlibat di satu proses menjual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita ibaratkan keduanya sebagai penembak tepat di masa perang, 'menjelaskan' punya sasaran yang berbeda dari 'menjual'. Proses menjelaskan suatu konsep mencoba bicara ke sisi kognitif individu yang tengah diajar, sementara proses menjual suatu benda atau konsep mengikutkan sisi emosi individu yang sama. Seseorang yang sekedar menjelaskan sesuatu tak perlu ambil pusing apakah hal yang tengah diajarkannya menarik atau relevan bagi murid didiknya. Sementara seseorang yang tengah menjual sesuatu mesti mencoba mengaitkan 'barang' (atau konsep) yang tengah dijualnya dengan konteks dan kebutuhan pelanggannya. Ia mesti mulai dari menciptakan sebentuk kekosongan dalam diri sang pelanggan yang hanya dapat diisi dengan barang jualannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengalaman saya mencoba mengajar, sering tertemukan wajah-wajah capek atau acuh dalam kelas. Tak peduli sejelas ataupun selengkap apapun saya mengajar, wajah-wajah capek dan acuh tadi biasanya tak berubah jadi berbinar mengerti dan antusias. Bisa jadi di sinilah praktik saya mengajar, dan praktik siapapun juga yang punya tugas mengajar, bisa diperkaya dari komentar Einstein tadi: manusia bukan melulu makhluk rasional. Penjelasan-penjelasan gamblang tidak otomatis membangkitkan inspirasi dan rasa ingin tahu dalam diri manusia. Dari 24 jam yang seseorang punya dalam sehari, besar kemungkinan hanya se per delapan nya terhabiskan sebagai makhluk rasional yang mengambil keputusan secara logis. Sementara sisanya, kita mesti dibujuk, dibuali, dihipnotis untuk membayar perhatian ke satu even atau satu ide eksklusif. Itu sebabnya advertising dan marketing adalah seni tersendiri. Mungkin kalau saya, dan guru-guru lain, mulai belajar jualan, menciptakan 'kebutuhan untuk tahu sesuatu' di benak dan emosi murid-murid saya sebelum nyerocos menjelaskan prinsip, konsep dan mekanisme, mungkin kelas-kelas saya akan punya lebih banyak wajah antusias dan ingin tahu. Dan sangat mungkin, hanya setelah kita belajar untuk menjual dan menjelaskan, baru kita tahu benar cara mengajar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2531965863079380582?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2531965863079380582/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2531965863079380582' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2531965863079380582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2531965863079380582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2010/03/mengajar-menjelaskan-menjual.html' title='Mengajar = Menjelaskan + Menjual'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-9010007331049656659</id><published>2010-03-08T02:59:00.030+01:00</published><updated>2010-03-12T04:31:57.275+01:00</updated><title type='text'>Ada apa di balik segregasi rasial?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Tidak sampai seratus tahun lalu, segregasi rasial yang terterjemahkan dalam bentuk pemisahan fasilitas antara mereka yang berkulit putih dan gelap adalah hal jamak di Amerika Serikat. Di dalam bus, mereka yang berkulit hitam mesti duduk di tempat paling belakang dan kalau ada yang berani-berani menempati tempat duduk yang dikhususkan buat orang kulit putih, hukuman verbal (dan seperti di kasus &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rosa_Parks"&gt;Rosa Parks&lt;/a&gt;, konsekuensi legal) biasanya tak terelakkan. Konon kabarnya, &lt;a href="http://www.martinlutherking.org/"&gt;Martin Luther King Jr.&lt;/a&gt; punya pengalaman traumatis macam ini semasa sekolah. Sepulang memenangkan kompetisi orasi di kota lain bersama salah seorang gurunya, Martin muda kena semprot karena 'lancang' duduk di tempat yang 'salah'. Ketika ia mencoba untuk menerangkan bahwa tidak ada tempat duduk lain di bus dan Martin serta gurunya lebih dulu naik ke bus bersangkutan, cacian yang menimpali bukannya menyurut. Dalam salah satu tulisan autobiografisnya, Martin Luther King Jr. mengingat bahwa selama berdiri beberapa jam dalam bis dalam perjalanan pulang ke Atlanta, ia "belum pernah merasa semarah itu sebelumnya, dan bahkan semenjak itu." Martin muda merekam observasi intuitif yang saya rasa terngiang juga di benak kolektif kita, "... ada sesuatu yang benar-benar salah di sistem ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika pra 1950'an, bukan hanya bus saja yang tersegregasi, fasilitas-fasilitas sepele macam pancuran tempat minum dan kamar mandi pun tak lepas dari politik pemisahan ras. Bagaimana dengan fasilitas-fasilitas yang lebih besar dan kompleks macam sekolah, universitas dan rumah sakit? Tak ada bedanya. Bahkan organisasi-organisasi yang dalam bayangan saya otomatis punya nilai universal macam Boy Scout (semacam Pramuka) dan YMCA (Young Men's Christian Association) pun tak luput dari belenggu paradigma segregasi. Gerakan hak asasi sipil yang sepanjang era 1950 sampai 1960an banyak membawa perubahan dalam tatanan sosial masyarakat Amerika Serikat, termasuk di dalamnya intervensi-intervensi pemerintah dalam menghentikan praktek segregasi rasial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1954, Mahkamah agung Amerika Serikat memandatkan integrasi rasial di seluruh sekolah di Amerika. Artinya, sekolah-sekolah di banyak tempat di Amerika Serikat saat itu yang sebelumnya tertutup buat anak-anak dari ras di luar kaukasoid mesti membuka pintunya untuk menerima murid-murid berkulit hitam (kuning, merah atau cokelat). Tidak semua komunitas di Amerika setuju atau peduli akan mandat tersebut. Kantong-kantong komunitas yang sebagian besar berlokasi di negara-negara bagian selatan macam Alabama dan Mississippi, bersikeras membangkang dengan alasan negara mesti melindungi hak-hak individu. Seiring dengan waktu, jumlah sekolah yang masih bersikeras menerapkan politik segregasi dalam menerima siswa baru pun makin menipis. Saat ini, saya rasa tidak ada sekolah di Amerika Serikat yang masih terang-terangan menerapkan prinsip segregasi dalam menerima siswa-siswa nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya itu perasaan saya sampai tertonton film dokumentasi berjudul "&lt;a href="http://www.promnightinmississippi.com/"&gt;Prom night in Mississippi&lt;/a&gt;". Film menarik ini (Official Selection, Sundance Film Festival 2009) bercerita tentang sebuah sekolah setaraf SMA di Charleston, Mississippi. Charleston bukan kota besar, populasinya pun cuma 2100 orang. Terletak di salah satu wilayah setara kecamatan termiskin di Mississippi, negara bagian yang jamak tertemukan di tiga besar negara bagian termiskin di Amerika Serikat, perubahan berjalan selambat siput di Charleston High School. Meski palu mandat integrasi rasial untuk sekolah-sekolah di Amerika Serikat sudah terketok tahun 1954, Charleston High School baru membuka pintunya buat pelajar kulit hitam di tahun 1970. Lebih uniknya lagi, Charleston High School punya tradisi Prom terpisah. Prom, sebutan singkat untuk 'Promenade', adalah acara dansa akhir tahun untuk siswa-siswa jenjang terakhir, macam acara perpisahan setelah kelulusan yang marak juga di Indonesia. Di Charleston High School, Prom biasanya diatur oleh orang tua murid dan sekolah. Sampai tahun 2008 lalu, Charleston High School punya dua Prom tiap tahunnya: satu buat siswa kulit putih, satu buat siswa kulit gelap. Segregasi rupa-rupanya masih hidup di Charleston, MS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Charleston, meski kecil dan terbelakang, rupa-rupanya punya magi tersendiri. &lt;a href="http://www.imdb.com/name/nm0000151/"&gt;Morgan Freeman &lt;/a&gt;(Shawsank Redemption, Invictus), salah satu aktor watak kawakan kesukaan saya, memilih untuk tinggal di kota sepi ini. Semasa kecil, Morgan sempat tinggal di Charleston bersama kakeknya. Demi mendengar praktik segregasi di SMA lokal, Morgan pun tergelitik untuk berkontribusi memutus tradisi kadaluwarsa ini. Dalam bahasanya sendiri, "... kita mesti jadi katalis untuk menghentikan praktik bodoh ini." Apa akal? Sederhana. Morgan Freeman menawarkan untuk membayar pengeluaran untuk Prom tahun 2008 kalau anak-anak Charleston High School diperbolehkan untuk mengatur Prom nya sendiri, dan membuat event Prom tersebut bersama antara yang kaukasoid dengan yang berwarna. Sekolah mengizinkan, sebagian besar anak-anak Charleston High pun antusias menyambut tawaran tadi. Seorang bahkan sempat bertanya, "Sir, what is our budget limit?", kami punya anggaran berapa 'ya untuk Prom ini? Morgan Freeman menjawab dengan senyum dikulum "limitless." Terserah kamu. Wow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Prom Night in Mississippi" bercerita tentang perjalanan persiapan dan perayaan Prom bersama ini, dari saat Morgan Freeman melempar tawaran sampai di malam Prom nya sendiri. Film ini merekam emosi, opini, antusiasme dan skeptisisme banyak pihak: kepala sekolah, guru-guru, siswa yang pro Prom bersama, siswa yang kontra Prom bersama, dan orang tua murid. Dan dari beberapa puluh sketsa ini, muncul gambar yang buat saya menarik. Pertanyaan yang menghembalang benak saya adalah: bagaimana bisa satu komunitas yang sudah tiga puluh tahun terintegrasi, setidaknya demikian tampaknya dari luar, ternyata masih menyimpan paradigma laten yang mempercayai pentingnya segregasi antar ras?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam studi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_sosial"&gt;psikologi sosial&lt;/a&gt;, pertanyaan macam ini punya sejarah diskusi panjang (Pettigrew &amp;amp; Tropp 2005). Konon di akhir abad ke-19, ide terdepan psikologi sosial mendikte bahwa kontak antar dua grup (banyak hal dapat membentuk 'grup' seperti gender, sumber pemasukan dan latar belakang pendidikan, salah satu yang paling jamak: ras) hampir pasti berakhir di konflik. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/William_Graham_Sumner"&gt;William Graham Sumner&lt;/a&gt;, professor sosiologi pertama di Amerika Serikat (Yale College), berpendapat bahwa, secara otomatis, tiap grup punya pendapat bahwa dirinya lebih superior dibanding grup lain dan karenanya konflik tak mungkin terelakkan ketika dua grup bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penelitian empiris di 1930 sampai 1950an menunjukkan hasil-hasil yang tak selalu sesuai dengan ide Sumner akan hasil akhir kontak antar grup. Salah satu riset empiris yang mulai mengubah paradigma akan interaksi antar grup ini sempat diterbitkan dalam bentuk buku berjudul "&lt;a href="http://books.google.com/books?id=ypOEfbw3jJAC&amp;amp;printsec=frontcover&amp;amp;dq=Interracial+Housing&amp;amp;source=bl&amp;amp;ots=0sGNUpXEEd&amp;amp;sig=JNCf8poHJfCMIIUG9uADqSbGLoU&amp;amp;hl=en&amp;amp;ei=0jGYS5D7Fcyttgfs8enkAQ&amp;amp;sa=X&amp;amp;oi=book_result&amp;amp;ct=result&amp;amp;resnum=1&amp;amp;ved=0CAkQ6AEwAA#v=onepage&amp;amp;q=&amp;amp;f=false"&gt;Interracial Housing&lt;/a&gt;" di tahun 1951. Di tahun 1949, pemerintah Amerika memutuskan untuk memperbaharui wilayah-wilayah kumuh di kota-kota dan membangun kompleks-kompleks apartemen baru yang lebih layak. Kebijakan ini punya konsekuensi yang lebih luas dari pada peremajaan kota, karena dalam praktiknya banyak kompleks apartemen baru yang kemudian membuka pintunya untuk penghuni dari segala ras. Sebelumnya, paradigma segregasi rasial yang marak di utara dan selatan Amerika Serikat membuat praktik ini sama sekali tak terbayangkan. Bahkan di tahun 1949 pun, tak semua kompleks apartemen baru mempersilahkan penghuni dari semua warna kulit. Sebagaimana sekolah-sekolah, banyak juga kompleks-kompleks yang bersikukuh menyewakan apartemennya hanya ke penghuni kulit hitam atau kulit putih. Morton Deutsch dan Mary Evans Collins, sosiolog dari New York University melihat kesempatan menarik untuk menelisik efek kontak antar ras di beberapa apartemen terhadap cara seseorang berpikir dan merasa akan ras lain. Di pihak lain, hasil ini dapat kemudian dibandingkan dengan cara seseorang yang memilih tinggal di apartemen eksklusif ras berpikir dan merasa akan ras lain. Hasilnya? Deutsch dan Collins menemukan bahwa kontak dengan grup rasial lain ternyata punya dampak positif akan image seseorang akan grup rasial bersangkutan. Semakin lama seseorang tinggal, bertukar sapa dan bertetangga dengan seorang lain dari ras yang berbeda, semakin terkikis prasangka rasial yang ia punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari buku Deutsch dan Collins dan buah-buah riset lain dari tahun 1930-1950an, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gordon_Allport"&gt;Gordon Allport&lt;/a&gt;, professor psikologi dari Harvard, menulis sintesis klasik akan prasangka: "&lt;a href="http://books.google.com/books?id=ues7VM41NsIC&amp;amp;printsec=frontcover&amp;amp;dq=The+Nature+of+Prejudice&amp;amp;cd=1#v=onepage&amp;amp;q=&amp;amp;f=false"&gt;The Nature of Prejudice&lt;/a&gt;". Buku ini sempat diterbitkan dua kali, tahun 1954 dan 1979, dengan versi pendek (abridged) diterbitkan tahun 1964. Di bab 16, The effect of contact, Allport menulis ide menarik menantang ide psikologi sosial abad sebelumnya: kontak antar grup (termasuk di dalamnya grup rasial) tak selalu berakhir dalam konflik. Terkadang, dengan menetralisir prasangka antar ras, kontak antar grup punya dampak positif terhadap hubungan antara kedua grup. Di kala lain, kontak antar grup justru membuat prasangka antara ke dua grup yang tengah bertemu makin menjadi. Walhasil konflik lah buntutnya. Allport menyarankan bahwa ada beberapa hal yang mesti terjadi untuk membuat kontak antar grup rasial efektif menetralisir prasangka antara keduanya: (1) Kedua grup mesti punya status yang setara ketika mereka bertemu, (2) Grup-grup yang tengah bertemu mesti punya tujuan bersama (contoh: di kesebelasan internasional macam Chelsea, Didier Drogba dan Joe Cole punya tujuan bersama) (3) Tujuan bersama ini hanya bisa tercapai jika kedua grup bekerja sama (4) Ada dukungan institusi sosial yang lebih tinggi (contoh: pemerintah dalam proyek perumahan bersama dalam penelitian Deutsch dan Collins di atas, klub bola dan fans sedunia dalam kasus Drogba dan Cole).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik, pikir saya. Di komunitas macam Charleston High School, faktor-faktor seperti kesetaraan status dan keberadaan institusi sosial yang lebih tinggi (contoh: sekolah) jelas ada. Namun apakah siswa-siswa di sana punya tujuan bersama di mana mereka mesti bekerja sama? Hmm.. mungkin nggak juga. Mungkin itu sebabnya 30 tahun kontak tak membuat integrasi jadi otomatis? Mungkin justru di sinilah ide Morgan Freeman menunjukkan sisi jeniusnya tersendiri: dengan memercikkan kemungkinan Prom bersama, didukung dana tak berbatas dan menyerahkan organisasinya ke siswa-siswa sendiri, Freeman menciptakan tujuan bersama yang hanya bisa dicapai dengan kerja sama antara kedua grup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima puluh tahun sejak "The Nature of Prejudice" pertama kali diterbitkan, &lt;a href="http://pettigrew.socialpsychology.org/"&gt;Thomas Pettigrew&lt;/a&gt;, salah satu murid Gordon Allport, mengevaluasi ulang hipotesis gurunya. Thomas Pettigrew dan Linda Tropp (2004) menganalisis ulang hasil dari 515 penelitian kontak antar grup dari tahun 1940an sampai tahun 2000. Dari ke 515 penelitian ini, didapat 714 kasus kontak antar grup yang melibatkan 250,943 orang dari 38 negara. Dari meta-analisa kasus-kasus ini, Pettigrew dan Tropp menunjukkan bahwa di 95% dari 714 kasus, kontak antar grup berhasil menurunkan prasangka antara keduanya. Menariknya hanya 19% dari seluruh kasus menunjukkan keberadaan empat faktor positif sebagaimana yang disarankan Allcot. Artinya? Baik dengan atau tanpa empat faktor positif tadi, kontak antar grup punya efek positif akan hubungan antara ke dua grup. Pettigrew kemudian menyarankan bahwa mungkin hipotesis Allport mesti sedikit dimodifikasi: mungkin kontak antar grup sudah semestinya mengikir prasangka antara keduanya, namun ada faktor-faktor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;negatif&lt;/span&gt; yang dapat menghalangi proses ini. Pettigrew menyarankan beberapa hal yang dapat menjadi faktor negatif penghalang: emosi macam kegelisahan dan rasa terancam yang sering kali terjadi di awal kontak antar grup, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah ke dalam film "Prom Night in Mississippi", perlahan nampak bahwa tak semua siswa di Charleston High bungah akan ide Freeman. Alasannya bermacam: ada yang bilang, "takut gak lagi diaku anak kalau sampai ketahuan ikutan Prom bersama", ada juga yang terang-terangan bilang kalau Prom bersama itu "ide bodoh". Satu potret menggelitik muncul juga dari kalangan orang tua murid. Terasa ada perasaan aprehensif, was-was, akan apa yang akan terjadi. Lebih dari itu, terasa juga bahwa tidak ada orang tua yang merasa bahwa Prom bersama adalah ide bagus. Komentar mereka berbagai-bagai meski senada: "Hmmm... dulu waktu jaman kami nggak begitu...". Bedanya, ada yang kemudian menyerahkan keputusan ke anak-anaknya dan ada yang mengambil keputusan buat anaknya: kamu gak boleh datang ke Prom barengan itu. Di sisi lain, ada anak-anak yang setuju dengan orang tua mereka, sementara ada yang diam-diam tak setuju namun tak kuasa menolak otoritas pragmatis orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa ada yang janggal dari kedegilan beberapa orang tua murid menolak ide Prom bersama ini. Di salah satu bagian film, beberapa orang tua kulit putih bertemu dan ngobrol tentang ide Prom bersama ini. "Nggak akan kami ijinkan anak kami datang ke Prom bersama itu", kata seorang. "Iya, bayangkan anak-anak kita bakal berdansa dan bergesek kulit dengan anak-anak kulit hitam.", timpal yang lain, bergidik. Buat mereka, yang jadi masalah bukanlah dansa atau bergesek kulitnya sendiri, namun dengan siapa anak-anak mereka melakukannya. Ada tensi, ketakutan, kegelisahan (??) sensual yang mencuat di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian film lain, beberapa pertanyaan personal dilempar ke siswa-siswa Charleston High: "pernah nggak ngedate ama cowok atau cewek dari ras lain?". Selain satu pasangan antar ras di sekolah itu, jawaban mereka universal: "belum". Ketika ditanya "bakal nyoba nggak di masa depan?", banyak mereka dengan agak malu bilang, "nggak." Bahkan mereka yang tak berkeberatan pergi ke Prom bersama, berteman baik dengan seseorang dari ras lain pun bilang "nggak." Ada yang menarik di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat juga tertangkap Morgan Freeman merenungi segregasi rasial di kota tempat tinggalnya, "kamu nggak akan denger ini dibicarakan terang-terangan, tapi segregasi yang sebenarnya itu antara cewek kulit putih dan cowok kulit hitam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi: seks dan intimasi antar ras. Inikah sumber ketakutan yang menghalangi proses interaksi antara kedua ras di Charleston High selama ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa terbayangkan seseorang dengan paradigma evolusi menyarankan bahwa faktor negatif yang mengganggu proses interaksi antara dua ras ini (dan mungkin semua grup lain?) pada akhirnya adalah ketakutan akan kikisnya populasi ras sendiri. Tanpa sadar kita mencoba untuk melanggengkan gen-gen yang membentuk ras kita (ala "&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Selfish_Gene"&gt;selfish gene&lt;/a&gt;"nya Richard Dawkins) dan melihat kemungkinan akan campur cemampurnya gen antar ras sebagai ancaman tersendiri. Penjelasan ini terasa terlalu simplistis. Jika penjelasan macam ini benar, tembok yang ada antar grup rasial bakal lebih tebal dan sulit ditembus oleh siapapun di Amerika Serikat (atau di mana pun di dunia). Fakta bahwa di tahun 2008, Charleston High School adalah kasus unik di Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 99% populasi Amerika Serikat tidak lagi (atau mungkin tidak pernah benar-benar merasakan) merasakan kegelisahan 'genetis' ala Dawkins.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kemungkinan situasi Charleston yang terpencil dan terisolasi dan fakta bahwa belum pernah ada kesempatan untuk mengambil langkah 'raksasa' mengadakan Prom bersama sebelumnya ada hubungannya dengan retensi ketegangan rasial di komunitas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain, bisa jadi segregasi rasial dalam skala mikro seperti yang terjadi di Charleston High sebenarnya adalah fakta hidup di mana pun kita berada, tanpa ada hubungannya dengan status isolasi sosial suatu komunitas. John Dixon, peneliti di departemen psikologi di Lancaster University, Inggris, punya dua paper menarik bersama dengan kolega-koleganya mendokumentasikan segregasi mikro macam ini. Paper mereka yang pertama menilik interaksi &lt;a mce_href="http://web.uct.ac.za/depts/psychology/plato/Dixon,%20Tredoux%20&amp;amp;%20Clack,%20in%20press.pdf" href="http://web.uct.ac.za/depts/psychology/plato/Dixon,%20Tredoux%20&amp;amp;%20Clack,%20in%20press.pdf"&gt;grup-grup rasial di pantai-pantai publik Afrika Selatan&lt;/a&gt; sementara paper ke dua mendokumentasikan &lt;a mce_href="http://web.uct.ac.za/depts/psychology/plato/clackdixontredoux.pdf" href="http://web.uct.ac.za/depts/psychology/plato/clackdixontredoux.pdf"&gt;interaksi grup-grup rasial di kafeteria salah satu kampus di Inggris&lt;/a&gt;. Dixon menunjukkan bahwa segregasi mikro dalam bentuk pemakaian ruang bisa diamati di kedua kasus di atas. Di pantai-pantai di Afrika Selatan, wilayah-wilayah tertentu biasanya dipakai oleh grup-grup rasial tertentu pula. Demikian juga di kafeteria di salah satu kampus di Inggris. Lebih menariknya, ketika jumlah pemakai pantai dari salah satu grup rasial meningkat melebihi titik tertentu, biasanya orang-orang dari grup rasial yang lain kemudian bertendensi untuk angkat kaki dari pantai tadi. Merasa tak nyaman, mungkin? Terancam?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Boleh jadi pada akhirnya, hubungan antar grup manusia, grup apapun juga, adalah soal sulit yang membutuhkan banyak kerja dan waktu untuk membuatnya berjalan mulus. Mungkin memang ada yang, secara inheren, salah dengan cara kita berinteraksi dengan yang lain, sehingga tak butuh banyak untuk membuat interaksi antar manusia melenceng, disalah mengerti, dan berakhir pada konflik. Di depan latar muram ini, ada secercah pengharapan. Fakta bahwa di sebagian besar Amerika Serika sekolah-sekolah (dan fasilitas-fasilitas umum lain sudah terintegrasi penuh setidaknya secara makro menunjukkan bahwa sesulit-sulitnya hubungan antar grup manusia, harmoni adalah sesuatu yang tidak mustahil. Kita cuma perlu memahami bahwa kerja menuju harmoni yang sungguh meresap di skala mikro belum selesai.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Allport, G.W. 1954. The Nature of Prejudice. Addison-Wesley: Cambridge, MA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dixon, J.A.&lt;/span&gt;, &lt;span&gt;Tredoux, C.&lt;/span&gt; and &lt;span&gt;Clack, B.&lt;/span&gt; 2005. On the microecology of racial division: a neglected dimension of segregation. South African Journal of Psychology 35:395-411.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Clack, B., Dixon, J.A., and Tredoux, C. 2005. Eating Together Apart: Patterns of Segregation in a Multi-ethnic Cafeteria. Journal of Community and Applied Social Psychology 15:1-16.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pettigrew, T.F. and Tropp, L.R. 2005. Allport's Intergroup Contact Hypothesis: Its History and Influence. in Dovidio, J.F., Glick, P., and Laurie, A.R. (eds) On the Nature of Prejudice: Fifty Years after Allport. Blackwell: Malden, MA.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-9010007331049656659?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/9010007331049656659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=9010007331049656659' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/9010007331049656659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/9010007331049656659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2010/03/ada-apa-di-balik-segregasi-rasial.html' title='Ada apa di balik segregasi rasial?'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-8332091161813877868</id><published>2010-01-30T17:04:00.003+01:00</published><updated>2010-01-30T17:17:50.781+01:00</updated><title type='text'>Puff the magic dragon: illustrated</title><content type='html'>In an interesting twist to my week, I found two clips on youtube of Peter, Paul and Mary singing Puff the Magic Dragon. The first one was taken when the trio was young, maybe over twenty years ago. And the second one is newer although I'm not sure when was it taken.&lt;br /&gt;The trio has aged, yet there is something sweet and playful in the way they sang the song differently when they have aged. There's a comfortable and an open hand way about the way they sang it in the second clip. I just love the way they interjected the 'present tense' stanza to the old number. It may yet be another clue to growing, and I'm sure I'm shooting in the dark when I say this: growing may well entail finding (or stumbling on) that magic of being less self-conscious. I'm not saying it right. But that may be because I'm still groping about it myself. In any case, enjoy the two clips:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=Wik2uc69WbU&amp;amp;feature=related"&gt;old&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=3OiOlnoyljk"&gt;new&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-8332091161813877868?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/8332091161813877868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=8332091161813877868' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/8332091161813877868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/8332091161813877868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2010/01/puff-magic-dragon-illustrated.html' title='Puff the magic dragon: illustrated'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-6825814684503055288</id><published>2010-01-28T19:59:00.003+01:00</published><updated>2010-01-28T20:18:53.453+01:00</updated><title type='text'>Puff the Magic Dragon</title><content type='html'>Facebook is, mostly, a good thing. This I agree. But then there is always that side of history, for to me that is what Facebook can become, that makes us look back and wonder what had happened. Yes, Facebook is exactly a telling of history. Personal histories. Through pictures, daily snippets of thoughts or unthougts, comments wise or otherwise. And going through pictures of oneself with friends from elementary school, Junior and Senior High, college, and so on always makes me think: what had happened?&lt;br /&gt;What had happened to that youthful ideal? To the dreams of adventures and journeys? To things imagined and dreamed?&lt;br /&gt;Growing and living dreams do have their own dangers: you get used to your dreams and their initial glows dimmed quite significantly. Daily life happened and stole your perspectives. It is a precarious act indeed to gain wisdom and true perspective of the world, yet to remain hopeful and enthusiastic about the world.&lt;br /&gt;A song by &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Peter,_Paul_and_Mary"&gt;Peter, Paul and Mary&lt;/a&gt; pictures it beautifully, and then some. In "&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=Wik2uc69WbU&amp;amp;feature=related"&gt;Puff the Magic Dragon&lt;/a&gt;" they eloquently sang it: "Painted wings and giant's rings make way for other toys". To me, it is a poignant picture of growing pains. Of, without meaning it, letting go old familiar dreams and yearnings for other, more grown up, things. Yet, there may be truth to be gleaned from this: if the whole life is just a toy hunt after another, maybe it deserves to loose its glow. Thus may be the wisdom: not that our toys should change with the passing of season and years. But that the excitement once satisfied only with toys should now be fulfilled by other things. These things may well be beauty, wisdom, kindness, friendship, a possibility of lending hands and sharing. Growing, indeed, is a process of palate refinement.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-6825814684503055288?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/6825814684503055288/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=6825814684503055288' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6825814684503055288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6825814684503055288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2010/01/puff-magic-dragon.html' title='Puff the Magic Dragon'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-1522948509907473515</id><published>2010-01-08T01:50:00.002+01:00</published><updated>2010-01-08T01:58:37.083+01:00</updated><title type='text'>What is a job?</title><content type='html'>Now that I'm starting a new job, a swarm of questions flood my mind. I don't know all the answers and don't know if I'll ever work out all the answers. Heck, I don't even know all the questions. But let's do start with the questions that I know:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What is a job?&lt;br /&gt;Is it something that you do as a function of your passion? or your skill? or your training? or a need in the society? or simply something that you do to earn money? or all of the above? or none of the above?&lt;br /&gt;Is it justifiable to have some sort of a combination of these five factors (or other possibilities that I have not listed there)? Maybe passion and training but not a need in the society? Or skill and a way to make money but not a passion? I can surely think of cases where it is justifiable. In times of war when luxuries like research on some obscure insect's ecology is not a priority, I think it makes sense that not everyone with training, skill and passion of such research should get to do it, if any. Yet again, even such limiting situations are limited. Not all situations are limited situations. If any, I do think that we live in a somewhat less lilmited situation. Where all the five factors can be pursued rather freely. In this kind of situation then, what is the justification of working a job that is either not your passion, or not fulfilling some need in the community?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-1522948509907473515?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/1522948509907473515/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=1522948509907473515' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/1522948509907473515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/1522948509907473515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2010/01/what-is-job.html' title='What is a job?'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2503989251321368504</id><published>2009-11-27T18:32:00.003+01:00</published><updated>2009-11-27T18:52:00.841+01:00</updated><title type='text'>Dari sini</title><content type='html'>Pada mulanya adalah keingintahuan. Atau mungkin lebih jujurnya, keinginan. Keinginan untuk tahu banyak. Keinginan untuk bisa ngobrol luas dan lebar akan satu dan lain topik. Keinginan untuk mengerti dan bukan hanya sekedar tahu. Keinginan untuk ikut aktif memperlebar batas-batas pemahaman, dan ya.. pengetahuan. Dan untuk bisa sampai di sana, tentu saja, seseorang mesti menjelajah luas dan lebarnya lapangan raksasa bernama pengetahuan. Mengeksplorasi gua-gua pemahaman. Memetakan batas-batas pengetahuan. Menyorotkan senter dan melihat dengan mata kepala sendiri stalaktit, stalakmit dan lantai gua pemahaman. Menggambarkan dengan jari sendiri, kontur dinding yang jadi pondasi struktur ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian belas tahun, sekian ratus kali sakit kepala, sekian puluh bahagia (karena pemahaman dan pengetahuan punya efek ekstasinya sendiri, percayalah), dan sekian ribu ragu-ragu, setelah itu semua, terbit juga pengakuan dari satu padepokan, satu institusi pendidikan: dirimu adalah philosophiae doctor, guru filsafat. Bukan, bukan (atau tidak selalu) filsafat sebagai carang ilmu. Namun filsafat dalam artinya yang lebih luas: filo-sofia. Cinta akan kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang tersadari: dari titik ini, keingintahuan itu mesti mencari jalannya sendiri. Jalan terstruktur yang dibikin orang untuk memenuhkan keinginan untuk tahu berhenti di sini. Sekarang saat untuk aktif membuat jalan serupa buat orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, justru di titik ini proyek ambisius untuk memetakan batas-batas pengetahuan tadi bisa dievaluasi lagi. Tersadar juga bahwa pengetahuan manusia luas dan dalam benar cakupannya. Tak tercapai benak untuk bisa menyelesaikan proyek ini. Dan di sini, seseorang bisa memilih: frustrasi atau terbebaskan. Bukannya terbebaskan untuk kemudian tidak meneruskan proyek tadi. Namun terbebaskan dari refleks rasa rendah diri ketika lapangan maha luas tak terjangkau. Dan terbebaskan untuk dengan rendah hati memilih lapak kecil di antara luasnya lapangan tadi. Lapak kecil yang jadi bagian sendiri. Dan berkonstrasi, mencurahkan seluruh diri dalamnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2503989251321368504?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2503989251321368504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2503989251321368504' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2503989251321368504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2503989251321368504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2009/11/dari-sini.html' title='Dari sini'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-6761190668951016743</id><published>2009-10-01T23:48:00.006+02:00</published><updated>2009-10-02T00:09:46.934+02:00</updated><title type='text'>China: it's complicated...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZAci3rBs0HI/SsUnI_hERxI/AAAAAAAAABA/FCGie4V8Uhg/s1600-h/Empire_State_Building_Red_Y.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZAci3rBs0HI/SsUnI_hERxI/AAAAAAAAABA/FCGie4V8Uhg/s320/Empire_State_Building_Red_Y.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387755564661229330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pagi tadi saya nyetel TV dengan secangkir kopi di tangan, berharap mendapat kabar tentang gempa di Padang. Gambar di layar menunjukkan gedung ikonikdi New York dan sempat pula tertangkat sepenggal kalimat sang pembawa berita "... Empire State Building with yellow and red collor to honor the anniversary of the People's Republic of China." Eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya. Hari ulang tahun RRC. Itu saya sudah tahu. Tiap Rabu malam, gereja saya di sini menggelar community course Conversational English. Kelas-kelas Conversational English ini biasanya kebak dipadati mahasiswa-mahasiswa dari China yang berniat mengasah kemampuan ngobrol bahasa Inggris. Tapi malam tadi, tiba-tiba kelas-kelas kami lengang. Di kelas yang saya ampu, lima siswa dari Cina tak datang malam tadi. Ada dua research scholar dari China yang tetap datang, sisanya murid-murid dari Korea, Jepang dan Ethiopia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat rehat, saya sempat ngobrol dengan salah satu visiting scholar.&lt;br /&gt;"Wah, sepi juga ya nggak ada temen2 mahasiswa dari China yang datang malam ini."&lt;br /&gt;"Iya," katanya, "mereka pada pergi ke student center, nonton pawai dan perayaan proklamasi di layar lebar. Sehabis kelas ini nanti, saya dan Jing (research scholar yang satu lagi) juga mesti buru-buru ke sana."&lt;br /&gt;"O ya?" Dengan naifnya saya berkomentar, "Wah wah.. pada segitunya ya.. Di Indonesia kayanya nggak sebegitunya deh. Saya dan teman-teman sebaya di Jerman dan di sini biasanya nggak sampai bela-belain nonton pawai perayaan kemerdekaan di Indonesia."&lt;br /&gt;Ping tertawa dengan matanya. Sejenang ditatapnya muka saya dengan senyum mengambang yang entah kenapa, terasa misterius. "Ah, alasan politik kok itu. It's complicated." Dan dengan senyum yang masih mengambang di bibirnya, ia pun berbalik ke arah dispenser air minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal saya sendiri yang ngungun sekaligus bergidik akan implikasi komentar Ping barusan. "Buset... ini tahun 2009 kan ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(gambar Empire State Building di atas saya culik dari emergingcapital.blogspot.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-6761190668951016743?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/6761190668951016743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=6761190668951016743' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6761190668951016743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6761190668951016743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2009/10/china-its-complicated.html' title='China: it&apos;s complicated...'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZAci3rBs0HI/SsUnI_hERxI/AAAAAAAAABA/FCGie4V8Uhg/s72-c/Empire_State_Building_Red_Y.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-6194332207009869978</id><published>2009-07-14T05:25:00.002+02:00</published><updated>2009-07-14T06:13:23.883+02:00</updated><title type='text'>Kanker, Allah dan Iman</title><content type='html'>Jumat minggu lalu mulai biasa saja. Pukul 08.00 pagi, Paul, teman serumah saya menerima telepon dari salah seorang teman dekat kami. "Saisree diminta pergi ke klinik Universitas pagi ini," ia meneruskan berita dari telepon tadi. "Kemarin Saisree ke klinik karena sudah sebulan setengah ini batuk-batuk dan gampang capek. Sampel darahnya diambil kemarin dan hari ini diagnosisnya keluar. Dokter yang telepon Saisree pagi ini tadi bilang ada yang urgen untuk dibicarakan. Dia minta kita doakan." Kami pun menundukkan kepala sebentar, menghaturkan permintaan pada Yang Kuasa agar apapun 'yang urgen' yang mesti dibicarakan sang dokter ke Saisree bukanlah kabar buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 08.30 saya tengah bersiap berangkat ke lab, Saisree menelepon lagi. "Buyung, bisa minta tolong diantar ke rumah sakit?", hmm.. pikir saya, serius juga kedengarannya. "OK, datang kemari ya." Saya bilang. Tak ada lima belas menit Saisree sudah sampai di rumah bersama Michael, seorang teman lain yang rupa-rupanya menemani Saisree ke klinik barusan. Michael menerobos masuk ke kamar saya, menangis tak berhenti. Lho lho.. lha kok pakai menangis segala? Mata Saisree pun merah, suaranya tertahan di kerongkongan. "Ada apa?" tanya saya, kali ini yakin kalau ada apa-apa. "Kanker." Michael cuma berhasil membuka mulut untuk seucap kata yang beratnya bak palu godam itu. Beberapa jenak saya cuma bisa bengong. Kanker? Di usia 25? Saisree baru tahun lalu memulai kuliah post grad nya di bawah bimbingan profesor saya. Ia masih muda, brillian, jenaka pula. Baru bulan lalu paper nya diterima dan dibacakan di konferensi Plant Growth Promoting Rhizobacteria internasional di India. Kanker?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa Jumat lalu serba kabur di benak saya. Kami terburu menuju East Alabama Medical Center, beberapa ampul darah kembali diambil, dokter datang dan memberi kabar: potensi CML, Chronic Myelogenous Leukemia. Kanker darah putih kronis. Untuk diagnosis yang lebih pasti, test mutasi genetis mesti dilakukan pada genome dalam darah. Mesti menunggu seminggu lagi. Kami banyak diam hari itu. Meski saya coba juga mencairkan suasana, namun kelu dan kaku hati sendiri susah diajak bercanda. Perkara hidup-mati rupa-rupanya masih punya harga tersendiri: enggan ia berbagi tempat dengan sisi ringan hidup macam canda dan ketawa. Sabtu dan Minggu bergerak super cepat. Kami banyak berdoa dengan Saisree. Pertanyaan tak terelakkan pun terucap dari bibirnya: "Kenapa ya Allah?" Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa mengerti. Sayapun akan menanyakan hal yang sama. Manusia sudah menanyakan hal yang sama sejak lama. Sebagian umat kehilangan imannya karena pertanyaan macam ini seolah tak terjawab: membal di hadapan dinding bisu realitas. Dalam bahasa dillema David Hume: Allah yang maha baik tidak akan membiarkan manusia yang dikasihiNya menderita. Allah yang Maha Kuasa akan mampu mencegah penderitaan (seperti bencana alam, atau kanker) menimpa manusia yang dikasihiNya. Kalau pada kenyataannya kita melihat begitu banyaknya manusia yang menderita (oleh bencana alam, perang ataupun penyakit), apakah artinya Allah tak Maha Kuasa atau Allah tak Maha Baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak sedang ingin berpanjang argumen menyanggah Hume, meski saya pikir banyak yang bisa dikritik dari premis-premis dillema Hume di atas. Adalah satu hal untuk bicara filsafat di kelas, di forum terbuka di antara kontributor yang sama-sama hobi berpikir sambil serupat-seruput kopi hitam tanpa gula. Adalah hal lain untuk memikirkan dan merenungkan masalah ini di hadapan teman baik yang berlinang air mata dan dengan sungguh hati menanyakan pertanyaan yang sama pada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak punya kata-kata bestari buat Saisree. Tak ada insight istimewa yang mampu menerangi keadaanya saat ini. Dari tempat saya berdiri, tak ada jawaban, searif apapun, dari masalah Theodisi ala Hume di atas yang bisa bikin hati Saisree lebih sumringah. Ironis. Kita formulasi masalah praktis jadi problem filsafat, dan kita kutak-katik problem tadi dengan logika. Namun ketika problem filsafat tadi terterjemahkan kembali sebagai masalah praktis, logika tak memberi penghiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terbersit dalam benak saya justru ini: mari berdoa agar iman kita tak goyah di hadapan pertanyaan yang seolah menegasikan keberadaan Allah. hehe.. di titik ini saya bisa mengerti mengapa Marx melihat agama sebagai Opium des Volkes. Opiumnya masyarakat kebanyakan. Buat mereka yang melihat diri sebagai umat yang tercerahkan, pasti aneh permintaan saya barusan: mari kita berdoa untuk kuatnya pondasi doa kita kepada Oknum yang keberadaannya sedang dipertanyakan oleh situasi yang bikin kita berdoa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukankah itulah iman? Bukti dari segala yang tidak kita lihat? Justru dalam kukuh dan yakinnya Saisree untuk tetap berdoa dan berserah bahkan ketika subyek di seberang sana sedang dipertanyakan kebaikan dan kemahakuasaannya, saya melihat iman. Dan dalam doa yang dipanjatkan dengan hati hancur dan air mata itu, saya melihat bukti kebaikan dan kemahakuasaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh saya minta keleluasaan saudara untuk ikut mendoakan saudari saya Saisree: please pray that her faith will not fail.  And for God's mercy upon her health.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-6194332207009869978?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/6194332207009869978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=6194332207009869978' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6194332207009869978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6194332207009869978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2009/07/kanker-allah-dan-iman.html' title='Kanker, Allah dan Iman'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-9106744007627264668</id><published>2009-07-10T04:21:00.004+02:00</published><updated>2009-07-13T01:40:00.141+02:00</updated><title type='text'>Nasionalisme</title><content type='html'>Pemilihan presiden di Indonesia barusan lalu, dan sepertinya pasangan alumnus IPB dan UPenn masih melaju paling kencang menuju titik selesai perhitungan suara. Mumpung momentumnya pas, saya jadi terhasut untuk berpikir tentang nasionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya love-hate relationship dengan nasionalisme. Mari mulai dari sisi 'love' sebelum kita beranjak ke sisi yang lebih sengak. Saya setuju dengan Karl Barth, theolog Swiss yang tertendang dari posisi mengajarnya di Jerman ketika Hitler memegang tampuk pemerintahan. Dalam essainya "The Christian Community and the Civil Community" Barth berargumen bahwa justru karena theologi Kristen melihat manusia sebagai makhluk yang terkorupsi oleh dosa, yang tanpa kekangan hukum eksternal akan secara natural melaju menuju kekacauan total (chaos), komunitas dan individu Kristen sudah sepantasnya melihat kebutuhan akan dan aktif mengupayakan keberadaan komunitas sipil dalam bentuk pemerintahan dan hukum bersama. Pertalian sejarah dan istiadat jamaknya menjadi dasar terbentuknya satu komunitas sipil. Dan sungguh saya cinta akan sejarah dan kekayaan istiadat yang jadi bagian dari kemanusiaan saya. Dalam pandangan saya, blangkon itu lebih nyeni dan lively dari topi cowboy, dan dalam beberapa kesempatan untuk berpakaian resmi saya lebih memilih memakai batik ragam Dayak daripada three-piece suit. Yang saya punya masalah adalah ketika nasionalisme sendiri mesti kemudian bergesek panas dengan nasionalisme bangsa lain, macam beberapa kali kita alami dengan Singapura, Malaysia dan Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulainya sejak umur sepuluh tahunan dulu. Sebagian keluarga ibu saya tinggal dan berkewarganegaraan Belanda, dan kami rutin bertukar kabar dengan mereka via pos (waduh.. pos.. old school banget yak). Suatu kala, saya iseng meminta salah satu Oom di sana untuk bercerita tentang pahlawan-pahlawan mereka di Belanda. Namun bahkan ketika tengah menuliskan permintaan itu, masih ingat betul saya, terbersit rasa tak enak dalam hati. Teringat cerita di komik Teuku Umar yang berperang melawan serdadu Marsose. Teringat pula Pangeran Diponegoro yang bergerilya beradu otot dengan Belanda. Waduh.. jangan-jangan cerita tentang pahlawan Belanda ini nanti bakal berupa cerita tentang perang-perang yang sama diceritakan dari pihak seberang. Duh duh.. trus gimana dong? Kalau buat mereka Cornellis de Houtman atau Snouck Horgronje itu 'pahlawan', atas dasar apa saya mesti menolak itu label? Lha wong tuan-tuan Londo itu berjasa juga buat bangsa mereka je, sebagaimana Diponegoro dan Teuku Umar berjasa buat bangsa saya. Dilema berkecamuk di pedalaman anak 10 tahun yang kepanjangan berpikir. Sejak itu, dilema serupa tak pernah pergi meninggalkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi saya sudah memutuskan untuk menganugerahkan gelar pahlawan bukan pada tokoh macam Panglima Sudirman, Tjut Nja' Dien atau bahkan Bung Karno. Jangan salah, saya hargai dan saya rasa berhutang pada mereka akan kemerdekaan praktis dan politis yang saya nikmati hari ini. Buat saya, mereka adalah prajurit dan pemikir-negarawan yang secara historis instrumental dalam memungkinkan saya hidup sedemikian rupa seperti saat ini, namun pahlawan mereka bukan. Sebagaimana eyangnya eyang saya sungguh instrumental dalam memungkinkan eksistensi saya namun, dengan penuh hormat, benak dan hidup saya tak terinspirasi oleh benak dan hidup beliau. Dalam dunia saya, orang-orang macam Romo Mangun, Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr. lah pahlawan-pahlawan. Mereka pahlawan dalam hati saya sebagaimana Soekarno pahlawan dalam hati banyak orang Indonesia. Buat saya, pidato nasionalis Bung Karno menarik menggelitik tapi nggak bikin saya tergerak. Tapi sungguh, pidato 'I have a dream...' nya Martin Luther King Jr. lebih menantang hidup sesehari dari orasi Bung Karno yang mana pun. Roro Mendutnya Romo Mangun lebih menyentuh menginspirasi dari cerita kepahlawanan Tjut Njak Dien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saya nya saja yang nggak tahu diri. Mungkin juga saya cuma produk dari putar roda historis: satu epos sejarah biasanya melahirkan antagonis-antagonis nya sendiri. Imperialisme melahirkan nasionalisme. Dan sangat mungkin nasionalisme melahirkan globalisme dan universalisme. Satu lagi kemungkinan: saya memang lebih cenderung pasifis, makanya simpati betul hati ini pada tokoh-tokoh pasifis radikal macam Gandhi, King dan Romo Mangun. Mungkin ide terakhir ini yang paling kuat bergaung di lorong idealisme saya: Gandhi, King dan Romo Mangun memperjuangkan nilai universal dengan cara yang benar. Kesetaraan dan hak tiap manusia untuk diperlakukan dengan adil adalah nilai universal. Dan cara yang mereka tempuh untuk melawan kekuatan besar opresif di muka pun, buat saya sungguh masuk akal: dengan nalar dan cinta, bukan bedil ataupun komentar sengit. Yang mereka tengah perjuangkan bukanlah kebenaran pribadi, namun kebenaran yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang seperti itu tak terkecap sama sekali oleh lidah saya ketika kita berpotong kepentingan dengan Malaysia atau Australia. Meski mungkin yang tengah kita perjuangkan adalah sesuatu yang universal: hak untuk dihormati sebagai manusia atau komunitas manusia, namun selalu terasa ada yang salah dengan cara kita memperjuangkannya. Tiap kali kita punya friksi dengan negeri-negeri jiran ini, saya sempatkan untuk jalan2 membaca komentar-komentar online di surat kabar, forum kaskus atau forum-forum lainnya. Dan selalu saja terasa oleh saya bahwa nasionalisme yang kita punya lebih mirip gengsi jawara daripada nasionalisme yang berakar pada nilai universal macam hak asasi ataupun harga diri manusia. Itu sebabnya cepat kali kita berkoar menantang, membalas hinaan dengan hinaan, cibiran dengan makian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak sendiri, tentu saja. Malaysia dan Amerika Serikat pun rasanya sama saja. Nasionalisme sempit yang berkar dan berbuah pada cara berpikir: kami lebih baik dari kalian, lumrah betul di muka bumi ini. Mungkin itu sebabnya saya bilang punya love-hate relationship dengan nasionalisme. Mungkin jauh dalam hati ini, saya ragu akan kemungkinan keberadaan nasionalisme yang bukan hanya santun namun betul-betul mampu menghargai bangsa tetangga sebagai entitas yang berdiri sama tinggi dengan bangsa sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-9106744007627264668?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/9106744007627264668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=9106744007627264668' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/9106744007627264668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/9106744007627264668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2009/07/nasionalisme.html' title='Nasionalisme'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-6587912057957681416</id><published>2009-06-18T01:19:00.007+02:00</published><updated>2009-06-18T17:42:07.198+02:00</updated><title type='text'>Bagai anggur yang makin kentara rasanya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZAci3rBs0HI/SjmpUHKYn9I/AAAAAAAAAA4/N27ep5HpveY/s1600-h/kierkegaard.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 10pt 10px 10px 10pt; float: left; cursor: pointer; width: 262px; height: 360px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZAci3rBs0HI/SjmpUHKYn9I/AAAAAAAAAA4/N27ep5HpveY/s400/kierkegaard.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348492195464257490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya punya kecenderungan agak menyebalkan tentang menulis atau berpikir tentang sesuatu yang baru saja terjadi atau terbaca: saya ini sering-sering terlalu pelan kalau disuruh memamah apa-apa yang tengah terjadi dan menerjemahkannya dalam satu atau dua buah pikir dan membawanya ke permukaan dalam bentuk tulisan. Itu sebabnya tulisan-tulisan saya jarang betul yang up to date. Bahkan ketika diminta mengomentari kejadian aktual, super jarang saya bisa memahami apa yang benar tengah terjadi dan meletupkan komentar akan kejadian tadi. Semuanya serba mesti dikunyah pelan-pelan, dibolak-balik dalam benak, lahir satu tesis, diuji dengan semua informasi yang ada, terkadang timbul antitesis, kadang nggak juga. Pendek kata: cara saya berproses dan berpikir butuh waktu panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang sedih juga punya prosesor lelet macam yang ada di kepala ini. Hilang sudah impian untuk bisa menulis kolom opini tentang topik aktual. Di waktu saya selesai menulis satu artikel tentang satu tema, orang lain sudah tertarik akan tema lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bikin saya agak girang adalah ternyata saya nggak sendiri. Ini hari terbaca sekutip paragraf dari Soren Kierkegaard, pujangga-filsuf-teolog Denmark abad XIX, dari bab 'The Banquet' buku 'Stages on Life's Road': "... just as generous wine gains in flavor by passing the Equator, because of the evaporation of its watery particles. likewise does recollection gain by getting rid of the watery particles of memory..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya, Soren bicara tentang rekoleksi bukannya berpikir secara umum. Tapi saya kira illustrasinya kena juga ke cara saya mengeja benak sendiri: makin lama satu problema terfermentasi makin jelas bening ia menjadi dalam gelas pikir saya, karena menguapnya issue-issue pinggiran yang meski di awal kelihatan sebagai bagian integral dari keseluruhan masalah namun sebenarnya tak lebih dari partikel pengencer tiada relevan. Bagai anggur yang makin kentara rasanya, Soren bilang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-6587912057957681416?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/6587912057957681416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=6587912057957681416' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6587912057957681416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6587912057957681416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2009/06/fermentasi-buah-pikir.html' title='Bagai anggur yang makin kentara rasanya'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZAci3rBs0HI/SjmpUHKYn9I/AAAAAAAAAA4/N27ep5HpveY/s72-c/kierkegaard.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2833718536025180777</id><published>2009-06-09T21:30:00.011+02:00</published><updated>2009-06-11T04:18:01.481+02:00</updated><title type='text'>No vibration except of the sexual sort</title><content type='html'>Linda Spalding menulis 'A Dark Place in the Jungle', bertera tahun 1998, di mana ia bercerita tentang perjalanan ke Borneo, menguntit Birute Galdikas, murid Louis Leahy yang lama meneliti orangutan di pedalaman Kalimantan. Belum selesai saya baca buku itu. Tak terlalu istimewa caranya bercerita, autobiografikal meski tak melulu tentang diri sendiri. Namun narasi yang banyak menyinggung Indonesia bikin saya betah memeloti halaman demi halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari permulaan buku, ketika Linda dan dua anak perempuannya yang sudah sama-sama dewasa menyeberang dari Bali ke Jawa dalam perjalanan ke Borneo, Linda menuliskan kesan menarik akan pria Jawa, "Java is different. Even in the middle of  the night, it's crowded, male, and Muslim. As a woman, one feels no vibration except of the sexual sort, which is not sympathetic but prevalent. The funny thing about this vibration is that it's both curious and censorious. Hello, I love you, why are your arms so bare? It's not a food idea to be a woman, but to be a Western woman is worse. We offend with every breath and gesture."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe... sejak membaca paragraf di atas minggu lalu saya masih belum bisa menendangnya keluar dari pikiran ini. Masa iya sih? Segitunya ya kaum pria suku saya ini terlihat ndomblong malu-malu tapi kepingin demi melihat kulit putih halus mulus mbak-mbak dan ibu-ibu yang barusan menyeberang dari Bali itu. Saya mereka-reka seberapa besar praduga dan prasangka Linda van Toronto ini akan Islam (dan tradisi konvensionalnya yang besar kemungkinan terpotretkan serba kaprah dalam lingkaran-lingkaran tertentu di belahan bumi barat) terselip tanpa sadar dalam caranya merasa dan memaknai pandang mata dan 'vibrasi-vibrasi' lain yang tertangkap radar beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi jeli juga Linda mencatat bahwa getar-getar perhatian yang terpanahkan ke arahnya 'both curious and censorious'. Pas! Buat saya memang sungguh 'Jawa'lah ekspresi 'curious and censorious' itu. Dalam bahasa Jawa seseharinya 'ngono yo ngono tapi yo ojo ngono'... Penasaran ya penasaran, tapi ya jangan keliatan-keliatan bangetlah kalau lagi penasaran. Di pihak lain, saya pikir ada yang berlebih dari cara Linda memaknai perhatian tadi, 'no vibration except the sexual sort?'  Mosok sih pria Jawa separah itu dalam memandang wanita? Bahkan di trilogi 799 halamannya Romo Mangun: "Rara Mendut", "Genduk Duku" dan "Lusi Lindri" pun ada juga citra pria Jawa yang tahu adat dan aturan, tahu cinta yang tak semena nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau jangan-jangan, ada juga persentase benarnya vonis nylekit penulis Kanada ini? Mungkin fokus masalahnya adalah imaji wanita bule di mata pria Jawa (atau suku-suku lain, mungkin?). Teringat lagi obrolan-obrolan di gym di Semarang di mana saya (oleh himbauan tegas orang tua) sempat memeras keringat selama dua minggu. Hampir semua obrolan dengan tiap-tiap individu di sana akan akhirnya menyinggung juga iklim interaksi seksual di Amerika. "Apa bener to mas yang ada di film-film itu?" Well, tergantung film yang mana yang panjenengan tonton?, tanya saya ke hampir semua. Menakjubkan memang betapa efektifnya pencitraan media akan suatu obyek mempengaruhi pedalaman konsumen media bersangkutan. Menariknya, semenjak berdiam di Auburn, Alabama, saya jadi terekspos juga kok ke media yang memotret Amerika apa adanya: yang nggak kelewat sensual dan nggak selalu kebak kekerasan. Tapi kenapa ya, media yang mampir di tanah air kok ya kebanyakan justru yang serba sexy dan berdarah-darah? Jangan-jangan distribusi sungsang macam ini justru terang memperlihatkan potret selera kita sebagai konsumen ketimbang Amerika sebagai obyek konsumsi? Lha kalau gitu, berarti ada benarnya juga dong komentar menyedihkan Linda Spalding tentang pria Jawa (dalam kategori mana saya menghitung diri): "As a woman, one feels no vibration except of the sexual sort..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh!&lt;br /&gt;PS: gimana ya pendapat perempuan jawa dan non-jawa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZAci3rBs0HI/SjBirxTYeCI/AAAAAAAAAAw/LXuYRqfGx2c/s1600-h/medival+096.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZAci3rBs0HI/SjBirxTYeCI/AAAAAAAAAAw/LXuYRqfGx2c/s400/medival+096.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345881261797308450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2833718536025180777?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2833718536025180777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2833718536025180777' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2833718536025180777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2833718536025180777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2009/06/no-vibration-except-sexual-sort.html' title='No vibration except of the sexual sort'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZAci3rBs0HI/SjBirxTYeCI/AAAAAAAAAAw/LXuYRqfGx2c/s72-c/medival+096.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-8701688037444497916</id><published>2009-06-07T02:01:00.017+02:00</published><updated>2009-06-09T22:56:48.222+02:00</updated><title type='text'>Rumah</title><content type='html'>Auburn, June 2nd 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi musim panas Alabama menyapa riuh. Sebagian jetlag yang sempat mengganggu tidur sebentar malam tadi hilang tercuci riang nyanyi burung dan tajam bilah sinar matahari yang menerobos lewat kisi jendela. Pagi yang membingungkan: hati yang serba tegesa oleh rasa bersalah lantaran tak satupun kerja selesai selama tiga minggu melantur pulang ke Indonesia. Setiba di kantor, spesimen serangga dan jurnal menumpuk di meja. Cangkir-cangkir kopi berdiri di sebelah mesin jerang. Statis. Tak ada yang berubah sejak ditinggal terbang separuh bola bumi tiga minggu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat jam berlalu lekas: email-email penting dan tak terlalu penting, prioritas dan deadline yang kacau sudah dan mesti dibenahi lagi, janji ini dan itu. Pukul dua belas datang menjemput. Tergesa sedikit berjalan ke arah cafe langganan di depan Samford Hall. Tom sudah menunggu di sana. Tersenyum lebar mantan pilot angkatan udara yang sudah jadi teman lama di Auburn ini. Makan siang ringan pun dipesan, secangkir Americano ukuran besar dan tuna sandwich. Ah, beda betul dengan menu makan siang ala Semarangan: Bakso Non di sudut pasar burung nan meluap limpah dengan usus sapi dan ubo rampe jerohan lain, atau badak sambel di kantin SMA 3 yang sekarang di tempat tinggalkan di gedung belakang, bekas gedung kelas I dulu itu.&lt;br /&gt;"Jadi, banyak sudah yang berubah di kota mu itu?" tanya Tom, dan saya pun terhenyak sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak memang yang sudah berubah dengan Semarang. Rumah keluarga yang dulu rasanya berada di pinggir sekali, dekat betul dengan perbatasan Demak itu, sekarang kok berasa dihembalang ke wilayah yang meski bukan tengah kota tapi nggak juga sub-urban. Cepat rasanya pemekaran kota Semarang, meski kata mereka yang tinggal di sana masih juga terasa kurang cepat. Juga satu lagi: dulu jaman SMA, tiap pagi saya mesti bertarung berkompetisi ruang versus sepeda-sepeda yang entah berasal dari mana saja dan menuju ke mana saja. Tapi pagi-pagi tiga minggu kemarin, tiap kali mengantar ibu ke tempat kerja bukan lagi sepeda yang jadi kompetitor ruang transportasi, tempatnya tergantikan sudah 0leh sepeda motor. Ooalah.. saya jadi teringat sepenggal tulisan entah Sindhunata entah Mangunwijaya yang sempat terbaca semasa kuliah dulu: seorang mbok desa dengan lugu mendefinisikan kemerdekaan sebagai "masa ketika semua orang bisa punya sepeda." Ha! Bukan cuma sepeda! Kini sepertinya semua bisa punya sepeda motor. Ah ah.. nakal benak saya menggoda definisi lugu-bijak si mbok yang tentu saja memakai sepeda sekedar sebagai contoh barang mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, banyak yang berubah sudah dengan Semarang. Tapi yang lebih menonjol dalam benak saya adalah, betapa berubah sudah diri saya sendiri. Ya, tiap manusia mau tak mau ikut berputar bersama cakra waktu dan berkesempatan belajar dari lalu waktu dan peristiwa. Maka tak heran bahwa saya berubah setelah tiga tahun setengah. Tapi yang bikin ngungun adalah ke arah mana saya berubah dan bagaimana perubahan tersebut mengubah cara saya memandang Indonesia dan Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalervo Oberg, ekonom Kanada yang keblangar jadi anthropolog, bikin istilah 'culture shock', 'gegar budaya', untuk membahasakan kekagetan dan kekikukan seseorang dari satu budaya yang baru bersua atau hijrah ke tempat dengan budaya berbeda. Anthropolog-anthropolog lain yang meneruskan kerja Oberg mengidentifikasi juga fenomena lain: 'reverse culture shock', 'gegar budaya terbalik (??)', untuk menyebut kekagetan dan kekikukan mereka yang pulang kampung setelah berdomisili lama di ruang kultur yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang ke Semarang minggu lalu serasa membukakan mata saya akan kenyataan gegar budaya terbalik tadi. Meski banyak juga yang berubah dengan Semarang, agaknya banyak pula yang sudah berubah dari cara saya berpikir, merasa, dan berharap. Dari soal remeh saja: terbiasa nyetir di jalan lengang di desa-desa Alabama yang pengemudinya relatif santai dan tertib, saya gelagapan kalau disuruh mengendalikan kendaraan bermotor di jalan-jalan ramai Semarang. Buat saya, garis putus-putus pembatas di tengah jalan searah itu ada guna dan artinya: maksimal ada dua jalur mobil yang bisa diakomodasi jalan yang dibelah tengah tadi, satu di kiri dan satu di kanan. Makanya melihat empat mobil bersikukuh berdiri sebaris di satu ruas yang mestinya cuma buat dua, saya kok jadi bingung sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu gegar budaya yang paling menarik terjadi di Lawang Sewu, gedung tua bikinan tahun 1904 yang berdiri magrong-magrong di tengah kota Semarang. Gedung ini didirikan oleh dinas kereta api pemerintahan Hindia Belanda, dan kabarnya bakal dipugar dan ditempati oleh PJKA. Di kala tengah asyik memotret kaca patri yang konon didatangkan dari negeri Belanda (dan yang menariknya selamat dari mortir juga peluru nyasar jaman revolusi fisik), si mas pemandu penarasi berbagai detil menarik gedung ini dengan serius bilang "Kalau mau datang kemari malam-malam mas, nanti kita jalan muter gedung ini cuma pake lilin." Sejenak dua jenak benak saya pun melompong di hadapan tawaran si mas, "Lha kemari malam-malam nggak ada yang bisa dilihat to mas?", tanya saya bodoh. Si mas tersenyum, "Lha justru malam-malam itu yang isinya penampakan-penampakan!" ujarnya. Wooo... gedung yang menurut saya sungguh megah menarik karena bobot sejarah dan estetikanya ini ternyata punya penampang lain yang nggak kalah (kalau bukan lebih) menarik buat si mas: penampang mistis! Sejenak sebentuk pikiran iseng terbentuk dalam benak saya: kolega sebangsa saya ini menarik: setan ditakuti digegirisi, tapi senang juga ditengok-tengok, dicari-cari, dijadikan hiburan. Atau jangan-jangan, justru karena menakutkan serba membangkitkan adrenalin itulah setan dan segala yang mistis tadi jadi menghibur? Mirip-miriplah dengan roller coaster buat manusia barat. Justru karena menimbulkan rasa takut dan deg-deganlah roller coaster jadi digemari. Makin ekstrim dan bikin giris gemas, makin kecanduan orang dibuatnya. Entahlah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata memang, macam spons lah relung-relung benak dan inti diri seorang manusia. Nilai, rasa, norma dan pemikiran yang pada mulanya asing ternyata kelamaan mudah juga jadi bagian diri sendiri. Yang menarik dari pejalan antar budaya seperti saya dan jutaan manusia lain adalah kesadaran bahwa kelamaan makin mirip siputlah kami ini: rumah kami bawa di punggung sendiri. Ya, ketika kami masih bisa pulang ke suatu lokasi geografis namun tak lagi berbagi sepenuh asumsi akan hidup dan kehidupan dengan sebagian masyarakatnya, masih pantaskah lokasi tadi di sebut rumah? Selama masih ada yang akrab, mungkin masih tersebut rumahlah lokasi tadi. Tapi toh, yang akrab pun tak abadi. Dan nanti, ketika semua atau nyaris semua yang akrab tak ada lagi, apa dasar menyebutnya sebuah rumah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, mungkin dalam skala nya sendiri-sendiri, semua kita berulang-alik antar satu budaya ke budaya lain. Mereka yang tinggal di jakarta namun berasal dari ruang budaya lain pun saya kira bisa mengaminkan pernyataan tadi. Dan tidakkah kita pada akhirnya adalah siput-siput yang terus membangun rumah di punggung sendiri. Rumah yang batanya adalah asumsi akan makna, asumsi akan manusia dan komunitas, yang kita bolak-balik pinjam-kembalikan dari perpustakaan besar bernama budaya manusia?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-8701688037444497916?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/8701688037444497916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=8701688037444497916' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/8701688037444497916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/8701688037444497916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2009/06/rumah.html' title='Rumah'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-8338892484092755741</id><published>2008-10-14T01:27:00.003+02:00</published><updated>2008-10-14T02:17:45.185+02:00</updated><title type='text'>On my 28th</title><content type='html'>On my 28th,&lt;br /&gt;I called home and spoke to my dad&lt;br /&gt;"I was married when I was 28",&lt;br /&gt;it was an important year for him, I can hear it in his voice&lt;br /&gt;"Yes, dad. And I'm about to get my PhD,"&lt;br /&gt;"Yeah.. what a difference between our generations, eh?"&lt;br /&gt;I nodded, aware that he couldn't see my nod&lt;br /&gt;for I silently think, "maybe not"&lt;br /&gt;Maybe, just maybe, we are pursuing the same thing&lt;br /&gt;A vision, a fulfillment, a meaning&lt;br /&gt;Him in his 28th and me in mine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On my 28th,&lt;br /&gt;We sat on our breakfast table,&lt;br /&gt;I, Paul and Nirmal&lt;br /&gt;reading Oswald Chambers' My Utmost for His Highest&lt;br /&gt;"Moses saw the oppression of his people&lt;br /&gt;and felt certain that he was the one to deliver them,&lt;br /&gt;and in the righteous indignation of his own spirit&lt;br /&gt;he started to right their wrongs."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To right the wrongs&lt;br /&gt;Wrongs, the world of wrongs, all the wrongs that we daily see,&lt;br /&gt;                                                     read,&lt;br /&gt;                                                        feel,&lt;br /&gt;                                                          smell.&lt;br /&gt;A vision.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The whole creation has been groaning together in the pains of childbirth until now ... (for) the redemption ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... God has committed to us the message of reconciliation. &lt;span id="en-NIV-28882" class="sup"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;We are therefore Christ's ambassadors,&lt;br /&gt;as though God were making his appeal through us. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The time has come, to right all wrongs,&lt;br /&gt;my time has come.&lt;br /&gt;me, an earthen vessel&lt;br /&gt;that too often, like Moses and even more,&lt;br /&gt;thought itself more like a granite jar&lt;br /&gt;made tough, made to be tough and made to toughen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Without vision, people perished&lt;br /&gt;Without the gentle stride of God, a visionary burned&lt;br /&gt;to a despot turned&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On my 28th,&lt;br /&gt;I walked to the library&lt;br /&gt;and hummed without thinking&lt;br /&gt;"I'm giving You my heart and all that is within&lt;br /&gt;I lay it all down for the sake of You my King&lt;br /&gt;I'm giving you my dreams, I'm laying down my rights&lt;br /&gt;I'm giving up my pride for the promise of new life"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;upon the very word, 'life'&lt;br /&gt;some body somewhere whispered to my ears,&lt;br /&gt;the words stubborn and sticky,&lt;br /&gt;like wet clothes clinging to the body,&lt;br /&gt;"Be faithful&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt; unto death, and I will give you&lt;sup&gt;&lt;/sup&gt; the crown of life."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-8338892484092755741?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/8338892484092755741/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=8338892484092755741' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/8338892484092755741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/8338892484092755741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2008/10/on-my-28th.html' title='On my 28th'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-4703196841098460087</id><published>2008-04-14T05:13:00.000+02:00</published><updated>2008-04-14T05:21:58.757+02:00</updated><title type='text'>Life is supposed to be lived, not reported</title><content type='html'>Momen menyenangkan dari baca buku, buat saya, adalah ketika tertemu butir pikir sendiri terungkap lewat tulisan, bahasa dan langgam orang lain.&lt;br /&gt;Siang tadi mata saya tertabrak satu kalimat di fiksi theologi super ngocol "Saving Erasmus" besutan Steven Cleaver, "Life is supposed to be lived, not reported."&lt;br /&gt;Eureka!&lt;br /&gt;Saya setuju.&lt;br /&gt;Sudah berbulan-bulan belakangan ini saya berpikir dan berproses dengan asumsi serupa, namun tak pernah terformulasikan sejelas kutipan Cleaver tadi. Dan karena asumsi di atas tadi, blog ini jadi super jarang diupdate.&lt;br /&gt;It's official then. Life is supposed to be lived, not reported. Setidaknya untuk sekarang dan beberapa waktu ke depan, entah sampai kapan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-4703196841098460087?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/4703196841098460087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=4703196841098460087' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/4703196841098460087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/4703196841098460087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2008/04/life-is-supposed-to-be-lived-not.html' title='Life is supposed to be lived, not reported'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2451316937866157777</id><published>2008-03-25T16:47:00.000+01:00</published><updated>2008-03-25T16:52:57.297+01:00</updated><title type='text'>Adakah Engkau di lab kami ya Allah?</title><content type='html'>Apakah bekerja Kau lihat sebagai doa, ya Allah?&lt;br /&gt;Adakah Engkau di sudut-sudut laboratorium tempat virus-virus diidentifikasi dan diteliti?&lt;br /&gt;Ulangan-ulangan metode dan lembar-lembar laporan ini ya Allah, berartikah bagiMu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Engkau ada di dalam semua itu ya Allah,&lt;br /&gt;mengapa aku tak merasakanMu di sana?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2451316937866157777?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2451316937866157777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2451316937866157777' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2451316937866157777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2451316937866157777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2008/03/adakah-engkau-di-lab-kami-ya-allah.html' title='Adakah Engkau di lab kami ya Allah?'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-3934522304854395679</id><published>2008-01-08T23:42:00.001+01:00</published><updated>2008-03-25T16:38:03.724+01:00</updated><title type='text'>Berkat bernama buku</title><content type='html'>Dalam 'The Namesake', novel apik perdana Jhumpa Lahiri yang barusan diadaptasi ke layar lebar oleh Mira Nair, kakek Gogol Gangguli, sang protagonis, sempat bertutur "That is what books are for. To travel the world without moving an inch."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis mungkin, sebab ayah Gogol, kepada siapa petuah tadi dialamatkan pada akhirnya tetap memutuskan untuk hijrah. Melihat dan mengalami sudut lain dari dunia dengan mata kepala sendiri dan bukannya lewat jejak pena seorang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun buku tak hanya mengabarkan pada kita fakta akan sisi lain dunia. Buku mengundang kita untuk menikmati benak dan emosi manusia. Buku mengajak kita untuk jadi kontemplatif, berdiam sebentar mengamati drama dalam hidup manusia lain, entah fakta atau fiksi, dan melaluinya bercermin mematut hidup sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku pula yang bercerita pada kita akan peri hidup yang sama sekali lain. Misterius namun memikat. Ritual reproduksi lebah madu dan hibernasi beruang. Strategi berburu kumbang api dan suar morse kunang-kunang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku membawa rumor akan dunia dan kenyataan lain, dunia dan kenyataan yang transenden, yang tak kasad mata. Lewat buku, Allah memilih untuk menyatakan diri pada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pertama tahun ini saya habiskan membaca buku bagus tulisan Brennan Manning. "The Signature of Jesus". Manning, veteran perang Korea dan mantan biarawan Fransiskan, menulis dengan diksi segar. Sudut ambil nya akan hidup spiritualitas seorang Kristen sungguh berbeda dari penulis-penulis lain, membuat konsentrasi dan motivasi saya tak surut di sepanjang buku ini. Dan seperti buku bagus lainnya, buku ini tak berhenti sebagai peta harta karun, ia juga memberi diri terambil sebagai bagian dari pondasi keyakinan dan inspirasi saya. Seperti paragraf berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The kingdom, Jesus tells us, is in our very midst, in the mistery of our relationships with each other. We are within its gates when we draw close to one another with the love that is fired by the Spirit. We are already on sacred ground when we reach out to understand rather than condemn, when we forgive rather than seek revenge, when as unarmed pilgrims we are ready to meet our enemies. What Jesus teaches is too simple and too wonderful for those who want magic in their religion."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"According to the evangelical criterion for holiness, the person closest to the heart of Jesus Christ is not the one who prays the most, studies the Scripture the most, or the one who has the most important position of spiritual responsibility entrusted to his or her care. It is the one who loves the most..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedap sungguh, bikin semangat untuk baca buku-buku bagus lain sepanjang tahun 2008 ini. Di antara buku-buku di book list saya untuk tahun ini, ada 'Come be my light' nya Mother Teresa, 'Ragamuffin Gospel' besutan Manning, 'The Cost of Discipleship' tulisan Bonhoeffer, 'Commodore Pery's Minstrel Show', oleh Richard Willey, 'For the Love of Insect' nya Thomas Eisner dan 'The Hiding Place', memoir menarik Corrie Ten Boom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Book list sampeyan gimana?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-3934522304854395679?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/3934522304854395679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=3934522304854395679' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/3934522304854395679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/3934522304854395679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2008/01/berkat-bernama-buku.html' title='Berkat bernama buku'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2676314254091672915</id><published>2007-12-25T19:21:00.000+01:00</published><updated>2007-12-25T22:52:29.486+01:00</updated><title type='text'>'Allah'</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Malam natal itu sesuatu nan ajaib terjadi. Ketika malam menelungkupkan jubahnya di atas bumi, gemintang berbaris rapi, membentuk selarik kata di atas kanvas legam: “Allah”. Komet dengan ekornya meledak terang menarik garis lurus di huruf ‘A’. Tak satu bintang pun absen, semua di sana. ‘Allah’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hanya selarik kata. Kata yang di banyak lingkaran sudah nyaris vulgar, tak pantas diutarakan di muka publik, ofensif. Kata yang bila diucap dengan keyakinan berlebih lalu sama dengan arogansi, ignoransi dan chauvinisme. Kata yang demi toleransi hidup bersama, lebih baik tak terucapkan sering-sering. ‘Allah’, menyemburat di langit gelap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Umat manusia ternganga. Ilmuwan dari penjuru bumi memeriksa perhitungan mereka. Model A, B dan C dikonstruksi, menghitung seberapa besar kemungkinan fenomena ini tak lebih dari probabilitas stokastik belaka. Astrolog anu dan itu diwawancara, CNN, BBC, MSNBC tergesa memproduksi talkshow, dokumentasi, diskusi. Gempita, kaget, ‘Allah’???&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di gereja, masjid dan vihara, mereka yang telah lama berpegang hanya pada seutas iman nan retas demi mempercaya IA yang tak kasad mata bersyukur, berdoa, bertanya. ‘Allah’?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Youtube disesaki video langit dengan gemintang besar mengutara asma Yang Maha, dari kutub utara, Korea, Australia, Palestina. Lalu datang pula upload gelombang video berikut: pengakuan dosa, komunitas menangis menyesal, pertobatan besar-besaran, dari St. Pauli di Hamburg, dari Las Vegas di Nevada, dari sudut-sudut bumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Alkitab, Alquran, Vedha dibagikan di pojokan jalan. Tak ada yang berteriak menyangkal. Tak ada yang berani melarang. Kalap. Dalam terkejutnya, manusia mencari selamat dari ‘Allah’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Malam demi malam, tulisan yang sama menggantung di sana. Sisi-sisi langit malam sepi, absen dari gemintang yang berkumpul sama di tengah kanvas, membentuk satu kata ‘Allah’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sampai satu malam, seorang anak menatap ke satu kata yang menggantung di langit malam. Inosen dan jernih dalam berpikir. ‘Allah’ tercermin di bola matanya. Dan ia pun bertanya ‘So what?’, ‘Terus kenapa?’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Terus kenapa kalau Allah ada?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Terus kenapa kalau Allah hidup?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Terus kenapa kalau Allah lah yang mencipta dunia, manusia dan semua yang ada?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Terus kenapa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;--&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pada akhirnya, pertanyaan Yesus kepada salah seorang muridnya menggema melewati abad-abad sampai ke telinga kita “Menurutmu, siapakah aku ini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dan menyambut jawab kita akan pertanyaan Yesus, terngiang pula pertanyaan sang anak “And so what?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selamat Natal buat semua, semoga Natal ini menemukan kita berpikir akan Allah dan hidup kita masing-masing. Adakah kita menghidupi hari-hari seolah Allah ada?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Terlebih lagi, adakah kita menghidupi hari ini seolah Allah telah hadir ke dunia dua ribu tahun lalu dan menyelamatkan kita dari diri kita sendiri?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;:inspirasi dari ‘Secrets in the Dark: A life in sermon’ oleh Frederick Buechner:&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2676314254091672915?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2676314254091672915/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2676314254091672915' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2676314254091672915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2676314254091672915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/12/allah.html' title='&apos;Allah&apos;'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-7411818730007961664</id><published>2007-12-13T18:07:00.000+01:00</published><updated>2007-12-13T18:26:58.683+01:00</updated><title type='text'>Petrus</title><content type='html'>Saya nggak kenal Petrus secara pribadi. Petrus juga nggak kenal saya. He's friend of a friend.&lt;br /&gt;Petrus ini punya MBA dari Harvard Business School, sekolah bisnis mentereng di pantai timur. Ketika sedang belajar bisnis di sini, banyak teman-temannya di Indonesia yang terkagum-kagum, "Wah.. hebat si Petrus, bisa keterima di HBS.", kata yang satu, "Sudah terjamin tuh masa depan", timpal yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon kabarnya, lulusan HBS memang gampang cari kerja. Butik-butik konsultan manajemen berebut alumni sekolah satu ini. Pekerjaan berbanderol gaji lima digit dollar per tahun sepertinya lumrah saja buat lulusan HBS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulus dari HBS, Petrus pulang ke Indonesia. Ibunya sakit. Selang sekemudian, sang ibu meninggal. Petrus nggak kembali ke Amerika untuk bekerja, nggak juga ke Australia atau Singapura. Ia memilih untuk bekerja di perusahaan menengah di Indonesia yang bergerak di bidang healthcare service. Gaji relatif kecil, gengsi tak gemerlap. Teman-temannya terbengong-bengong. "Lha, kalau cuma mau kerja di perusahaan itu aja sih lulusan lokal juga bisa. Bisa-bisa lebih tinggi malah pangkat ama gajinya ketimbang si Petrus.", celetuk yang satu, "Petrus, Petrus... ngapain sekolah tinggi-tinggi sampai ke ujung dunia kalau cuma mo kerja macam gitu?", tanya yang lain, ngungun..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar sinis, cemooh kaget, bahkan simpati yang (lucunya) nyaris sama dengan bela sungkawa saya ikut dengar dari sini. Seolah Petrus sudah menyiakan waktunya 'sekolah tinggi-tinggi sampai ke ujung dunia' ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Petrus melambari keputusannya bekerja di perusahaan menengah itu saya juga dengar. "Kepengen punya kontribusi ke healthcare service di Indonesia. Mama dulu kan sempat lama pakai service semacam ini..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontribusi ke komunitas yang lebih luas (dibanding kontribusi ke kantong dan masa depan sendiri). Layak memang lulusan HBS mampu berpikir sedemikian. Pada akhirnya toh, banyak kita memang 'sekolah tinggi-tinggi sampai ke ujung dunia' justru demi meluaskan pandang macam begini. Membebaskan diri dari belenggu kepentingan sempit seketika. Bravo Petrus!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-7411818730007961664?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/7411818730007961664/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=7411818730007961664' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/7411818730007961664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/7411818730007961664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/12/petrus.html' title='Petrus'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2975600192799920014</id><published>2007-12-12T04:17:00.000+01:00</published><updated>2007-12-12T04:20:56.910+01:00</updated><title type='text'>Waktu, kisanak..</title><content type='html'>Kalau saja, kisanak, waktu berhenti ketika kita bersantai dan berlari ketika kita bekerja&lt;br /&gt;alih-alih terbang tanpa bekas ketika kita bersantai dan seolah berhenti beku, membosankan, ketika kita bekerja...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2975600192799920014?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2975600192799920014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2975600192799920014' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2975600192799920014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2975600192799920014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/12/waktu-kisanak.html' title='Waktu, kisanak..'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-7998322982397308093</id><published>2007-11-29T22:58:00.001+01:00</published><updated>2008-03-25T16:39:25.533+01:00</updated><title type='text'>Thank You, Lord</title><content type='html'>Ujian itu sudah berjalan sejam setengah ketika pintu diketuk. Dr. Mike Williams, otoritas sistematika serangga kecil mungil berjudul kutu kebul melangkah masuk. Di tangannya ada sekotak spesimen. Sepuluh spesimen, saya memandang sekilas. Dua hymenoptera, dua diptera, satu orthoptera, satu coleoptera, satu hemiptera, satu mecoptera, satu neuroptera, dan satu lepidoptera. Ia meletakkan kotak itu di depan hidung saya. Professor-professor lain tersenyum. Ada yang meringis. Hehehe.. dia ahli virus tanaman. Mungkin saya tahu lebih banyak tentang serangga-serangga di kotak ini dibanding si bapak meringis yang duduk di sisi jauh meja panjang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin.. mungkin juga nggak. Saya mulai mengutak-atik spesimen-spesimen di kotak tadi. Ini salah satu bagian PhD candidacy yang paling bikin saya merinding. Mana lah mungkin benak saya yang luar biasa cluttered dan fragmented ini menyimpan informasi taksonomis untuk mengidentifikasi sekian juta jenis serangga. Smithsonian Institute memperkirakan ada sedikitnya 2 juta spesies serangga (itu perkiraan paling konservatif, opini yang lebih liberal meprediksi ada setidaknya sekitar 30 juta spesies serangga yang masih hidup).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, cuma empat dari sepuluh spesimen di kotak itu yang bisa saya identifikasi sampai ke level family, cuma dua yang saya tahu genus nya. Time to panic..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tik tok.. jam dinding sok tahu mengumumkan waktu berlalu, menyebalkan. Hand lens di tangan jadi licin, tangan basah. Spesimen ke lima teridentifikasi. Bukan identifikasi cerdas, lebih ke informed guess. Spesimen ke enam dan tujuh lewat dengan cara yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesimen ke delapan minta waktu lebih dari tiga menit. Seseorang menguap bosan di seberang meja. Dr. Williams bilang "Larva serangga ini predator penting buat aphid mu lho.." Aphid, serangga mungil funky bertubuh lunak adalah fokus penelitian saya. "Syrphidae..?" jawab saya dengan nada tak yakin sama sekali. Ia mengangguk kecil. Delapan di kantong. Dua lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesimen ke sembilan jelas tawon. Masalahnya, ada lima sub family di bawah family apidae: ada bumble bee, carpenter bee, honey bee, digger bee, dan cuckoo bee. Lha ini yang mana yak.. Yang saya ingat cuma: beda di antara mereka bisa dilihat dari pola venasi di sayap. Wis cuma itu thok. Tapi pola venasi masing-masing sub-family? Waduh.. mana saya ingat? Wis lah.. shoot in the dark. "Bumble bee!", jawab saya sok yakin. "Nope, it's a carpenter bee." Dr. Williams tersenyum kecil. Tahu kalau saya sekedar ngawur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor ngengat jadi spesimen terakhir yang mesti saya identifikasi. "I do not even care to guess anymore.", pikir saya. "I don't know what this is." Simple. Dari ekor mata tertangkap profesor pembimbing saya tertawa. Dr. Williams ikutan tertawa. "Giving up, already?", tanyanya. "Yes.", jawab saya pendek saja. "It's a sphingidae." Oh goodness.. sphinx moth kan GUAMPANG banget diidentifikasi. Oh well.. di titik tadi saya toh sudah brain dead. "Eight out of ten. Not too bad." Dr. Williams mencomot kue kering dari baki panjang di depannya, kemudian bangkit dari kursi membawa kotak dengan sepuluh spesimen tadi. "Not bad at all." ulangnya lagi sambil mengedip sebelah mata sebelum menutup pintu tempat saya sedang diuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The rest was downhill..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thank You, Lord. For the gift of learning, the freedom to shoot in the dark and the grace for not taking ourselves too seriously ;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-7998322982397308093?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/7998322982397308093/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=7998322982397308093' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/7998322982397308093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/7998322982397308093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/11/thank-you-lord.html' title='Thank You, Lord'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-6637119397378770561</id><published>2007-11-24T16:21:00.000+01:00</published><updated>2007-11-24T17:29:02.762+01:00</updated><title type='text'>Life's messy</title><content type='html'>Selasa minggu depan saya dijadwalkan untuk duduk di kursi panas sekali lagi. Padepokan tempat saya ngenger sekarang punya dua kali ujian besar buat calon doktor mereka, seperti halnya padepokan-padepokan lain di tanah ini. Yang pertama, Candidacy exam, di mana para pengenger yang terhormat diuji tentang sepenuh pengetahuan mereka di subyek keilmuan bersangkutan. Di kasus saya, ini berarti semua mata kuliah yang pernah saya ambil sejak beberapa tahun lalu di Bogor. Buset. Mana saya ingat semua itu. Anyway, ujian besar terakhir berjudul Final exam, di mana materi ujian diikat lebih ketat, lebih fokus: hanya subyek-subyek yang berkait dengan materi penelitian sang pengambil ujian. Minggu depan saya bakal ambil ujian yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu panjang belakangan saya mencoba untuk mempersiapkan diri untuk ujian ini. Kind of a joke, really. How can you expect to rehearse all things you ever taken in your academic life?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun justru di tengah aktivitas ala Sisifus ini terbersit satu pertanyaan di benak saya. All this hard knowledge and then what? Dalam bayangan saya, seperti halnya mendaki Everest, pertanyaan bodoh macam ini bisa diikuti sampai dua kemungkinan konklusi berbeda: kemungkinan begitu luas bisa bikin hati kelu, kaki lemas, hilang selera; namun bisa pula bikin diri bergegas dan tangan gatal tak sabar. Sungguh, jarang ada sesuatu yang lebih membakar semangat dari pada kesempatan tanpa batas, seperti halnya jarang ada hal lebih menakutkan dari pada kesempatan tanpa batas. Uniknya, saya temukan keduanya tak saling eksklusif. Seperti halnya manusia mampu mengalami sedih sekaligus geli, dua konklusi nan seolah saling meniadakan di atas seringkali teralami bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa pula semua di atas mesti terjadi ketika saya sedang belajar mengenal diri sendiri. Twenty-something. Rentang usia di mana seseorang mulai curiga bahwa keyakinan akan apa yang diri ingini tak lah tertancap berakar dalam. Lebih kocak lagi, mungkin ini pula rentang usia di mana seseorang tercelikkan dan jadi vokal akan semua yang salah di dunia. Di sini pula seseorang jadi sadar bahwa jadi vokal tanpa tercebur basah adalah sesuatu yang lucu lagi ironis dalam dirinya sendiri. Di sisi lain, di sini juga satu rumor mulai terdengar. Rumor bahwa tercebur basah mengubah apa yang salah dengan dunia meminta sesuatu yang lebih dari apa yang bisa diberi orang 'biasa'. Dan satu lagi rumor lain yang lebih mengganggu: rumor bahwa dunia tak lah sepenuhnya salah. Bahwa jadi salah satu sekrup, atau sekring, atau otak dari mesin besar bernama dunia bukanlah pilihan buruk. Bukan hanya karena implikasi ekonomis atau sosial dari pilihan semacam. Pilihan macam ini bukanlah pilihan buruk karena alasan yang lebih hakiki: bahwa tak ada yang salah dari dunia, at the first place. Dan kalaupun ada yang terasa salah dari dunia, akar dan solusi dari 'rasa salah' ini bukanlah sesuatu yang material, namun spiritual. Atau kalaupun ada yang salah dari dunia, solusi yang realistis bukanlah sesuatu nan global, namun aksi bite size. Kecil dan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya, satu lagi. Di usia dua puluh sekian, saya pikir sudah pernah terbaca oleh kita kutipan dari Socrates: Unreflected life is not worth living. Dan justru di usia sekian pula kita mulai curiga: Over-reflected life is not worth living.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di tengah sepenuh gempita ide dan refleksi kacau ini, saya disuruh nulis ujian. Oh well... life's messy, don't you think?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-6637119397378770561?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/6637119397378770561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=6637119397378770561' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6637119397378770561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6637119397378770561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/11/lifes-messy.html' title='Life&apos;s messy'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-655855593194262292</id><published>2007-11-24T02:12:00.000+01:00</published><updated>2007-11-24T02:23:56.139+01:00</updated><title type='text'>Cafe</title><content type='html'>Cafe, aroma kopi pekat langu, musik terlantun tanpa mengganggu. Kursi-kursi membagi-bagi ruang jadi dunia-dunia privat. Sartre dibaca di satu meja, dua orang saling pandang tanpa bicara, Sports Illustrated lecek di meja lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cafe, penerangan individual. Temaram yang spesifik. Melankolik tanpa jadi dramatik. Garpu, pisau beradu berdenting. Piring keramik. Mug bulat besar, kopi hitam kental. Orang bicara, tertawa, berbisik. Rahasia, kabar berita dari ceruk sesehari, angan masa depan, catatan masa lalu, lekuk liku benak dewa-dewa. Bisik mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cafe, di mana lelah menguap menuhi udara. Henti nan tergesa. Sekedar cukup buat secangkir jeda. Latte, espresso, americano, chai, just black, yang manapun. Manis, pahit, pesta. Lidah kelu berhenti mengecap, sekedar merindu gelitik cangkir berikut. Yang manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cafe, realisme sintetik. Selentingan akan kenyataan yang diam-diam menelusup ke tengah panggung. Potret sempurna nan retak di tengah. Makin lama makin ke pinggir, meluas, meretas. Kopi dingin. Bising jalan di luar mengundang, memeluk. Aku melangkah pergi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-655855593194262292?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/655855593194262292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=655855593194262292' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/655855593194262292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/655855593194262292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/11/cafe.html' title='Cafe'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-6643220694767857199</id><published>2007-10-17T03:52:00.000+02:00</published><updated>2007-10-17T06:45:40.233+02:00</updated><title type='text'>Beat Bama Food Drive</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com/" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket" hspace="8" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/IMAGE.gif" align="left" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Adakah hal baik datang dari perseteruan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan perseteruan antara dua tim olah raga, yang terbayang di benak bukan semata kualitas olah raga yang makin tajam. Alih-alih, imaji yang saya punya terpolusi fenomena macam hooligan urakan yang tak tahu berhenti di batas wajar, komersialisasi (dan degradasi) olah raga jadi sekedar tontonan dan membalonnya nilai kemenangan keluar proporsi. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara Asia lain, Afrika, Eropa, dan Amerika fenomena semacam bisa ditemukan. Satu &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Football_hooliganism"&gt;entry&lt;/a&gt; di wikipedia ditulis khusus untuk mendokumentasikan insiden-insiden hooliganisme dari Argentina sampai Zimbabwe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perseteruan semacam terjadi juga di American football. Iya, olahraga yang berani menyandang nama 'football' meski dalam praktik permainannya, bola ditendang tak lebih dari 10 kali itu. Di Amerika, permainan yang perlahan menggeser basebal sebagai 'national past time' ini dimainkan di hampir semua level: elementary school, middle school, college, dan profesional. Dua level teratas, college (universitas) dan profesional, menyedot banyak perhatian. Menariknya, jumlah fans college football tak kalah banyak dengan fans club football profesional. Besar kemungkinan, tingginya persentase populasi yang sempat duduk di bangku universitas adalah salah satu hal yang menerangkan hal ini. Lumrahnya tiap lulusan universitas bangga akan, dan jadi fans seumur hidup dari tim universitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auburn, universitas tempat saya ngendon sekarang, punya tim football yang lumayan bagus. Dari tahun ke tahun, Auburn jamak terhitung sebagai 10 tim terbaik nasional. University of Alabama, universitas tetangga, punya tim yang terkadang bagus (hehehehe... BIAS? biarin!). Sebagai hasilnya? Bisa diduga, rivalry, perseteruan antar Auburn dan Alabama (yang nggak cuma terbatas di football, tapi juga di ranah akademik dan riset) mendidih menggelegak. Konon, perseteruan macam ini lumayan lumrah di seantero Amerika. Lebih uniknya, masing-masing perseteruan punya sejarah panjang (beberapa perseteruan sudah mulai lebih dari 100 tahun lalu, seperti Auburn-Georgia yang mulai tahun 1982) dan julukannya sendiri-sendiri. Stanford berseteru dengan University of California, Berkeley (Big game), Harvard-Yale (The Game), University of Mississippi versus Mississippi State University (Battle for the Golden Egg), dan tentu saja: Auburn-Alabama (Iron Bowl).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, pertandingan Auburn-Alabama bakal mengambil tempat di Jordan-Hare Stadium, Auburn. Sepanjang sejarah, pertandingan yang selalu jadi gong penutup musim ini, adalah game yang paling dinanti oleh fans kedua tim. Tak mengapa tak juara, yang penting jangan kalah dari Alabama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik buat saya menjelang pertandingan ini adalah tradisi relatif muda (baru 14 tahun berjalan, dibanding perseteruannya sendiri yang sudah mulai tahun 1893) berjudul &lt;a href="http://www.beatbamafooddrive.com/"&gt;Beat Bama Food Drive&lt;/a&gt;. Dari 15 Oktober sampai 15 November tiap tahunnya, sebelum tim masing-masing beradu di lapangan, fans Auburn dan Alabama bakal beradu dalam mengumpulkan makanan kalengan. Fans tim yang mengumpulkan total makanan kalengan terberat (alih-alih menghitung jumlah kaleng, mereka menimbang total makanan terkumpul) memenangkan kompetisi food drive ini! Makanan kalengan yang terkumpul kemudian didonasikan ke Alabama Food Bank, organisasi yang bertugas untuk menyalurkan makanan ke mereka yang membutuhkan atau menyimpannya sebagai cadangan di saat darurat seperti bencana alam macam badai Katrina dua tahun ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetisi, adalah salah satu adiksi terberat orang Amrik. Mereka cinta kompetisi. Kreatifitas mereka dalam menyalurkan energi kompetitif yang sudah seabad umurnya ke satu aktifitas demi kepentingan orang lain jadi saksi betapa perseteruan tak harus berakhir buruk. Buat saya, menyaksikan hal macam ini dari dekat, ada inspirasi yang terpercik: bahwa ide kreatif punya tempat dalam mentransformasi satu komunitas dan kanal-kanal energinya. Menyulap yang ulterior dan banal jadi sesuatu yang altruistik dan positif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-6643220694767857199?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/6643220694767857199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=6643220694767857199' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6643220694767857199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6643220694767857199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/10/adakah-hal-baik-datang-dari-perseteruan.html' title='Beat Bama Food Drive'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-4646833659573641909</id><published>2007-10-09T04:01:00.000+02:00</published><updated>2007-10-09T04:31:00.660+02:00</updated><title type='text'>Indonesia = membingungkan</title><content type='html'>Theodore Friend, sejarawan Asia Tenggara asal Amerika, mantan presiden Swarthmore College, menulis buku menarik tentang 'sejarah nation-state Indonesia: dari perjuangan melawan Belanda sampai pergulatan melawan terorisme'. Buku ini menyarikan 'sejarah' sebagaimana tergali dari dokumen atau rekaman sejarah, wawancara, sastra, agama dan psikologi sosial Indonesia. Judul bukunya 'Indonesian Destinies'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kata pembukanya, Theodore Friend mencoba untuk menggambarkan betapa cair nan elusifnya Indonesia dan keIndonesiaan. Membingungkan. Sebagaimana kata Clifford Geertz tentang tendensi orang Jawa untuk "menghidupi hidup yang sebagian berupa ungkapan tanpa emosi sementara sebagian lagi berupa emosi yang tak diungkapkan." Bahwa orang Jawa membingungkan, saya sudah tahu. Bahwa Indonesia secara keseluruhan membingungkan, saya dari dulu sudah curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Friend memberi illustrasi menarik tentang kebingungan orang Indonesia sendiri akan akar dan identitas keIndonesiaannya. "Dr. Friend," seorang pensiunan pejabat kenalannya bertanya "menurut Anda, kenapa bangsa kami yang halus dan semanak ini bisa tiba-tiba meledak emosi nya dan melakukan pembunuhan massal?". Pensiunan pejabat yang -konon kabarnya- suka membanggakan diri mampu bermimpi dan bercinta dalam bahasa Inggris ini tengah melamuni tragedi bom Bali hampir 5 tahun lalu (ingat 12 Oktober 2002!!). Theodore Friend cuma bisa mengangkat bahu. Sejurus kemudian, ia mengajukan pertanyaan serupa kepada seorang mantan menteri. Pak mantan menteri ini bukannya menjawab pertanyaan tadi, tapi malah mengutip catatan admiral Zheng He yang sempat mampir di Indonesia (sempat kesasar di Semarang lho!!) di abad XV yang mendeskripsikan orang-orang yang tinggal di pulau2 yang sekarang dikenal sebagai Indonesia ini sebagai 'orang-orang berdarah panas yang gemar menguji keampuhan pisau mereka ke tubuh tetangganya'. Di telinga saya, sang mantan menteri tengah berkelit dengan cerdas. Ia membelokkan energi pertanyaan tadi ke pernyataan menarik: jangan pikir bagaimana bangsa yang halus dan beradab ini bisa terperosok sedemikian jauh sehingga menghalalkan darah sesamanya, tapi pikir bagaimana mungkin bangsa yang dasarnya kasar dan urakan ini bisa membangun peradaban sebagaimana yang tercermin dalam nilai2 tradisi yang mereka punya sekarang ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mana pun yang saudara nilai lebih benar, saya pikir pernyataan berikut masih tetap sahih: Indonesia= membingungkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-4646833659573641909?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/4646833659573641909/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=4646833659573641909' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/4646833659573641909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/4646833659573641909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/10/indonesia-membingungkan.html' title='Indonesia = membingungkan'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2285854419823673001</id><published>2007-10-05T02:54:00.000+02:00</published><updated>2007-10-05T03:38:54.739+02:00</updated><title type='text'>Sains: memisahkan naturalisme dalam metodologi dari naturalisme dalam ontologi</title><content type='html'>Panjang dan berbanyak kata. Jelas tak menarik. Saya setuju. :)&lt;br /&gt;Entah kenapa tapi akhir-akhir ini benak saya memang sedang ngidam tiga hal: sains, agama dan perpotongan antara keduanya. So bear with me, if you can, or better still, just ignore this babble.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpotongan antara sains dan agama adalah hal menarik yang jadi issue sesehari buat mereka yang berlatar belakang kultur spiritual. Dengan 'kultur spiritual' saya sedang bicara tentang berbagai kultur nan kuyup ide akan sesuatu yang lebih, yang tak kasad mata, yang transenden dari materi sesehari. Dalam konteks saya, kultur spiritual ini adalah Indonesia. Yang setelah beberapa ribu tahun berinteraksi dengan peradaban lain, sampai di tahap di mana keyakinan monoteis merambat cukup kuat dalam psike puak-puaknya. Berasal dari dan bertumbuh dalam kultur semacam, ide akan keberadaan dan keMahaan Tuhan saya akrabi dari awal, tak pernah jadi sesuatu yang asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sains seringkali tertampilkan sebagai ancaman atau minimal kontestan akan kemampuan atau bahkan eksistensi Tuhan. Ada beberapa cara pandang yang bermain di sini. Materialisme, di mana segala yang immaterial dilihat sebagai tak eksis, adalah salah satunya. Naturalisme, di mana segala yang terjadi pasti punya penjelasan natural (dan bukannya supernatural) adalah hal lain. Sains sebagai salah satu cara mengakses dan mengeksplorasi kebenaran dalam hidup seringkali dianggap sebagai pembawa panji materialisme dan naturalisme, sehingga berbentur frontal dengan ide keberadaan Tuhan, di mana yang immaterial dan sekaligus super natural disembah dan dilihat sebagai sumber dari segala yang material dan natural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian jam mencoba untuk melakukan aktifitas ilmiah, saya kira ada sesuatu yang menarik untuk dibagi tentang pandangan akan sains di atas. Sains memerlukan asumsi naturalisme secara metodologis. Artinya, ketika seseorang di Ghana terserang penyakit, demam tinggi, turun, tinggi lagi, koma lalu meninggal, sains tidak dan tidak boleh berhenti pada ide bahwa 'ini sudah kehendak Tuhan'. Sains mesti mengasumsikan bahwa ada penyebab natural yang dapat menerangkan fenomena di atas. Dari asumsi itu, observasi akan keseluruhan fenomena dapat dilakukan: ah, orang ini tinggal di dataran rendah di Ghana di mana populasi nyamuk terekam tinggi. Siklus demam tinggi yang diderita sang pasien sebelum meninggal sesuai dengan deskripsi gejala malaria. Hipotesa kemudian ditarik: sang pasien meninggal karena malaria! Eksperimen dapat dirancang untuk menguji hipotesa tadi: sampel darah pasien, check keberadaan protozoa &lt;em&gt;Plasmodium&lt;/em&gt;, jika pathogen bersangkutan ditemukan maka hipotesa teruji benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sering dikacaukan orang awam, dan sayangnya banyak kacau juga dalam benak ilmuwan, adalah perbedaan antara asumsi naturalisme dalam metodologi dengan asumsi naturalisme dalam ontologi. Dalam kasus diatas, mengasumsikan naturalisme dalam ontologi memampukan seseorang untuk berkata "ah, ini bukan kehendak Tuhan kok, wong Tuhan (yang notabene adalah entitas super natural) toh nggak eksis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sains membutuhkan asumsi naturalisme secara metodologis. Namun ia tak kemudian mensahihkan asumsi naturalisme secara ontologis. Mencampur adukkan keduanya adalah falasi cara berpikir. Melihat yang satu sebagai konsekuensi logis dari yang lain adalah lompatan iman tersendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2285854419823673001?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2285854419823673001/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2285854419823673001' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2285854419823673001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2285854419823673001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/10/sains-memisahkan-naturalisme-dalam.html' title='Sains: memisahkan naturalisme dalam metodologi dari naturalisme dalam ontologi'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-7760249013161835506</id><published>2007-09-21T23:37:00.000+02:00</published><updated>2007-09-21T23:38:15.256+02:00</updated><title type='text'>Kebahagiaan</title><content type='html'>Robert Louis Stevenson, penulis bagus yang memberkahi kita dengan kisah-kisah sedap macam “Treasure Island” dan “Strange Case of Dr. Jeckyll and Mr. Hyde” sempat berkomentar akan manusia “There’s no duty we so much underrate as the duty of being happy.” Ah ya… saya setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romantisasi kebahagiaan ala film “The Pursuit of Happyness” punya pesan yang saya kira menghunjam dalam di batin banyak orang akhir-akhir ini: bahwa kebahagiaan adalah barang langka dan karenanya butuh kerja keras untuk mengakuisisinya. Saya tak sepenuhnya setuju. Kebahiaan memang minta ‘kerja keras’ untuk digapai, namun bukan karena jumlahnya yang lebih sedikit dari pada permintaan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu, saya sudah curiga dan senantiasa bersikeras bahwa kebahagiaan tertemukan justru di antara rajutan benang-benang situasi sesehari, dalam bagian-bagian hidup kita yang sederhana dan tidak istimewa. Namun justru karena sederhana dan tidak istimewa itu tadi, ada aura nyaman yang tak tertemukan dalam barang dan situasi nan istimewa dan tidak sederhana.&lt;br /&gt;Bak bantal lama (atau selimut, atau piyama, atau kamar tidur atau apapun lah yang pernah jadi pengalaman saudari saudara) yang seolah sudah jadi prasyarat mimpi indah. Bantal baru semahal apapun tak sanggup menggantikan magi persahabatan antara kepala kita dengan bantal lama tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, hukum kebahagiaan serupa saya kira terpakai juga dalam hubungan romantis antara dua anak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan yang memercik-mercik di awal hubungan itu tak lebih dari kembang api 4 Juli (atau 17 Agustus lah kalau di Jakarta), indah dan glamour. Ironisnya ledak warna percik api itu hanya indah dan glamour ketika nyala sebentar di tetak langit hitam. Ledak warna semacam yang senantiasa nyala tanpa pernah mati justru kehilangan indahnya, macam billboard neon yang mempertunjukkan imaji itu-itu saja di Vegas sana, membosankan dan bikin jengkel.&lt;br /&gt;Segera setelah pertunjukkan kembang api itu selesai, kenyataan menyapa: memulai satu hubungan romantis pada dasarnya adalah mengundang satu variable yang sama sekali baru dalam hidup sendiri. Sama sekali baru. Dan seperti hukum yang sudah terlanjur saya yakini di atas bilang: kebahagiaan tak terdapatkan dalam sesuatu yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan yang sesungguh-sungguhnya, saya pikir, tersimpan buat mereka yang bertahan dalam satu hubungan. Melewati segala salah mengerti dan jengkel. Lebih dari sekedar bertahan, justru dalam evolusi saling mengerti dan menerima antara dua orang yang sama sekali berbeda, tertemukan kenyamanan. Mungkin di sini banyak orang gagal: evolusi ini tak terjadi begitu saja. “… takes a lot of growing up”, kata Kibaki, teman saya dari Kenya yang baru menikah awal tahun ini. Dan seperti yang kita tahu, jadi tua itu otomatis, jadi dewasa itu pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam Pickering, dosen sastra Inggris di Universitas Connecticut yang jadi inspirasi Peter Weir dalam menulis tokoh John Keating (guru fiktif favorit saya) di film Dead Poet Society menulis dalam {Autumn Spring}, kumpulan esai nya yang baru terbit tahun ini,&lt;br /&gt;“Last week I accompanied Vicky to Wal-Mart in Willimantic. She bought a basket of things, among others, pliers, a pair of Blue Jay slippers with red and white flowers blooming over the toes,…. Vicky finished sopping at noon, and deciding to treat ourselves to lunch, we ate at the Wendy’s near the entrance of Wal-Mart. I ordered the kid’s meal. I don’t like pickles, and instead of a single slice of pickle the hamburger contained three slices. All went well, however, because Vicky ate the slices. Even better I did not suffer heart palpitations after the meal because I ate only two French fries. Someone has parked a retarded girl in the restaurant, and she sat down at our table and talked to me. She spoke in syllables, and I did not understand anything she said. She liked fries, however, and she ate all of mine. … For dessert Vicki and I shared my Frosty. “A good morning,” Vicky said, as we left the parking lot beside Wendy’s. “You bet,” I said, settling back into the passenger seat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aaahh.. kebahagiaan yang lahir dari kasualitas, keterbiasaan, kenyamanan. Tak sabar saya sampai ke sana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-7760249013161835506?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/7760249013161835506/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=7760249013161835506' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/7760249013161835506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/7760249013161835506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/09/kebahagiaan.html' title='Kebahagiaan'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2746356328369273688</id><published>2007-09-19T02:39:00.000+02:00</published><updated>2007-09-19T16:02:03.362+02:00</updated><title type='text'>People suck</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com/" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;Perjalanan ke salah satu lapangan penelitian di Florida minggu lalu saya isi dengan mendengarkan audiobook “&lt;a href="http://www.helgaschneider.com/english/libro_letmego_heine.htm"&gt;Let me go&lt;/a&gt;”, memoir menarik tulisan Helga Schneider. Lahir di Polandia tahun 1937, Helga Schneider menghabiskan masa kecil dan remaja nya di Berlin sepanjang perang dunia ke II. Ketika masih ingusan, 4 tahun, Traudi, ibu Helga, memutuskan untuk pergi meninggalkan suami dan anak2nya untuk bergabung dengan SS, Schutzstaffel (skuadron pelindung), organisasi paramiliter partai Nasional Sosialis Jerman. Di kemudian hari, Traudi mengambil tanggung jawab sebagai penjaga kamp konsentrasi di Auschwitz-Birkenau, di mana 3-4 juta tawanan dibantai dalam waktu 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu yang meninggalkan dua anak, satu 4 tahun yang lain belum lagi 2 tahun, untuk bergabung dengan satuan maut macam SS… setting menarik, pikir saya. Memoir Helga Schneider bermula di tahun 1998, hampir 60 tahun sejak Traudi meninggalkan putrinya, ketika Helga menerima telepon dari seorang wanita seumur mama nya yang mengaku mengenal Traudi dan meminta Helga untuk datang berkunjung. Untuk detil kecil dari keseluruhan cerita, sumonggo dibaca sendiri dari buku asyik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya Helga setuju untuk datang menemui sang ibu. Beribu pertanyaan menyesaki benak Helga. Saya sendiri tak sanggup membayangkan bagasi emosi macam apa yang menindih tiap jengkal hati Helga tatkala ia akhirnya bertatap muka dengan ibu nya lagi, setelah sekian lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog antara anak yang terluka dan penuh tanya dan seorang ibu yang kadung mengambil keputusan nan tak terbayangkan jadi moda cerita utama buku ini. Namun yang menarik betul dari narasi pendek ini (hanya 4 keping cakram padat) adalah kesempatan untuk melongok ke psike dan pedalaman seorang anggota SS yang melihat genosida sebagai sesuatu yang sah dan sahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Didn’t you feel remorse? Didn’t you feel bad for the babies? Or for the mothers with babies?” Tanya Helga (“You were having babies yourself!” jeritnya mungkin dalam hati). Traudi tak butuh sehela nafas lewat untuk menjawab, dengan terkejut yang tak dibuat-buat “Remorse? Feel bad? For the babies and mothers? WHAT FOR?”, seolah pertanyaan yang diajukanlah yang menjijikkan. “More death babies means that they won’t grow into disgusting Jews!”, tambahnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keras. Sekeras granit. Tak ada rasa bersalah, tak ada sesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudolf Hoss, komandan seluruh kamp Auschwitz, personal militer yang dengan dingin bersiasat mencari metode paling efisien dalam mengeksekusi “solusi final dari ‘Judenfrage’, ‘masalah ‘Yahudi’”, serupa mekanik kepala yang senantiasa mencari cara meningkatkan produksi pabriknya, terkutip berkata “I want to emphasize that I personally never hated the Jews. I considered them to be the enemy of our nation. However, that was precisely the reason to treat them the same way as the other prisoners. ... Besides, the feeling of hatred is alien to me ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompartementalisi. Tatkala empati pribadi, suara dalam hati yang menandaskan bahwa manusia lain adalah satuan yang serupa dengan diri sendiri dan karena nya berhak untuk diperlakukan serupa dengan bagaimana diri ini ingin diperlakukan, dibungkam dan disimpan dalam satu kardus di sudut hati demi satu tujuan, ideologi, keyakinan yang ‘lebih tinggi’. Entah kenapa tak terpikir oleh mereka yang mempraktikan hal semacam bahwa golden rule sederhana tadi justru bisa jadi salah satu palang penguji kesahihan tiap ideologi dan keyakinan yang mengklaim diri ‘tinggi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menyedihkan adalah kesadaran bahwa cara berpikir, merasa dan bertindak serupa masih hidup, segar bugar bahkan meraja lela di dunia yang kita hidupi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eva Kor, holocaust survivor, satu dari segelintir anak yang keluar hidup-hidup dari Auschwitz, jadi fokus film dokumentasi bagus: Forgiving dr. Mengele. Josef Mengele adalah dokter SS yang mengkoordinasi eksperimentasi inhuman dengan tawanan Yahudi sebagai kelinci percobaannya. Dalam film dokumentasi ini, penderitaan anak2 Yahudi (terutama mereka yang kembar) sebagai obyek percobaan Mengele diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Selepas Auschwitz, Eva dan saudari kembarnya kemudian hijrah ke Israel, dan tinggal beberapa waktu di sana sebelum kemudian pindah ke Amerika Serikat. Saudari kembar Eva berkeluarga dan menetap di Israel. Israel sebagai negara independen, buat Eva, adalah keniscayaan dan ‘asasi’. Menariknya di setengah jam terakhir film ini, Eva Kor menemukan diri di Palestina, di tengah sekelompok guru Palestina yang bercerita dengan nada menusuk, akan ketidakadilan yang mereka alami di tanah sendiri. Tanah yang saat ini dikooptasi Israel. Menarik karena di sini, Eva sang korban (sebagaimana ia terpotretkan di bagian awal film ini, dan mungkin sebagaimana ia melihat diri sendiri) menemukan diri sebagai Eva, bagian dari pihak penindas, perampas. Dan ia mengaku, tersendat dan bingung, “I don’t feel comfortable. It’s too much for me.” Di satu sisi, ia bisa berempati dengan orang-orang ini.. mereka korban, sama seperti dirinya. Di sisi lain, mereka jadi korban karena sesuatu, sebuah ide, yang buat nya adalah hak asasi. Sebuah ide yang ‘lebih tinggi.’ Dan karenanya boleh meminta korban baik di pihak sendiri maupun di pihak lain yang ‘kebetulan’ menutup jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 11 lalu, sekitar jam 12 siang, layar-layar TV di cafeteria universitas Auburn memutar ulang saat2 di mana pesawat2 menghunjam gedung WTC enam tahun lalu. Belum lagi makan siang saya selesai, CNN melaporkan perkembangan di Iraq, dengan seorang bapak dari timur tengah yang dengan lugu lagi bersemangatnya bicara di depan kamera “Satu pedang jatuh, pedang lain akan dibangkitkan. Kami akan tetap melawan sampai okupasi Amerika enyah dari sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi hal yang sama. Manusia, nyawa dan jiwa, dipandang tak lebih tinggi dari satu ideologi atau bahkan secuil emosi (dendam, mata ganti mata, gigi ganti gigi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar kata Mark Driscoll, evangelis muda dari Mars Hill di Minnesota, model the cursing pastor dalam ‘Blue Like Jazz’ besutan Donald Miller (jadi diterjemahkan ke bahasa Indonesia mbak Kris?), “People suck! God saves us from ourselves.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s the truth, it’s a plea, it’s a good news.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2746356328369273688?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2746356328369273688/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2746356328369273688' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2746356328369273688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2746356328369273688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/09/people-suck.html' title='People suck'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2536509805933151481</id><published>2007-07-12T02:47:00.000+02:00</published><updated>2007-07-12T03:00:45.376+02:00</updated><title type='text'>If wrong, to be set right</title><content type='html'>Kereta yang membawa penumpang pesawat yang baru mendarat di bandara  internasional Jackson-Hartfield dari satu terminal ke terminal berikutnya itu berhenti. Pintu metal membuka di hadapan, papan bertulis “Concourse T, Baggage Claim” tergantung di lorong di muka. Saya melangkahkan kaki keluar. Tangga berjalan yang lumayan tinggi menyambut, mengangsurkan pintu keluar di ujung jauhnya. Lengkung gerbang di atas tangga ini berhias lukisan senyum cerah seorang anak berkulit hitam berbalut kostum atletik, warisan olimpiade Atlanta sedekade lewat. Bersama serombongan penumpang dan petugas bandara, saya beranjak naik ke terminal kedatangan. Wajah-wajah penjemput menyembul sedikit demi sedikit. Dua kali setahun kemarin saya berdiri di sana menunggu Nita datang dari Jerman. Kali ini, saya lah yang baru pulang dari bepergian, tak mengharap seorang menanti. Tiba-tiba, tepuk tangan pecah memenuhi terminal. Menengok ke kanan kiri, pandang terantuk pada seorang berseragam militer di lajur sebelah. Seragamnya senada dengan habitat gurun pasir. “Tentara yang baru pulang dari timur tengah.”, batin saya. Iraq? Afghanistan? Entahlah. Sepasang kruk dikempitnya di kanan kiri. Senyum tipis mengembang di bibirnya, mengangguk kecil ke rombongan orang2 yang menyambutnya dengan tepuk tangan. Seorang wanita muda, “istri? pacar? adik?”, menghambur ke pelukannya. Tepuk tangan makin keras. Saya berhenti lalu turut membayar hormat pada sang prajurit dengan cara paling sederhana: ikut bertepuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya tak semua orang yang hari itu menyambut prajurit yang baru pulang dari medan laga ini setuju akan dihembalangnya perang di timur tengah. Bahkan saya pikir tak akan aneh jika sang tentara sendiri punya pendapat pribadi yang tak sepenuhnya segaris dengan keseluruhan argumen pro perang. Tepuk tangan saya tempo hari sungguh bukan aplaus buat kebijakan agresif yang tengah diemban oval office. Namun lebih bentuk apresiasi seorang manusia akan manusia lain, yang sudah melewati hari2 penuh resiko, terpisah jauh dari mereka yang ia cintai tanpa kepastian hari lewat hari akan pertemuan kembali. Buat sebagian warga Amerika, ‘pengorbanan’ sang prajurit punya nilai lebih dari itu: ia mengambil resiko sedemikan besar demi negerinya. Demi ‘keselamatan dan keamanan’ publik Amerika. Saya dan mungkin saudara yang membaca entry ini mungkin susah menarik garis antara perang di timur tengah dan keselamatan warga negara Amerika. Namun buat seorang anak kecil yang sempat ngobrol dengan teman baik saya di Knoxville, Tennessee, kaitan antara keduanya sungguh jelas: (kalau tak ingin ada perang di sana) &lt;a href="http://greyhoundbus.blogspot.com/2007/03/my-pledge-to-forsythes-my-shenanigans.html"&gt;“"... they shouldn't be trying to hurt my country!&lt;/a&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polos dan sederhana. Terlalu sederhana? Rasa sakit sebagai korban ketidakadilan dan brutalitas saya pikir cukup untuk mengerdilkan benak bijak manapun juga. Itu yang kita lihat di Amerika pasca September 11, dan saya nggak akan heran jika rasa sakit yang sama memotivasi gerakan terorisme internasional yang berujung pada September 11.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carl Schurz, republikan dari negara bagian Wisconsin, menandaskan “My country, right or wrong; if right, to be kept right; and if wrong, to be set right.” Adalah hak dan kewajiban warga negara untuk mengangkat senjata mempertahankan tanah airnya. Dan jika doktrin ‘defensive warfare’ mendikte bahwa perang di timur tengah adalah bagian dari pertahanan diri Amerika Serikat, saya pikir ada yang salah dengan keseluruhan logika dan asumsi doktrin ini. Saya berdoa demi Amerika, untuk kerendahan hati, kepala dingin dan kemanusiaan yang cukup dalam yang memampukan mereka mempraktikan retorika Schurz, “if wrong, to be set right”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2536509805933151481?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2536509805933151481/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2536509805933151481' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2536509805933151481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2536509805933151481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/07/if-wrong-to-be-set-right.html' title='If wrong, to be set right'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2558270504979897424</id><published>2007-05-18T06:02:00.000+02:00</published><updated>2007-05-18T06:10:51.350+02:00</updated><title type='text'>'Kalian' dalam bahasa kita</title><content type='html'>Belakangan ini, di milis organisasi kesayangan saya semenjak SMA, ada sedikit tukar pendapat tentang pemakaian kata 'kalian'. Pasalnya sederhana, seorang anggota milis yang relatif muda memakai kata ganti orang kedua jamak ini untuk menunjuk pada sidang alumni, dan seorang anggota lain mengirim pendapat yang sifatnya mempertanyakan kelayakan kata 'kalian' dipakai dalam konteks tadi. "Nggak ngajeni", "Kurang sopan" demikian mungkin singkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh 'repot' hidup (setidaknya buat sebagian kita) dalam budaya di mana gestur terkecil pun punya muatan tata krama. Saya sendiri pernah tersandung batu yang sama. September 2003, di acara perayaan kelulusan S1 Jurusan Proteksi Tanaman IPB saya ketiban sampur disuruh angsur bicara di muka orang tua murid sebagai perwakilan mahasiswa yang baru lulus. Dodolnya, penunjukan ini datang hanya 15 menit sebelum podium diserahkan. Dalam 15 menit itu, saya sibuk 'menulis' draft apa saja yang diharapkan untuk saya katakan di kesempatan semacam ini. Menulis dalam tanda kutip karena memang hanya dilakukan di benak. Menit M pun datang dan saya melangkah ke ! podium. Point demi point saya angsurkan, dari terimakasih ke segenap dosen, sedikit guyon mengingatkan mereka betapa bandelnya angkatan kami dan betapa sabarnya (baca: betapa terpaksanya mereka untuk jadi sabar) menghadapi kami dari hari ke hari, dan terakhir tentu saja 'berupaya' untuk mengucapkan terimakasih kepada tiap orang tua murid untuk dukungan cinta mereka ke seluruh kami. Dan karena saya yakin akan adagium 'kalau orang lain udah pernah mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata yang tepat dan cantik, kutip aja, ngapain bikin sendiri', dan juga karena saya sok tahu, maka selarik Gibran pun ikut meluncur dari mulut saya 'Your children are not your children, They are the sons and daughters of Life's longing for itself ... You are the bows from which your children as living arrows are sent forth.' Sampai di sini semua masih baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di kalimat saya selanjutnya, mungkin gara2 puisi yang saya kutip tadi ada dalam bahasa Inggris dan orang tua pun dibahasakan sebagai 'you' di sana, saya jadi terbawa menggunakan terjemahan 'you', 'kalian', untuk membahasakan hadirin orang tua murid di depan saya. hehehehe... di sini semuanya jadi tidak baik-baik saja. Bahkan orang tua saya sendiri pun berkerut dahi dan tak kehilangan waktu mengkritik ketidaksopanan anaknya di perjalanan pulang. Wah lah.. saya sejujurnya jadi bingung sendiri... 'Lho.. salah ya membahasakan orang-orang tua tadi dengan kalian?' 'Lha pas saya pakai 'you' di larik Gibran untuk membahasakan merekam kok pada mengangguk-angguk dan tersenyum kecil?', batin saya tanpa berani menyuarakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, bahasa memang punya aturan gramatik, 'mood' dan 'feeling' nya sendiri-sendiri. Itu sebabnya terjemahan babi buta ala saya bertahun yang lalu memang jarang bisa dibenarkan. Namun di pihak lain, saya jadi sadar betapa nggak bakatnya saya hidup di tengah tradisi 'sendiri'. Sendiri dalam tanda kutip karena ini tradisi datang pada saya bukan karena pilihan, tapi karena saya kebetulan dilahirkan ke tengah-tengah nya. Tradisi, cara hidup, yang padat tata krama dan petatah petitih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2558270504979897424?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2558270504979897424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2558270504979897424' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2558270504979897424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2558270504979897424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/05/kalian-dalam-bahasa-kita.html' title='&apos;Kalian&apos; dalam bahasa kita'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-8199885110776717512</id><published>2007-05-15T15:42:00.000+02:00</published><updated>2007-05-17T03:05:26.951+02:00</updated><title type='text'>Ngesun Dorna</title><content type='html'>Saya hanya pernah punya dua room mate, well.. satu malah. Yang seorang lagi house mate. Dua tahun terakhir studi saya di IPB, kami berbagi rumah di Kompleks Taman Yasmin sektor VI, Bogor. Saya dan house mate ini benar dekat. Salah satu yang bikin dekat adalah selera baca dan musik kami yang kebetulan berpotongan satu sama lain. Dan dua tahun terakhir studi S1 itu jadi hari-hari di mana musik melolong dari stereo set kami nyaris tanpa henti. Saya lagi kedanan berburu rekaman lama nya Miles Davis, John Coltrane dan Sadao Watanabe setelah terhasut Jazz, parfum dan insiden nya Seno Gumira Aji Darma, sementara si teman serumah ini getol benar memenuhi ruang-ruang kami dengan tenor nya Luciano Pavarotti, Placido Domingo dan Jose Carreras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa menulis skripsi dulu, saya sempat melewati hari-hari tidur pagi bangun siang. Bukan apa-apa, wangsit memang lebih sering menyapa malam-malam. Dan di pagi2 setelah itu, salah satu aria yang paling sering menyapa kuping saya adalah ... NESSUN DORMA nya The Three Tennors. Saking sering nya saya terbangun oleh lengking papa Pavarotti 'Nessun dorma! Nessun dorma! Tu pure, o Principessa..' lahirlah guyonan internal di antara kami berdua, plesetan dari nessun dorma: "Ngesun Dornaaaaaaaaaaaaa...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun dari hari2 jahiliah itu baru saya agak ngeh dikit tentang Nessun Dorma setelah nonton Turandot nya Puccini di Opernhaus Hannover (tiket harga mahasiswa tentunya). Di adegan terakhir Turandot, Calaf bernyanyi 'Nessun dorma! Nessun dorma! Tu pure, o Principessa', 'Biarlah semua tak jatuh tertidur, biarlah semua tak jatuh tertidur. Bahkan kau juga, Pangeran!'... well, sugesti yang tepat benar datangnya, saya sudah hampir ketiduran nonton nomor opera satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Nessun Dorma jadi sering mampir di ruang dengar saya. Ketika akhirnya nonton juga 'Mirror has Two Faces' nya Barbra Streisand, Nessun Dorma terlantun anggun di adegan penutupnya. Bahkan 'Bend it like Beckham' pun menyisipkan score musik aria ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling akhir kemarin sore ketika saya menemukan diri di perpustakaan kota melongok-longok rak CD klasik/instrumental, menemukan CD Andrea Bocelli dan membaca Nessun Dorma di urutan lagu teratas. Buru-buru saya pinjam itu CD, bergegas pulang ke rumah dan mengaktifkan CD player saya. Alunan string session memenuhi apartemen, menarik nafas panjaaaaaaaaang, bersama Andrea Bocelli saya pun berlagu "Ngesun Dornaaaaaaaaaa"............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:Dorna adalah nama pendeta licik tengik, penasehat dan provokator pihak Kurawa dalam babad Mahabharata:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-8199885110776717512?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/8199885110776717512/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=8199885110776717512' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/8199885110776717512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/8199885110776717512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/05/ngesun-dorna.html' title='Ngesun Dorna'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-5261714594417733502</id><published>2007-04-26T20:28:00.000+02:00</published><updated>2007-05-02T03:59:36.098+02:00</updated><title type='text'>PhD</title><content type='html'>Di Jerman dan sebagian besar negara Eropa, seseorang yang kepengen belajar keahlian tertentu biasanya ikut ngenger seseorang yang sudah lebih dulu mapan di bidang bersangkutan. Seseorang yang pengen jadi Master Gardener ya ikutan kerja di bisnis Gardening dulu selama enam sampai sepuluh tahun baru kemudian berani membuka bisnisnya sendiri. Demikian juga dengan seseorang yang tertarik untuk jadi montir, plumber, builder. Di banyak pekerjaan di Indonesia, sepertinya hal serupa masih berlaku. Di Amerika, lain lagi ceritanya. Sistem 'magang' seperti ini nggak banyak saya lihat di sini. Tapi ada satu bidang yang masih sedemikian kuatnya memegang tradisi ngenger macam begini: akademia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup, di US, kandidat PhD ataupun Post Doc itu kan sebenernya nggak jauh-jauh amat dari seseorang yang ikut ngenger dengan sang profesor. Diharapkan, dengan bekerja dekat lekat selama beberapa tahun, kemampuan, ketelitian dan kreatifitas sang profesor yang di-ngenger-inya turut menular. So, saya dan berjuta PhD lain di negeri ini sebenernya nggak beda ama siswa penata rambut di Jerman yang sedang magang di salon yang sudah mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat PhD dari sudut pandang demikian, nggak heran kalau pola pendidikan di grad school (khususnya di natural science) lebih mempersiapkan siswa-siswanya untuk jadi professor dari pada praktisi. Lha wong yang dingengeri kerja memang professor dan bukannya praktisi. Nggak peduli sedang ambil PhD di bidang astrofisika atau fisiologi lalat rumah, suasana pendidikan dan penelitian di kebanyakan program doktoral bakal mempersiapkan sang siswa untuk kemudian jadi penghuni lab dan pengajar di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untungnya", mekanisme pasar (besar penawaran dari pada permintaan) di dunia akademik dan ketidakcocokan kepribadian dengan tuntutan kerja sebagai pekerja akademik jadi barrier serius buat sebagian besar lulusan grad school bertitel doktor. Jadilah kelompok pencari kerja yang kerap dilihat over educated (saya bilang sih miseducated.. hi hi hi...) ini dipaksa untuk ikut berebut pekerjaan di bidang praktis, terkadang jauh nian dari subyek yang digelutinya semasa di grad school.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi justru di sini lah saya lihat grad school sebenarnya menawarkan jauh lebih banyak dari pada sekedar ngenger pada seorang pekerja akademik. Dibanding teman-teman saya yang dengan bijaksananya memilih untuk bekerja ketimbang berlama-lama di universitas, 'pekerjaan' saya sekarang ini sungguh jauh lebih rileks. Aturan mainnya sih, jam kerja dari jam 8 sampai jam 5, tapi kalau saya malas angsur muka di kantor, saya toh tinggal tulis email "Hari ini saya mo baca-baca di perpus", atau tinggal pesen post it di meja kerja "saya ada di greenhouse". Habis perkara. Well, seorang teman yang sedang ambil spesialisasi bedah saraf di Jepang 'mengadu' bahwa meski jam kerja hanya sampai jam 5 sore tapi kalau student di sana berani2nya pulang sebelum jam 7 malem, bakal dicap pemalas dan sebagainya... untuuuuuung saya nggak sekolah di sana :) Namun di pihak lain, standard uji performa di gradschool sama sekali nggak rendah. Ujian tiap semester itu saya bilang sih sebenernya nggak ada bobotnya, setidaknya di natural science. Standard uji yang sebenarnya dari seorang calon doktor adalah kemampuan dan kreatifitasnya mendisain dan mengeksekusi eksperimen orisinil. Orisinalitas satu eksperimen dimulai dari pertanyaan yang diajukan oleh sang pendisain, dan jangan salah... dari SD dulu kita selalu diajar untuk menjawab pertanyaan, tapi sungguh jarang diajar untuk melontarkan pertanyaan. Bertanya itu susah lho.. Apalagi bertanya yang 'mutu'. Ada jawaban berkualitas (nggak asal2an) dan ada pula pertanyaan yang berkualitas. Demi tahu apa yang mesti ditanyakan, seorang rekan yang hijrah dari Auburn ke University of Florida diberi waktu setahun hanya untuk membaca hasil2 penelitian yang sudah sudah. Setahun. Demi tahu apa yang masih tersisa untuk ditanyakan. Setelah pertanyaan ditemukan, langkah berikut adalah merumuskan eksperimen yang bakal membantu menjawab pertanyaan tadi. Dan di sini segala macam pertimbangan praktis jadi ikut bermain: keterbatasan dana, ruang, waktu, kemampuan teknis mesti diperhitungkan. Setelah eksperimen didisain, eksekusi menunggu. Dan jangan salah... orang bilang perencanaan adalah 50% dari keseluruhan aktivitas. Saya bilang sih nggak juga. Terutama kalau proyek yang sedang dikerjakan berupa proyek seorang diri macam yang biasa diemban calon doktor. Eksekusi eksperimen, saat di mana data ditambang dan dihasilkan, menurut saya adalah tahap paling mengerikan dari keseluruhan proyek. Data generating itu luamaaaaaaa.. dan membosankannya nggak ketulungan. Apalagi kalau yang berkaitan dengan taneman. Sebar benih, pengairan, pemupukan, tunggu tunas, rekam pertumbuhan, jajaki lapangan, koleksi serangga... Kerja berbulan-bulan hanya demi seruas data di tabel yang cuma sehalaman panjangnya. Dan bicara tentang tabel, ini tahap natural berikutnya yang nggak kalah serius: tulis artikel ilmiah melaporkan hasil penelitian. Dan inilah palang uji terakhir buat seorang calon doktor. Mirip ritus yang mesti dilalui seorang anak untuk diakui sebagai orang dewasa di banyak kultur. Di sinilah sang calon doktor menyerahkan hasil penelitiannya untuk ditelaah, diperiksa oleh 'orang dewasa' di kultur akademik: anonymous reviewer. Jika hasil jerih lelahnya dianggap cukup layak untuk mampir di ruang baca pekerja akademik lain, ia lulus, ia dilihat sebagai bagian integral dari dunia akademik. Jika tidak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, mengambil PhD di satu subyek tertentu tak mesti berarti mengikatkan diri selamanya ke subyek bersangkutan. Pendidikan yang sebenar-benarnya di grad school adalah disiplin belajar dan metode berpikir kreatif dan seluas-luasnya. Dua hal yang sebenarnya bisa juga dipelajari di luar grad school. Buat saya, bedanya cuma satu: kalau dulu saya memilih untuk belajar dua hal di atas di luar grad school, saya nggak yakin akan sudah menapakkan kaki di Eropa dan Amerika di usia sekarang ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup, afterall, international students are (supposed to be) full time tourist and part time student.. he he he he...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-5261714594417733502?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/5261714594417733502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=5261714594417733502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/5261714594417733502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/5261714594417733502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/04/phd.html' title='PhD'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-5645249101603963706</id><published>2007-04-09T18:40:00.001+02:00</published><updated>2007-04-10T16:47:42.406+02:00</updated><title type='text'>Selamat Paskah Semua!!</title><content type='html'>Di hadapan papan catur kekekalan itu Allah tersenyum kalem.&lt;br /&gt;Permainan yang sungsang ini sudah berjalan beberapa tahun lamanya. Iblis, ia yang sadar akan kekerdilan diri namun bersikeras mengklaim sepenuh hormat dunia, tengah berpuas diri. Dalam permainan yang cuma terjadi sekali ini, ia merasa berada di atas angin. Telah dikuncinya Allah di satu situasi simalakama. Manusia sudah jatuh dalam kanjang dosa dan sifat ke-Maha Adil-an Allah menguar menuntut aksi sederhana: hukuman bagi yang bersalah. Di sisi lain, ke-Maha Kasih-an Allah meluap mengisi ruang dan waktu, memintakan pengampunan bagi manusia ciptaan sendiri. Simalakama. "Tahu rasa sekarang...", batin iblis. Ia merasa cerdas. "Pada akhirnya, yang oportunis lah yang menang." Tak dilihatnya jalan keluar bagi Allah dari jebakan sempurna ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Allah, dengan pengetahuanNya yang lebih tua dari waktu, nampak tetap tenang. Senyum kalem menghias parasNya. Telah dilihatNya semua ini sejak sebelum waktu dimulai. Tak terkejut Ia oleh jebakan iblis. Bahkan jatuhnya manusia dalam dosa pun sudah masuk dalam hitunganNya. Tak pernah diinginkanNya memang, cinta manusia yang buta kepadaNya. Cinta yang membara karena absennya kemampuan untuk membuat pilihan salah. Tak diinginkanNya pula cinta terpaksa, yang sekedar nyala oleh siraman minyak koersi dan ketakutan. DiinginkanNya cinta manusia merdeka. Terlahir dari pilihan bebas, teruji dari hari ke hari, setia sampai mati. Dan demi cinta sedemikian, Ia sedia melangkah ke jebakan iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apalagi langkahmu selanjutnya, wahai Yang Maha Cerdas?" batin iblis setengah mengejek. Sudut bibirnya tertarik sinis membentuk selengkung seringai puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senyum tersungging tetap, Allah mengajukan langkahNya yang berikut. Memberi persona kedua dari Trinitas untuk menanggung hukuman terdakwa. Sang Hakim mengetok palu tanda tersangka bersalah, lalu menyerahkan sebagian diriNya sendiri untuk dihukum agar si terdakwa tak perlu melewati nyeri ngeri hukuman yang dijatuhkan. Keadilan terpenuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya memberi menteri demi menyelamatkan pion, Sang Pemain Catur memberi diri sendiri demi bidaknya. Iblis ternganga, rahangnya jatuh menggantung. Tak pernah terpikir kalau bidak kecil itu sedemikian berharga buat pemain di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya keadilan yang terpenuhkan. Kasih terpancar di sana. Mengalir meluap-luap memampukan manusia tuk loloskan diri dari beban dosa. Merdeka. Merdeka untuk mencinta, merdeka untuk mendekati Yang Maha lagi. Mendekat dan berkawan akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis terpana.&lt;br /&gt;Jerat mautnya di papan catur itu bubrah.&lt;br /&gt;Pertahanannya morat-marit sudah.&lt;br /&gt;Di hari yang ketiga, sang Sabda bangkit dari kubur, bak bidak yang mencapai garis akhir pertahanan lawan dan terbangkitkan jadi menteri.&lt;br /&gt;Skak mat.&lt;br /&gt;Allah juara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-5645249101603963706?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/5645249101603963706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=5645249101603963706' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/5645249101603963706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/5645249101603963706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/04/selamat-paskah-semua.html' title='Selamat Paskah Semua!!'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-6389899671297779014</id><published>2007-03-27T01:46:00.000+02:00</published><updated>2007-03-27T02:16:10.765+02:00</updated><title type='text'>Selamat datang semi!</title><content type='html'>Saya lagi main catur di kamar Ahmed, mahasiswa senior wireless communication dari Bahrain ketika seorang temannya menyapa di pintu. "This is how you know it's spring break." ujarnya seraya melangkah masuk. "When you walk in the city on weekend and the only couples you see are either Chinese or Indian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe... bener juga. Mau gimana lagi, Auburn memang kota pelajar. Lebih 'kota pelajar' dari Yogya! Dari 40.000 penduduk Auburn, mungkin 25.000 nya mahasiswa. So ketika masa liburan macam spring break datang, kota ini jadi anteng dan sepi dari muka bule. Mahasiswa domestik pada liburan, entah ke Florida atawa melanglang roadtrip ke pantai barat sana, atau untuk mereka yang cuma tiga sampai lima jam berkendara dari Auburn, pulang melepas waktu bersama keluarga. Jadilah kampus dan kota ini semacam lanskap yang nyaris sureal: gedung-gedung besar dan jalan-jalan yang biasa heboh jadi tempat lalu lalang mahasiswa tersulap lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya sih, ini waktu paling nyaman dalam setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semi sudah datang. Gerumbul Azalea di depan perpustakaan dan gedung administrasi umum sudah berebut merekah mahkota bunganya. Pohon-pohon di depan apartemen saya berhias daun hijau muda. Pintu dan jendela apartemen sudah saatnya dibuka lagi menyapa semilir sore. Dan kedai kopi atau lanskap hijau yang banyak bertebaran di kota sejam sebelum tenggelamnya matahari jadi tempat favorit melewatkan satu atau dua bab buku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan di tengah kampus, saya kok merasa nyaman yang aneh. Lanskap luas tanpa manusia lain di ujung pandang ini punya sihirnya sendiri. Kemarin dulu, di Eropa barat, gedung-gedung gereja yang dibangun di jaman pertengahan biasa punya magi yang berasal dari sumber yang sama, namun dengan efek berbeda. Luas dan tinggi gedung-gedung gereja itu jadi bikin mereka yang berjalan di dalamnya merasa kecil. Emosi yang terinspirasi di sana bisa beragam, dari takjub sampai minder. Namun berada di keluasan sunyi kompleks kampus yang biasa jadi rumah dua puluh lima ribu mahasiswa, saya merasa santai, rileks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya pikir hidup enak di dunia kapitalis ini memang bisa bikin siapapun jadi manja. Buat saya, definisi termanjakan ya ini: Sistem perpustakaan super komplit, lengkap dengan fasilitas request di mana mahasiswa bisa minta dibelikan buku apa saja (yup, comic books included!) dan bisa pinjam 100 buku sembilan bulan lamanya, buat saya sudah bikin betah dan merasa dimanja. Apalagi kalau liburan musim semi datang membelai seperti ini. Kesempatan dan kelegaan untuk menenggelamkan diri bersama buku. Selama masih ada buku bagus di tangan, nggak ada kelas, nggak ada undergrad yang suka ribut, dan secangkir kopi di taman... hidup jadi berasa bearable lagi.&lt;br /&gt;(nyit, coba kamu ada di sini...)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-6389899671297779014?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/6389899671297779014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=6389899671297779014' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6389899671297779014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/6389899671297779014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/03/selamat-datang-semi.html' title='Selamat datang semi!'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-4570077211075730203</id><published>2007-03-15T15:45:00.000+01:00</published><updated>2007-03-15T16:10:58.761+01:00</updated><title type='text'>Saya sudah nggak sexy lagi (??)</title><content type='html'>Kemarin dulu saya pernah bilang kalau &lt;a href="http://laluwaktu.blogspot.com/2005/07/bercanda-dengan-kesepian.html"&gt;sendiri itu sexy&lt;/a&gt;. Di pihak lain, saya sering bilang ke temen2 deket saya kalau pada dasarnya saya itu penyendiri, sekedar mewanti-wanti biar mereka nggak sakit hati kalau saya sering lebih suka ditinggal sendiri dengan bacaan, kerjaan dan pikiran2 saya sendiri. Konsekuensi nalar dari kedua premis di atas tentu saja adalah: saya sexy. Soal yang satu ini, saya nggak punya (atau nggak butuh?) komen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mungkin lebih menarik adalah fenomena yang akhir2 ini saya amati terjadi dalam diri. Semenjak ditinggal Nita pulang ke Jerman, lha saya kok sering menangkap diri tercenung-cenung sendiri. Nggak betah lagi ada sendirian di apartemen. Selalu kepengen ada di tengah orang-orang yang lalu lalang. Nggak perlu ngobrol atau bertukar sapa lah, yang penting ada orang di sekitar sudah cukup. Makanya saya jadi sering bisa dilihat di sofa ijo ruang baca perpustakaan universitas kami. Cari 'temen'. In a sense, saya masih penyendiri, wong saya toh nggak mencari teman ngobrol atau beraktivitas bersama. Saya masih menikmati ngutik-ngutik satu pokok pemikiran sendiri baik di kepala sambil bersunyi-sunyi, nulas-nulis nggak jelas juntrungannya, atau membiarkan satu buku membawa benak saya pergi kemana penulisnya mau. Tapi saya kok jadi nggak tahan melakukan itu sendiri ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali sendiri, seolah ada sel-sel dalam tubuh saya yang protes. Seolah mereka sudah bosan melewati menit hanya berteman diri sendiri. Bahkan ketika saya berada di antara keramaian, masih ada protes semacam menghembalang, tapi nggak lagi terdengar kuat. Tenggelam di tengah kesibukan orang lain seperti jadi penutup kuping yang sukses menurunkan intensitas protes sel-sel itu beberapa desibel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini fenomena aneh. Pas saya cerita ke nyokap soal ini, beliau malah ikutan protes! "Lha kamu dulu ninggalin mama, papa ama adikmu aja cengengesan seolah nggak sabar mo pergi kok sekarang ditinggal seseorang jadi mengembik-ngembik kesepian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...wah, nah, lho...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bistok bilang, "...saat ini manusia terbiasa untuk berpisah. ... Entahlah mas, tapi buatku Perpisahan masih terasa mati 'sedikit'." Lha saya dulu juga ngerasa gitu je. Berpisah toh bagian dari hidup, ucap saya sok mentransenden rasa sakit perpisahan. Dan sejujurnya, perpisahan2 yang lalu lalu itu emang cuma terasa mati 'sedikit' kok. Saya selalu (dan terlalu?) nggak sabar untuk melongok ke tikungan hidup berikutnya, terlalu sibuk bergegas langkah ke depan untuk melihat ke belakang. Tapi kali ini kok nggak ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saya cuma lagi kepentok mekanisme yang sudah dari sono nya dirancang Yang Kuasa dalam diri setiap manusia. Bahwa pada akhirnya tiap kita punya kerinduan untuk meletakkan patok tenda dan mendirikan tempat kita berdiam, bukan sendiri, tapi berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metafora yang lebih saya senangi sih... sudah saatnya saya yang sexy ini berjujur hati dan meletakkan status sexy, merelakan diri untuk akhirnya terdomestikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/DSC00296.jpg" width="400" border="0" length="600" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-4570077211075730203?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/4570077211075730203/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=4570077211075730203' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/4570077211075730203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/4570077211075730203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/03/saya-sudah-nggak-sexy-lagi.html' title='Saya sudah nggak sexy lagi (??)'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2822899196712254361</id><published>2007-03-04T11:05:00.000+01:00</published><updated>2007-03-04T11:21:36.208+01:00</updated><title type='text'>On obstacles</title><content type='html'>Sampeyan termasuk tipe orang yang bagaimana? Rapi jali, program hari ini tertata jadi, agenda penuh dengan jam-jam janji makan siang? Dan bagaimana pula dengan program jangka panjang sampeyan? Selalu berpikir beberapa langkah ke depan a la pemain catur? Berencana dan berstrategi? Trus, trus, bagaimana sampeyan menghadapi perubahan rencana yang tak terduga? Karena sesuatu yang benar2 berada di luar jangkauan pengaruh sampeyan, misalnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, dulu sekali ketika saya masih culun, hal-hal tak terduga yang bisa bikin perubahan besar dalam rencana saya bisa bikin sakit perut nggak ketulungan. Saya jadi super nervous dan seakan lumpuh bukan buatan. Bahkan mau bikin penyesuaian pun tak lagi termungkinkan. Semakin kemari, saya semakin sadar kalau hidup memang penuh dengan tikungan-tikungan. Beberapa di antaranya punya tanda yang kelihatan sebelumnya, memberi kita waktu untuk mempersiapkan diri. Namun banyak juga yang nongol tanpa permisi. Tiba-tiba saja menyapa, bikin bubrah rencana. Bersama dengan kesadaran ini, saya belajar bahwa kejutan adalah bagian tersendiri untuk dinikmati dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan lalu, saya berkesempatan untuk ketemu satu palaeo entomolog terkemuka dari Canada. Namanya &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jarmila_Kukalova-Peck"&gt;Jarmila Kukalova-Peck&lt;/a&gt;. Bu Jarmila ini terkenal dengan teorinya yang menerangkan asal mula sayap di berbagai famili serangga. Di dunia entomologi, beliau termasuk salah satu selebriti.. Jarang-jarang lho, ketemu muka dengan seseorang yang namanya sering kita baca di buku teks (jauh lebih jarang dibanding ketemu muka mereka yang sering jual tampang di TV dan layar lebar!). Makanya, ketika suatu Senin ada email menclok di mailbox saya kalau bu Jarmila sedang menghadiri konferensi di Auburn, dan bakal memberi kuliah informal di departemen saya, janji-janji lain pun segera saya batalkan: blum tentu bakal datang lagi kesempatan seperti ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Jarmila ternyata super ramah. Tambun dan banyak tertawa. Inggris nya berlogat Eropa timur cukup kental. Beliau memang asli Chekoslovakia, dan sempat melarikan diri ke Massachuset, Amerika hanya beberapa saat sebelum pendudukan Jerman. Sesampai di Amerika, bu Jarmila berpanjang karir di Harvard yang memang pernah jadi pusat pelatihan banyak entomolog besar. Namun hal yang menurut saya paling menarik dari makan siang/kuliah informal kemarin justru cerita beliau tatkala masih berada di Cheko. Awalnya ada yang bertanya "Kenapa tertarik ke Palaeo entomologi?". Palaeo entomologi, perkawinan palaeologi dan entomologi di mana subyek yang diteliti adalah fosil2 serangga yang telah membatu atau tertawan di kristal amber (ingat Jurassic Park?) memang bukan subyek populer. Selain relatif sulit (observasi serangga idup ae udah sulit... apalagi fosil serangga... duh..), nggak banyak student yang bisa melihat sisi menarik dari studi yang satu ini. Jawaban bu Jarmila akan pertanyaan ini menyimpan pelajaran tersendiri tentang rintangan dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika lulus dari SMA, saya sebenarnya tertarik untuk belajar biologi, terutama entomologi.", demikian bu Jarmila memulai. "Namun saat itu, Chekoslovakia tengah getol-&lt;br /&gt;getolnya mempraktikan sosialisme." "Dan salah satu manifestasi praktik sosialisme saat itu adalah dibukanya lebar-lebar pintu ke studi-studi elite macam biologi, kedokteran dan hukum untuk mereka yang berasal dari kelas pekerja. Saya sendiri kebetulan berasal dari keluarga yang cukup berada. Ayah saya memiliki bisnis nya sendiri, sehingga saya di cap sebagai 'anak kapitalis' dan tidak diijinkan untuk masuk ke jurusan biologi." "Jadi, ketika saya harus memutuskan bidang yang akan saya pelajari di universitas, saya kebingungan! Kebetulan, saat itu departemen geologi baru saja dibuka. Popularitasnya rendah, mereka belum punya murid sama sekali. Maka buru-buru saya mendaftar ke sana, dan diterima. Saya pun kemudian mencoba untuk mengawinkan ketertarikan saya ke biologi dan pelajaran saya di geologi, yang pada akhirnya membawa saya ke fosil!! Ah.. saya masih ingat fosil pertama yang berhasil saya gali: fosil capung purba!! Dan saya ingat berkata ke diri sendiri, "This is the most beautiful thing in the world!". The rest is history.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bu Jarmila kepentok regulasi dan nyasar jadi salah satu palaeo entomolog paling terkemuka, seorang koleganya yang bahkan lebih beken lagi di dunia sains punya cerita serupa. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/E.O._Wilson"&gt;E.O. Wilson&lt;/a&gt;, entomolog dengan spesialisasi dunia persemutan asal Alabama adalah salah satu entomolog paling kondang di Amerika Serikat. Akhir2 ini tulisan-tulisan Wilson banyak menggaung luas keluar lingkaran entomologi. Ia adalah salah satu juru bicara sains yang punya konsernitas tinggi terhadap kikisnya keragaman hayati di bumi ini. Namun demikian, naiknya Wilson ke level tadi tak lah lepas dari suksesnya di entomologi. Dua buku karangan beliau yang sampai sekarang masih jadi teks klasik di studi semut-semut kecil (dan saya bener2 rekomendasikan buat siapapun juga untuk check out buku2 ini! They are drop dead gorgeous!!): The ants dan Journey to the Ants. Uniknya, dalam Journey to the Ants, Wilson mengaku bahwa pada mulanya ia tidak tertarik untuk berspesialisasi di studi semut! Tatkala mulai proyek PhDnya, ia berencana untuk mempelajari ordo diptera, terutama lalat. Lalat membutuhkan pin logam tertentu untuk bisa diawetkan, dan lantaran perang dunia kedua yang barusan lewat, logam yang dibutuhkan untuk membuat pin-pin lalat ini tengah jarang2nya. Pak Wilson muda kewalahan mencari pin logam ini, dan setelah beebrapa lama mencoba mencari tanpa hasil, akhirnya memutuskan untuk mengganti subyek studinya jadi... semut! The rest, seperti kata orang, is history...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada insight yang kembali tersegarkan dalam benak saya dari 'testimoni' entomolog-entomolog besar ini: bahwa rintangan yang tiba-tiba menghadang di depan adalah sesuatu yang ada di sana untuk dinikmati. Ia ada untuk diajak berdansa bersama, mencipta satu koreografi yang sama sekali tak pernah kita duga dapat lahir dari diri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2822899196712254361?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2822899196712254361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2822899196712254361' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2822899196712254361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2822899196712254361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/03/sampeyan-termasuk-tipe-orang-yang.html' title='On obstacles'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-4209622904061335895</id><published>2007-03-01T18:23:00.000+01:00</published><updated>2007-03-01T18:30:33.944+01:00</updated><title type='text'>Parting is like dying.. that's for sure</title><content type='html'>Richard Curtis, screenwriter yang juga sutradara membuka dan menutup film bagus besutan perdanaya, “Love actually” (one of my definite favourite!), dengan adegan-adegan pertemuan di bandara Heathrow, Inggris. Ayah yang pulang ke keluarga, anak kecil menghambur ke pelukan mamanya, sahabat dekat yang saling menyapa setelah entah sekian lama, pasangan kekasih lebur dalam kelegaan berjumpa sebelah hati masing-masing. Perjumpaan orang-orang yang saling mengasihi punya aura hangatnya sendiri, yang mengundang kita untuk ikut bergumam bersama Curtis di permulaan film tadi, “love, actually, is all around”. Cinta ternyata masih ada.&lt;br /&gt;Bandara serupa buat saya bukan Heathrow, tapi Hartsfield-Jackson, Atlanta. Bandara dengan jumlah penumpang, landing dan take-off tertinggi di dunia sejak 2005 ini jadi pintu masuk dan keluar buat Nita setiap kali bepergian dari Jerman ke Auburn. Tiga minggu lalu, saya sekali lagi berdiri di gerbang kedatangan terminal selatan Hartsfield, menunggu bersama seorang teman dari Auburn yang juga tengah menanti kedatangan kekasihnya dari Jerman. Di tengah penantian kami, sempat keluar juga guyonan tentang adegan pembuka “Love Actually”. Love, no.. joy of love, was tangible that day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin sore, sekali lagi saya mesti ada di Hartsfield. Namun kali ini di terminal utara, terminal keberangkatan KLM. Dan di sini gambar yang bermain di benak saya sama sekali berbeda. Seorang tante yang tinggal di negeri mungil pojok barat laut Eropa pernah bilang &lt;em&gt;“Partir, c’est mourir un peu”&lt;/em&gt; ketika saya berangkat pulang dari Jerman. Parting is like dying a little. Perpisahan itu seperti mati ‘sedikit’. Yang saya rasakan kemarin, lebih mirip ke "Parting is like dying a lot".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ketika mobil saya berhenti di depan pintu apartemen malam tadi masih ada kebas, yang meski saya bisa rasa dalam diri, namun susah diidentifikasi letaknya. Saya tahu kalau saat itu saya membuka pintu tadi, tidak ada siapa-siapa yang akan tertawa menyapa. Dan pengetahuan bahwa besok akan sama saja, begitu juga dengan besoknya lagi, dan besok-besoknya lagi... It feels like dying, really.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-4209622904061335895?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/4209622904061335895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=4209622904061335895' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/4209622904061335895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/4209622904061335895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/03/partir-cest-moir-beaucoup.html' title='Parting is like dying.. that&apos;s for sure'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2026799950682661292</id><published>2007-02-08T16:19:00.000+01:00</published><updated>2007-02-08T17:01:07.825+01:00</updated><title type='text'>Menjual Pertemanan</title><content type='html'>Sudah baca "&lt;a href="http://www.bookbrowse.com/reviews/index.cfm?book_number=332"&gt;Memoirs of Geisha&lt;/a&gt;" nya Arthur Golden? Atau mungkin nonton film keluaran 2005 berjudul sama yang memang diangkat dari novel ini? Pertama kali baca ini novel, saya ingat menemukan diri terheran-heran akan subtilitas masyarakat Jepang, sekaligus semangat entrepeneurial mereka. Lha gimana nggak subtil kalau ternyata seluruh dunia bisnis Geisha itu (sepenangkapan saya lho ini) pada intinya 'cuma' jualan companionship.. (duh gimana pula menerjemahkan companionship ke bahasa Indonesia?). Jualan pertemanan temporer. Berbeda dari interpretasi lugu saya yang sudah terkontaminasi imaji bisnis modern, di mana 'pertemanan' hanyalah penghalusan dari aktivitas seksual, dunia geisha ternyata nggak berkorelasi semata dengan aktivitas esek-esek. Meski demikian, mesti diakui bahwa para geisha muda toh diajar juga (dengan anggun dan nakalnya) untuk menarik perhatian lawan jenisnya dengan berbagai trik yang sungguh subtil, bahkan warna dan cara melipat konde pun bisa jadi cara tersendiri untuk menawarkan imaji macam-macam di benak pelanggan mereka. Jadi, meski nggak berkorelasi langsung dengan transaksi libidinal, bisnis yang satu ini juga nggak mengelak kemungkinan untuk perkembangan ke arah sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di "&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/An_Artist_of_the_Floating_World"&gt;An Artist of the Floating World&lt;/a&gt;", Kazuo Ishiguro menawarkan gambaran serupa tentang dunia yang satu ini, dengan penekanan ke seni 'menemani' yang mesti dikuasai oleh geisha. Seni menemani? Iya lho... setelah baca buku2 ini saya baru sadar kalau jadi seorang teman dengan siapa seseorang melewatkan sore santainya itu ternyata nggak mudah. Tahu apa yang mesti dibicarakan dan apa yang mending nggak dibicarakan. Terlebih lagi adalah tahu kapan mesti bicara, kapan mesti diam mendengar. Bukan sekedar bicara 'menarik', tapi juga membuat sang teman betah ngobrol tentu saja meminta kemampuan dan kesediaan untuk menyendengkan telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya lagi baca buku memoir nya &lt;a href="http://www.simonsays.com/content/book.cfm?tab=36&amp;amp;pid=411854"&gt;empat bersaudari dari Hofei&lt;/a&gt;, China daratan. Dan menariknya, saya kok nemu lagi to profesi sebagai 'teman temporer' di salah satu kebudayaan paling tua di Asia itu. Jadi ceritanya, di adat pernikahan China pre republik, mempelai perempuan adalah pusat perhatian. Di pihak lain, adat lama mendikte bahwa perempuan yang sudah cukup umur namun belum menikah tidak diperkenankan untuk memperlihatkan diri di ruang publik terlalu banyak. Jadilah event pernikahan ini satu momen perubahan yang kelewat drastis buat sang mempelai: dari 'keterbatasan ruang gerak sosial' di mana ia tidak diperkenankan berada di ruang publik terlampau sering, ke pusat perhatian seluruh acara. Lebih parahnya lagi, lumrahnya keluarga mempelai wanita tidak diperbolehkan menemani si malang ini... Alih-alih, seorang 'pendamping mempelai' profesional biasanya disewa oleh keluarga mempelai laki2 untuk menemaninya sepanjang prosesi. Sang pendamping mempelai ini biasanya adalah wanita yang sudah lebih berumur, berpengalaman dan terlatih untuk ngajak sang mempelai wanita ngobrol dan mengurangi rasa tidak nyaman yang mungkin dialaminya sepanjang acara pernikahan (yang bisa makan waktu beberapa hari atau lebih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Companionship service. Jasa yang menyediakan 'teman temporer'. Di satu sisi terasa ganjil dan bahkan ironis... wong ngobrol kan sejatinya mudah saja buat banyak kita. Dan diam mendengar orang bicara juga nggak asing2 amat... wong sekian miliar siswa dan mahasiswa tiap harinya toh punya rutin 'mendengar' di kelas sebagai bagian dari hari mereka. Namun di sisi lain, menjadi seorang 'teman' ternyata meminta jauh lebih banyak dari pada sekedar bisa bicara dan bisa mendengar. Striking balance yang tepat antara keduanya, sensitifitas meraba dinamika pasangan ngobrol dan kemampuan untuk berempati adalah 'skill' kritikal dalam menjadi seorang teman. Saya masih agak2 gagu mengkategorisasikan semua faktor di atas sebagai 'skill', karena dari dulu saya merasa semuanya itu seharusnya mengalir natural dari diri kita. Tapi fakta kalau semuanya itu bisa dipelajari, diasah, bahkan dijual sebagai jasa menunjukkan kalau semua di atas sebenarnya bisa dilihat sebagai skill. Sama seperti kemampuan bikin program komputer atau diseksi sel tumbuhan sampai ke tingkat ketelitian sepersekian nano meter. Mungkin hal lain yang bikin saya merasa ganjil akan adanya 'teman profesional' adalah kecurigaan bahwa menjadi teman dengan imbalan materi rasa2nya kok nggak tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkin sekali lagi, fakta bahwa profesi serupa sudah mengakar dalam di budaya purba macam Jepang dan China, dan bahkan terlestarikan hingga saat ini di belahan bumi barat (sudah tersegmentasi rapi lho jasa2 serupa, dari yang spesialis menemani &lt;a href="http://www.seniorwatchcolorado.com/index.htm"&gt;orang tua&lt;/a&gt;, spesialis menyediakan &lt;a href="http://www.escortservicemiami.com/"&gt;teman wanita&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://www.hamiltonhawkes.com.au/"&gt;teman pria&lt;/a&gt;) menunjukkan adanya pasar, kebutuhan, akan jasa macam ini. Dan di sini, ironi menghantam lagi: sudah sedemikian gersangnya kah kemanusiaan hingga2 untuk beberapa jam persahabatan kita menagih imbalan materi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2026799950682661292?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2026799950682661292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2026799950682661292' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2026799950682661292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2026799950682661292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/02/sudah-baca-memoirs-of-geisha-nya-arthur.html' title='Menjual Pertemanan'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-1921874406174721532</id><published>2007-02-06T02:25:00.000+01:00</published><updated>2007-02-06T04:10:45.334+01:00</updated><title type='text'>Tragedi Kopi Encer</title><content type='html'>Salah satu occupational hazard dari jadi grad student yang suka main2 field study (selain brain damage dan body wreckage termakan cuaca) adalah traveling long hour. Seminggu sekali, terkadang dua kali, saya mesti check out mobil rental dan pergi-pergi ke selatan atawa utara Alabama. Lapangan penelitian terjauh kira2 5 jam perjalanan bermobil, sementara yang paling dekat 3 jam. Dan kalau saya mesti nyetir selama itu, kopi adalah sesuatu yang mesti ada. Nggak nyruput kafein dalam waktu 3-5 jam seraya bengong memonitor jalan bisa jadi sumber stress tersendiri yang ngalahin frustasi nulis disertasi. Nah di sinilah kopi encer jadi punya cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, apa mau dikata, tapi namanya grad student di bidang pertanian jelas nggak punya kemewahan untuk bikin penelitian di kota. Site2 penelitian saya semua ada di sudut rural Amerika. Dan kopi macam apa yang bisa ditemui di sepanjang jalan menuju ke sana? Ah ah… jelas bukan kedai macam Starbuck atau Deli yang bisa menyediakan kopi kental wangi. Paling2 saya berhenti di gerai Shell atau Chevron, isi bensin sekalian beli kopi. Dan pernahkah sampeyan minum kopi yang dijual di gerai pompa bensin? Well, saya nggak tahu seberapa sensitif saraf perasa sampeyan, atau seberapa bagus kualitas kopi di pompa bensin deket situ, tapi di Alabama, kopi yang dijual di sana lebih tepat disebut ‘hampir kopi’, dan bukannya ‘kopi’. Encernya itu lho… duh bikin terharu… Tapi sekali lagi, seperti yang saya sudah bilang di atas: apa mau dikata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Auburn, Birmingham atau Montgomerry sebenarnya ada kedai2 yang bikin kopi nggenah, tapi saya biasa berangkat dari Auburn jam 5 pagi di mana yang jaga kedai mungkin juga belum bangun, dan tiap kali lewat Montgomerry atau Birmingham saya jarang punya niat untuk keluar dari jalur dan menghabiskan waktu nan berharga. Jadilah kopi ala gas station jadi teman setia selama perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu, saya lagi nyetir ke Atmore, AL, sambil srupat sruput kopi encer yang terbeli dari mesin kopi otomatis yang nongkrong di rest area antara Montgomerry dan Mobile, ketika tiba2 benak ini ngelayap bikin analogi ngawur antara kopi encer dan hidup saya. Hal serupa ini (di mana wangsit tiba2 mengetuk pintu benak yang super chaotic dan nyaris senantiasa dalam mode multitasking ini) emang sering terjadi, jangan khawatir :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa tapi belakangan saya kok ngerasa hidup saya makin mirip kopi encer ya.. Nggak nendang, nggak intens. Bangun pagi, menguap kanan kiri, hidupin pemanas (pagi2 di sini bisa sampe minus tujuh celcius kaya subuh tadi), ke kamar mandi, cuci muka dan lain sebagainya, mencoba meditasi menyapa Yang Empunya Hidup, siapin sarapan, sarapan sambil mencoba membuat catatan mental apa aja yang mesti dikerjakan hari ini, trus off to work. Di kantor, mulai memain2kan berbagai item di catatan mental yang dibuat pagi tadi, mencocok2kan waktu dan mengira2 berapa lama masing2 item pekerjaan bakal memakan tempo, juggling beberapa hal dalam satu momen, lari2 makan siang, buru2 balik ke kantor lagi, tulis report ini itu, baca artikel ini itu buat nulis report yang lain, ngurusin serangga, mikirin cara yang lebih baik buat ngemong serangga-serangga mungil yang sekali sekala bisa sangat menyebalkan itu, main2 di lab bentar, ke perpus universitas, ke perpus kota, minum kopi ama temen, terkadang ke gereja, terkadang ketemu ama mentor, pulang, masak makan malam, makan malam sambil nonton rerun nya Seinfeld atawa Friends, terkadang nonton film dari DVD, baca-baca menunggu kantuk menjemput untuk kemudian bangun njenggirat ketika alarm berteriak mewartakan hari baru di depan pintu... Siklus membosankan. Siklus aktivitas yang -sejujurnya- akhir2 ini mulai saya pertanyakan arah dan pengaruhnya ke gambar besar kehidupan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup yang encer saja. Tak lebih dari rutinitas di rel yang sudah dipancang dari mula. Tak ada excitement yang baru di setiap tikungan hari. Excitement yang menari-nari di lidah di setiap hirupan kopi nggenah. Excitement, sensasi yang absen di hirup demi hirup kopi encer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi kopi encer di perjalanan mingguan ke ladang penelitian adalah ini: saya minum kopi karena memori akan excitement, sensasi rasa dan pengaruh kopi kental. Tapi karena koersi situasi, saya toh settle pada versi kopi yang tak mampu memenuhkan pengharapan akan sensasi rasa tadi. Bahkan mungkin seraya menipu diri: ah... yang penting masih minum kopi... Settle pada opsi kelas dua, sambil terus mengingat2 sensasi mula2 dan membohongi diri sendiri bahwa saya sedang menikmati opsi kelas satu. Lucunya, meski saya mencoba untuk meyakinkan diri sendiri, tapi indra pengecap di lidah menolak dibohongi. Tetap saja ada rasa tidak puas yang menyelinap bersama pengertian bahwa uap kopi yang tengah terhirup hidung taklah persis berbau macam kopi benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu juga yang sedang terjadi pada hidup saya ini. Koersi situasi meletakkan saya di sini, yang bukannya situasi jelek juga, tapi masih fall short dari mimpi yang dulu sempat berani diemban. Namun karena segala yang ada di sekitar diri seolah menyatakan bahwa tempat saya memang cuma di sini, makanya diri ini pun jadi permisif. Inggah inggih saja dengan semua yang terjadi. Bahkan mungkin tanpa sadar saya belajar untuk down-sizing impian sendiri. Tapi ada sesuatu di selisip sel-sel kelabu ini yang terus mengingatkan diri bahwa ada yang geseh antara impian yang dulu dengan kenyataan sekarang. Sesuatu yang mengemuka jadi rasa bosan (dan mungkin hampa?) akan rutinitas sesehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin di situ letak solusinya: saya perlu belajar bermimpi lagi. Dan bersama dengan itu, menebus hidup yang mulai terasa sebagai kopi encer ini. Menolak menjalani hidup yang ‘realistis’. Hidup nan mudah diprediksi tanpa keliaran mimpi. Belajar untuk berani bermimpi bermuluk-muluk lagi. Mengentalkan hidup kembali. Dan kembali mereguk kopi kental nan wangi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-1921874406174721532?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/1921874406174721532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=1921874406174721532' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/1921874406174721532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/1921874406174721532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/02/tragedi-kopi-encer.html' title='Tragedi Kopi Encer'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-2161236785475952656</id><published>2007-02-02T19:12:00.000+01:00</published><updated>2007-02-02T19:37:07.409+01:00</updated><title type='text'>Plutoed</title><content type='html'>Artikel tentang 'wealth' (kemakmuran?) di wikipedia berbahasa Inggris punya satu entry menarik tentang cara anthropologi memandang kemakmuran: "Wealth as the accumulation of non-necessities". Wong makmur itu ya mereka yang udah punya kelegaan untuk mengumpulkan segala pernak-pernik yang nggak bener2 dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mungkin bener juga. Saya baru baca di koran Auburn Uni edisi kemarin pagi kalau &lt;a href="http://www.americandialect.org/index.php/amerdial/plutoed_voted_2006_word_of_the_year/"&gt;Masyarakat Dialek Amerika &lt;/a&gt;barusan mengumumkan 'word of the year 2006'. Buset! Ada2nya masyarakat yang dengan usilnya mengikuti, mencatat dan mengumumkan dinamika lahir dan ngetrend nya kata2 macam ini. Menurut mereka, word of the year tahun lalu itu: plutoed. "To pluto" dengan jahilnya didefinisikan oleh ini organisasi sebagai: ""to demote or devalue someone or something, as happened to the former planet Pluto when the General Assembly of the International Astronomical Union decided Pluto no longer met its definition of a planet."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, di satu sisi kita jadi sadar betapa dalamnya sains mengakar di bumi belahan sini. Mengakar dan mencabang. Sesuatu yang diputuskan dalam satu konferensi pakar-pakar, dengan menimbang detil nritik yang sifatnya mungkin super teknis dan nggak banyak orang bisa ikuti liku logikanya, ternyata punya gema kultural lumayan kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, ya balik ke kemakmuran sebagai "the accumulation of non-neccesities" itu tadi. Mungkin hanya kemakmuran yang mengijinkan mengakarnya sains sedalam ini ke sendi psyche anggota awam masyarakat bersangkutan. Seperti halnya kemakmuran yang mengijinkan kumpul2nya ilmuwan2 internasional 'sekedar' buat memperdebatkan definisi planet. Dan tak lupa: sangat mungkin cuma kemakmuran yang mengijinkan adanya organisasi macam American Dialect Society yang mampu bikin press release 'word of the year' macam yang baru lalu dengan visibility yang lumayan luas, sampai2 terliput jaringan berita besar macam &lt;a href="http://www.cnn.com/2007/US/01/07/word.of.the.year/index.html"&gt;CNN&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://abcnews.go.com/US/wireStory?id=2777380"&gt;ABC&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wong makmur itu ya le, ya mereka yang udah kecukupan sampe2 bisa mulai ngumpulin hal2 yang nggak lagi mereka butuhkan. Contohnya? Ya 'plutoed' itu tadi... Jangan khawatir le, suatu saat nanti kita pasti bisa bikin yang kaya gitu juga. Wong jumlah blog (yang nota bene perajin bahasa) berbahasa Indonesia juga udah buanyak banget kok. Tiap hari entah berapa kata baru yang terlahir di ranah maya. Cuma karena kita blum makmur, semuanya sekedar mengada tanpa terliput siapa-siapa. Ndak apa2... kita toh memang blum makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayah, opo to iki???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-2161236785475952656?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/2161236785475952656/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=2161236785475952656' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2161236785475952656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/2161236785475952656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/02/plutoed.html' title='Plutoed'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-473853386640044265</id><published>2007-01-27T20:53:00.000+01:00</published><updated>2007-01-27T21:34:29.462+01:00</updated><title type='text'>Tentang Keabadian</title><content type='html'>Ada apa antara keabadian dan manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta bahwa manusia cuma hidup relatif sebentar (berapa sih usia rata-rata manusia di dunia sekarang? 60? 70?) seperti menyihir banyak anggota spesies ini untuk jadi gelisah meninggalkan nama di lalunya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah baca novel Max Havelaar besutan Multatuli sampai selesai? Kalau udah, gimana kesan sampeyan ama paragraf penutup itu buku? Saya nggak bisa mengutip paragraf penutup itu buku luar kepala, tapi saya masih ingat betul betapa mendalam kesan yang ditinggalkannya pas pertama kali baca deret2 kalimat penutup kisah panjang kontrolir perkebunan Belanda ini. Intinya sih "Aku mau dibaca", tapi cara nulisnya itu lho... dramatik abis. In fact, kalau boleh jujur, paragraf penutup Max Havelaar lah yang paling berkesan dari seluruh buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau dibaca".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit lebih kemari saya belajar kalau Multatuli bukan penulis pertama yang menggoreskan keinginan untuk dibaca, untuk meninggalkan jejak, dalam karyanya. Ovid, salah satu penyair kaliber besar Romawi yang menulis dalam bahasa latin, meninggalkan pesan serupa dalam kuplet elegic nya: Metamorphoses (coba cari deh, nggak rugi baca ini kuplet, meski awalnya susah dibaca, lama2 terbiasa kok. Kita toh anggota dari satu Bangsa berakar sastra kuplet lumayan kuat). Di buku ke 15 'Metamorphoses', Ovid bersuara "I shall be read, and through all the centuries I shall be living, always."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya di dunia literatur, tapi nampaknya di mana2 kita berupaya meninggalkan jejak. Gedung-gedung universitas di Amerika Utara (US, Canada), bahkan sekolah2 tertentu jamak diberi nama sesuai dengan nama donor murah hati yang membangun gedung atau banyak membantu sekolah bersangkutan. Kellogg School of Management di Northwestern University misalnya, mulanya tak punya embel2 Kellogg di namanya. Namun setelah menerima donor melimpah dari John L. Kellogg (yup, yang punya Kellogg company dan beken antara lain dengan produk cornflakes nya itu lho), nama sekolah manajemen ini jadi berembel Kellogg. Bukan, bukannya mau nyinyir menuduh donor2 tadi nggak ikhlas membantu atau sekedar membangun gedung demi lestarinya nama sendiri. Meski kasus di mana nama gedung sempat jadi pokok seteru antara universitas dan keluarga pembangun gedung (karena gedungnya nggak dinamain sesuai dengan nama keluarga mereka) juga bukannya nggak lumrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan untuk jadi abadi. Untuk diingat. Untuk tetap hidup meski tak lagi menapak bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kita menunjuk kerinduan serupa sebagai akar dari 'dosa mula-mula': manusia yang terbatas tergoda untuk jadi nggak tahu diri dan kepengen jadi nggak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri lebih sreg dengan pendekatan yang lain: kita punya kerinduan untuk jadi abadi karena emang 'dari sono'nya didesain untuk jadi abadi. Tapi segala yang kita lihat di dunia kasad mata ini bicara lain: perang, bencana kelaparan, penyakit, semua seolah membisikkan pesan ke jiwa manusia tentang kesementaraan, kerentanan hidup. Dan kita pun dipaksa untuk jadi 'insyaf', untuk mengkonformasi diri ke 'kenyataan' yang tiap hari melingkupi hidup. Bahwa hidup emang cuma 'mampir ngombe'. Hati, roh, yang dicipta untuk jadi abadi, terkungkung oleh lingkungan informasi yang seragam berteriak tentang kesementaraan. Maka kita pun beraspirasi untuk jadi abadi dengan cara apapun. Menulis, berderma, jadi nomor satu di satu bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Call me crazy if you want. Tapi saya pikir, hal2 yang sebagian kita lihat sebagai 'vain attempts', hal2 yang ditertawakan oleh mereka yang mengklaim posisi moral: meninggalkan jejak dengan cara apapun juga, buat saya adalah bukti dan sumber pengharapan bahwa manusia tidak dicipta sekedar untuk 'mampir ngombe'. Bahwa manusia didesain untuk hidup selamanya. Perkara 'kenyataan' yang tiap hari kita lihat terjadi di sekitar? Well, C.S. Lewis pernah menulis "At present we are on the outside of the world, the wrong side of the door. We discern the freshness and purity of morning, but they do not make us fresh and pure. We cannot mingle with the splendours we see. But all the leaves of the New Testament are rustling with the rumour that it will not always be so. Someday, God willing, we shall get in."&lt;br /&gt;That's it. That's reality for you.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-473853386640044265?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/473853386640044265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=473853386640044265' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/473853386640044265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/473853386640044265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2007/01/tentang-keabadian.html' title='Tentang Keabadian'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-116681934954134779</id><published>2006-12-22T21:28:00.000+01:00</published><updated>2006-12-22T21:29:09.793+01:00</updated><title type='text'>Natal 2001: kasih dan kerendahan hati</title><content type='html'>2001. Tema-tema kekerasan bermotif sentimen antar agama tengah marak di sudut-sudut tanah air. Foto-foto yang mempertontonkan kematian tragis, kekerasan ke wanita dan anak-anak, beserta komentar-komentar profokatif beredar bebas di kampus dan via internet. Pamflet-pamflet foto kopi'an berisi cerita keji ala sadomachois tentang pembantaian desa demi desa, ulang alik antara desa Kristen dan desa Muslim, beralih tangan di kelas-kelas, menghiasi tembok-tembok kampus IPB. Udara sesak oleh gidik ngeri, dan yang juga memprihatinkan: saking seringnya cerita serupa dihembuskan, sebagian mahasiswa mulai kebal akan kisah keji yang berulang kali dimamahbiakkan ke benak mereka. Hidup berjalan seperti biasa, lebih berat sedikit karena ngilu dalam hati oleh ketidakadilan dan mungkin sebersit keinginan untuk berpartisipasi melerai siklus dendam ini, namun secara umum: biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mengundang diri ini untuk bertanya: Adakah iman-iman tradisional yang 'diakui' di Indonesia telah gagal mentransformasi pemercayanya untuk bergerak progresif ke arah imaji manusia yang manusiawi? Adakah agama hanya ada di sana untuk jadi penggergaji hubungan antar manusia, bukannya sesuatu yang mempereratnya? Apakah semakin yakin kita akan ajaran agama, semakin biadab kita jadinya, bukannya semakin beradab? Sebegitu sempit dan chauvinistik nya kah iman-iman Abrahamaik? Adakah kebenaran dalam teologi yang memberi ruang pembacaan teks ke arah anihilasi umat agama lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika kesempatan mengemuka untuk mengorganisir rangkaian acara perayaan Natal Civitas Akademika IPB 2001, kerinduan yang meruah adalah untuk mengeksplorasi tema kasih yang eksplisit dalam Natal dan mengejawantahkannya ke kehidupan di kampus. Kerinduan untuk menularkan virus kasih itu melewati batas-batas agama dan doktrinal. Menantang tapal-tapal pemisah antar institusi-institusi dan organisasi-organisasi, menjangkaukan tangan keluar komunitas Kristen bermodal spirit Natal. Kasih, pikirku, adalah platform yang tepat, karena ia bicara tentang sesuatu yang universal. Dan 'damai', adalah bahasa yang pas, karena ia dirindukan oleh semua. 'Semua' yang aku pikir sudah mulai sesak nafas oleh nada curiga dan sakit hati yang menggantung di udara. Maka kami mengambil tema 'Damai di Bumi'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, aku belajar bahwa kerinduan tak mewujud jadi hal nyata hanya karena ia dirindukan. Di satu sisi, aku mungkin masih terlalu hijau. Diplomasi, strategi dan kebijaksanaan masih berupa pohon-pohon kecil di kebun persona. Masih sering memberi jalan buat tiupan angin emosi dan provokasi. Di sisi lain, tembok-tembok kasad mata antar institusi dan individu di kampus Baranangsiang dan Darmaga ternyata lebih tebal dari pada yang kukira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir tahun itu Purwokerto dilanda banjir bandang, dan sebagai bagian dari rentetan acara Natal, kami memutuskan untuk mengadakan charity drive a la mahasiswa. Idenya sederhana. Pilih tempat strategis di kampus, tempat mahasiswa nongkrong dan ngobrol. Sediakan seperangkat alat musik, sound system dan undang mereka yang punya aspirasi bermusik untuk manggung. Kasual dan santai saja. Anything goes. Dari akustik sampai ndangdut. Di awal dan di tengah acara, terangkan ke audiens yang fluid dan plastis itu, kalau ini acara galang dana buat Purwokerto. Terangkan kalau di akhir acara dana akan dihitung onsite, dan administrasinya akan dilakukan terbuka lewat Panitia Natal IPB. Di tengah acara, edarkan topi koleksi. Sederhana. It simply should work. And it worked.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya dua hari pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari ketiga, seorang mas-mas tiba-tiba berdiri di tengah gig, dan dengan suara tinggi menyarankan bahwa acara macam ini illegal. Bermacam kritik dilontarkan si mas, dari menyamakannya dengan ngamen di kampus, ketidakjelasan administrasi dana yang terkumpul, sampai mempertanyakan motivasi panitia bantu2 korban banjir Purwokerto. Si mas bilang, beliau dari Purwokerto, dan (mungkin?) karenanya jadi merasa berhak mempertanyakan motivasi panitia. Lho.. lho... apa pula ini? Batin awak dalam hati. Maka pelan-pelan kami berusaha bicara dengan si mas. Pertanyaan demi pertanyaan dicoba dijawab sejelas dan serunut mungkin. Motivasi? Mau bantuin orang kesusahan. Simply expressing love. Masa sih? tanya si mas. lho... mo bantuin orang ae kok ditanyain, ya? Emang sesusah itu mempercayai bahwa kemanusiaan masih hidup? Nggak ada motivasi lain? Syi'ar agama mungkin? Lah... Nggak. Kalau mas mau lihat sendiri juga boleh. Saya undah mas untuk gabung ama kepanitiaan kami, so mas bisa berpartisipasi dan jadi fungsi kontrol tersendiri. Si mas melengos, sedikit kaget, malah nampak agak tersinggung diajak bergabung dengan kepanitiaan Natal. Lalu ngeloyor pergi sambil memaki-maki. Aku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin bingung lagi ketika di hari-hari berikutnya, kritik2 serupa bermunculan dari level organisasi. Motivasi dan administrasi dana. Tapi ketika mereka diajak untuk bergabung agar dapat memonitor keduanya, semua menunjukkan keterkejutan serupa, melengos dan ngeloyor pergi. Kritik lain bermunculan, terlalu ribut. Mengganggu kuliah. Kami mencoba mengalokasikan waktu di mana tidak ada kelas diadakan. Jam makan siang dan sore hari. Tetap nggak boleh, karena mengganggu konsentrasi mereka yang mau belajar di kantin... Hwaduh...&lt;br /&gt;Setelah pengalaman satu itu, yang tersisa (anehnya) bukanlah kedongkolan. Tapi pemahaman baru. Akan betapa dalam dan lebarnya jurang yang diciptakan oleh dogmatisme dan prasangka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu komunitas akan selalu mencoba untuk menjaga identitas dan integritasnya sendiri di tengah pasar ide dan nilai yang semakin volatil. Namun ketika insting menjaga identitas dan integritas ini dibawa ke ujung ekstrim, dan mengejawantah dalam pembacaan teks secara ultra-literer, eksklusi konteks dari teks, dan identifikasi toleransi sebagai kompromi, yang ranum di sana adalah kecurigaan. Prasangka. Prasangka akan kultur lain, komunitas lain, nilai lain. Selangkah lebih ektrim lagi, yang muncul adalah paranoia. Bahwa komunitas lain, kultur lain, nilai lain selalu ada di sana untuk berkompetisi dengan 'kita'. Bahwa liyan, yang lain, selalu bermaksud buruk, licik, jahat dan bermuka dua. Bahwa merekalah ancaman permanen. Dan karena nya mesti direpresi, kalau perlu dianihilasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mati di ujung ekstrim ini adalah kerendahan hati. Kerendahan hati untuk mengidentifikasi keterlampau curigaan diri sendiri. Kerendahan hati untuk mengakui bahwa 'yang lain' bisa juga punya cinta untuk dibagi. Dan kerendahan hati untuk berbagi cinta bersama 'yang lain'. Tidakkah dogmatisme dan kekerasan hati serupa yang bolak-balik kita lihat di pertikaian-pertikaian lain yang skala nya lebih luas? Israel-Palestina, Protestan-Katolik di Irlandia, Sunni-Shi'a di Iraq, US versus the rest of the world minus Britain... Absensi kerendahan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan betapa ironis sekaligus melegakannya untuk menyadari bahwa Natal dalam tradisi Kristen, inkarnasi Yang Maha sebagai bayi manusia: lemah, terbatas, mortal dan bisa disakiti, adalah ekspresi kerendahan hati a la grande. Kerendahan hati yang terlahir dari kasih teragung, cinta Allah pada ciptaanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Natal tahun ini menemukan kita belajar sedikit lagi tentang kasih dan kerendahan hati. Dan memampukan setiap kita untuk membagikannya ke semua di sekeliling.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-116681934954134779?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/116681934954134779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=116681934954134779' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/116681934954134779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/116681934954134779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/12/natal-2001-kasih-dan-kerendahan-hati.html' title='Natal 2001: kasih dan kerendahan hati'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-116602744089136324</id><published>2006-12-13T17:27:00.000+01:00</published><updated>2006-12-13T17:33:48.333+01:00</updated><title type='text'>Where is the Life we have lost in living?</title><content type='html'>Endless invention, endless experiment,&lt;br /&gt;Brings knowledge of motion, but not of stillness;&lt;br /&gt;Knowledge of speech, but not of silence;&lt;br /&gt;Knowledge of words, and ignorance of the Word.&lt;br /&gt;Where is the Life we have lost in living?&lt;br /&gt;Where is the wisdom we have lost in knowledge?&lt;br /&gt;(T.S. Eliot, from "Choruses from the Rock")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There were two trees in Eden. One is the Tree of Knowledge and the other one is the Tree of Life. Sometimes I wonder... did Adam and Eve get a wrong tree?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-116602744089136324?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/116602744089136324/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=116602744089136324' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/116602744089136324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/116602744089136324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/12/where-is-life-we-have-lost-in-living.html' title='Where is the Life we have lost in living?'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-116569216313699733</id><published>2006-12-09T20:15:00.000+01:00</published><updated>2006-12-09T20:29:27.510+01:00</updated><title type='text'>Once upon a rapeseed field...</title><content type='html'>When I picked up the November issue of NG, I briefly leaf the magazine as I always do. Not even half way, I stumbled into a picture and froze for some seconds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The picture was not exceptionally stunning nor it depicts a great epoch. It was a picture of some young people in oversize papier-mâché heads pausing in the midst of a blooming field on the way to a summer festival in the town of Banyoles, Spain. The big heads are often worn on feast days, and are called capgrossos in Catalan. What stunned me was a superficial similarity of the picture to another picture taken in Germany a year ago or so!! In the picture from Germany, some international students were posing in the middle of rapeseed field on their biking expedition to steinhudermeer. Well, some of you may know which picture I'm talking about, and all of you would know the people in the pictures. They are my best friends. The picture was taken on a bike trip to Steinhudemeer, some four hours riding from Hannover. It was a cold autumn morning, the cloud hang low in the horizon. Just after crossing Hannover city limit, we were greeted by an rolling yellow field of rapeseed. No one can resist such background.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;About the similarity? Well, I have nothing else to say but that an expansive yellow back- and foreground of ripening rapeseed field certainly inspired more than one party to immortalize themselves on it. But the chance that the two pictures were made and cross paths in my reading room is rather slim. Yet it happened.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/spain.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" length=600 width=400&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/germany.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" length=600 width=400&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-116569216313699733?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/116569216313699733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=116569216313699733' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/116569216313699733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/116569216313699733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/12/once-upon-rapeseed-field.html' title='Once upon a rapeseed field...'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-116484089681777958</id><published>2006-11-29T23:29:00.000+01:00</published><updated>2006-11-29T23:55:03.526+01:00</updated><title type='text'>November 29</title><content type='html'>Ehm.. ehm... kaku juga ternyata menulis lagi di blog ini setelah beberapa bulan absen. Justru karena kaku itu tadi, November 29 bisa jadi tanggal paling tepat buat menulis lagi. November 29, adalah tanggal lahir dua penulis favorit: Louisa May Alcott dan CS Lewis. &lt;br /&gt;Louisa May Alcott, terlahir di Germantown, Pennsylvania tahun 1832. Ayahnya, Amos Bronson Alcott adalah idealis, utopian, guru dan penulis. Keluarga Alcott adalah bagian dari gerakan Transendensialisme, gerakan reaksioner terhadap front unitarianisme yang saat itu jadi trend antara lain di Harvard Divinity School. Selain Alcott, nama2 lain yang mungkin akrab di telinga sebagai anggota transendentialisme adalah Ralph Waldo Emerson, Thoreau, dan Nathaniel Hawthorne. Louisa May Alcott sendiri adalah penulis Little Woman, buku semiautobiografi berlatar belakang Concord, Masssachusetts di abad 19. Ini buku ditulis super manis, penuh petatah petitih dan ajaran moral. Bahasanya pun kaya kembangan. Normally, aku nggak suka baca buku serupa. Entah kenapa, tapi personal preference ku memang lebih ke buku2 yang kaya sneering and jeering. Dark comedy. So, beli buku inipun lebih ke 'serendipity'. Tahun lalu, penerbit Penguins classic sempet jor-joran kasih diskon di Jerman. Buku2 klasik mereka jual 2 sampai 3 euro!! Buset, 20.000 an!! Well, karena emang dari sononya oportunist, aku pun borong beberapa buku sekalian. Mumpung murah. Dan salah satunya adalah 'Little Woman'. Meski alur ceritanya super manis, nyaris telenovela, entah kenapa buku ini mengingatkanku ke sisi terang hidup. Bahwa altruisme, resiprokasi perbuatan baik , bukan sekedar by product evolusi, namun adalah pilihan yang kita hadapi sehari-hari. Dan fakta bahwa kita bisa memilih untuk berbuat baik ketika kita nggak harus, adalah demonstrasi terang akan realita moralitas.&lt;br /&gt;CS Lewis, lahir 29 November 1898 di Belfast, Irlandia. Aku baru baca 50% dari buku2 nya. But I like them all. Chronicles of Narnia mungkin adalah yang paling populer. Tapi buku2 beliau lain adalah kekayaan nggak terhingga: Mere Christianity, deskripsi Kekristenan yang lugas dan reasonable, konon adalah salah satu buku yang membantu Francis Collins memeluk iman Kristen. Francis Collins, adalah genetisis yang memimpin proyek 'Human Genome', proyek yang telah berhasil mendekodifikasi seluruh untai DNA manusia, penulis buku bagus 'Language of God'. &lt;br /&gt;Lewis pernah menulis 'I'm a product of book.' Konon di rumah Lewis, buku ada di mana2. Di ruang baca, di meja makan, di ruang keluarga, di kamar tidur, di loteng. Buku, buku, buku... Membaca Lewis hampir selalu jadi waktu berharga untuk menimba inspirasi. Buku2 Lewis sungguh membantu untuk mengakurkan iman dan logika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, there it is. Dua penulis favorit, hari ulang tahun yang sama. Dan apa hubungannya dengan menulis kembali? Well, menulis toh cuma respon dari membaca bukan? Dan mulai menulis lagi di hari ulangtahun dua kindred spirit macam begini, kok rasanya sedap sekali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-116484089681777958?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/116484089681777958/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=116484089681777958' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/116484089681777958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/116484089681777958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/11/november-29.html' title='November 29'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115965356234989396</id><published>2006-09-30T23:45:00.000+02:00</published><updated>2006-09-30T23:59:23.536+02:00</updated><title type='text'>such a complicated being..</title><content type='html'>Isn’t funny how sometimes we have all good intention to help and all wrong ideas on how to actually do it?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On the other hand,&lt;br /&gt;Isn't it funny how we sometimes shove somebody who sincerely wants to help us away? Isn’t funny how we actually alienate ourselves from people who loved us?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Human being is indeed too complicated for me.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115965356234989396?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115965356234989396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115965356234989396' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115965356234989396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115965356234989396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/09/such-complicated-being.html' title='such a complicated being..'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115924149666806311</id><published>2006-09-26T05:24:00.000+02:00</published><updated>2006-09-26T05:38:06.450+02:00</updated><title type='text'>Pasti karena sudah malam..</title><content type='html'>Malam menudung. Di luar gelap, dingin pula. Asem tenan,  terperangkap di kantor sampe jam segini. Salah sendiri sih, kenapa pula tadi ikut2an nginthil makan malamnya World Food Programme (pasti karena gratis!!) padahal tahu masih ada bejibun kerjaan menanti. Temen-temen di Indonesia satu-satu pada mulai on line. Ya ya, ini sudah pagi di tanah air sana. Satu dua dari mereka menyapa, dilayani lima belas menitan untuk kemudian pamit dan kembali menekuni kertas kerja.&lt;br /&gt;Capek. Kok buanyak banget ya yang mesti dibaca untuk proposal satu ini. Jangkrik, inilah hasilnya sok keminter, ikutan main-main sesuatu yang sudah dikerjakan banyak orang. Jadi banyak yang mesti dibaca dan pertimbangkan sebelum bikin sesuatu sendiri. Jangan-jangan si anu udah bikin, atau si dia udah pernah ngerjain yang mirip-mirip tuh, tapi dia pakenya ini dan itu. So, apa dong yang bisa kamu pelajari dari ini dan itunya si dia? Hayah... mumet.&lt;br /&gt;Malam makin larut. Iseng membaca-baca lagi sms mu tadi siang 'kepleset mas.. lantainya licin..' wah wah, sesuk maneh sing ngati-ati ya.. adoh ngene iki angel je yen meh mijeti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kok kangen kamu ya, cah ayu..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115924149666806311?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115924149666806311/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115924149666806311' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115924149666806311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115924149666806311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/09/pasti-karena-sudah-malam.html' title='Pasti karena sudah malam..'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115896731775554938</id><published>2006-09-23T00:38:00.000+02:00</published><updated>2006-09-23T01:22:08.233+02:00</updated><title type='text'>Betapa subyektifnya kita semua</title><content type='html'>Suatu malam minggu lalu saya menemukan diri masih luntang-lantung di lab sistematik jam 8 malam. Selasa kemarin memang ada mid-term, makanya saya jadi sedikit lebih rajin dari biasa. Karena bosan nonton karakter serangga yang kecil-kecil plus nggak jelas di bawah mikroskop, saya pun iseng jalan-jalan di lorong melongok-longok lab orang. Eh, di lab perilaku serangga, seorang teman masih sibuk mengotak-atik olfactometer nya. Olfacto.. apa tadi? Olfactometer. Itu piranti sederhana di mana serangga diberi pilihan stimulus olfactory, alias "bau", dari dua (atau lebih kalau mo kemudian bingung menganalisa hasilnya) sumber untuk kemudian dilihat bagaimana respon serangga2 tadi. Si teman ini "bermain2" (beneran lho, riset itu kan sebenernya nggak lebih dari bermain2) dengan satu serangga predator, dan malam itu tengah mencoba-coba melihat ketertarikan serangga jantan ke serangga betina. Saya yang sedang bosen, jadi ikutan nggrathil usil dengan eksperimennya. Mula-mula serangga jantan ini diberi dua pilihan sumber bau: angin yang dilewatkan satu populasi serangga betina dan angin yang nggak dilewatin sumber bau apapun. Eh, ternyata pinter lho, serangga2 jantan ini manut jalan ke pipa dari mana angin yang sudah dilewatin serangga betina tadi berhembus! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, angin dilewatkan ke populasi serangga betina trus berakhir di secawan air. Apa maksudnya? Gini, kalau serangga jantan nangkep "bau" serangga betina, itu biasanya karena betina2 tadi ngelepas zat kimia tertentu yang namanya feromon sex. Nah, feromon ini biasanya volatile, alias molekul yang mudah menguap. Dengan menghembuskan udara ngelewatin populasi serangga2 betina trus itu aliran udara dicemplungin ke air, kami berharap bisa memerangkap molekul2 feromon sex ini, ceritanya berharap semoga itu molekul bisa larut di air geetoh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berikutnya kami balik lagi ke olfactometer tadi. Kali ini si jantan diberi dua sumber bau baru: air biasa dan air yang sudah dilaruti molekul feromon sex tadi. Hasilnya? Well, ternyata si jantan milih air yang sudah dilaruti itu feromon!! Good result. Temen saya ini sampai jingkrak2 pas ngelihat eksperimennya ngasih hasil yang sedemikian jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di titik ini kami pun jadi iseng: gimana kalau yang dijadiin "serangga percobaan" bukan yang jantan, tapi yang betina? Maka kami pun dengan isengnya mencoba itu ide. Dan? Well, well, ternyata betina2 serangga ini tertarik juga ke air yang sudah dilaruti feromon sex betina! Dan pas kami coba pake betina sungguhan plus jantan sungguhan sebagai sumber bau, betina di ujung lainpun masih tetap memilih untuk jalan ke arah betina kolega nya dari pada ke arah jantannya!! Small surprise!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun, half-jokingly, berkomentar "Wah, wah, serangga lo lesbian nih!!" Saya nggak pernah membayangkan betapa temen saya ini bakal marah2 pas saya ngomong gitu. Dan bener lho, dia marah2. Tersinggung? Mungkin. Dengan segenap hati dibeberkannya alasan2 kenapa serangga2 itu &lt;strong&gt;nggak mungkin&lt;/strong&gt; lesbian. Now, di sini saya mesti bilang, saya nggak setuju dengan temen saya. Saya bisa meraba kenapa serangga2 itu &lt;strong&gt;mungkin nggak&lt;/strong&gt; lesbian, tapi saya nggak bisa nerima pernyataan bahwa serangga2 itu &lt;strong&gt;nggak mungkin&lt;/strong&gt; lesbian tanpa riset lebih lanjut. Ada banyak kemungkinan untuk menerangkan preferensi pegerakan serangga2 betina ke betina lain dan bukannya ke jantan. Mungkin serangga2 betina tadi bukan hanya ngelepas feromon sex, mungkin mereka ngelepas juga feromon aggregasi. Beberapa serangga ngelepas feromon ini di saat2 tertentu. Beberapa spesies kumbang pinus misalnya, kalau nemu pohon yang udah lemah karena sakit atau kesamber petir (so nggak terlalu keras untuk digigitin kali ya) bakal ngelepas feromon aggregasi untuk manggil temen2nya dateng ke itu pohon. So, ada banyak alasan untuk menyatakan bahwa betina serangga ini &lt;strong&gt;mungkin nggak&lt;/strong&gt; lesbian. Tapi untuk bilang sebaliknya? Well, saya sih nggak mau bilang apa2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya lihat di sini adalah temen saya ngerasa bahwa serangganya nggak mungkin lesbian karena dia sendiri nggak setuju dengan orientasi seksual tersebut. Ia tengah mengedepankan pendapat pribadi ke obyek penelitiannya. Bagaimana pendapat saya sendiri tentang homoseksualitas? Well, saya mesti bilang kalau keseluruhan sistem kepercayaan yang sampai sekarang masih jadi sumber pengharapan dan sukacita saya juga mengimplikasikan bahwa orientasi seksual yang satu itu, simply, berbeda dari human sex sebagaimana yang didesainkan oleh Yang Bikin. Tapi toh kita melihat bahwa fenomena homoseksualitas di dunia binatang bukanlah barang langka. Beberapa spesies kumbang melakukannya, juga domba dan siput. Monggo aja baca artikelnya di &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Animal_sexuality#Homosexual_behavior"&gt;wikipedia&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://news.nationalgeographic.com/news/2004/07/0722_040722_gayanimal.html"&gt;national geographic&lt;/a&gt;. So menolak bahwa subyek riset sendiri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pendirian pribadi, saya pikir bukanlah sesuatu yang obyektif. Nggak kok, saya nggak sampek ngotot2an soal ini ama temen saya. But it certainly got me into thinking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang betapa subyektifnya kita semua. Temen saya dengan serangga2nya. Saya dengan banyak hal lain dalam hidup saya. Teman2 di Jakarta dan tempat lain di seluruh dunia yang membaca secuplik kuliah umum Paus Benedictus kemudian marah-marah bak terbakar jenggot. Betapa subyektifnya kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah. Mungkin pada akhirnya, obyektifitas adalah fatamorgana. Or better still: obyektifitas hanyalah 'sekedar' kesadaran bahwa kita akan senantiasa subyektif. Bahwa bias adalah sesuatu yang inheren, dan per definisi dari setiap komentar, pendapat, bahkan cara berpikir. Pula, bahwa bias tidak harus selalu dilihat sebagai sesuatu yang negatif. Yang kemudian menarik untuk dipertanyakan adalah, ketika kita dengan sadar berkomentar di bawah pengaruh bias tertentu, seberapa jauh kita kemudian jadi yakin akan kebenaran pendapat sendiri. Seberapa jauh kita kemudian berani menyatakan keyakinan diri akan hal-hal tertentu dan menyalahkan pendapat orang lain akan hal-hal tersebut. Atau mungkin, ketika kita sadar bahwa kita nggak akan pernah nggak bias, kita kemudian jadi lebih rendah hati di hadapan pendapat-pendapat yang berbeda dari pendapat sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115896731775554938?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115896731775554938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115896731775554938' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115896731775554938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115896731775554938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/09/betapa-subyektifnya-kita-semua.html' title='Betapa subyektifnya kita semua'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115876020010714310</id><published>2006-09-20T15:33:00.000+02:00</published><updated>2006-09-20T15:56:59.513+02:00</updated><title type='text'>Dilema: cinta, lucu</title><content type='html'>Cinta itu apa sih? Demikian saya pernah bertanya. Mungkin sampeyan juga? Mungkin tiap manusia pernah punya itu tanya di kepala, one time or another? Saya nggak lagi mau nanya2 lagi. Saya lagi mau nyinyir soal satu dilema yang diilustrasikan dengan lumayan baik oleh pertanyaan 'cinta itu apa sih?' tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CS Lewis, di kompilasi tulisan teologi dan etika nya "God in the dock", menyentil dilema yang dialami manusia antara 'memahami' dan 'mengalami'. Saya pikir, itu dia masalahnya dengan upaya untuk menjawab 'cinta itu apa sih?'. Manusia, Lewis bilang, punya setidaknya dua moda untuk memamah satu fenomena. Benak kita bisa membedah satu fenomena jadi pecahan kecil-kecil, dianalisa, dideskripksikan, dikategorisasi. Sementara itu, manusia bisa pula 'sekedar mengalami' satu fenomena. Dan dilema antara keduanya adalah, seringkali ketika kita mencoba memahami suatu fenomena, semakin analitik benak kita pergi, semakin nggak sesuai fenomena tadi dengan pengalaman sendiri. Di pihak lain, ketika kita mengalami sesuatu, pemahaman sering kali absen, bahkan terasa tidak perlu. Di banyak kesempatan, pemahaman bahkan terasa mereduksi makna fenomena tadi bagi diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya manusia bakal terus bertanya 'cinta itu apa sih?' tanpa pernah menemukan rumusannya yang paling pas. Kita tahu, paham, apa cinta itu justru ketika kita jatuh cinta. Bukannya ketika kita sedang duduk dan berpikir tentang cinta. Bahkan mereka yang sedang jatuh cinta pun saya kira akan selalu merasa deskripsi mereka sendiri akan cinta sebagai sesuatu yang feeble, inadequate, nggak cukup dan nggak sepenuhnya menggambarkan keseluruhan emosi dan stimulasi lain yang tengah mereka rasakan. Mungkin karena itu kita kemudian mencipta alegori, puisi, lagu, lukisan, mitos. Cinta, seperti halnya banyak fenomena lain, pada akhirnya paling dekat digambarkan melalui media abstrak, bukan prosa kering ala berita pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperlihatkan bahwa cinta bukan satu2nya fenomena macam ini, coba aja sampeyan definisikan apa itu 'lucu'. Ditanggung bingung. Lucu itu apa sih? Sampeyan paling tahu lucu itu apa pas sampeyan kemekelen karena denger atau nonton sesuatu yang 'lucu'. Tapi pas disuruh menjabarkan apanya yang lucu dari fenomena yang baru saja sampeyan tertawakan? Well, saya sih nggak bisa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115876020010714310?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115876020010714310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115876020010714310' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115876020010714310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115876020010714310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/09/dilema-cinta-lucu.html' title='Dilema: cinta, lucu'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115800473926971141</id><published>2006-09-11T21:40:00.000+02:00</published><updated>2006-09-11T22:02:26.286+02:00</updated><title type='text'>Khatami di JFK Forum</title><content type='html'>Lagi-lagi nyerempet Harvard. Bukan, bukan karena saya kemimpi-mimpi masuk Harvard. Saya cukup tahu diri dan kapasitas saya sendiri kok. Ini (murni?) kebetulan (ada ya sesuatu yang nggak murni kebetulan, tapi juga bukannya disengaja, so sekitar 61% kebetulan gitu?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin pulang dari perpus, saya iseng nonton channel yang biasa mengudarakan debat publik. Dan kok ya pas dapet yang menarik menyenangkan: JFK Forum dari JFK School of Government di Harvard. Malam menjelang perayaan September 11, ini sekolah bikin hajat mengejutkan: &lt;a href="http://www.ksg.harvard.edu/ksgnews/PressReleases/091006_khatami.html"&gt;ngundang Mohammad Khatemi &lt;/a&gt;jadi pembicara. Mohammad Khatami, adalah presiden Iran sebelum tokoh menarik lain yang sekarang duduk di kursi itu. Iran, sudah sejak beberapa dekade belakangan ini senantiasa dikaitkan dengan sebagai proponen gerakan anti Israel (dan sebagaimana gerakan anti Israel lainnya di timur tengah, mereka juga anti US). Sekarang Khatemi memegang posisi sebagai direktur pusat dialog antar kultur dan peradaban di Geneva, di bawah UN tentunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan bagian saya menerangkan intrikasi emosi dan kepentingan apa saja yang bermain di bawah permukaan forum kemarin, saya juga awam seperti sampeyan semua. &lt;a href="http://www.caranita.blogspot.com"&gt;Mbak Lenje&lt;/a&gt; pasti lebih bisa memberi komentar mencerahkan dari pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya mau bilang di sini ya cuma sekedar celoteh awam saja. Forum yang seharusnya bertema "Ethics of Tolerance in the Age of Violence" itu justru terputar jadi tempat di mana pertanyaan-pertanyaan tajam dilempar ke Khatami. Meski kalem dan cerdik, cara sang cendekia meladeni bukannya tanpa bolong di sana-sini (saya dari dulu memang cenderung simpatik lho ama pembawaannya presiden2 Iran, mereka biasanya kalem, murah senyum, matanya ikutan tertawa, tapi jawaban dan tarikan bibir mereka menyimpan ketajaman tersendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pertanyaan yang jawabannya bener2 mind blowing (setidaknya buat saya yang memang gumunan ini) adalah tentang komentar Khatami akan pembenaran populer jihad, bahwa seseorang yang gugur dalam perang demi agama akan berimbal surga. Khatami menjawab dengan kalemnya "Whoever put anyone through hell, will not get to heaven." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bravo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:coba besok2 tengok di &lt;a href="http://ksgaccman.harvard.edu/iop/events_forum_listview.asp"&gt;sini&lt;/a&gt; untuk nonton langsung rekaman forum itu. Sekarang sih blum ada di archive mereka, mungkin karena baru kemaren mengambil tempat. Siapa tahu entaran udah ada:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115800473926971141?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115800473926971141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115800473926971141' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115800473926971141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115800473926971141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/09/khatami-di-jfk-forum.html' title='Khatami di JFK Forum'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115793795621084021</id><published>2006-09-11T03:04:00.000+02:00</published><updated>2006-09-11T03:25:56.606+02:00</updated><title type='text'>There's this strange thing about humankind..</title><content type='html'>Sedikit dari sore tadi saya pakai buat leyeh-leyeh di taman depan perpustakaan, baca buku sambil nyruput soda kalengan. Satu bab menjelang epilog "&lt;a href="http://www.leaderu.com/real/ri9910/bradleybook.html"&gt;Finding God at Harvard&lt;/a&gt;" saya ketabrak paragraf menarik, &lt;br /&gt;"There's this strange thing about humankind, that although deep down we crave the fulfillment, in practive we love the longing more than the fulfillment, so that when the fulfillment comes along, we cannot believe our eyes and ears, and we nostalgically recreate the longing and fall back upon it..."&lt;br /&gt;Di tulis oleh &lt;a href="http://www.lebaneseforces.com/malikabout.asp"&gt;Charles Habib Malik&lt;/a&gt;, doktor filosofi lulusan Harvard yang sempat jadi duta besar Lebanon buat US dan berpanjang karir di UN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang segera terlintas di kepala saya adalah celoteh seorang teman jaman sekolah menengah dulu, kira-kira begini lah, "Yang bikin deg-degan itu bukan pacarannya, tapi proses menuju jadiannya itu lho!".. dasar bocah SMA! Tapi mungkin ada kebenaran dalam celotehnya, sebagaimana yang diartikulasikan oleh pak Malik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau diekstrapolasi menjauh dari mimpi romantis anak ingusan, bunyinya jadi semacam ginilah: "Yang menyenangkan mungkin bukan pernikahannya, tapi proses menuju pernikahan itu sendiri". Pas sudah saatnya ditagih komitmen... well, cold feet dulu ajalah. Dan kitapun jadi bingung, kok kayanya dulu termimpi-mimpi pengen bareng-bareng ama seseorang pas seseorangnya udah mo diajak bareng-bareng kok kitanya jadi grogi ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Because "..we love the longing more than the fulfillment."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Observasi serupa sebenarnya tercermin juga dari adagium populer: yang penting bukan hartanya, tapi petualangan mencari harta itu sendiri. Entah sudah berapa film atau buku ditulis berpenutup demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf tadi berpenutup manis, lumayan mencerahkan buat saya:&lt;br /&gt;"..This is the secret of all unbelief- a mysterious force holds us back from believing, and we long again to return to the state of longing. We seem unable to bear the truth for long, even truth that brings joy."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmmm.... saya bangkit dari kursi taman dan menguap lepas. Trus jalan masuk ke perpus dan bersegera duduk di komputer paling dekat. Mengakses blogspot, menulis alinea2 di atas dan nggak sabar untuk bertanya pada sampeyan semua, "What do you think?"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115793795621084021?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115793795621084021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115793795621084021' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115793795621084021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115793795621084021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/09/theres-this-strange-thing-about.html' title='There&apos;s this strange thing about humankind..'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115783775827272464</id><published>2006-09-09T23:16:00.000+02:00</published><updated>2006-09-09T23:39:08.653+02:00</updated><title type='text'>Gimana caranya hidup sepenuh-penuhnya?</title><content type='html'>"Gimana caranya hidup sepenuh-penuhnya?", tanya Socrates. Pertanyaan menarik. Sebagian karena asumsi tersembunyi bahwa hidup punya desain tersendiri dengan mana "hidup sepenuh-penuhnya" bisa didefinisikan. Desain. Aha, orang biosains suka geli kuping mendengar kata yang beberapa abad belakangan ini berulang kali termuati setrum politis itu. Kalau ada desain, berarti ada desainer (emang ada kata desainer dalam bahasa Indonesia?) dong? Pertanyaan standard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang menarik: setahu saya Socrates bukan theis. Bagaimana pula seseorang yang tidak mengasumsikan keberadaan desainer mempertanyakan tips untuk memenuhi desain hidup manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana saya dan sampeyan hidup, (ini sekali lagi menurut saya lho ya) memang selalu dipengaruhi oleh pertanyaan-pertanyaan semacam: Tuhan ada nggak sih? Dan kalaupun ada, Tuhan niat nggak sih berinteraksi ama manusia ciptaannya? Dan kalau niat, seerat apa sih interaksi yang Beliau inginkan? Dan masing-masing kita boleh menjawab secara afirmatif, negatif, atau bisa pula memilih untuk nggak bertanya. Bahkan antara yang afirmatif dan negatif tadi ada satu spektrum maha luas di mana bermacam2 varian dan level jawaban tertemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kok orang yang hidup baik tanpa mengasumsikan keberadaan Yang Maha Mula-Mula, kata temen saya. Lho, baik menurut siapa? Baik yang bagaimana? Manusia saya kira lahir dengan satu sistem etika wired di kepala atau sanubarinya. Seiring berkembangnya seorang bocah, sistem etika tadi ikutan berkembang, terajarkan oleh lingkungan sekitarnya. Keluarga, Tetangga, TV, internet, sekolah (mungkin), dan akhirnya tempat kerja. Ever more sophisticated. Dan kalau kita bilang Confusius dan Gandhi itu orang baik karena peri hidup sesehari mereka kok rasanya cocok dengan idealisme manusia, wah wah nanti dulu. Si bapak yang nulis surat elektronik dan kemudian dipajang di &lt;a href="http://apriliana-journey.blogspot.com/2006/09/menurut-anda-wahai-pria-wanita.html"&gt;blognya April ini&lt;/a&gt; mungkin nggak bersetuju dengan cara hidup asketik ala Gandhi, atau berserba moderasi ala Confusius. Dan siapa bilang sistem etika si bapak nggak sebaik sistem etika Gandhi atawa Confusius? Wong si bapak itu dapet segala yang beliau sekarang percaya dari perjalanan hidupnya sendiri yang serba unik dan serba antik kok! Bukan salah beliau kan nggak punya kekang diri sedahsyat filsuf timur dan cara berpikir yang bisa memeluk kepentingan banyak manusia lain a la Gandhi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, saya kira, mengasumsikan keberadaan desain dalam hidup manusia dan mempercayakan manusia untuk jadi desainernya berakhir pada chaos. Pada sakit hati dan eksploitasi manusia lain. Mungkin saya nya aja yang cupet pandang. Minta maaf kalau itu memang kasusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana caranya hidup sepenuh-penuhnya?" tanya Socrates (atau Aristoteles ya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...wiken-wiken kok malah mikir negoro! ra mutu tenan!..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115783775827272464?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115783775827272464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115783775827272464' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115783775827272464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115783775827272464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/09/gimana-caranya-hidup-sepenuh-penuhnya.html' title='Gimana caranya hidup sepenuh-penuhnya?'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115742831629280528</id><published>2006-09-05T05:19:00.000+02:00</published><updated>2006-09-05T06:14:01.773+02:00</updated><title type='text'>Wiki text books</title><content type='html'>Buku, kata orang, adalah jendela dari mana kita melongok ke luar dunia pribadi yang (mungkin) terbatas ini. Buku teks punya kapasitas ganda. Ia bisa jadi jendela yang mengundang kita untuk keluar dari keterbatasan, ia bisa pula jadi sayap di punggung dengan apa kita terbang keluar lewat jendela tadi. Ia menunjukkan apa yang ada di luar sana, ia pula yang memampukan kita untuk menginternalisasi apa yang ada di luar sana jadi milik sendiri. Untuk jadi bagian dari apa yang ada di luar sana. Setidaknya pengalaman saya demikian sih. Sampai sekarang pun, buku teks yang ditulis bagus, sistematis tapi nggak mbosenin, tetap jadi motivator tersendiri untuk menguasai satu set informasi yang dituturkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problemnya tentu saja: buku teks biasanya nggak murah. Di Amerika atau Eropa, buku teks tetep aja nggak murah, tapi mahasiswa di sini bisa melihat buku teks sebagai investasi yang bakal balik modal di masa mendatang. Simply karena struktur pendapatan masyarakat sini yang relatif tinggi. Lagian, kalau emang kemudian ngerasa bahwa buku teks yang terbeli semester kemaren ternyata nggak banyak guna dan nggak menginspirasikan apapun, jual ae di ebay. Beres kan? Bahkan saya yang cuma subsisten dengan research assistantship dari universitas (yang percayalah, nggak banyak) pun masih bisa beli buku teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setting negara yang nggak semapan US dan Eropa, masalahnya jadi lain. Saya nggak bisa bayangin mahasiswa pertanian di Indonesia disuruh beli "Introduction to the study of insect" nya Borror seharga 60 dollar. Lha... dhuwite sopo? Ada sih yang sudah diterjemahin ke bahasa Indonesia dan dijual dengan harga yang masuk akal, UGM punya proyek mulia, tapi itu edisi tahun 1989 dan banyak famili serangga yang sudah direklasifikasi sejak edisi tadi. Sementara itu, mengharapkan buku teks tulisan ilmuwan Indonesia, setidaknya di bidang entomologi dan penyakit tanaman, masih bisa dibilang nggak realistis. Bukan karena kita nggak punya kapasitas intelektual untuk melakukannya. Saya curiga, keadaan ekonomi ilmuwan kita memang belum sampai di level di mana mereka bisa melepas proyek2 sampingan lain untuk menyisihkan waktu menulis buku teks yang komprehensif (yang begitu diterbitkan pun akan segera dibajak dan dijual setengah harga...). Ditambah dengan terbatasnya buku teks edisi baru yang tersedia di perpustakaan, walhasil sebagian besar mahasiswa kita seolah dikutuk untuk senantiasa baca buku teks yang sudah nggak begitu up to date lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, pas &lt;a href="http://www.scidev.net/News/index.cfm?fuseaction=readNews&amp;itemid=3077&amp;language=1"&gt;baca&lt;/a&gt; kalau ada pihak2 yang sedang bekerja untuk membuat wiki text book, hati saya bungah pisan. Dan ternyata pas saya buka, ini proyek (tentu saja) bukan barang baru, saya nya aja yang ndeso! Ada berbagai teks ilmiah yang tersimpan di sana. Dari &lt;a href="http://en.wikibooks.org/wiki/Introduction_to_Paleoanthropology"&gt;pengantar paleoanthropologi&lt;/a&gt; sampai &lt;a href="http://en.wikibooks.org/wiki/European_History"&gt;sejarah Eropa&lt;/a&gt;. Sudah saatnya memang pengetahuan dikembalikan ke ranah publik dan bukannya tersandera di antara tembok2 institusi pendidikan tinggi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115742831629280528?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115742831629280528/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115742831629280528' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115742831629280528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115742831629280528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/09/wiki-text-books.html' title='Wiki text books'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115721921977664379</id><published>2006-09-02T19:46:00.000+02:00</published><updated>2006-09-02T19:47:00.526+02:00</updated><title type='text'>Gameday!!</title><content type='html'>Sejak hari pertama saya datang kemari, football sudah jadi buah bibir orang tentang ini college. Dan nggak salah lagi, bangunan yang paling magrong-magrong di kampus ini memang bukan lab atau galeri kuliah, tapi stadion football. Auburn, konon kabarnya tuan puan sekalian, adalah salah satu tim football jagoan di south east conference. Dan intercollegiate sport di Amerika punya level popularitas yang hampir seakbar sepak bola di ... well, the rest of the world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, ketika saya jalan ke kantor pagi-pagi, saya lihat ada banyak tempat sampah portabel yang tiba-tiba nongkrong di sudut ini atau itu. Ada kursi-kursi yang tiba-tiba muncul di ruang-ruang publik berkarpet rumput hijau. Tadinya saya pikir, "well, mungkin emang lagi ada orang yang tiba-tiba terinspirasi oleh datangnya musim gugur, suhu udara nggak terlalu tinggi lagi, so mereka bisa santai menghabiskan waktu di luar ruangan." Mirip2 permulaan summer di Jerman dulu lah, ketika orang-orang jadi tiba-tiba giat bikin BBQ di luar ruangan (bahkan departemen saya dulu punya tradisi bikin BBQ lunch hampir sebulan penuh di permulaan musim panas) dan ngobrol2 di taman kota sampai gelap turun berteman obor kecil portabel yang banyak di jual di supermarket. Semakin siang, semakin banyak orang hang out di luar kantor saya. Kebetulan ada satu taman kecil yang cukup lega di sana. Beberapa orang mulai menandai "wilayah" mereka dengan pita merah. Beberapa yang lain mendirikan tenda. Lho lho lho.. apa lagi ini? Ketika sorenya saya jalan pulang dari lab, hampir semua ruang publik sudah dibagi-bagi jadi kapling-kapling dengan tenda2 mungil didirikan di atasnya. Beberapa sudah ada yang mulai bongkar-bongkar van dan ngeset... receiver sinyal satelit! Buset! Ketika malam tadi saya iseng jalan2 keluar, makin yakinlah saya bahwa akhir minggu ini adalah ... GAMEDAY pertama tahun ini buat Auburn!! Orang2 pada hang out di luar, menenggak bir, soda sambil ketawa-ketiwi. TV diusung keluar (hence the tend) dipajang di bawah tenda-tenda. Wah wah wah.. gini to, Auburn menjelang pertandingan. Sayang kamera (lab) saya terkunci di kantor, dan (ini dia konyolnya) di gameday macam hari ini, kartu akses pelajar saya jadi nggak berlaku. Gedung2 diisolasi total dari pelajar yang kaya bagaimana juga. Entah apa maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, kota yang berpenduduuk cuma 60.000 orang ini sudah membengkak hampir dua kali lipat. Konon di pertandingan2 besar macam versus Georgia atau Florida, jumlah manusia di Auburn membengkak jadi 200.000...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil ngungun saya jalan membelah halaman depan Samford Hall pagi tadi, melewati tenda-tenda yang disesaki alumni dan fans Auburn. Malam tadi saya sempet baca di Birmingham News kalau ini tahun buat Auburn. Dan vibransi yang saya tangkap tadi pagi mengkonfirmasi optimisme itu. Tetep aja saya ngungun, abis saya nggak mudeng aturan (apalagi di mana letak menariknya) football.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bisa ngerti betapa bingungnya orang Amerika ngeliat kita tergila-gila nonton world cup kemarin :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115721921977664379?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115721921977664379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115721921977664379' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115721921977664379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115721921977664379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/09/gameday.html' title='Gameday!!'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115679372194349422</id><published>2006-08-28T21:30:00.000+02:00</published><updated>2006-08-28T21:35:22.590+02:00</updated><title type='text'>Ele &amp; Greg</title><content type='html'>Ele itu temen baik saya. Keturunan Polandia kelahiran Jerman. Bocahnya ceriwis dan nggak bisa diem. Kami pernah iseng bikin konser bareng di beberapa gereja di Hannover dan seputarnya, bersama sederet temen yang sama-sama nekad. Saya nggepuk conga seenak udel, dan dia sok bisa menyanyi yang sampai meliuk-liuk itu lho. Sekarang Ele sedang menyelesaikan tesisnya tentang ‘Microfinance institution and poverty relief in rural Kenya’ atau yang sebangsanya lah. Jangankan menyimak, saya sudah terlanjur pusing kalau lagi ngobrol soal kerjaan dia. Ele ini semacam world traveller juga, sukanya jalan-jalan ke sana kemari. Ke Afrika jelas karena memang di sono lapangan penelitiannya. Tapi tiap kali dia nongol di jendela MSN messenger saya, saya selalu disodori cerita terbarunya jalan-jalan ikutan ini dan itu. Oxford, Mumbay, Sidney. Asem tenan, bikin saya ngiler. Tapi saya masih menang selangkah dibanding Ele: saya sudah pernah ngelihat US, Ele belum. “Tahun depan,” katanya. “Nunggu thesis ini selesai dulu.” Tapi dasar manusia suka jalan-jalan, tahun depan mo kemari masih juga cerewet banyak bertanya tentang seperti apa rasanya ada di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam komentar-komentar saya yang tentu saja banyak sok tahu dari pada bener2 tahu nya, saya menyelipkan pengamatan yang sudah beberapa lamanya ngendon di benak saya “Rasa-rasanya orang sini lebih ramah deh dari pada orang-orang Jerman.” &lt;br /&gt;“O, ya?” balas Ele. “Aku juga pernah denger sekali dua tentang itu.” “Tapi dari apa yang aku denger, kok kayanya keramahan orang Amerika tuh superfisial ya?” Timpalnya lagi.&lt;br /&gt;“Superfisial?” tanya saya&lt;br /&gt;“Iya, nggak jujur gitu lho. Sekedar pasang tampang ramah biar kelihatan ramah, bukan karena emang bener-bener ramah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah lho??!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tentang Greg. Greg dan saya cuma sempat berinteraksi 4 minggu lamanya. Greg ini mahasiswa biologi di Brown University, upstate sana. Tapi 4 minggu bulan Juli lalu, dia main ke Auburn, ikutan mudik ke rumah orang tua pacarnya, yang kebetulan profesor saya. Dasar anak sini, liburan musim panas nggak lengkap kalau nggak pake pekerjaan musim panas. So, jadilah dia intern di lab saya sepanjang bulan Juli lalu. Kami lumayan cocok karena sama-sama suka pizza dan tertarik ama yang berbau-bau biologi molekuler. Dia banyak ngajarin saya trik-trik praktis dalam bekerja di lab, kaya nuang cairan berdeterjen lemah tanpa ngehasilin busa misalnya. “Belajar dari kerja di bar,” katanya. Bir kalau nggak dituang dengan cara tertentu kan memang ngehasilin banyak busa. Wah wah, tau gitu saya dulu juga sering-sering kerja di bar...&lt;br /&gt;Menariknya, sekali waktu ketika kami ngobrol-ngobrol menunggu larutan kerjaan kami mendidih, dia melontarkan pertanyaan tanpa diminta “Menurutmu, orang-orang di selatan ini ramah nggak?”&lt;br /&gt;“Ramah, saya ngerasa diterima dengan tangan terbuka kok.” Jawab saya. “Emang kenapa?”&lt;br /&gt;“Nggak tahu... rasanya ada yang salah deh.” ucap Greg.&lt;br /&gt;“Dengan keramahan mereka?” tanya saya.&lt;br /&gt;“Iya.. for all you know.. they can be all broke, pennyless, tapi tetep aja mereka memaksakan diri tersenyum kalau ketemu orang lain. Tetep aja menyapa.”&lt;br /&gt;“Lho? Apa salahnya?”, saya bertanya keheranan.&lt;br /&gt;“Rasanya kok palsu gitu lho. Munafik. Nggak jujur ke diri sendiri.” Jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi: Nah lho??!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau jadi ramah ae kok susah ya? Yang dibilang superfisial lah. Nggak jujur ke diri sendiri lah. Dalam benak saya yang sok analitis, saya kemudian mencoba untuk memberi kerangka ke komentar Ele &amp; Greg. Satu hal yang saya amati dan rasakan ketika berkesempatan tinggal di Jerman adalah betapa individualis nya peraturan hidup sesehari mereka. Independensi individu adalah hal penting yang mesti dihormati siapapun. Dan dengan modal independensi individu lah mereka kemudian jadi ‘bebas’ untuk menyayangi, untuk menjalin hubungan dengan siapapun yang mereka pilih. Implikasinya, mereka juga bebas untuk nggak menjalin hubungan dengan siapapun yang mereka nggak pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temen saya pernah kena damprat di lab nya yang baru di Institut Max Plank di Jenna. Namanya orang baru, dia nggak tahu mesti duduk di mana. Akhirnya duduklah dia di satu spot yang kayanya lowong. Baru duduk sepuluh menit, orang pertama masuk dan tanpa “hi” atau “halo”, langsung ngomong ke dia “Kamu nggak bisa duduk di situ.” “Nggak liat di depanmu ada mikroskop elektron? Itu mikroskop cuma ada satu di lab ini. Jadi semua orang make itu alat. So kamu mending pindah dari situ.” &lt;br /&gt;Kwek....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak, saya nggak bilang bahwa orang2 Jerman kejam ketus. Saya punya banyak teman Jerman dari siapa saya belajar bertenggang rasa. Tapi saya rasa, kasus temen di Jenna tadi, juga komentar Ele &amp; Greg tentang ‘berlebihannya’ keramahan ala selatan cukup mengillustrasikan bahwa motivasi bermasyarakat mereka di Jerman (dan mungkin di utara US) berbeda dari motivasi bermasyarakat yang kita akrabi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat nilai tradisional Asia, keluarga, masyarakat, lingkungan sekitar, adalah entitas tersendiri kepada siapa loyalitas individu diikatkan. Karena itulah kita berinteraksi dengan senyum, saling menyapa dengan ramah. Karena masyarakat adalah entitas yang penting dalam dirinya sendiri, dan keramahan kita adalah upaya untuk menjaga integritas entitas tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara yang saya lihat dan rasakan di Jerman (dan mungkin di beberapa komunitas urban di Indonesia juga?), masyarakat dan keluarga ada karena pilihan individu. Ada demi suksesnya individu. Dan oleh karena itu, ekspresi yang diharapkan (bahkan dalam hidup bermasyarakat) adalah ekspresi yang jujur terhadap diri sendiri. Karena toh masyarakat ini ada demi individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena itulah, senyum meski sedang sedih kemudian dipandang sebagai kemunafikan.&lt;br /&gt;Hhhh... mo jadi ramah ae kok repot.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115679372194349422?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115679372194349422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115679372194349422' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115679372194349422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115679372194349422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/08/ele-greg.html' title='Ele &amp; Greg'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115663672484110885</id><published>2006-08-27T01:55:00.000+02:00</published><updated>2006-08-28T15:43:06.583+02:00</updated><title type='text'>Sains, Evolusi, Pluto</title><content type='html'>Profesor ‘system thinking’ saya di Hannover sering bilang, “Kita banyak membuang energi berdebat tentang sesuatu yang tak jelas definisinya. Pada akhirnya, kebanyakan debat itu jadi berpanjang-panjang tak jelas sekedar karena perbedaan definisi di antara pendebat-pendebatnya.” Dan saya pun jadi belajar sesuatu tentang betapa bebasnya manusia mengikat definisi pada satu istilah. Betapa subyektivitas adalah bagian inheren dari sains, dan betapa pentingnya kesepakatan akan terminologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu lalu saya ngobrol soal evolusi dengan seorang teman gereja. Seorang misionaris setengah baya yang beberapa tahun lalu memutuskan untuk pulang ke Amerika agar anak-anak dapat mengenyam pendidikan tinggi di tanah kelahirannya. Seperti banyak believer lain yang saya temui di selatan US, si bapak dengan berapi-apinya mengutuk dan mengkritik sains, terutama evolusi. “Itu teori bener2 anthroposentris. Nggak bisa dibuktikan secara empiris!”, ucapnya. “Masa paruh burung berubah-ubang dikutip sebagai bukti empiris evolusi. Mereka kan tetep aja burung!!”. Wah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat si bapak, sains mesti menunjukkan secara empiris bahwa ikan bisa suatu saat berubah jadi burung, baru dia percaya. Meski kalau mau agak2 banyak menginvestasikan waktu menggeluti ini teori, sebenernya bukti hidup yang disediakan evolusi ya memang selalu setipe dengan berubahnya paruh burung itu tadi. Selebihnya, ada ‘bukti’ fosil, yang menurut saya terbuka pembacaannya untuk dilihat sebagai ‘bukti’ laju seri evolusi atau sekedar bukti bahwa makhluk2 semacam fosil tadi pernah melangkahkan kaki di muka bumi. Kalau sampeyan subscribe ke pembacaan pertama, voila! Tersedialah ‘bukti’ bahwa pada suatu ketika makhluk air bermigrasi ke darat dan menumbuhkan sayap. Tapi kalau nggak, ya nggak apa-apa. Mereka yang percaya akan pembacaan pertama juga nggak mungkin membuat sampeyan ‘melihat’ apa yang mereka ‘lihat’ kalau sampeyan nggak mau kok. Bukti yang mereka punya, adalah bukti sejarah. Dan bukti sejarah memang seringkali butuh semacam iman untuk bisa dipercaya (serupa lah dengan isi buku2 suci kita. Kebanyakan dari mereka toh diklaim atas bukti sejarah. Bukan ‘bukti’ dalam arti sampeyan melihat sendiri kejadian2 yang digambarkan di sana bukan?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri percaya akan kesahihan mekanisme dasar evolusi: bahwa variasi karakter dari individu-individu dalam satu populasi akan terseleksi menurut properti-properti adaptif nya, sehingga karakter2 tertentu dalam satu populasi tadi akan ‘berubah’ seiring waktu sesuai dengan lingkungan sekeliling populasi tersebut. Saya mau tekankah bahwa yang berubah seiring waktu bukan individu, tapi populasi (kumpulan individu). Individu yang nggak adaptif ya cepet mati dan nggak sempet (atau nggak sukses) beranak, sehingga proporsi keturunannya dalam populasi tadi makin mengecil. Sementara yang lebih adaptif ya lebih punya kans buat meneruskan gen nya, sehingga generasi berikutnya makin banyak yang mirip individu2 berkarakter adaptif ini. Thus, variasi paruh burung sesuai dengan makanan yang tersedia di tempat2 berbeda. Tapi itu BUKAN evolusi menurut si bapak temen gereja saya tadi. Buat beliau evolusi adalah narasi bohong tentang manusia yang berasal dari primata lain. That’s it and nothing else. Well, percuma saya berdebat dengan si bapak kalau definisi kami soal evolusi sudah berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu kasus lagi yang mungkin bisa mengillustrasikan betapa pentingnya posisi definisi dalam diskusi sains: &lt;a href="http://sciencenow.sciencemag.org/cgi/content/full/2006/824/1"&gt;Terjungkalnya Pluto&lt;/a&gt; dari posisi planet dalam sistem tata surya kita. Sains memang sudah seharusnya dinamis, berpikir ulang akan definisi satu terminologi, dan menyortir fakta berdasar sebuah definisi baru adalah salah satu cerminan akan betapa dinamisnya aktivitas ini. Dan kalau ini saatnya mencoret Pluto dari kategori planet? Well, ini bukan momen yang lebih penting dari pada saat kita (manusia, gereja) akhirnya mengaku bahwa bumi bukanlah pusat dari jagad raya toh? We survived that, we’ll survive this. Joyfully.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115663672484110885?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115663672484110885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115663672484110885' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115663672484110885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115663672484110885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/08/sains-evolusi-pluto.html' title='Sains, Evolusi, Pluto'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115617900720990817</id><published>2006-08-21T18:48:00.000+02:00</published><updated>2006-08-21T18:54:56.650+02:00</updated><title type='text'>Pesen kopi pake cangkir mas</title><content type='html'>Auburn, kota tempat saya terdampar ini, bukan kota besar. Menurut statistik terakhir yang mampir di ruang baca saya, jumlah penduduknya cuma 60.000 an. Ini kota memang kota universitas, mirip Gainesville di Florida atau Athens di Georgia. Artinya, kalau pas lagi masa jeda antar semester, kota ini jadi sepi nyenyet. Bangku-bangku gereja jadi kosong, bahkan jalanan pun melompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena kecilnya, ini kota cuma punya sedikit kedai kopi, hanya lima. Empat ada dalam jarak yang terjangkau dengan jalan kaki dari apartemen saya, sedang yang satu lebih baik berkendaraan agar tidak membahayakan kesejahteraan badan sendiri. Konyolnya, nggak ada satupun dari kedai-kedai ini menghidangkan kopinya pake cangkir! Lima-limanya memaksa saya untuk minum kopi dalam gelas kertas. Bahkan di gerainya Starbucks sekalipun (atau memang justru di Starbucks minum kopi pake gelas kertas itu lumrah? Maklum, saya ini kan ndeso, di Indonesia mana pernah saya kepengen masuk Starbucks). Bukannya mau nyinyir (padahal emang), tapi saya memang selalu berpikir kopi paling enak disruput dari cangkir. Perasaan memegang wadah solid (apalagi kalau desainnya lucu-lucu) dari mana uap kopi mengepul itu kok buat saya masih jadi bagian integral dari minum kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampeyan nanya, “Kalau mau pake cangkir ya wis seduh aja sendiri di rumah. Gitu aja kok repot?”. Lha itu saya juga sudah kepikiran dan lakukan. Tapi toh terkadang ada kalanya saya kepengen ngopi sambil ngobrol dengan teman-teman, dan mengundang mereka ke apartemen saya yang kecil lagi jarang rapi itu kok rasa-rasanya bukan solusi paling pas to..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking penasarannya, tiap kali saya disuruh jalan-jalan presentasi atau sekedar setor muka di pertemuan akademisi atau praktisi pertanian di kota atawa negara bagian lain, saya jadi semangat meng-google kedai kopi paling dekat. Tapi dari pengalaman (yang cuma sedikit ini) jalan-jalan ke beberapa kota universitas lain di selatan US, saya selalu disuguhi kopi dalam gelas kertas atau plastik. Kalaupun dapat cangkir, biasanya di restoran hotel bukannya di kedai kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal di &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Central_Perk"&gt;Central Perk&lt;/a&gt;-nya Friends, kopi selalu disuguhkan pake cangkir. Yang bulet-bulet besar dan dalam salah satu episode nya sempat digambarkan “..might as well have nipples” itu lho. Kok di sekitar sini nggak ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115617900720990817?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115617900720990817/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115617900720990817' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115617900720990817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115617900720990817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/08/pesen-kopi-pake-cangkir-mas.html' title='Pesen kopi pake cangkir mas'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115594971065897090</id><published>2006-08-19T02:51:00.000+02:00</published><updated>2006-08-19T03:12:34.620+02:00</updated><title type='text'>Dipsi</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/DSC00030.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" width=160 length=225&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/DSC00027.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"width=160 length=225&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kenalkan, namanya Dipsi. Sejujurnya saya nggak tahu gimana cara mengeja nama ini ikan. Mungkin deep sea, atau dypsy, atau dipsie. Mbuh lah. Bukan, ini bukan ikan saya. Meski sudah lebih dari sepuluh hari lamanya ia jadi penghuni meja kerja di apartemen saya. Yang empunya dipsi, kandidat doktor perilaku rayap dari lab seberang dengan manisnya menelepon saya satu Minggu pagi dua pekan lalu, "Bisa minta tolong nggak?" tanyanya. "Apaan?" jawab saya. "Titip ikan dong.." ... wah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim liburan memang musim menarik. Saatnya dolan buat yang punya jadwal dan dompet lega. Atau buat mereka yang memang asalnya dari dekat-dekat sini. Termasuk yang punya Dipsi. Sementara beliau pulang ke rumah suaminya di Indianapolis sana, saya kebagian ngemong Dipsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, kata manual yang datang bersamanya, Dipsi adalah spesimen dari &lt;em&gt;Betta splendens&lt;/em&gt;, ikan tarung Siam. Dan karena asalnya yang berbau-bau "Siam" itu, si manual mewanti-wanti bahwa air yang dipakai buat Dipsi berenang-renang mesti dijaga bersuhu di atas 80 Farenheit. Saya pikir, "Iya lah, masa mau saya grujug air dari kulkas?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam-malam saya yang biasanya (sok) sepi berteman piano nya Jarrett atau Zawinul sekarang jadi lebih berwarna. Terkadang saya praktek ndongeng ke Dipsi. Sesuatu yang sudah saya gadang-gadang untuk lakukan ke keponakan-keponakan di Indonesia tapi nggak pernah kesampaian itu jadi ada gunanya juga. Menyimakkah Dipsi? Saya pikir demikian, wong kalau lagi tegang dia ikutan mlongo di tempat (meski nggak menghadap ke saya sih) dan bilamana saya sampai di bagian yang lucu-lucu dia trus berenang muter-muter kok!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115594971065897090?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115594971065897090/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115594971065897090' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115594971065897090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115594971065897090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/08/dipsi.html' title='Dipsi'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115565102439190258</id><published>2006-08-15T16:07:00.000+02:00</published><updated>2006-08-15T22:18:48.010+02:00</updated><title type='text'>No Pasaran!</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img height="330" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Nopasaran2.jpg" width="400" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img height="330" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Nopasaran.jpg" width="400" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No pasaran!” Slogan ini dipopulerkan oleh Dolores Ibarruri Gomez, orator dan pemimpin partai komunis Spanyol, di kala perang saudara antara kaum republikan-komunis dan kaum nasionalis-fasis sebentar sebelum pecahnya perang dunia kedua. Sejarah mencatat, kaum nasionalis di bawah pimpinan Jenderal Franco berhasil merebut Madrid setelah tiga tahun pengepungan dan memenangkan keseluruhan perang. Namun ‘No Pasaran!’, ‘They Shall Not Pass!’, justru terkristalkan pemakaiannya jadi slogan antifasis internasional.&lt;br /&gt;Konon, ini slogan didaur ulang dari seru perang serupa yang dipekikkan Marsekal Petain di Perancis semasa perang dunia pertama melawan Jerman “Ils ne passeront pas!!”. Yang lebih konon lagi, dalam adaptasi layar lebar The Lord of The Rings, kita mendengar Gandalf the Grey menguarkan ucapan serupa di muka Balrog sebelum meruntuhkan jembatan batu di mana Balrog berdiri “YOU shall not pass!”.&lt;br /&gt;No pasaran, sebuah ikhtiar untuk tidak mengijinkan pihak tertentu melewati ambang batas yang sudah ditetapkan. Dan di mana lagi kalau bukan di Hamburg, Jerman, negerinya orang-orang berhumor kering, bisa kita temukan pengejawantahan “No Pasaran” yang sedemikian grafiknya.&lt;br /&gt;Ini foto-foto hasil jepretannya Nita, yang sepanjang musim panas ini bekerja di Hamburg. Di gedung yang jadi pembagi sudut jalan “Am Felde”, jendela-jendela buluk besar itu berjeruji kerangka sepeda bekas. Banyak dan khaotis. Mengingatkan pada blokade jaman perang, seadanya yang penting pragmatis. Dan cat merah hitam di balkon atasnya meneriakkan slogan itu: buat fasis di seluruh dunia, juga maling atau siapapun yang iseng mencoba masuk lewat jendela: &lt;strong&gt;NO PASARAN&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;!!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Photobucket - Video and Image Hosting" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/jerujijemari.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115565102439190258?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115565102439190258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115565102439190258' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115565102439190258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115565102439190258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/08/no-pasaran.html' title='No Pasaran!'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115550548331745354</id><published>2006-08-13T23:43:00.000+02:00</published><updated>2006-08-13T23:51:36.350+02:00</updated><title type='text'>Memahami atheisme</title><content type='html'>Semangsa di Eropa, saya bertemu teman-teman yang sama sekali tidak bisa membayangkan jalan pikiran seorang atheis. Atheisme buat teman-teman ini adalah bunuh diri intelektual (dan spiritual) yang sungguh absurd. Ironisnya, sahabat2 atheis saya punya pemikiran mirip: berharap dan bertingkah laku seolah Allah ada adalah bunuh diri intelektual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menyedihkan adalah sikap yang cenderung diambil oleh sebagian umat religus terhadap atheisme. Kita cenderung jadi takut, ngeri dan pengen jauh-jauh dari hal-hal yang tidak kita pahami sepenuhnya. Rasa takut dan pengen jauh-jauh ini kemudian terterjemahkan sebagai pengucilan dan diskriminasi terhadap mereka yang berani secara terbuka mengaku diri sebagai atheis. Berbeda pendapat sambil tetap hidup berdampingan dengan elegan memang bukan keahlian manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya ada ironi di sini. Ironi bahwa umat beragama gagal mempraktikan cinta Illahi justru kepada mereka yang paling butuh melihatnya. Di sisi lain, saya mau mengakui bahwa hidup dekat, bergesek jangat dan berkomunikasi dengan seseorang yang punya landasan pikir sama sekali berbeda memang bukan barang gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan saya, ngobrol dengan mereka yang berbeda keyakinan fundamental (dan buat saya satu-satunya keyakinan yang layak dianggap fundamental ya soal Allah) adalah momen-momen berharga. Saya ditantang untuk nggak tersinggung tanpa ada perlunya, sekaligus ditantang untuk membagikan visi dan pemahaman saya sendiri tentang persona sekompleks Allah dalam dua tiga kalimat sederhana. Justru ketika sedang ngobrol dengan sahabat-sahabat saya yang berani meragukan keberadaan atau mempertanyakan otoritas Allah lah saya jadi menyadari betapa cupetnya pemahaman dan kemampuan saya untuk membagikan iman yang saya miliki. Tapi seperti yang saya sudah katakan di atas, justru kepada mereka yang tidak melihat perlunya Allah dalam sistem dunia lah umat beragama mesti bersaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feynman dalam kuliah umumnya di Seattle membagikan satu model sederhana untuk melihat peran agama dalam hidup manusia. Agama menyediakan setidaknya tiga hal buat penganutnya: pemahaman metafisikal tentang sangkan paran manusia juga dunia, kode etik untuk menuntun manusia membedakan apa yang ‘baik’ dari yang ‘buruk’, dan inspirasi buat manusia untuk hidup sesuai kode tersebut. Menurut saya model ini nggak lengkap. Ia sama sekali nggak menerangkan aspek kehidupan post mortem manusia, satu hal yang inheren dalam ajaran kebanyakan agama. Meski demikian, saya pikir ini model cukup untuk dipakai sebagai kerangka memahami atheisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan sahabat saya yang sedia untuk menanggalkan iman lama atau iman orang tua mereka punya keyakinan bahwa ada kode etis alternatif lain (selain agama beserta buku-buku sucinya) yang cukup buat manusia untuk menata peri kehidupannya. Sejarah manusia di timur dan di barat mencatat cukup banyak tulisan-tulisan etika yang sama sekali tidak berkenaan dengan eksistensi Allah. Untuk inspirasi, manusia bisa senantiasa berpaling pada Cinta dengan C besar. Saya sering bingung dengan deskripsi teman2 saya soal Cinta ini. Sepertinya mereka sedang mengacu pada semacam kekuatan besar non personal, semacam Allah yang mampu melakukan segalanya namun nir pendapat pribadi, seperti The Force dalam Star Wars. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat pemahaman metafisik tentang asal-usul dan hendak ke mananya manusia, sains punya sebagian jawabannya. Atau setidaknya hipotesis akan jawaban potensial. Di sinilah mungkin ranah pertempuran paling populer antara mereka yang agamis dan mereka yang atheis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, justru karena ranah ini populer, terjadi begitu banyak kesalah mengertian akan sains di pihak mereka yang mengklaim diri religius. Manusia cenderung membuat korelasi-korelasi antara ide-ide atau entitas-entitas tertentu dalam benak kita. Saya pikir metode ini otomatis terpelajari untuk memudahkan diri mengingat sesuatu. Contoh mudah adalah penggunaan warna dalam kehidupan politik Indonesia jaman Soeharto. Hijau identik dengan muslim, merah buat yang nasionalis dan kuning buat mereka yang berkuasa. Bukan cuma pada manusia, tapi juga pada hewan: ingat percobaan anjing Pavlov? Pavlov, penerima Nobel asal Rusia itu membiasakan untuk membunyikan bel sebelum memberi makan anjingnya. Setelah beberapa lama, si anjing terlatih untuk mengidentikkan bunyi bel dengan makanan, sehingga tiap kali bel dibunyikan (tanpa hidangan makanan sekalipun) si anjing pun bereaksi dengan meneteskan liur siap menyantap sesuatu. Dan inilah yang terjadi dengan teori evolusi: karena seringnya teori ini dicuplik sebagai salah satu kemungkinan jawaban akan masalah metafisik asal usul manusia, mereka yang religiuspun lalu mengkorelasikan teori ini dengan atheisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada soal atheisme dan tiga peran agama dalam hidup manusia: mereka yang mengaku diri atheis punya (atau setidaknya merasa punya) cukup sumber daya di sekeliling mereka (sains, ide2 etika, Cinta) untuk menggantikan agama (dan Allah) dalam hidup mereka. Saya pikir tidak susah sebenarnya untuk memahami cara berpikir mereka. Soal bersetujuan? Itu soal lain. Dan sebenarnya tidak susah juga memahami satu cara berpikir tanpa bersetuju dengan cara pikir tersebut. Memaklumi satu tindakan tidak sama dengan bersetuju untuk melakukan hal yang sama, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda pikir anda punya sesuatu yang lebih penuh, lebih dalam, lebih inspiratif, lebih hakiki dari yang dimiliki oleh tetangga atheis anda, kenapa tidak mencoba untuk mengkomunikasikannya sekarang tanpa beban stigma dan prasangka?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115550548331745354?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115550548331745354/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115550548331745354' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115550548331745354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115550548331745354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/08/memahami-atheisme.html' title='Memahami atheisme'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115479669751694776</id><published>2006-08-05T18:44:00.000+02:00</published><updated>2006-08-05T19:12:54.063+02:00</updated><title type='text'>Cengengesan</title><content type='html'>Malam tadi, saya iseng mendengarkan koleksi MP3 yang sudah lama nggak tersentuh sembari membaca buku Feynman, ilmuwan fisika yang sekaligus salah satu penulis favorit saya. Dalam “&lt;a href="http://www.yale.edu/yrb/fall98/review3.htm"&gt;The meaning of it all&lt;/a&gt;”, manuskrip yang dihantarkannya sebagai satu seri kuliah umum di salah satu universitas pantai barat, Feynman berceloteh tentang ketidakpastian. Uncertainty. Juga keragu-raguan. Doubt. Betapa pentingnya ketidakpastian dan keragu-raguan dalam merangsang manusia untuk terus jadi dinamis dalam menjelajahi fenomena 'natural', untuk ‘belajar’ sesuatu, untuk jadi lebih ‘bijak’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha kok di tengah-tengah baca celotehan ilmuwan yang konon kabarnya adalah satu-satunya pekerja sains di &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Project_Manhattan"&gt;proyek Manhattan&lt;/a&gt; yang berani menentang autoritas ilmiah Bohr ini, mampir di kuping saya lirik cengengesannya Shaden:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia belum berakhir&lt;br /&gt;Bila kau putuskan aku&lt;br /&gt;Wajahku juga nggak jelek-jelek amat&lt;br /&gt;Ada yang mau”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia belum berakhir&lt;br /&gt;Bila kau putuskan aku&lt;br /&gt;Paling-paling juga kalau kamu mentok&lt;br /&gt;Balik padaku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe... saya jadi ikutan cengengesan. Putus dan patah dan hancur hati memang bukan sesuatu yang ingin saya alami kembali. Tapi cengengesan di depan sesuatu yang terbayangkan secara kolektif sebagai pengalaman super mengerikan terasa sebagai sesuatu yang dibutuhkan oleh banyak orang belakangan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang berpikir bahwa cengengesan berarti tidak serius. Saya pikir kita bisa serius sambil tetap menjaga humor diri. Ini masalah sudut pandang. Kelegaan hati untuk menggeser tempat duduk dalam gedung teater besar bernama hidup memang sering mengijinkan diri untuk melihat hal-hal yang sebelumnya tertutupi, entah oleh ego atau emosi sendiri. Manusia tidak lahir dengan mengingat masa depan, kita mengingat apa yang sudah lewat. Apapun yang terjadi hari ini baru akan kita mengerti sungguh makna dan tempatnya ketika suatu saat di masa depan kita menengok ke belakang dan melihatnya dalam konteks yang lebih utuh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Merasa tidak pasti dan ragu-ragu dalam sains bisa jadi sumber ketidaknyamanan, sebagian karena para pekerja sains senang menipu diri dengan menyebut bidang mereka sebagai ilmu pasti. Namun ketidakpastian dan keragu-raguan lah yang mengantarkan ke meja kita sekarang aplikasi-aplikasi teknologi menyenangkan macam I-Pod dan lebih penting lagi: penemuan-penemuan tentang natur alam macam, well, fakta bahwa bumi bulat dan berperilaku sesuai serentet rumus matematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patah hati memang tidak nyaman hari ini. Entah apa yang akan keluar darinya besok-besok, jika kita menyediakan diri untuk tidak melulu bergumul dalam emosi dan ego sendiri. Jika kita bersedia untuk berlega hati cengengesan dengan anggunnya di hadapan cobaan ini. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada humor dalam setiap tragedi. Seperti halnya ada tragedi dalam tiap humor. Pada akhirnya, seperti dalam komik keren besutannya Alex Ross: &lt;a href="http://www.time.com/time/2005/100books/0,24459,watchmen,00.html"&gt;Watchmen&lt;/a&gt;, the comedian adalah ia yang memahami hidup dalam segala keabsurdannya, dan melalui pemahamanan itu, memilih untuk tertawa dan memperlakukan hidup seperti adanya: campuran antara drama, tragedi dan komedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lagu setelah Shaden, kompilasi MP3 saya menghantar lagu lain yang senada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What do you get when you fall in love?&lt;br /&gt;A guy with a pin to burst your bubble&lt;br /&gt;That's what you get for all your trouble;&lt;br /&gt;I'll never fall in love again,&lt;br /&gt;I'll never fall in love again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What do you get when you kiss a guy?&lt;br /&gt;You get enough germs to catch pneumonia&lt;br /&gt;After you do, he'll never phone ya;&lt;br /&gt;I'll never fall in love again;&lt;br /&gt;Dontcha know that I'll never fall in love again?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu lama bikinan Burt Bacharach dan Hal David, dilantunkan dengan centilnya oleh Dione Warwick. Aaahhh… saya menghempaskan badan (yang lembam ini) ke sofa, menutup buku yang tengah saya baca, foto Feynman bersender siku sambil sok tersenyum di kulitnya. Saya pun ikutan cengengesan bareng Shaden, Bacharach dan Feynman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: Apa? Saya sendiri? Putus? Belum kok. Santai saja. Akan ada waktu nya, mungkin. Tapi yang pasti bukan malam tadi. :) ::&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115479669751694776?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115479669751694776/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115479669751694776' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115479669751694776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115479669751694776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/08/cengengesan.html' title='Cengengesan'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115447281552873699</id><published>2006-08-02T00:52:00.000+02:00</published><updated>2006-08-02T00:53:36.526+02:00</updated><title type='text'>Keajaiban rutin</title><content type='html'>Buku ke dua dalam Taurat Musa mencatat, di tengah bulan kedua perjalanan hijrah Israel purba dari tanah Mesir suku ini mulai kehabisan bekal. Ternak dan tepung gandum yang dibawa dari Mesir mungkin mulai menipis. Sementara padang gurun yang mereka jejaki tidak menjanjikan sumber makanan untuk memenuhi kebutuhan seluruh suku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah situasi sedemikianlah Allah menurunkan manna di pintu tenda tiap keluarga, tiap pagi enam hari seminggu, dengan perintah eksplisit untuk mengumpulkan dua porsi sehari sebelum Sabat. Seperti layaknya biskuit terbikin dari madu, demikian salah satu terjemahan kitab Eksodus mendeskripsikan manna. 40 tahun lamanya, tiap pagi manna turun bersama embun. 40 tahun lamanya makanan tersedia bagi seluruh suku Israel tanpa harus menanam, tanpa perlu berburu. Ajaib? Mungkin di hari-hari pertama. Selanjutnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika yang ajaib jadi rutin, apa yang nampak di mata manusia? Tercelikankah manusia bahwa kehidupan bukanlah semata lingkaran absurd lahir-hidup-mati? Atau justru yang ajaib tadi tersulap jadi sesuatu yang ‘biasa’, dan karenanya tidak lagi ajaib?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku curiga. Bahwa manusia punya kemampuan luar biasa untuk membiasakan diri akan apapun juga. Rasa sakit, rasa bersalah, dosa, keajaiban. Benak seolah punya mekanisme tersendiri untuk membuat diri jadi kebal akan satu stimulan, asalkan stimulan itu dibiarkan untuk datang perlahan-lahan, ada waktu cukup untuk menebalkan kulit ari, menumpulkan nurani, membiasakan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga diri untuk berlega hati terkejut, jadi gumunan, untuk jadi sensitif akan apapun yang tengah terjadi di sekitar mungkin bukan nasihat yang terlalu jelek.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115447281552873699?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115447281552873699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115447281552873699' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115447281552873699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115447281552873699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/08/keajaiban-rutin.html' title='Keajaiban rutin'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115421936628161173</id><published>2006-07-30T02:29:00.000+02:00</published><updated>2006-07-30T02:32:12.363+02:00</updated><title type='text'>Kekerasan</title><content type='html'>Adakah perbedaan antara kekerasan yang kita praktikan kini dan yang dipraktikan oleh humanoid yang tinggal di gua-gua? Well, kalau pertanyaan ini terlampau metafisikal karena apapun jawabannya akan senantiasa menyertakan spekulasi tentang perikehidupan umat humanoid, bisa juga kita sempitkan rentang waktu antara dua subyek yang jadi bahan perbandingan: adakah perbedaan antara praktik kekerasan pra dan post pencerahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah manusia belajar sesuatu tentang kekerasan dari sekian ratus peradaban yang menjulang lalu tumbang? Adakah filsafat, agama, institusi etis dan moral lain benar-benar punya efek yang kasat indra soal cara kita memanajemeni kekerasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, buat manusia 'modern', kekerasan tetap ada dengan kanal keluar yang lebih terkendali. Emosi tidak lagi diterima oleh norma sebagai alasan pembenaran terjadinya kekerasan. Meski sampeyan marah, tapi ya nggak perlu lah sampek gedor-gedor pintu mobil orang. Apalagi ngaplok yang empunya kendaraan. Atau melempar belati berupa makian yang senantiasa siap di mulut sampeyan itu. Kita diajar bahwa kekerasan sebagai ekspresi emosi tidaklah 'sopan', tidaklah ksatria bahkan. Itu sebabnya mungkin, banyak dari kita menemukan diri gelisah kebingungan tatkala melihat Zidane menanduk dada Materazzi di final Piala dunia lalu. Bahkan setelah membaca duduk perkara insiden kecil yang jadi besar karena aktor dan situasinya itu, sebagian kita tetap susah membenarkan respon Zidane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan di masyarakat 'modern' biasanya butuh pembenaran logis untuk dilakukan. Pengadilan adalah salah satu institusi yang kita dirikan untuk memperdebatkan pembenaran akan dijalankannya satu kekerasan atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pembenaran serupa bisa diraba dari &lt;a href="http://www.opendemocracy.net/conflict/choice_3775.jsp"&gt;pernyataan&lt;/a&gt; menteri kehakiman Israel dalam mengomentari strategi bumi hangus yang rencananya akan digelar Israel di Lebanon: pemerintah Israel sudah memberi waktu cukup buat penduduk sipil di selatan Lebanon untuk mengungsi, sehingga semua yang tersisa di sana adalah anggota satuan teroris yang layak jadi sasaran kekerasan pasukan Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya apapun kekuatan etis dan moral yang mencoba untuk mengedepankan logika (dan bukan emosi) sebagai filter penyalur kekerasan oleh manusia melakukannya karena kepercayaan bahwa logika lebih bisa diandalkan daripada emosi. Saya pikir kita sedang membohongi diri sendiri dengan mempercayai bahwa logika bisa beroperasi independen dari emosi. Contoh kasusnya? "Logika" nggak mutu menteri kehakiman Israel di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya masih panjang jalan kita untuk belajar tentang kekerasan dan cara efektif mengendalikannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115421936628161173?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115421936628161173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115421936628161173' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115421936628161173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115421936628161173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/07/kekerasan.html' title='Kekerasan'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115368796034671766</id><published>2006-07-23T22:32:00.000+02:00</published><updated>2006-07-23T22:53:58.113+02:00</updated><title type='text'>Fungsi Kelangkaan</title><content type='html'>Pernah mengalami kebosanan yang cuma terjadi di akhir minggu? Saya pernah beberapa kali. Terakhir terjadi sabtu kemarin.&lt;br /&gt;Hari Senin minggu lalu saya nemu buku bagus karangannya Gabriel Garcia Marquez: Love in The Time of Cholera. Seperti halnya A Hundred Years of Solitude atau Living to Tell The Tale, dua buku besutan Marquez yang sempat mampir di ruang baca saya, Love in The Time of Cholera punya kualitas epik yang menakjubkan. Saya suka cara Marquez menulis. Lewat Marquez, detil kecil sesehari menemukan keajaibannya sendiri. Plot ceritanya kuat, dan caranya bercerita lirikal, magis.&lt;br /&gt;Selama seminggu saya mencuri-curi jeda di sela-sela analisa protein di lab untuk menikmati satu dua halaman buku itu. Waktu-waktu membaca di malam hari pun jadi semakin panjang saja. Dalam hati sudah terbersit: wiken datanglah. Biar puas hati ini berpesta di meja Marquez.&lt;br /&gt;Maka akhir minggu pun menjelang. Setelah kerja ringan di greenhouse yang tak sempat terselesaikan di selang minggu, saya pun melegakan suasana untuk membaca. Raisin oatmeal cookies kesukaan di meja, kopi panas mengepul. Kebetulan cuaca Alabama yang sudah dua bulan ini tak bersahabat hari itu berbelas kasih dengan menguar mendung, adem. Aaahhh... sedap kali, pikir saya.&lt;br /&gt;Tapi baru sehalaman selesai, benak saya kok tiba-tiba memilih jalannya sendiri untuk khawatir tentang ini dan itu. Tentang satu dua artikel yang belum selesai terbaca. Tentang kit analisa protein yang akan datang dari Skotlandia minggu depan. Tentang tiket perjalanan Nita ke Auburn yang masih harus dibeli.&lt;br /&gt;"Lha... gimana ini? Ini saatnya bersenang-senang!" Saya mencoba menobatkan benak sendiri yang membandel itu. Mencomot sepotong kue sembari menghirup kopi saya mencoba membaca lagi.&lt;br /&gt;Tapi apa mau dikata? Makna perlahan mengabur dari larik demi larik buku itu. Sampai ke titik di mana saya mesti membaca satu kalimat dua tiga kali untuk bisa meraba artinya. Dan sudah itupun saya masih kemudian bingung: apa hubungannya ama yang di atasnya yah? BUSET!&lt;br /&gt;Akhirnya saya memutuskan untuk menganggurkan buku itu di rak selama wiken. Dan memilih main ke rumah teman, ngrusuhi sambil ngajak main catur.&lt;br /&gt;Mungkin memang itulah manusia. Ketika sesuatu ada dalam keadaan langka, suplai nya sedikit, maka harganya pun mahal dan besar kemungkinan utilitasnya jadi melambung. Tapi benda yang sama, ketika ia ada dalam jumlah banyak, abundant, justru jadi membosankan, mundane, biasa. Harganya terbanting dan utilitas menikmatinya pun ikut merosot.&lt;br /&gt;Sekarang saya sedang menanti-nanti hari kerja. Di mana saya bisa mencuri-curi waktu membaca Marquez lagi, dan menemukannya sedap sesedap-sedapnya sedap.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115368796034671766?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115368796034671766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115368796034671766' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115368796034671766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115368796034671766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/07/fungsi-kelangkaan.html' title='Fungsi Kelangkaan'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115342168687138924</id><published>2006-07-20T20:51:00.000+02:00</published><updated>2006-07-20T21:07:19.556+02:00</updated><title type='text'>krisis</title><content type='html'>Menurut sampeyan, hidup sampeyan itu ada artinya atau nggak?&lt;br /&gt;Kalau sampeyan sarjana, apa yang sudah sampeyan lakukan dengan ilmu yang disertifikati oleh gelar sarjana sampeyan? Kalau sampeyan bisa nyetir mobil, apa yang sudah jadi lebih baik di dunia dengan bisanya sampeyan nyetir mobil? Kalau sampeyan bisa masak bolu kukus, apa sumbangsih mulia yang sudah sampeyan kontribusikan dengan bolu kukus itu?&lt;br /&gt;Sampeyan hidup buat apa? Ilmu, posisi sosial, orang lain, cinta, materi, Tuhan? Semuanya? Kemaruk! Tapi nggak apa-apa, ada kemungkinan cukup besar kok kalau kemaruknya kita itu by design. Buktinya lebih banyak orang kemaruk dari pada enggak. Di jalur pemikiran yang sama, ada kemungkinan yang sama besarnya kalau kita itu munafik by design. Nyatanya meski kemaruk kita jarang mau ngaku. Okelah, katakanlah manusia hidup untuk mencapai level keterpenuhan tertentu di semua front di atas, sudah itu terus apa? Apa hal baik yang benar-benar baik yang keluar dari sana?&lt;br /&gt;Orang barat suka melanggeng-langgengkan nama, ditempel ke nama institusi yang dibangun atas kemurah hatian yang empunya nama, atau tempat berkarya seorang pekerja cemerlang atau malah sekedar mencomot nama biar kecipratan gengsi. Makanya mereka jadi punya Marie Curie Institute, atau MIT Sloan school of management, atau hadiah Nobel dan Pulitzer. Semuanya berimage mentereng. Siapa peduli kalau si Pulitzer semasa hidupnya banyak dikenal sebagai pebisnis licin lagi licik? Pengabadian nama, adalah pemalsuan kenyataan, meski mungkin sebagian dilakukan tanpa kesengajaan. Tapi memang demikianlah memori bekerja bukan? Yang terekam adalah kesan cepat dan bukannya lipatan panjang sejarah yang serba berbelok. Makanya iklan yang cuma 3 menit tapi diulang-ulang biasanya lebih nempel di benak dari informasi dalam buku teks yang tebal dan belum tentu terbaca sepanjang masa hidup yang sayangnya cuma sekali ini.&lt;br /&gt;Kita mengingat Brutus sebagai si culas yang cuma berani menikam dari belakang dan Oedipus sebagai raja tragis yang akan selamanya menanggung dosa karena mempraktikan incest tanpa sengaja. Siapa peduli tentang bijaksananya Oedipus melakukan tugas kepemimpinannya tiap-tiap hari? &lt;br /&gt;Kalau sudah gitu, apa dong sebenernya arti hidupnya si Oedipus malang itu? Bahwa ia malang? That’s it?&lt;br /&gt;Saya ini sebenernya mau ngomong apa sih?&lt;br /&gt;Nggak tahu.&lt;br /&gt;Mungkin sampeyan tahu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115342168687138924?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115342168687138924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115342168687138924' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115342168687138924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115342168687138924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/07/krisis.html' title='krisis'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115332792613223725</id><published>2006-07-19T18:49:00.000+02:00</published><updated>2006-07-19T18:55:30.493+02:00</updated><title type='text'>I just don't get it</title><content type='html'>Saya sungguh sering skeptis melihat manusia (diri ini termasuk di dalamnya), terutama soal kapasitas manusia untuk tidak melulu berpikir tentang diri sendiri, atau puak sendiri, atau ras sendiri. Pada akhirnya, persaudaraan antar umat manusia adalah kejadian insidental dan bukannya norma. Terbikin jadi permanen hanya dalam lagu, cerita, imaji, bukan dalam hidup yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Ketika Israel dan Hisbullah bertukar peluru kendali, Amerika tak bosannya bermain-main jadi polisi dunia, petani kapas di India ramai-ramai bunuh diri karena harga kapas yang terus anjlok. Seorang pemimpin serikat petani di India &lt;a href="http://www.indiatogether.org/2006/jun/opi-cotton.htm"&gt;dikutip&lt;/a&gt; berkata &lt;br /&gt;“If I were given a chance, I would like to be born as a European cow, but certainly not as and Indian farmer, in my next birth. There, a cow gets a US $2 subsidy per day and enjoys all the comforts. And here, in India, a farmer is a debtor all his life, post his death, his son inherits his debts and has to borrow money for his funeral.”&lt;br /&gt;Perang itu mahal, literally: mahal. Dan sementara ada dari kita sesama manusia yang sedemikian papanya hingga iri melihat hidup sapi-sapi Eropa, begitu banyak dana justru digelontorkan ke kegiatan saling meniadakan.&lt;br /&gt;I just don’t get it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115332792613223725?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115332792613223725/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115332792613223725' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115332792613223725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115332792613223725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/07/i-just-dont-get-it.html' title='I just don&apos;t get it'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115164054188722043</id><published>2006-06-30T05:39:00.000+02:00</published><updated>2006-06-30T15:02:03.726+02:00</updated><title type='text'>Our insect populated minds...</title><content type='html'>'&lt;a href="http://www.amazon.com/gp/product/0761831754/sr=8-1/qid=1151640036/ref=sr_1_1/103-4354746-8144643?ie=UTF8"&gt;Insect populated minds&lt;/a&gt;' itu judul buku bagus terbitan tahun lalu tentang betapa berpengaruhnya serangga bagi evolusi kesadaran umat manusia. Tesis yang diusungnya saya kira sahih. Serangga, seperti halnya begitu banyaknya hal lain yang disuguhkan alam, punya sejarah roman panjang dengan benak anak manusia. Shakespeare, Tagore, Thoreau menimba sesuatu dari serangga. "The butterfly counts not months but moments, and has time enough", tulis Tagore.&lt;br /&gt;Juga di ranah ekonomi manusia banyak berhutang pada serangga. Dari sutera alami, madu, wax, you name it. Pun para teknolog tak ketinggalan terinspirasi oleh serangga. Sensor panas generasi terbaru, tuan dan puan sekalian, adalah hasil pengamatan hidup kumbang &lt;em&gt;Melanophila acuminata&lt;/em&gt; yang teramat unik: ketika kebakaran hutan mengusir pergi satwa rimba, &lt;em&gt;Melanophila acuminata&lt;/em&gt; justru bergerombol datang ke sumber api. Jantan dan betina kumbang ini kawin mawin di hantaran hutan yang tengah terbakar, seolah tengah menikmati setting romantis rumah kayu yang dihangatkan perapian (ah, betapa antroposentrisnya saya). Belakangan, betina Melanophila meletakkan telurnya di batang kayu yang hangus terbakar. Spekulasi ilmiah yang sampai sekarang diterima menjelaskan bahwa telur yang diletakkan di setting sedemikian akan punya kesempatan bertahan hidup lebih besar lantaran musuh2 alaminya sudah pada kabur diusir api. Biosensor macam ini banyak bertaburan di dunia serangga. Terpikirkah oleh saudara bagaimana nyamuk senantiasa berhasil menemukan anda? Bau darah? Enggak juga. Konon kabarnya, adalah suhu tubuh anda yang hampir selalu lebih hangat dari temperatur udara di sekelilingnya yang memandu nyamuk-nyamuk kecil lucu itu. Ah, saya melantur ke mana-mana.&lt;br /&gt;Yang pasti, tesis bahwa serangga adalah salah satu sumber inspirasi utama manusia -setidaknya buat saya- bukanlah pepesan kosong semata.&lt;br /&gt;Mungkin karena itu, ketika mbak Lenje &lt;a href="http://laluwaktu.blogspot.com/2006/06/entomologi-dan-piala-dunia.html#comments"&gt;berkomentar&lt;/a&gt; tentang betapa Vivid Interactive nya kelakuan marienkaeffer alias kepik-kepik berbendera Jerman-Argentina di posting di bawah, saya justru terpikir: betapa terinspirasinya Vivid interactive (dan sekali lagi sadara-saudari: humanity at large) oleh perilaku kepik (well, atau dalam hal ini: mamalia lain)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:Buku bagus lain tentang serangga dan sejarah manusia: &lt;a href="http://www.amazon.com/gp/product/0201408244/qid=1151640150/sr=2-1/ref=pd_bbs_b_2_1/103-4354746-8144643?s=books&amp;v=glance&amp;n=283155"&gt;Bugs in the System&lt;/a&gt;, tulisan May Berenbaum, profesor entomologi Uni Maryland yang kolomnya di American Entomologist senantiasa hilarious abis!:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115164054188722043?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115164054188722043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115164054188722043' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115164054188722043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115164054188722043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/06/our-insect-populated-minds.html' title='Our insect populated minds...'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115160675149887135</id><published>2006-06-29T20:43:00.000+02:00</published><updated>2006-06-29T20:49:42.086+02:00</updated><title type='text'>Entomologi dan piala dunia</title><content type='html'>Yang satu ini isengan seorang teman yang masih dari Jerman juga. Entomolog nya Max Planck Institute, Universitas Jenna. Seorang penggemar serangga yang juga kecanduan bola. Samalah seperti saya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/footballbeetles2_small.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" length=450 width=380&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crossing my fingers for Germany!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115160675149887135?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115160675149887135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115160675149887135' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115160675149887135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115160675149887135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/06/entomologi-dan-piala-dunia.html' title='Entomologi dan piala dunia'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115144489683338509</id><published>2006-06-27T23:47:00.000+02:00</published><updated>2006-06-27T23:48:30.536+02:00</updated><title type='text'>Inside the room of your soul</title><content type='html'>&lt;table width=350 align=center border=0 cellspacing=0 cellpadding=2&gt;&lt;tr&gt;&lt;td bgcolor="#EECDB5" align=center&gt;&lt;font face="Georgia, Times New Roman, Times, serif" style='color:black; font-size: 14pt;'&gt;&lt;b&gt;What Your Soul Really Looks Like&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td bgcolor="#F1DED0"&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://images.blogthings.com/insidetheroomofyoursoulquiz/room.jpg" height="100" width="100"&gt;&lt;/center&gt;&lt;font color="#000000"&gt;&lt;br /&gt;You are a warm hearted and open minded person. It's easy for you to forgive and forget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You are a grounded person, but you also leave room for imagination and dreams. You feet may be on the ground, but you're head is in the clouds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You see yourself with pretty objective eyes. How you view yourself is almost exactly how other people view you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your near future is all about change, but in very small steps. The end of the journey looks far, but it's much closer than you realize.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For you, love is all about caring and comfort. You couldn't fall in love with someone you didn't trust.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.blogthings.com/insidetheroomofyoursoulquiz/"&gt;Inside the Room of Your Soul&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;huahahahaha.. kedengaran kaya tulisan yang tersembunyi di kue keberuntungannya rumah makan cina yah? Dasar GUOMBALL!! mau aja digombalin.. seneng bahkan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115144489683338509?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115144489683338509/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115144489683338509' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115144489683338509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115144489683338509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/06/inside-room-of-your-soul.html' title='Inside the room of your soul'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115119787146881457</id><published>2006-06-25T02:58:00.000+02:00</published><updated>2006-06-26T15:11:13.636+02:00</updated><title type='text'>Terimakasih Swedia!</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Jermanmenangperdelapanfinal1.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" length=450 width=300&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;Dry humour dan keserba tertataan kerja adalah dua hal yang saya akan selalu asosiasikan dengan Jerman dan orang Jerman. Foto-foto yang diambil &lt;a href="http://uban_si_nyit.blogs.friendster.com/"&gt;Nita&lt;/a&gt; dari Hannover ini bicara tentang keduanya. Lihat kaos hitam yang dipakai si mas wangsa Aria ini, "Danke Schweden! Auch Gaeste mussen mal gehen", "Matur Nuwun Swedia! Bukannya mau nggak sopan ama tamu, tapi bahkan sampeyan pun mesti pergi." Demikian kira-kira terjemahannya. Dry humour? Qualified!&lt;br /&gt;Keserba tertataan kerja? Well, lihat waktu yang ditunjukkan jam di latar belakang foto di bawah! Jam 7.45 malam waktu Hannover, cuma 45 menit setelah peluit tanda usainya pertandingan Jerman vs Swedia ditiup. Dan dalam 45 menit itu (atau kurang? Mungkin bisa dengan sedosis iman dan untung2an, pasalnya di bagian belakang kaos ini tertulis juga skor akhir pertandingan: 2-0!) si mas dengan sigap (dan niat) nya merampungkan rancangan kaosnya, mencetak dan memakai T-shirt itu ke jalan.&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/perdelapanfinal.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" align=center length=350 width=300&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bravo Deutschland!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115119787146881457?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115119787146881457/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115119787146881457' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115119787146881457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115119787146881457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/06/terimakasih-swedia.html' title='Terimakasih Swedia!'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-115033920573991627</id><published>2006-06-15T04:18:00.000+02:00</published><updated>2006-06-15T04:43:06.506+02:00</updated><title type='text'>Maverick!</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/DNowitzki.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" align=right hspace=10 width=250 length=280&gt;&lt;/a&gt;Ketika 'barat' masih berpredikat 'liar', dan sapi jadi tambang uang buat para peternak di barat Amerika, tato di pantat sapi-sapi adalah simbol kepemilikan ternak yang diterakan oleh pemilik ranch. Konon, beternak sapi masih sangatlah mudahnya. Rumput bluegrass yang tahan temperatur rendah, sehingga terus tumbuh di musim dingin, cukup punya nutrisi untuk menyuplai sapi-sapi itu jadi tetap gemuk meski tidak dicarikan makanan khusus. Sebab itu lah, berternak sapi jaman cowboy tidaklah identik dengan kandang atau struktur tersendiri di mana sapi dikumpulkan. Satu "ranch" bisa berupa lahan terbuka ratusan hektar di mana sapi2 dibiarkan lepas sendiri-sendiri, dan baru tiap tahun sekali dikumpulkan untuk upacara 'stempel' pemilik. Sapi lama jelas sudah berstempel, sapi2 muda yang baru lahir tahun itu lah yang mesti distempel baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara kumpul sapi ini penting karena luasnya ranch dan hablurnya batasan antar ranch. Sapi, sayang seribu sayang, memang tidak pernah peduli batasan politis. Mereka dengan seenak perutnya bertualang dari home ranch nya ke tanah tetangga. Atas nama kesepakatan antar pemilik, sapi berstempel ranch A yang ditemukan di ranch B mesti dikembalikan pada pemiliknya, beserta anak2nya yang masih tanpa stempel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setting macam inilah Samuel Maverick, peternak asal Texas menolak untuk menato sapi2 miliknya. Alasannya tak jelas. Orang bilang, Maverick licik. Dengan menolak meletakkan tanda ranch di sapi-sapinya, tiap sapi tanpa tanda yang kebetulan kesasar ke tanah nya jadi dengan mudah diklaim jadi milik pribadi. Entahlah..&lt;br /&gt;Yang pasti, nama Maverick kemudian diadaptasi jadi eponim buat mereka yang berenang melawan arus, berani jadi berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirk Nowitzki, forward Dallas Maverick yang juga kapten tim ini adalah maverick sejati. Ketika negerinya bergempita oleh Piala Dunia sepak bola, pemain basket asal Jerman ini malah sedang berjuang buat sesuatu yang lain: NBA title. Nowitzki, kabarnya memang berasal dari keluarga atlet, meski nggak ada yang atlet bola. Bapaknya pemain bola tangan, yang memang merupakan satu olahraga yang lumayan populer di Jerman. Ibunya atlet basket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka gaya mainnya Nowitzki, jago di 3 points dan nggak egois soal distribusi bola. Sayang di game 3 kemarin, free throw terakhirnya nggak masuk, dan bikin Miami jadi bisa bernafas sedikit lega.&lt;br /&gt;Tapi malam besok ceritanya bisa berbeda. Demi semua mereka yang berenang mengadu arus, biarlah Maverick berjaya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-115033920573991627?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/115033920573991627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=115033920573991627' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115033920573991627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/115033920573991627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/06/maverick.html' title='Maverick!'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114995531579268697</id><published>2006-06-10T18:01:00.000+02:00</published><updated>2006-06-10T18:03:26.523+02:00</updated><title type='text'>Gus Dur, Sindhunata dan Taufiq Ismail</title><content type='html'>Kemarin saya nonton pertandingan antara Jerman dan Costa Rica via ESPN. Lucu juga mendengar komentator bola yang sekali sekala mesti menerangkan peraturan dasar sepak bola, macam "setiap tim diperbolehkan mengganti pemainnya tiga kali" Atawa "pemain yang dua kali mendapat kartu kuning langsung didepak dari pertandingan." Yah, apa mau dikata, semuanya jadi pengingat bahwa saya sedang nonton piala dunia di negaranya orang yang nggak suka nonton sepak bola...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pagi tadi, saya memutuskan untuk nonton Inggris versus Paraguay di Universidad, kanal berbahasa Spanyol. Iya, saya cuma iseng kepengen denger teriakan goooooooooooooooooooooooool nya sang komentator nan 'extravaganza' itu. Dan benar juga, ketika tendangan bebas Beckham membal di kepala Carlos Gamarra, menyebabkan kiper Paraguay jadi salah tingkah dan bola menyuruk masuk mencium jala, teriakan gol dengan 'o' super panjang itu pun terlantunkan dengan 'gusto'nya. Sedap betul. Sayang cuma kedengaran sekali sepanjang pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai pertandingan, saya termangu di depan pesawat televisi sambil berandai-andai. Kalau untuk konteks Indonesia, apa ya yang kepengen saya lihat menemani pertandingan sepak bolanya sendiri. Tak butuh waktu lama. Sepertinya saya tahu apa yang saya kepengen lihat di layar kaca: Gus Dur, Romo Sindhunata dan Taufiq Ismail (mereka semua suka bola lho!) ngobrol bareng, gayeng dan (kalau bisa) melebar, mengomentari satu pertandingan. Hmmm.. sepertinya menyenangkan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114995531579268697?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114995531579268697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114995531579268697' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114995531579268697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114995531579268697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/06/gus-dur-sindhunata-dan-taufiq-ismail.html' title='Gus Dur, Sindhunata dan Taufiq Ismail'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114986209196495166</id><published>2006-06-09T16:01:00.000+02:00</published><updated>2006-06-09T16:10:34.956+02:00</updated><title type='text'>fussballweltmeister = fernseher</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/worldcup.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" hspace=10 length=450 width=200 align=left&gt;&lt;/a&gt;Baru tiga minggu lalu dalam perjalanan pulang dari Gainesville, ketika profesor saya berkomentar tentang betapa mubazirnya TV di rumahnya saking jarang disetel, saya menimpali mentor yang sudah jadi seperti teman sendiri itu, “Iya, saya juga jarang nonton TV kok. TV aja nggak punya...”. &lt;br /&gt;Itu tiga minggu lalu.&lt;br /&gt;Dan seperti biasa, omong besar memang selalu bikin seseorang mesti menjilat ludah sendiri. Saya pasti alpa waktu itu, bahwa piala dunia mulai minggu ini.&lt;br /&gt;Pada dasarnya saya memang bukan seseorang yang suka punya TV. Bukan karena saya nggak suka berlama-lama terduduk di depan kotak ajaib bergambar hidup itu. Sebaliknya, karena saya terlalu suka mengumbar waktu di depannya. Saya betah kok ngendon di depan TV nonton semua season serial ‘Friends’ seharian penuh. Untuk kemudian duduk di sofa yang sama buat nonton ‘special features’ nya DVD-DVD itu di hari berikutnya. Tapi ya, justru itu, setelah orgi nonton TV semacam itu saya biasanya jadi muak pada diri sendiri. Merasa bersalah. Melakukan sesuatu berlebihan memang resep manjur untuk menyulap apapun yang tadinya mengasyikkan jadi tidak menyenangkan. Dan karena itu lah saya (hampir) selalu menolak akses mudah ke TV.&lt;br /&gt;Bagi saya, hidup nir TV sama sekali nggak bikin hidup nggak lebih hidup. Berita saya bisa ikuti dari internet dan koran. Dan buat saya toh membaca punya nilai hiburan yang sedikitnya sama dengan nonton TV. So saya tidak pernah punya masalah untuk menghindar dari TV.&lt;br /&gt;Sampai piala dunia mulai, tiap 4 tahun sekali.&lt;br /&gt;Dulu di Bogor, tahun 2002, saya akhirnya mengalah pada diri sendiri (untuk akhirnya membeli TV) juga karena piala dunia yang digelar di Jepang &amp; Korea. Lha kok sekali lagi di Auburn, saya mesti mengaku kalah pada diri sendiri karena alasan yang sama...&lt;br /&gt;Sebenarnya nggak bedalah ama bonek yang berbondo nekad melintas Jawa untuk menonton tim kesayangannya bermain live. Ada kompromi di sana. Kompromi dari kewajiban keseharian dan kenyamanan bepergian. Sebagaimana saya berkompromi dari kebiasaan untuk menjauhkan diri dari TV.&lt;br /&gt;Demi apa ya?&lt;br /&gt;Mungkin buat saya, juga buat para suporter yang berbekal hasrat itu, sepak bola mewakili satu kebutuhan yang lebih urgen dari pada sekedar hiburan. Kebutuhan untuk mengidentifikasi diri sebagai bagian dari himpunan yang lebih besar mungkin? Atau kebutuhan untuk mengapresiasi seni, seluas mungkin seni itu didefinisikan? Atau memang sekedar hiburan, siapa bilang hiburan tidak penting? Toh Kaisar Agustus  dari Romawi pun bilang: roti dan permainan (bread and circuses) adalah kunci ke hati masyarakatnya.&lt;br /&gt;Ada satu kebutuhan, yang sangat mungkin berbeda-beda, pada diri banyak manusia, yang terpenuhi oleh sepak bola. Baik nonton maupun main. Dan demi memenuhi kebutuhan yang saya tak yakin apa itu lah ada TV baru di kamar saya... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Viva weltmesiter!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114986209196495166?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114986209196495166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114986209196495166' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114986209196495166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114986209196495166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/06/fussballweltmeister-fernseher.html' title='fussballweltmeister = fernseher'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114935238091445450</id><published>2006-06-03T18:23:00.000+02:00</published><updated>2006-06-03T18:38:37.376+02:00</updated><title type='text'>Cinta, di sini dan di sana</title><content type='html'>Aahhh.. weekend! Akhirnya datang juga waktu untuk meluruskan kaki di sofa pagi-pagi, berteman kopi panas dan senandung burung kecil. Air yang terkumpul di bubungan atap apartemen dari rintik malam tadi masih menetes, pelan dan sabar. Seekor kucing berbulu abu melongok di pintu apartemenku yang memang sengaja dibuka lebar-lebar, mengundang udara sabtu pagi.&lt;br /&gt;National Geographic edisi Juni yang sudah sejak Rabu pagi, ketika ia dipungut dari mailbox, cuma dianggurkan begitu saja di meja kerja, hari ini jadi ditilik ditimang-timang. Ah, ada surat pembaca menarik mengomentari edisi Februari: Love: The chemical reaction.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selecting one’s mate with love alone is the idea that has been sold to the American public by the movie industry. In traditional societies, such as those in China and India, mates are selected to achieve three objectives: One is to produce high-quality offspring, the second is to help run the family bsiness, and the third is to guarantee the survival of the clan through extended families. Love between the individuals is a relatively trivial thing that can be worked out later.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinghui V. Liu&lt;br /&gt;Boca Raton, Florida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow, ‘bibit, bebet, bobot’ di lembar ‘letters’ nya National Geographic. Kebetulankah? Mungkin tidak. Meski untuk kemudian menyamakannya sebagai satu produk masyarakat tradisional mungkin agak kebablasan. Apa tah ‘tradisional’ itu sebenarnya? Seperangkat nilai yang datang sebelum nilai yang sekarang dominan? Lalu bagaimana dengan perangkat nilai yang berlaku sebelum ‘yang tradisional’ ada? History repeats itself, kata orang. Saya pikir hal yang sama terjadi juga pada norma. Norms repeat themselves. Manusia tak lain dan tak bukan adalah superorganisme pembosan yang senantiasa mengolak-alik cara berpikirnya dari satu ke yang lain lalu balik ke yang satu itu lagi.&lt;br /&gt;Lalu apakah ‘progress’? ‘Progress’ di ranah etika dan norma hidup keseharian, tuan-puan sekalian, tak lah lebih dari sekedar ilusi yang kita munculkan dalam benak masing-masing untuk menarasikan perubahan: bahwa semua berubah menuju ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat akhir pekan buat semua. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/love1.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"width=350 length=430&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;::foto dari halaman web majalah national geographic edisi Februari 2006::&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114935238091445450?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114935238091445450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114935238091445450' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114935238091445450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114935238091445450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/06/cinta-di-sini-dan-di-sana.html' title='Cinta, di sini dan di sana'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114894152432741755</id><published>2006-05-30T00:00:00.000+02:00</published><updated>2006-05-30T00:26:05.400+02:00</updated><title type='text'>Aku nonton, aku berkomentar, aku bebas</title><content type='html'>Sampeyan kenal Pythagoras kan? Iya iya.. yang suka main2 panjang sisi2 segitiga itu lho.. Hidup di abad VI Sebelum Kristus di selatan Itali, Pythagoras bukan hanya seorang matematikawan. Sebagaimana semua guru di jamannya, Pythagoras adalah filsuf dan mistik sekaligus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu teori etik filsafat Pythagoras, sebagaimana dikutip MW Strickberger dalam bukunya "&lt;a href="http://www.amazon.com/gp/product/0763710660/ref=olp_product_details/103-9791547-7311038?%5Fencoding=UTF8&amp;v=glance&amp;n=283155"&gt;Evolution&lt;/a&gt;" bicara tentang posisi penonton dalam satu sistem masyarakat:&lt;br /&gt;"Dalam hidup ini ada tiga macam manusia yang datang ke pertandingan olimpiade: yang paling hina adalah mereka yang datang ke pertandingan untuk berjualan. Jenis yang lebih baik adalah mereka yang datang ke pertandingan untuk ikut bertanding. Sementara jenis yang terbaik adalah mereka yang datang hanya untuk menonton. Kebebasan tertinggi bagi manusia datang ketika ia mampu dengan dingin menonton dan menganalisa satu proses. Mereka yang mampu melakukannya niscaya terbebas dari beban sirkularitas hidup nan membosankan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha! Betapa berbedanya dengan definisi kita akan posisi tiap aktor dalam masyarakat. Di tengah dunia yang getol mencela komentator, mengagungkan atlet dan memuji mereka yang ligat melihat kesempatan bisnis, Pythagoras jadi terdengar canggung dan naif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan mendengar komentar komentator? Ah itu kan masalah sampeyan sendiri. Barangkali sampeyan merasa terbeban untuk mendengar komentar orang karena tiap kali berkomentar sampeyanpun ingin didengar? Komentator nya Pythagoras tidak peduli pendapat orang. Ia berkomentar demi dan bagi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi piala dunia dimulai. Biarlah gegap bergempita sekalian komentator. Nggak perlu minta didengar, buka mulut dan terbebaslah 'dari beban sirkularitas hidup nan membosankan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114894152432741755?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114894152432741755/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114894152432741755' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114894152432741755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114894152432741755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/05/aku-nonton-aku-berkomentar-aku-bebas.html' title='Aku nonton, aku berkomentar, aku bebas'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114869224165728898</id><published>2006-05-27T03:07:00.000+02:00</published><updated>2006-05-27T03:13:33.610+02:00</updated><title type='text'>Aphids, Ting ting jahe dan Indonesia</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/bungkuspermen.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" width=200 length=150&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu saya ada di Gainesville, Florida. Karena proyek penelitian saya yang mengharuskan diri untuk tahu sedikit banyak tentang keragaman fauna kecil mungil dari famili aphididae, saya jadi jalan-jalan ke kota yang juga rumah University of Florida itu. Konon hanya ada empat orang ahli taksonomi aphids di Amerika. Salah satunya, Dr. Susan Halbert bekerja di Florida State Departement of Plant Industry di Gainesville sebagai spesialis hemiptera dan kurator museum serangga Florida. Kepadanya lah saya berguru selama seminggu. Suhu saya ini orangnya menarik. Belum pernah sebelumnya saya melihat seseorang yang begitu antusias memerikan detil kecil masing-masing spesies dari famili serangga yang dengan perbesaran 40 kali lipat pun masih susah dipahami morfologinya ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika tahu saya datang dari Jawa, Dr. Halbert jadi tambah animated lagi. “Oh, Java!” pekiknya. Ia pun bergegas ke salah satu rak bukunya, kutat katit sebentar lalu mencabut salah satu buku dari deretan diktat. Judulnya “Hormaphidinae from Java.” Terbitan museum Naturalis di Belanda. “You have cool aphids in Java”, Susan (demikian ia berkeras agar saya memanggilnya) menambahkan seraya membuka-buka lembaran buku tadi. “See? Bizzare, cool!” sambil nyengir diperlihatkannya pada saya beberapa gambar slide aphids yang emang bener2 ajaib. Bertanduk-tanduk, di kepala, di punggung, di perut macam serangga dari neraka. Wah, wah.. kalah sudah binatang-binatang aneh di sampul komik-komik fantasi yang dulu sering saya lihat di etalase gerai komik di bahnhoff Hannover. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’d like to collect aphids in Java. You, you will have to go home and settle there. Then I’ll have somebody to accompany me collecting aphids there!” Ah, ah seorang pecinta serangga sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali dalam minggu lalu, kami keluar makan bersama asistennya, David. Seusai makan siang, David mengulurkan tangannya dan meletakkan beberapa bungkus permen di tengah meja... “Sweets, anybody?” lalu menambahkan sembari tersenyum ke arah saya “You may recognized these.” Penasaran, saya pun mengambil satu (well, saya toh memang sudah setengah membungkuk ke tengah meja) Buset.. ting ting jahe! Rupa-rupanya istri David berasal dari Hong Kong, dan salah seorang kemenakannya baru datang dari sana berbuah tangan ting ting jahe bikinan PT Sindu Amritha Pasuruan-Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Belanda yang bercerita tentang aphid van Java ke seluruh dunia, ting ting jahe yang sampai di Florida via Hong Kong. Pada akhirnya, jejaring modal dan informasi lah yang senantiasa mendekatkan saya pada Indonesia. Indonesia yang adalah sekumpulan imaji, namun tak kalah nyata dibanding wujud tanah atau air di atas mana satuan geografis bernama Indonesia dicoba dirikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114869224165728898?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114869224165728898/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114869224165728898' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114869224165728898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114869224165728898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/05/aphids-ting-ting-jahe-dan-indonesia.html' title='Aphids, Ting ting jahe dan Indonesia'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114860820476693559</id><published>2006-05-26T03:45:00.000+02:00</published><updated>2006-05-26T03:53:42.663+02:00</updated><title type='text'>Ah ya..</title><content type='html'>Ah ya..&lt;br /&gt;Apa yang aku sedang lakukan di sini? Dengan sebegitu banyak mimpi bergantung bak setundun wortel di ujung tongkat yang terjulur dari punggungku. Dan aku, dengan bodohnya berlari-lari mengejar setundun wortel..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kierkegaard, kalau tidak salah, yang bilang bahwa tugas manusia adalah mengakali dangkalnya kekinian. Hijrah menuju keluasan semesta. Untuk kemudian pulang membawa sepotong visi, untuk menghadapi musuh utama kemanusiaan itu: hidup dan kekinian.&lt;br /&gt;Bahkan Nietzsche pun mengartikulasikan manusia super nya sebagai orang biasa yang tahu dan setia pada arti kemanusiaannya bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri? Aku seorang skeptis. Terkadang jadi skeptis adalah strategi baik untuk mentertawakan absurditas sekeliling. Jadi skeptis mengijinkan seseorang untuk mengadopsi optimisme dengan resiko terluka sekecil mungkin. Pada akhirnya, skeptisisme toh bisa dilihat sebagai sebentuk kepengecutan. Karena seorang skeptik senantiasa berani bertanya, tanpa pernah berani melempar jawab final. Jawaban final adalah tabu bagi seorang skeptik. Namun justru di sanalah ia jadi seorang pengecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya,&lt;br /&gt;Apa yang sedang aku lakukan di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/windows.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" width=400 length=550&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114860820476693559?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114860820476693559/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114860820476693559' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114860820476693559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114860820476693559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/05/ah-ya.html' title='Ah ya..'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114747312257498383</id><published>2006-05-13T00:31:00.000+02:00</published><updated>2006-05-13T02:33:44.273+02:00</updated><title type='text'>Imperfect partners</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Photobucket - Video and Image Hosting" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Decker-Storm-in-love.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;p&gt;A quest of Mr. or Miss Perfect, marvelous adventurous journey that many of us (if not all of us at some point or another) have eagerly launched ourselves into, oh how often has it been spun into songs and stories. So very often. I sometimes wonder if we are trying to send a message to each other by doing so. May be that’s what's happening: we stubbornly encourage each other to continue doing a thing that deep inside us, we know is futile, even absurd.&lt;br /&gt;Some of us will jump on my neck saying “it is not Mr. Perfect I’m looking for. It is Mr. Right.” Such a heart-touching attempt to bring a dimension of relativity to the whole concept of perfection. Being ‘perfect’ for one does not mean ‘perfect’ for others. But then again, it is nothing but cosmetics of words. The underlying desire is still there to find somebody who is perfect, if not by the world’s standard, at least by our singular ones.&lt;br /&gt;I'm trying no to be too Freudian, but saying that this desire might have sprung from our longing to be perfected certainly has a tingle of truth to me. We are well aware that we are not perfect. All of us are just less-then-perfect bodies, walking around under the sun. But we want to be made perfect. We want somebody to come to our ball game and played the part that we couldn’t play well. We want a partner that will cover our backs. Or else, being around somebody who’s perfect and all understanding will make us feel that we are better than what we think we are. Basking in the ever flowing spring of our partner’s encouragement and approval, we think that we are in love.&lt;br /&gt;How wrong.&lt;br /&gt;As I pointed out before, all of us fall short in some (if not all) aspects of the game. Granted some of us are more patient than the others; it doesn’t mean that human patience is limitless. Yet some might be wiser than the rest, and even the wisest can be fooled by their own wisdom. A quest for a perfect partner, somebody who’ll stay cool, wise, understanding and accepting for the whole time we spent with them is indeed a folly.&lt;br /&gt;Instead, we are ‘doomed’ to walk our life with imperfect partners. People that will annoy us big time with their insensitivity, ego, and stubbornness. People that just won’t understand us. And it may even happen one morning after another. In contrary to our dream of being soothe out of our imperfection, to cope up with this reality we are often asked to play the side that is showing understanding, approval, being wise by knowing when to say what.&lt;br /&gt;But may be, just may be, is it not this exercise of understanding from OUR side instead of our partner’s that is actually called love? I honestly (well, maybe foolishly too, I admit) believe that the moment when we can do all these, and still feel a sheer joy welling up within us, is THE moment we find love. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114747312257498383?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114747312257498383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114747312257498383' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114747312257498383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114747312257498383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/05/imperfect-partners.html' title='Imperfect partners'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114693349729907490</id><published>2006-05-06T18:29:00.000+02:00</published><updated>2006-05-06T18:45:08.946+02:00</updated><title type='text'>Boe</title><content type='html'>Pada mulanya adalah keinginan untuk bermain-main dengan batasan. Ada kalanya saya menulis hal-hal tidak lumrah yang entah gimana mengalir begitu saja lewat jemari ini. Dalam benak saya yang serba ruwet, punya pseudonim adalah cara jitu untuk terus menulis hal semacam, tanpa dengan naif menyerahkan diri ke brutalitas sidang pembaca (what a sophisticated way to disclaim responsibility!). Tapi apa daya, karena narsisme sudah jadi semacam bagian diri, bahkan pseudonim pun harus yang sugestif: sugestif mengarah ke oknum yang benar. Inkonsisten, tapi itu toh sejalur dengan keseluruhan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menempellah (boe) pada sedikit artikel saya yang sempat lolos di terbitan mahasiswa IPB (yang editornya kalau bukan teman sendiri, ya saya sendiri ... hehehe.. piss!!). Segelintir teman mulai memanggil saya dengan Boe. Saya sendiri nggak pernah memperkenalkan diri dengan nama itu. Tapi di sini, ketika lidah barat yang susah muntir itu kesulitan menyebut nama asli saya, Boe pun jadi solusi praktis.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://cyborg.namedecoder.com"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://cyborg.namedecoder.com/webimages/chi2-BOE.png" width="240" height="180" alt="Being Optimized for Exploration"border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114693349729907490?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114693349729907490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114693349729907490' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114693349729907490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114693349729907490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/05/boe.html' title='Boe'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114675495216761060</id><published>2006-05-04T16:44:00.000+02:00</published><updated>2006-05-04T17:06:59.280+02:00</updated><title type='text'>Moussaoui</title><content type='html'>Hari ini, pengadilan federal manjatuhkan hukuman seumur hidup bagi Zacarias Moussaoui, satu-satunya terpidana yang dimejahijaukan untuk kegiatan terorisme September 11. Selama 4 tahun, jaksa federal mencoba untuk menjeratnya dengan hukuman mati. Namun dewan juri memutuskan bahwa Moussaoui hanyalah aktor pinggiran dalam drama pembajakan tersebut, sehingga palu hukuman mati pun tidak diketok. &lt;a href="http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2006/05/04/AR2006050400715.html"&gt;Washington Post&lt;/a&gt; melukiskan ekspresi gundah Moussaoui ketika putusan dibacakan, lalu menambahkan komentarnya "America you lost, I won..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba memahami keadaan psikologis semua pihak di ring keadilan ini. Jaksa federal seolah jadi penjelmaan banyak warga NY dan sekitarnya yang kehilangan orang yang mereka kasihi dalam insiden September 11. Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Prinsip keadilan primer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, pengadilan federal sendiri mencoba untuk menjadi wasit yang sadar akan kemungkinan manusia untuk jadi mata gelap dan mau menang sendiri. Kehilangan begitu banyak orang yang disayangi, dan menyaksikan kebrutalan terhadap manusia lain, sungguh cukup untuk menyalakan ego dalam diri siapapun juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Moussaoui dalam komentarnya, terdengar sebagai satu bagian dari kemanusiaan yang sering kali ada pada saya dan anda: yang keras kepala, punya kebanggaan dan kehormatannya sendiri, dan menjaganya dengan segenap hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, saya tetap merasa ada yang ironis dari komentar Moussaoui. Karena yang nampak pada saya (yang tentu saja cuma melihat semuanya dari jauh, dan punya kesempitan sudut pandang sendiri) dari keseluruhan drama ini adalah kemenangan sisa imaji Allah pada diri manusia. Bahwa kesedihan dan duka serba dalam tidak harus kemudian berarti kalap menghukum siapapun juga yang kelihatan tersangkut tangan. Saya tak yakin jika Moussaoui diadili di kultur lain, dengan kasus serupa, ia akan menikmati putusan yang sama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114675495216761060?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114675495216761060/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114675495216761060' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114675495216761060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114675495216761060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/05/moussaoui.html' title='Moussaoui'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114652225640091140</id><published>2006-05-02T00:24:00.000+02:00</published><updated>2006-05-04T17:07:46.213+02:00</updated><title type='text'>Pram</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img style="WIDTH: 190px; HEIGHT: 230px" height="244" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" hspace="8" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/pram.jpg" width="170" align="left" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pram sudah tiada. Saya tahu, selayaknya saya memanggilnya Pak Pram, karena rentang usia yang sedemikian jauhnya. Tapi mungkin itulah sisi kuat Pram. Ketika ia menentangkan tinju ke muka penindasan, lewat prosa-prosanya, ia mengikis jenjang jurang di antara kami. Sangat besar kemungkinan, juga antara dirinya dan banyak anak muda yang datang kemudian. Baik yang Indonesia maupun yang bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat lima tahun lalu, berboncengan dengan seorang bapak, sesama penggemar buku, dalam perjalanan ke terminal Baranangsiang, Bogor. Si bapak yang satu atau dua tahun lalu ini ditahbiskan jadi pendeta GKJ inilah yang mengenalkan saya pada Pram. Sampai sejauh itu, Goenawan Mohammad adalah penulis prosa terbaik yang saya tahu. Ketika saya kemukakan itu, si bapak tidak setuju. "Kamu mesti baca Pram", katanya. Maka sayapun mencari Pram. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu-nya saya temukan di toko buku Wisma Batik, sebuah toko buku tua di putaran Tugu Kujang, Bogor. Toko itu dulu sempat juga berfungsi ganda jadi tempat kost khusus putri. Setahun sebelum saya meninggalkan Bogor, toko itu tutup dan berubah fungsi jadi restoran mie. Banyak hal berubah memang. Tapi sejak saya membaca Nyanyi Sunyi nya Pram, satu hal dalam diri saya terpatok pasti: bahwa Pram lah prosais terbaik yang kita punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemari yang terkepal jadi tinju, demikian Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan demikian pulalah paragraf-paragraf beliau terangkum jadi satu kepalan besar. Ngeyel. Opinionated. Tidak takut bicara. Beliau tidak selalu benar, sebagai mana yang kemudian saya pahami. Tapi toh Pram pada akhirnya adalah anak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah dedikasinya pada kebenaran (sebagaimana yang beliau pahami), kesetiaannya pada pendirian dan kegigihannya untuk terus bekerja melalui cara terbaik yang ia tahu lah yang akan menandai &lt;em&gt;entry&lt;/em&gt; Pram di kamus benak saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114652225640091140?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114652225640091140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114652225640091140' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114652225640091140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114652225640091140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/05/pram.html' title='Pram'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114592244324860330</id><published>2006-04-25T01:32:00.000+02:00</published><updated>2006-04-25T17:27:53.756+02:00</updated><title type='text'>Kisah ibu kutu</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/cimex4.jpg" border="0" hspace=8 width=210 height=175 align=left alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;Tak kurang dari &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Carolus_Linnaeus"&gt;Carl von Linne &lt;/a&gt;sendiri yang memberi nama serangga ini: &lt;em&gt;Cimex lectularius&lt;/em&gt;, alias kutu busuk. Suka ngendon di lipatan selimut sampai sisi tempat tidur yang nempel di dinding, lembab dan gelap. Berbeda dari anggapan banyak orang, kutu busuk tidak menyebarkan penyakit apapun. Meski demikian, mulut mereka yang ala pedang panjang itu lumayan efektif juga untuk dipakai menusuk permukaan kulit dan menghisap darah dari korban santap malamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengarai sedang menanjak naik populasinya di Amerika Serikat, hotel-hotel di pantai timur dan barat sedang getol-getolnya mengirim sampel ke universitas-universitas yang memiliki program entomologi. Sampel-sampel ini diidentifikasi keabsahannya sebagai kutu busuk, dan bila memang benar maka program eradikasi mesti segera dijalankan di hotel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img style="WIDTH: 206px; HEIGHT: 175px" height="550" alt="Image hosting by Photobucket" hspace="8" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/cimexvicky.jpg" width="360" align="right" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah diidentifikasi, apa yang terjadi pada sampel tadi? Kebanyakan memang datang sudah mengapung dalam botol berisi alkohol. Tapi ada juga yang tertangkap hidup-hidup, dan selamat pula sepanjang perjalanan ke Auburn. Seperti yang satu ini, ibu kutu sudah beberapa bulan belakangan jadi anggota kesayangan laboratorium morfologi Auburn. Bahkan ketika bersalin pun kami ikut menunggui. Pun ketika ia lapar, tak sedikit mahasiswa pasca sarjana yang merelakan darahnya dihisap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau itu kutu cuma sendiri sih memang asyik menarik menonton ia mencari-cari permukaan kulit yang tidak terlalu tebal untuk ditembus mulutnya, dan mulai menghisap darah sampai gendut menggembung. Tapi kalau kutunya banyakan, amit-amit! Bisa-bisa jadi seperti ibu di foto ini. Tapi dengar-dengar ia menang ribuan dollar sebagai kompensasi dari hotel tempatnya menginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img height="250" alt="Image hosting by Photobucket" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/bedbugsbite.jpg" width="400" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114592244324860330?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114592244324860330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114592244324860330' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114592244324860330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114592244324860330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/04/kisah-ibu-kutu.html' title='Kisah ibu kutu'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114584543050343294</id><published>2006-04-24T04:23:00.000+02:00</published><updated>2006-04-24T04:29:48.370+02:00</updated><title type='text'>Kebenaran: perlukah punya nilai pragmatis?</title><content type='html'>Entomological Society of America dalam majalan internalnya edisi bulan ini menyiarkan sikap mereka perihal &lt;a href="http://"&gt;Intelligent Design &lt;/a&gt;yang disetujui dalam Konggres Nasional tahun lalu di Fort Lauderdale. Ialah bahwa Intelligent Design tidak dapat digolongkan sebagai hipotesa sains yang sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak berkeberatan dengan kesimpulan ini. Buat saya, Intelligent Design memang tidak menawarkan sesuatu yang bisa diuji dengan eksperimen, dan karenanya wajar jika digolongkan sebagai sesuatu di luar sains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang menarik, dalam komentar singkat yang menemani pernyataan sikap itu, ikut termaktub: "dan karena Intelligent Design tidak memiliki nilai pragmatis bagi kehidupan manusia.." maka "ia bukanlah sains".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intelligent Design sendiri, menurut saya, lahir dari kegerahan sementara orang yang susah menerima evolusi sebagai narasi besar lajunya roda kehidupan. Sejak awal mulanya, motivasi pengadaan 'teori' ini adalah untuk menerangkan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Sementara konsekuensi dari teori Intelligent Design untuk apa yang tengah dan akan terjadi di masa depan memang kabur. Di sinilah sebenarnya evolusi sebagai teori memenangkan perdebatan, setidaknya di mata petinggi ESA. Bahwa Teori evolusi menyediakan prediksi untuk apa yang akan terjadi di masa depan. Dan karenanya punya nilai pragmatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dari kita akan mengangkat alis membaca pernyataan di atas: apa nilai pragmatis evolusi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang kebetulan ada di jangkauan radar sesehari saya adalah manajemen resistensi. Serangga hama yang terus menerus dikendalikan dengan menggunakan pestisida tertentu akan mengalami perubahan struktur populasi dengan jumlah serangga resisten semakin lama semakin besar. Teori evolusi meramalkan hal ini: ketika seleksi di alam terjadi secara intens (penyemprotan insektisida secara kontinyu), maka perubahan di level populasi akan terjadi sama intensnya. Meski dari morfologi luar serangganya tidak berubah, namun resistensi terhadap satu racun tertentu mengisyaratkan adanya perubahan yang cukup radikal (sekaligus menguntungkan) dalam sistem fisiologis serangga bersangkutan. Setiap mahasiswa hama penyakit tanaman tingkat 3 tahu akan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan 'berkat' framework teori evolusi pula, manajemen resistensi jadi dapat dilaksanakan: rotasi penggunaan bahan kimia sebagai insektisida untuk menghindari lahirnya strain resisten dalam satu populasi serangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intelligent Design tidak punya feature pragmatis serupa. Seperti yang saya katakan tadi: ia lebih banyak bicara tentang apa yang sudah terjadi. Bukan apa yang akan terjadi. Teori ini lahir dari kegelisahan untuk mengilmiahkan pemahaman spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang mencetuskan teori ini mungkin geregetan untuk mencelikkan mata pekerja ilmiah kontemporer akan 'kebenaran' dari primula kehidupan. Sementara itu, komentar ESA tadi jadi menarik juga: kalaulah Intelligent Design mengungkapkan suatu kebenaran, ia tetap tak berguna karena tak memiliki aplikasi praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlukah kebenaran punya nilai pragmatis untuk diakui sebagai sesuatu yang berguna?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114584543050343294?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114584543050343294/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114584543050343294' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114584543050343294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114584543050343294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/04/kebenaran-perlukah-punya-nilai.html' title='Kebenaran: perlukah punya nilai pragmatis?'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114506992768205131</id><published>2006-04-15T04:35:00.000+02:00</published><updated>2006-04-15T05:07:04.806+02:00</updated><title type='text'>Simbol</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img height="268" alt="Image hosting by Photobucket" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/antiplayboy_wideweb__470x3100.jpg" width="403" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan simbol, atribut, pernik memang sungguh dahsyat. Dalam keseharian, seringkali meski tak selalu, kita menggunakan simbol, atribut atau pernik yang menempel di tubuh ini untuk berkomunikasi dengan liyan. Pesan yang terkandung dari atribut-atribut pun beragam adanya. Dari satu pernyataan pribadi akan sesuatu yang dianggap penting, cara kita untuk bilang bahwa kita adalah bagian dari satu komunitas yang lebih besar sampai sekedar mengutarakan simpati (atau antipati) terhadap satu ide.&lt;br /&gt;Dunia tempat kita hidup memang sudah serba bising. Yang kapitalis, yang sosialis dan yang agamis bersama-sama berebut corong bicara ke khalayak ramai. Soliloqui tak lagi tulus, nyanyi sunyi hanya layak disenandungkan jika ia bisa mendatangkan pengaruh. Ironis. Hidup di dunia yang semacam ini, punya satu cara untuk menyatakan diri mungkin memang jadi penting.&lt;br /&gt;Yang mungkin berbahaya, adalah kecenderungan untuk menyamakan kepemilikan simbol dengan pencapaian ideal yang tersimbolkan. Ziarah ke tempat suci kemudian otomatis memampukan seseorang senantiasa bertindak suci, misalnya.&lt;br /&gt;Yang lain yang sama menakutkannya, adalah ketika simbol kemudian menutup ruang untuk berdialog. Tatkala kita tersihir oleh mantra simbol, dan jadi serba getol serba cepat mengutuk mereka yang tak bersimbol sama. Konon panji perang punya kuasa serupa. Apatah panji-panji kalau bukan sekedar kain bergambar? Namun ia bisa mengobarkan semangat ratusan, ribuan, ratusan ribu manusia yang mengadopsinya sebagai perlambang satu idealisme. Di saat yang sama, simbol mereka yang berdiri di seberang kemudian nampak sebagai muka iblis sendiri. Dan mereka yang berdiri di bawahnya tak lebih dari sekedar antek Yang jahat. Tertutup sudah kemungkinan untuk duduk bersama tanpa curiga dan praduga.&lt;br /&gt;Menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:gambar dari situs &lt;a href="http://smh.com.au"&gt;Sidney Morning Herald&lt;/a&gt;:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114506992768205131?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114506992768205131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114506992768205131' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114506992768205131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114506992768205131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/04/simbol.html' title='Simbol'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114445269721543084</id><published>2006-04-08T01:21:00.000+02:00</published><updated>2006-04-08T02:13:28.843+02:00</updated><title type='text'>Semi</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/image5a.jpg" height="200" width="350" alt="Image hosting by Photobucket"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;You better let somebody love you,&lt;br /&gt;before it's too late&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desperado, by Eagles&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaca jendela di hadapanku mendaki menyentuh lengkung atap perpustakaan. Di luar sana, daun-daun hijau muda menyapa pandang mendahului menara kembar Samford Hall di sisi jauh. Hangat merah bata membaur manis dengan kanvas biru langit Alabama. Nun di bawah sana, sesemakan Azalea menawarkan ribuan bunganya. Sore semi selatan Amerika.&lt;br /&gt;Hari ini angin memeluk Auburn sepanjang hari. Sudah sejak setelah makan siang tadi aku duduk di depan jendela besar ini, dan daun-daun pepohonan halaman perpustakaan tak henti meliuk menari. Pukul enam lebih lima menit sekarang, warna-warna semi masih akrab menemani. Gelap masih sejam perjalanan dari sini.&lt;br /&gt;Tak penuh konsentrasiku hari ini sayang. Lap top perpustakaan di atas meja hardwood di depanku tak sering tersentuh tutsnya. Aku mencetak artikel-artikel yang perlu kupahami sebelum Kamis depan, mencoba membaca. Namun makna, pemahaman tak mampir di sudut tempatku duduk hari ini. Benakku bermain ke sana kemari. Bak anak kecil nakal berlari-lari di atas permadani hijau tua, di antara rak-rak buku. Seperti anak kecil, yang ikal rambut, gemuk pipi dan kerling nakalnya mengingatkanmu akan sesuatu. Sesuatu yang tak ada di sini.&lt;br /&gt;Setelah empat jam memaksakan diri duduk di sini, aku sadar dan menyerah, sayang. Aku lelah bangun pagi, makan siang dan berangkat tidur sembilan jam penerbangan jauhnya darimu. Aku kangen kamu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114445269721543084?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114445269721543084/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114445269721543084' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114445269721543084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114445269721543084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/04/semi.html' title='Semi'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114403020053108397</id><published>2006-04-03T03:44:00.000+02:00</published><updated>2006-04-03T04:14:45.840+02:00</updated><title type='text'>RUU APP</title><content type='html'>Akhirnya saya menyerah juga. Cukup lama saya mencoba untuk menghemat kapasitas benak yang memang super terbatas ini dengan tidak mengolak-alik perkara UU Anti Pornogorafi dan Pornoaksi. Tapi malam ini setelah bosan melakukan apa yang benak saya biasa lakukan akhirnya saya mampir ke Technorati dan mengetik "UU Anti Pornografi" di kolom search. Kenapa Technorati? Karena buat saya, apa yang dibilang orang kebanyakan itu yang penting (meski sayangnya seringkali bukan yang menentukan).&lt;br /&gt;Hasilnya lumayan, seperti yang saya tebak, argumen dari kedua kubu mengemuka. Sayang sungguh sayang, kebanyakan mereka saya temukan nggak sedang berdialog. Ketika yang satu mengemukakan subyektivitas penafsiran yang lain menudingnya sebagai liberalisme. Dan ketika yang satu bicara tentang nilai dan kepantasan, yang lain berteriak soal hak. Belum lagi cara tulis artikel yang seringkali sebegitu sinisnya, hingga-hingga tak lagi terasa cerdas.&lt;br /&gt;Yang timbul pada akhirnya adalah noise, kebisingan yang sama-sama mau menang sendiri. Mungkin pada akhirnya memang demikianlah adab hidup bersama sejatinya dinegosiasikan? Mungkin juga, kita toh melihatnya di mana-mana di muka bumi ini.  Saya memang skeptis kok ke kapasitas manusia (himpunan besar dengan saya sendiri sebagai anggotanya) untuk jadi tercerahkan. Sangat besar kemungkinan, pencerahan (dan segala atribut yang datang bersamanya, seperti kebijaksanaan, kemampuan untuk tahu kapan mesti berhenti bicara dan mulai mendengar dsb dst) memang bukan sesuatu yang massal. Pencerahan adalah sesuatu yang langka, entahlah apakah memang demikian mestinya, namun demikianlah nyatanya.&lt;br /&gt;Satu catatan kecil lainnya yang menarik buat saya adalah betapa sederhananya cara banyak kita menempelkan label tertentu ke satu himpunan umat. Bahwa yang "Arab" berarti konservatif sementara yang "Amerika", atau "Barat" sebagai permisif liberal... Simplistis. Entah kapan kita mau belajar bahwa keragaman adalah sesuatu yang inheren, baik di timur maupun di barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- btw, ketika GM menulis 'RUU APP' nya, saya kira ia memaksudkan keprihatinan akan kemungkinan diktatorisme satu nilai di tengah kemajemukan suku budaya. Tapi kok di beberapa blog yang sempat terbaca banyak yang kemudian mengambilnya dari sudut pandang yang sama sekali berbeda ya? Salahkah mereka? Nggak kok, tafsir toh memang subyektif sifatnya :) --&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114403020053108397?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114403020053108397/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114403020053108397' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114403020053108397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114403020053108397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/04/ruu-app.html' title='RUU APP'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114383242875684161</id><published>2006-03-31T21:08:00.000+02:00</published><updated>2006-03-31T21:14:41.043+02:00</updated><title type='text'>Bukankah?</title><content type='html'>Belakangan ini banyak tersua oleh saya berbagai varian dari pertanyaan (yang sekaligus pernyataan) ini: "Bukankah tak semua pertanyaan mesti berjawab?"&lt;br /&gt;Saya kok lama2 gatel, gelisah ya..&lt;br /&gt;Rasanya kok absurd sekali untuk membenarkan seluruh keingintahan kita yang serba genit dan seringkali mbulet tak berdasar logika itu dengan pertanyaan (pernyataan?) sok bijak serba universalis macam di atas.&lt;br /&gt;Gelisah karena dengan membenarkan diri macam demikian, sebenarnya manusia tengah menyerah kepada misteri, padahal Yang Maha Misteri sendiripun menjanjikan bahwa pada saatnya semua pertanyaan akan dijawab.&lt;br /&gt;"Bukankah tak semua pertanyaan mesti berjawab sekarang juga?"&lt;br /&gt;Mungkin itu koreksi versi saya.&lt;br /&gt;Yang punya konsekuensi untuk terus berikhtiar bertanya, dan hidup dalam ketegangan mencari jawaban.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114383242875684161?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114383242875684161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114383242875684161' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114383242875684161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114383242875684161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/03/bukankah.html' title='Bukankah?'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114364376092091970</id><published>2006-03-29T16:22:00.000+02:00</published><updated>2006-04-01T19:56:02.893+02:00</updated><title type='text'>Beancounting</title><content type='html'>Dunia akademis tidaklah lebih dari satu permainan besar dengan peraturannya sendiri. Pencapaian tiap pekerja sains diukur melalui satu set kriteria, salah satu yang punya andil besar adalah publikasi ilmiahnya. Ada perbagai aspek dari publikasi ilmiah seseorang yang pada ditimbang sebagai kriteria kinerja yang bersangkutan. Salah satu yang konon kabarnya paling penting, adalah jumlah publikasi. Semakin banyak artikel ilmiah membawa nama seseorang, making tinggilah score personal sang pekerja ilmiah. &lt;br /&gt;Kriteria ini punya pembenaran dan sisi gelap nya sendiri.&lt;br /&gt;Seorang pekerja ilmiah, pada dasarnya adalah seorang partikelir. Ia menghadapi ketidakpastian yang sama dengan seorang wiraswastawan, ini saya berani bilang. Sedikit pengalaman bergelut dengan pekerjaan di laboratorium menyadarkan saya bahwa bekerja di lab sebenarnya tidak lebih mudah dari bekerja di lapangan. Ada seribu satu hal yang bisa berjalan tidak sesuai dengan perkiraan. And if something may gone wrong, eventually it WILL go wrong. Oleh sebab itu tiap kali kita melihat satu hasil pekerjaan ilmiah yang berhasil sebenarnya kita tengah menatap satu senyawa antara ikhtiar untuk tidak berhenti dan serendipity, kebetulan yang manis. Oleh sebab itu semakin banyak artikel yang dipublikasikan seseorang, bisa jadi satu tongkat pengukur betapa uletnya orang tersebut bekerja (di lain pihak, betapa beruntungnya ia...). &lt;br /&gt;Sisi gelap dari dipergunakannya kriteria ini adalah munculnya kecenderungan untuk menerbitkan sebanyak mungkin tanpa tanggung jawab akan isi terbitannya. Menulis di tahun 2004 di Nature, majalah sains besar di Inggris, Atta-ur-Rahman, ahli kimia terkenal dari Pakistan (yang kalau tidak salah kemudian juga menjabat posisi menteri pendidikan tinggi) menyerukan rebirth, kelahiran kembali sains di dunia Islam. Mengutip Pakistan sebagai contoh, Atta-ur-Rahman mengedepankan statistik jumlah artikel ilmiah yang melonjak tinggi setelah satu sistem merit-based, di mana gaji peneliti ditetapkan berdasar jumlah publikasi per tahun, diterapkan. Minggu ini, dua peneliti asal Iran menulis di harian Daily Dawn, yang kemudian disarikan di website &lt;a href="http://www.scidev.net"&gt;Scidev.net&lt;/a&gt;, bahwa di Iran lonjakan artikel serupa tidaklah simetris dengan kenaikan kinerja. Mereka menengarai bahwa meski jumlah artikel meroket naik, namun jumlah 'junk articles' (publikasi ilmiah yang diterbitkan dua kali di jurnal berbeda dengan modifikasi judul, plagiarisme, dan artikel yang ditulis terburu-buru dan sangat singkat sehingga tidak memiliki isi ilmiah yang memadai) pun ikut melompat.&lt;br /&gt;Problem semacam sangat mudah ditemukan di US maupun Eropa. Seorang rekan yang bekerja dengan USDA, departemen pertanian nya US, mengeluhkan tekanan yang berasal dari kriteria penilaian ini. Seseorang yang disponsori USDA diwajibkan untuk menulis artikel ilmiah sedikitnya dua kali setahun. Padahal penelitian di bidang pertanian tak jarang membutuhkan waktu sedikitnya setahun untuk menyelesaikan satu ulangan, sementara eksperimen dengan satu ulangan bukanlah jumlah yang cukup untuk mengambil kesimpulan. Jadilah teman ini seringkali harus kalang kabut menulis artikel yang 'cukup' bagus untuk melewati seleksi para editor (and it is possible, you can always be smart enough to look smart...) tanpa benar-benar punya content ilmiah yang signifikan untuk dilaporkan ke dunia luas.&lt;br /&gt;Well... by the end of the day, a researcher got to do what a researcher got to do...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114364376092091970?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114364376092091970/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114364376092091970' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114364376092091970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114364376092091970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/03/beancounting.html' title='Beancounting'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114334561647546568</id><published>2006-03-26T05:56:00.000+02:00</published><updated>2006-03-26T06:00:16.490+02:00</updated><title type='text'>Battle of Horseshoe Bend: 192nd anniverssary</title><content type='html'>Hari ini dan besok adalah &lt;a href="http://www.nps.gov/hobe/pphtml/eventdetail21473.html"&gt;ulangtahun peringatan perang di Horseshoe Bend&lt;/a&gt;, satu dataran di pinggir sungai Talapoosa yang mendapat namanya dari kelokan ‘hairpin’ dari sungai tersebut. Di dataran yang bentuknya memang mirip tapal kuda ini, tahun 1814 &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Andrew_jackson"&gt;Andrew Jackson &lt;/a&gt;memimpin pasukan Amerika Serikat dan beberapa suku Indian yang jadi sekutu mereka melawan serikat suku-suku Indian yang mengambil ancang-ancang anti kulit putih. Perang ini merupakan satu episode dari epik panjang peminggiran suku-suku Indian dari tanah leluhurnya sendiri. Andrew Jackson adalah salah seorang anak emas Alabama yang di kemudian hari sempat menjabat kursi presiden Amerika Serikat dan sempat pula didudukkan sebagai presiden pertama dan satu-satunya Federasi negara-negara bagian selatan Amerika di kala perang saudara. Adalah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Horseshoe_Bend"&gt;perang di Horseshoe Bend &lt;/a&gt;ini, bersama &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_new_orleans"&gt;Battle of New Orleans &lt;/a&gt;di mana Jackson memimpin milisia Amerika Serikat mengalahkan pasukan perang profesional kerajaan Inggrislah yang kemudian mengantar nama Jackson, terdidik sebagai pengacara namun membuktikan diri sebagai jenderal perang nomor wahid, di angkasa percaturan politik nasional Amerika.&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari peringatan perang ini adalah reenactment cara hidup suku Indian dan sebagian tradisi militer milisia masa sebelum perang saudara. Dan karena Horshoe Bend toh cuma 45 menit bermobil dari Auburn, saya bersama beberapa teman memutuskan untuk menghabiskan hari Sabtu kami di sana.&lt;br /&gt;Acara reenactment nya sendiri lumayan menarik. Jadi teringat pada gelaran serupa yang sering mampir di Hannover, terutama di kala temperatur mulai menghangat. Hanya saja, episode sejarah yang sering terpanggil di ‘creative reenactment’ di Hannover jauh lebih tua dari yang hari ini saya lihat di sini. Di sana, gelaran macam ini biasanya mengambil setting waktu yang melar panjang hingga ke abad pertengahan, di mana kita menemukan diri di tengah-tengah para ksatria dengan ketopong dan pedang panjang, atau rabi botak berbaju samak kulit cokelat dengan tali besar berat sebagai ikat pinggangnya, atau pemburu berbaju a la Little John nya Robin Hood.&lt;br /&gt;Hari ini saya mendengar cerita tentang suku-suku Indian non konformis, nama-nama eksotik macam ‘sharp knife’, ‘brave soul’ ‘spirit wolf’. Lebih serunya lagi, orang-orang asli suku Indian sengaja datang lengkap dengan pakaian dan apapun yang masih tersisa dari kultur mereka, untuk diperlihatkan dan berbagi pemahaman pada siapa saja yang datang bertanya. Saya belajar bahwa suku Indian di tenggara tidak mendirikan tipi, yang adalah tenda khas suku-suku nomadik di barat Amerika. Indian di tenggara ini lebih dulu mengadopsi cara hidup agrikulturalis, meski tak pernah jadi pastoral. Artinya meski mereka menanam kentang dan jagung (ha! Dan baru hari ini juga saya belajar bedanya corn dari maize ... setelah sekian lama menganggap diri pelajar pertanian), namun orang Indian memang tidak pernah memasuki fase beternak. Dan mereka juga tidak lagi hidup di tenda-tenda, melainkan mendirikan struktur kayu di atas urugan tanah yang dibuat meninggi mengantisipasi banjir tahunan sungai di pinggir mana mereka tinggal (karena kegiatan bercocok tanam, desa-desa mereka mesti dibangun di pinggir badan air). Seorang Indian tua memperlihatkan pada saya serangkai buah tanaman (yang spekulasi saya mungkin salah satu variannya bunga rumput atau spesies liarnya kapas) yang mesti dipanen sepanjang bulan Juli. Ketika matang, buah-buah ini akan meledak (mirip kapuk randu itu lho) dan melontarkan biji yang memiliki ekor panjang, halus namun cukup rigid. ‘Ekor’ ini kemudian dikumpulkan untuk ditempelkan di bagian belakang jarum kayu tajam sebagai ‘anak panah’ sumpitan (blowgun). Sumpitnya sendiri relatif panjang, diambil dari tanaman air (reed) yang dikeringkan. Konon, karena di Amerika Utara suku-suku Indian umumnya hanya berburu hewan kecil macam kelinci dan tupai, mereka tidak mengoleskan racun apapun ke anak panah. Lain halnya dengan suku Indian yang tinggal di Amerika Selatan yang berburu binatang lebih besar macam monyet, ramuan akar-akaran tertentu dioleskan di ujung anak panah sumpitan mereka.&lt;br /&gt;Berpaling dari ‘display’ orang-orang Indian ini, saya berjalan menuju ke dataran di mana beberapa detail tradisional milisia tengah diperagakan. Dalam benak saya berputar pertanyaan-pertanyaan macam “Bagaimana pendapat orang Indian saat ini tentang sejarah marginalisasi yang menimpa kakek-kakek mereka? Adakah integrasi masih jadi issue di kalangan mereka?”, tak sampai hati saya melempar tanya yang sedemikian di forum yang sedemikian ‘innocent’. Pasalnya, bahkan tadipun saya melihat semacam pembedaan di antara dua ‘main display’ di padang perang itu. Di satu sisi ada tenda-tenda Indian dengan orang-orang asli Amerika bercerita dengan bangga akan sejarah dan kultur mereka. Di sini lain adalah ‘wilayah’nya mereka yang berdandan ala milisia abad 17 an. Dan di sini yang terdengar adalah cerita dari sudut pandang berbeda. Tema yang sama: heroisme, menggantung berat. Detail-detail sedap tentang beda muscet dengan riffle, manuver tentara masa itu, kode militer, peranan alat musik sebagai penyampai perintah atasan ke pasukan yang tercerai di bagian lain medan pertempuran sempat tercerap. &lt;br /&gt;Di penghujung sore, tarian ritmik Indian diperagakan, dan sebagai nomor penutupnya adalah tarian persahabatan yang ditarikan oleh banyak orang sekaligus. Baik mereka yang berseragam milisia, pengunjung, dan para Indian sendiri berbaur di dalamnya. Saya jadi berpikir bahwa jikapun ada ketidakcocokan rasa yang menghantui dari masa lalu, hari ini kedua fraksi tadi sama-sama berkumpul di sini untuk merayakan keberanian para pendahulu mereka. Mungkin di situlah mereka menemukan titik temu.&lt;br /&gt;Satu lagi yang mengganggu benak saya adalah betapa menarik dan banyaknya hal baru yang saya pelajari dari kunjungan beberapa jam itu. Dan semuanya terlaksana berkat kesediaan para pelaku reenactment ini untuk jadi volunteer. Sempat terbersit di kepala, kalau di Indonesia kita lakukan yang semacam ini entah betapa banyak yang bisa dipelajari tentang masa lalu kita sendiri. Namun kemudian saya jadi ragu-ragu, bangsa kita adalah bangsa yang masih bingung dengan sejarahnya sendiri. Agama-agama monoteistik yang saat ini kita gadang-gadang itu masing-masing punya dosa sendiri-sendiri dalam mengutuki budaya asli sebagai paganisme. Manipulasi dan eksploitasi sejarah juga bukan barang baru di Indonesia, kalau bukan untuk kepentingan penguasa, ya kepentingan kapital. Terbayang di benak saya, kalau beberapa orang berkumpul di satu tempat dengan kostum a la Majapahitan, yang terlintas pertama kali bukanlah satu proyek edukasional tapi shooting sinetron..&lt;br /&gt;Lagipula, mungkin proyek semacam ini bisa dilihat sebagai manifestasi jenjang tertinggi dalam piramida Maslow: aktualisasi diri. Bagaimana bisa mengharap ekspresi jenjang ini dari komunitas yang kebutuhan dasarnya sendiri masih belum sepenuhnya tercukupi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114334561647546568?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114334561647546568/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114334561647546568' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114334561647546568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114334561647546568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/03/battle-of-horseshoe-bend-192nd.html' title='Battle of Horseshoe Bend: 192nd anniverssary'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114313043700850308</id><published>2006-03-23T17:12:00.000+01:00</published><updated>2006-03-23T17:21:23.266+01:00</updated><title type='text'>Tuhan dalam benak seorang atheis</title><content type='html'>Dua minggu lalu saya kejatuhan durian runtuh, dikirim oleh Departemen saya ke Konferensi tahunan Entomological Society of America divisi Tenggara di Wilmington, North Carolina. Masih di pantai timur juga tentunya. Kota kecil yang lumayan cantik. Sudut-sudut Wilmington mungkin pernah tersua mata Anda, karena sempat dipakai sebagai latar shooting Dawson’s Creek.&lt;br /&gt;Karena cuma dapat jatah transportasi mahasiswa, saya dan lima teman lain mesti berkendara ke sana. Lumayan, tujuh jam dengan mobil. Dan karena driver’s license saya belum terbit dari kantor urusan keamanan publik Alabama, saya jadi punya alasan untuk tidak duduk di belakang roda kemudi. Jadi sepanjang perjalanan saya habiskan dengan ngemil, baca buku dan jadi teman ngobrol mereka yang sedang kebagian jatah mengemudi. Yah, apa boleh buat: dengan satu van penuh mahasiswa entomologi, seberapa kerasnya kami mencoba untuk ngobrol tentang hal lain, pada akhirnya pembicaraan menikung ke tema yang paling dekat dengan hati kami ... serangga ... please, have mercy on us.. &lt;br /&gt;Entah bermula dari mana, kami kemudian berbicara tentang sadisme dalam perilaku serangga. Sadisme? Well, antrhopomorphis memang, tapi siapa yang nggak akan bilang kalau cara lalat Pseudacteon membantai mangsanya nggak sadis? Lalat pemancung, demikian terjemahan bebas dari nama umumnya. Dari namanya saja sudah tercium bau sadisme toh? Pseudacteon adalah parasitoid semut api. Ia meletakkan telurnya di thorax (dada) semut api yang masih hidup. Dan ketika telur tersebut menetas, larvanya akan memakan bagian membran cervix yang menghubungkan kepala semut ke thoraxnya. Notabene memakan leher semut inangnya hidup-hidup... Kurang sadis bagaimana? Ketika kepala semut ini akhirnya bergulir lepas, si larva imut tadi akan memakainya sebagai tempat berpupa.&lt;br /&gt;“Bagaimana mereka mengembangkan perilaku yang demikian detail?” tanya seseorang di kursi belakang. “God created them that way” celetuk seorang lain. Seorang teman yang mengaku atheis menimpali “I call it evolution.”. “I just can’t picture such a cruel God.” tambahnya lagi.&lt;br /&gt;Dan komentarnya membuat saya tercenung. Ternyata bahkan seorang ateis pun sebenarnya merindukan sosok Tuhan. Ia hanya tak mampu mengakurkan observasi dan nilai rasa yang hadir dari observasi tersebut dengan gambaran Tuhan yang diingininya. Dan sebagai hasilnya, memilih untuk kemudian menafikkan Tuhan.&lt;br /&gt;Yang ia lakukan sebenarnya tak lain dari metodologi sains dasar: miliki hipotesa (bahwa Tuhan Maha Baik tak mungkin hasilkan desain nan sadis), lakukan eksperimen dan observasi, lalu tampik atau terima hipotesa semula berdasarkan observasi yang dikumpulkan.&lt;br /&gt;Saya bersimpati pada kerinduannya yang tak kesampaian.&lt;br /&gt;Namun ada yang juga tak kesampaian dalam benak saya. Adalah saya tak menemukan cara untuk mempertanyakan hipotesanya tanpa berpanjang polemik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114313043700850308?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114313043700850308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114313043700850308' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114313043700850308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114313043700850308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/03/tuhan-dalam-benak-seorang-atheis.html' title='Tuhan dalam benak seorang atheis'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114288038673094711</id><published>2006-03-20T19:14:00.000+01:00</published><updated>2006-03-21T01:00:09.513+01:00</updated><title type='text'>Nggak tahu</title><content type='html'>"Sometimes you really don't know what you don't know. Dealing with a new and emerging infection is a very humbling experience. We should not pretend to know what will happen. Will it be severe or mild? Which age groups will be most affected? We just don't know."&lt;br /&gt;Dr Margaret Chan&lt;br /&gt;Representative of the Director-General for Pandemic Influenza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya masih culun (well.. tiap kali saya bangun pagi dan ngeliat kaca di kamar mandi, saya merasa masih culun tapi saya kira banyak orang akan melihat ini sebagai overestimasi), saya merasa bahwa jawaban nggak tahu itu tabu sebagai seorang siswa. Seorang siswa harus tahu. Meski ada begitu banyak pertanyaan dan varian pertanyaan yang bisa dilontarkan, tapi seorang siswa nggak pantes njawab nggak tahu. Nggak tahu nya seorang siswa bisa dibaca sebagai kealpaan akan tugas untuk jadi 'tahu segala', atau lebih parah lagi: ketidakpedulian akan subyek yang tengah dipertanyakan. Jadi sering-sering, ketika sebuah pertanyaan yang saya tidak tahu jawabnya muncul menghadang, saya lebih suka menembak dalam gelap dari pada bilang nggak tahu.&lt;br /&gt;Sedikit lebih kemari, saya jadi ngeh bahwa keluasan semesta pertanyaan itu nggak akan pernah bisa saya kitari sepenuhnya. Kalau ada satu hal yang saya tahu, ialah bahwa saya nggak tahu apa-apa. Namun kemudian saya belajar pula tentang educated guess. Tebakan yang nggak semata ngawur. Guru-guru saya di Hannover menekankan sekali pentingnya educated guess ini. "Kamu nggak akan pernah tahu tentang semua bentuk kehidupan cendawan di muka bumi ini, tapi kalau kamu tahu garis besar taksonomi, biologi dan morfologinya, tiap kali dihadapkan ke satu bentuk cendawan yang baru, kamu akan bisa menebak berbasis dari pengetahuanmu apa yang bisa kamu harapkan dari cendawan itu." demikian mereka. Dari mereka saya jadi punya apresiasi baru pada basic science, macam biologi, kimia atau matematika. Sains umum macam ini dulunya sering saya pandang sebagai pembuang waktu, karena mereka meluas namun jarang mendalam. Namun ternyata untuk jadi dalam, seringkali jejakan kaki mesti luas lebih dulu.&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini saya belajar tentang arti lain dari ketidak tahuan dalam sains. Ada waktunya di mana seseorang bisa bilang 'Tidak tahu' dengan T besar. Tidak tahu yang mewakili himpunan yang lebih besar dari dirinya sendiri. Bahwa para ahli yang hari-harinya terhabiskan untuk mengotak-atik masalah serupa pun tidak tahu. Tidak tahu nya umat manusia secara agregat. Saya masih sadar kalau siswa jarang bisa bilang 'nggak tahu' yang macam ini, lebih karena siswa biasanya dilihat (dan diakui sajalah, memang nyatanya) kurang banyak terekspos oleh arus informasi mendalam meluas di dunia sains yang makin terspesialisasi sekaligus menuntut integrasi antar cabang2 spesialisasi. Namun ada orang-orang yang bisa, dan boleh (dalam artian akan dipercaya oleh satu panel sejawat yang sama-sama berlabel ahli) bilang nggak tahu dengan bebas. Saya setuju dengan Dr. Chan, juru bicara Direktorat Jenderal Influenza Pandemik WHO bahwa ketidaktahuan yang semacam ini punya efek sakti untuk membuat manusia rendah hati. Bahwa semesta pertanyaan itu ternyata masih luas, horizon-horizonnya membentang panjang di kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;::btw tentang pandemic flu, flu burung dan ketidak tahuan, WHO sudah sejak tahun lalu meluncurkan dokumen untuk mengklarifikasi kesimpangsiuran terminologi dan konsepsi mengenai flu burung dan flu pandemik, dimaksudkan buat jurnalis, agar khalayak ramai tak menerima informasi salah. Dokumennya bisa dilihat di &lt;a href="http://www.who.int/csr/don/Handbook_influenza_pandemic_dec05.pdf"&gt;sini&lt;/a&gt;.:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114288038673094711?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114288038673094711/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114288038673094711' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114288038673094711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114288038673094711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/03/nggak-tahu.html' title='Nggak tahu'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114255853151745256</id><published>2006-03-17T02:20:00.000+01:00</published><updated>2006-03-17T02:25:05.356+01:00</updated><title type='text'>And the result is....</title><content type='html'>You know what &lt;a href="http://quizfarm.com/"&gt;internet quiz&lt;/a&gt; are for? To tell us things we already know, that's what!&lt;br /&gt;And who ended up doing the long ones like this this one? Dumb persons like me, that's who!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border='0' cellpadding='5' cellspacing='0' width='400'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt; You scored as &lt;b&gt;Biology&lt;/b&gt;. You should be a Biology major! You are passionate about the sciences, and you enjoy studying cell growth and evolutionary concepts which enable living organisms to survive. Pursue that!&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;table border='0' width='300' cellspacing='0' cellpadding='0'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;Biology&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='83' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;83%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;Mathematics&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='75' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;75%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;Anthropology&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='75' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;75%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;English&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='75' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;75%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;Engineering&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='67' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;67%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;Sociology&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='58' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;58%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;Philosophy&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='58' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;58%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;Journalism&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='50' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;50%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;Theater&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='50' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;50%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;Dance&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='42' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;42%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;Chemistry&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='42' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;42%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;Psychology&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='33' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;33%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;Linguistics&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='33' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;33%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;p&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;Art&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;table border='1' cellpadding='0' cellspacing='0' width='33' bgcolor='#dddddd'&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;33%&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;br&gt;&lt;a href='http://quizfarm.com/test.php?q_id=119158'&gt;What is your Perfect Major? (PLEASE RATE ME!!&amp;lt;3)&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;font face='Arial' size='1'&gt;created with &lt;a href='http://quizfarm.com'&gt;QuizFarm.com&lt;/a&gt;&lt;/font&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114255853151745256?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114255853151745256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114255853151745256' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114255853151745256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114255853151745256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/03/and-result-is.html' title='And the result is....'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114230492884632973</id><published>2006-03-14T03:31:00.000+01:00</published><updated>2006-03-14T03:55:28.896+01:00</updated><title type='text'>Baca dulu, baru bicara!!</title><content type='html'>Di antara banyak hal yang saya nggak suka, ada sedikit yang saya bener2 benci. Salah satunya adalah ketika seseorang buka mulut tentang satu teks yang 'kontroversial' tanpa pernah membaca teks itu sendiri.&lt;br /&gt;Teks, adalah salah satu subyek subversi paling tua di dunia manusia modern. Dari Alkitab terjemahan Luther, buku-bukunya Marquis de Sade, Origin of Species nya Darwin. You name it. Nggak akan kekurangan kita akan contoh betapa satu teks dapat begitu terasa mengancam kenyamanan (mungkin juga eksistensi?) satu pihak tertentu untuk kemudian dicitrakan oleh pihak tersebut sebagai sesuatu yang sungguh berbahaya bagi kepentingan umum.&lt;br /&gt;Dan yang menarik (menyebalkan) dari keseluruhan proses pencitraan itu, adalah betapa mudahnya manusia membebek. Mengunyah habis citra yang diproduksi oleh salah satu pihak yang merasa terugikan oleh teks bersangkutan, atau membiarkan prasangka pribadi mengamplifikasi citraan tadi jadi sesuatu yang riil dalam benak masing-masing, tanpa pernah memegang teks yang jadi sumber polemik di tangan sendiri, membacanya dengan mata kepala sendiri, menimbang benar teks itu buat diri sendiri.&lt;br /&gt;Dulu, di Hannover, ada satu teman saya, seorang perempuan Iran yang lembut tutur dan semanak. Cerdas pula. Namanya Sanam, sekarang tengah menuntut gelar PhD nya di bidang elektronika. Suatu kali, sepulang dari bepergian ke Mainz saya bawa dua buku karya Salman Rushdie yang terjumpa di sana, The Ground Beneath her Feet dan Satanic Verses. Karena haus, saya langsung pergi ke dapur tanpa sempat menaruh bawaan di kamar. Sanam ada di sana. Sembari bertukar sapa dan cerita perjalanan, Sanam iseng melihat-lihat tas plastik berisi kedua buku tadi, saya tidak akan lupa betapa seriusnya keterkejutan teman baik saya demi melihat buku2 itu. Ia hampir saja melempar keduanya keluar dari jendela dapur kami.. Nyaris komik. Bahkan sesudahnya pun ia tak mau ada di dekat-dekat buku saya yang satu itu, seolah ada pagar kasad mata di antara mereka. Saya iseng bertanya "Kamu sudah pernah baca?", dan saya beruntung nggak dilempar piring saat itu juga. Pertanyaan itu nampaknya berdering sebagai cerca baginya. Saya mesti minta maaf... meski saya yakin.. ia belum pernah membacanya.&lt;br /&gt;Beberapa minggu lewat, seorang kolega penulis Kristen mengaku lewat email di salah satu milis yang saya ikuti, betapa ia ogah membaca Dan Brown semata karena stigma nggak enak yang tertempel di sana. Well, memang bukan urusan saya kalau seseorang lebih senang membaca buku ini ketimbang buku itu. Tapi menarik juga untuk membaca alasan yang dikemukakannya (dan ia toh merasa perlu mengemukakannya di milis yang diterima banyak orang, nota bene .. di muka publik).&lt;br /&gt;Minggu lalu, seorang teman di Jerman mengirim email berisi petisi anti UU pornografi, juga via sebuah milis. Di akhir emailnya, ia menulis 'ada yang punya draft nya nggak sih?' dan karena kebetulan saya punya, saya kirim draft itu. Tanggapan yang paling menarik dari beredar nya itu draft adalah 'duh, males banget bacanya.. mending baca stensilan.." Lucu sih, tapi tetep aja menggaris bawahi penyakit lama yang saya benci itu: orang kebanyakan malas membaca, tapi suka bicara. Suka komentar tanpa benar-benar mengerti apa yang sedang dikomentarinya.&lt;br /&gt;Dan, while I'm at it, ada satu lagi yang bener2 bikin saya mual, tiap kali ada yang banyak bicara (mana biasanya salah pula!!) tentang teori evolusi tanpa pernah baca buku teks evolusi...&lt;br /&gt;Blaahhh....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114230492884632973?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114230492884632973/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114230492884632973' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114230492884632973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114230492884632973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/03/baca-dulu-baru-bicara.html' title='Baca dulu, baru bicara!!'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114140606582791507</id><published>2006-03-03T17:48:00.000+01:00</published><updated>2006-03-12T00:17:37.436+01:00</updated><title type='text'>Biologi, narasi</title><content type='html'>Saya tahu kenapa saya suka biologi. Karena saya suka narasi. Saya suka narasi yang besar, bercabang-cabang dan mencengangkan. Saga, epic. Sama seperti saya suka buku-bukunya Tolkien, Lewis. Dalam biologi, saga yang serupa tertilik dari hidup serangga-serangga sosial macam lebah madu atau semut. Tahukan anda betapa kompleksnya pembagian kerja dan kasta-kasta berbagai jenis semut? Membaca the Ants atau Journey to the Ants nya Holldobler &amp; Wilson sama sekali tak kalah asyik dari magi buku-buku Tolkien.&lt;br /&gt;Saya suka cerita yang penuh plot, saling mendahului, saling adu pintar. Wah, kalau anda dengar cerita-cerita tentang betapa 'cerdas'nya berbagai parasit mengeksploitasi inangnya, anda pasti setuju kalau biologi menyediakan perpustakaan cerita spionase paling sedap di dunia. Ambil saja dua contoh: satu spesies kutu yang besarnya hampir setelapak kaki semut (saya lupa spesiesnya, tapi ada bukunya kok di rumah, minggu depanlah kalau saya ingat tak updatenya lagi..) konon hidup sebagai parasit di kaki beberapa spesies semut. Kalau mau dicari paralelnya, hampir sama dengan manusia yang hidup dengan lintah menempel di telapak kakinya. Tapi si semut sepertinya nggak nyadar dengan keadaan ini. Pasalnya, si kutu parasit ini kemudian menggantikan fungsi telapak kaki semut dalam setiap keadaan. Kaki-kaki si kutu menjelma jadi tarsus (jemari) buat semut untuk mengukuhkan pegangan pada substrat yang dijejaknya... Masih dari dunia seranggga, salah satu spesies kumbang (coleoptera) konon memakan habis lidah satu spesies ikan, untuk kemudian mengaitkan dirinya di atap mulut sang ikan dan bekerja sebagai 'lidah' yang membantu mendorong makanan sang inang ke kerongkongannya sambil ikut mengambil 'jatah' bagiannya sendiri... Licik? Asyik!&lt;br /&gt;Belum lagi segudang cerita tentang nuptial gift, alias pemberian jantan kepada betinanya sebelum dan sesudah kopulasi. Atau kisah betina-betina yang tak enggan memangsa jantannya segera setelah fungsi reproduksinya terpenuhi. Atau bagaimana strategi berburu makanan yang begitu berbagai-bagainya di masing-masing spesies. Konon kabarnya, kunang-kunang berkomunikasi via kedipan-kedipan cahaya bioluminesence dari abdomennya. Jeda antar kedipan membedakan 'bahasa' spesies kunang-kunang satu dari kunang-kunang lain. Nah, ada salah satu spesies kunang-kunang yang betinanya fasih melafalkan 'bahasa' spesies lain. Si betina ini akan merespon kedipan dari jantan spesies lainnya, dalam 'bahasa' spesies tersebut, untuk menggodanya datang mendekat. Maka sang jantan pun terbang dengan berahinya, tak tahu bahwa ia tengah terbang ke arah kematian. Yup, betina spesies yang khusus tadi memang menggodanya terbang mendekat untuk dibantai sebagai makan malam...&lt;br /&gt;Ada cerita untuk siapa saja dalam biologi. Yang romantis, yang realis, yang sinis.&lt;br /&gt;Biologi, terutama perilaku hewan, buat saya adalah buku besar yang tak pernah kering dari cerita mengagumkan. Dan entomologi, cabang biologi yang mempelajari serangga, adalah salah satu bab tertebal dari buku itu. Semua contoh yang saya kutip di atas datang dari entomologi.&lt;br /&gt;Hampir semua entomolog yang saya tahu tergila-gila pada 'narasi' menarik di balik tiap gumpil kecil struktur tubuh, cerita yang menghiasi tiap perilaku. Dari Thomas Eisner, mahaguru serangga lulusan Harvard, yang dua buku terakhirnya sama-sama bicara tentang strategi pertahanan serangga. Atau E.O. Wilson, kakak kelas Eisner, yang saya sudah sebut di atas, sang empu dunia semut. Atau bahkan J.H Fabre, salah satu entomologis perintis Perancis yang ketahuan banget ketagihan 'cerita' di balik dunia serangga, dari tulisan2nya yang sangat naratif (salah satu yang online, judulnya &lt;a href="http://www.ibiblio.org/eldritch/jhf/cater.html"&gt;The Life of The Caterpillar&lt;/a&gt;!! lebih kedengaran kaya judul biografi daripada buku tentang serangga). Dan jangan lupa juga, studi tentang serangga dan hewan lainnya meledak sebagai sains di masa Viktoria dengan nama 'Natural History'. History, sejarah, narasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa narasi, apa jadinya dunia ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114140606582791507?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114140606582791507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114140606582791507' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114140606582791507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114140606582791507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/03/biologi-narasi.html' title='Biologi, narasi'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114132760185545541</id><published>2006-03-02T20:18:00.000+01:00</published><updated>2006-03-02T20:29:10.250+01:00</updated><title type='text'>I know!!</title><content type='html'>Masih tentang bahasa, atau mungkin lebih tepat disebut 'komunikasi'?&lt;br /&gt;Ada begitu banyak frasa yang jika dilagukan dengan satu nada, akan punya efek yang sama sekali berkebalikan dibanding jika dilagukan dengan nada yang lain. &lt;br /&gt;Salah satu yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini adalah bagaimana orang-orang di selatan US ini melagukan 'I know!!'. Dalam bertukar obrol, lumayan sering lawan bicara saya terlepas 'I know!!', dengan nadanya yang makin meninggi dari 'I' sampai 'know' nya. Di samping meninggi, ia juga memanjang. Menyisakan keakraban penerimaan atau persetujuan menggantung di udara.&lt;br /&gt;Bandingkan dengan I know dari seseorang yang sedang merasa tengah dikuliahi sesuatu yang ia sudah tahu. Saya pernah terlepas banyak omong ke seorang adik kelas yang kemudian memotong bicara saya dengan 'I know!!'. 'I know' nya berbeda, meskipun secara umum bernada tinggi, tapi pendek dan tegas, bukannya memanjang berlagu a la 'I know' di paragraf pertama tadi.&lt;br /&gt;Ah.. ah.. manusia (dengan segala polah tingkahnya) memang subyek menarik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114132760185545541?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114132760185545541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114132760185545541' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114132760185545541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114132760185545541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/03/i-know.html' title='I know!!'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-114010769824007586</id><published>2006-02-16T17:11:00.000+01:00</published><updated>2006-02-17T19:48:09.783+01:00</updated><title type='text'>Bahasa sains</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img style="WIDTH: 374px; HEIGHT: 271px" height="400" alt="Image hosting by Photobucket" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/centipede01-ils.jpg" width="541" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang lumayan menakjubkan dari sains adalah bagaimana masing-masing cabangnya dapat berevolusi dan menciptakan terminologi-terminologinya sendiri sehingga pada akhirnya berakhir jadi satu set bahasa yang mandiri. Nggak percaya? Coba tanya &lt;a href="http://ingetlah.blogspot.com/"&gt;Erwin&lt;/a&gt; tentang bioinformatika, kemungkinan sampeyan akan dicekoki berbagai nama gen yang sering kali terdiri dari singkatan (yang menurut saya chaotic) yang di banyak kesempatan case sensitive, plus dicampur nomor-nomor nggak bunyi di depan, belakang dan tengah-tengahnya. Ya, metode juga bisa kemudian beredar jadi bahasa baku. Nggak berapa lama lalu saya denger seseorang bilang 'I PCRed the genes ...' wow.. PCR, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/PCR"&gt;Polymerase Chain Reaction&lt;/a&gt;, pun sudah membakukan diri jadi kata kerja..&lt;br /&gt;Di morfologi serangga, keadaannya nggak lebih baik. Karena memang erat sekali kaitannya dengan systematic dan taxonomy yang entah kenapa seneng banget ama bahasa latin, morfologi serangga pun jadi kental berlatin ria. Alih-alih bilang 'sayap menempel di dua segmen dada serangga: segmen tengah dan segmen terakhir', kita mesti lincah menyebut 'sayap berartikulasi pada dua segmen thorax, mesothorax dan metathorax...' Gosh..&lt;br /&gt;Saya juga masih ingat dengan berbagai terminologi latin (kah?) yang mesti dimengerti untuk menamai pelbagai molekul kimia (yang berubah dengan berubahnya struktur..). Isopropanol etcetera.. &lt;a href="http://www.friendster.com/user.php?uid=10056189"&gt;Marcus&lt;/a&gt; jelas lebih lanyah soal itu.&lt;br /&gt;Mungkin yang sebenarnya sedang terjadi adalah agregasi dan penyeragaman dialek di antara agregat-agregat. Bahwa terminologi serupa dipakai dalam Taxonomi dan Morfologi, tak ubahnya bahasa Jawa dipakai di Jawa Tengah dan Jawa Timur, meski dengan logat yang berbeda. Dan bahwa dalam bahasa biologi molekuler latin banyak terlupakan diganti oleh singkatan dan angka-angka hanyalah cerminan dari percabangan yang lebih jauh dari pohon perkembangan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah&lt;br /&gt;saya toh cuma gemes karena mesti belajar bahasa baru lagi.. hehe..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-114010769824007586?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/114010769824007586/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=114010769824007586' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114010769824007586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/114010769824007586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/02/bahasa-sains.html' title='Bahasa sains'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-113969648470593087</id><published>2006-02-11T22:46:00.000+01:00</published><updated>2006-02-11T23:26:12.446+01:00</updated><title type='text'>Bercocok tanam</title><content type='html'>Sekian tahun lalu, di kelurahan Ganeas, Sumedang, seorang muda duduk bersama saya dan beberapa teman, bercerita tentang pengalamannya memburuh di kota. "Enak mas, udah ada jam-jam kerjanya sendiri, pasti dapet duit. Nggak kaya kerja di sawah, atau angon, bisa-bisa seharian penuh seselesainya kerjaan, udah gitu kalau kena hama bisa nggak panen lagi.." Seorang temannya yang lain, masih duduk di bangku STM di Sumedang, menimpali "Iya, mending juga kerja jadi tukang atau montir. Saya sekarang lagi suka otak-atik mesin truk mas, lagian kan kerjaan yang pake teknologi gitu lebih terhormat dari jadi petani." Seorang lagi anak muda yang dari tadi diam saja, ikut angkat bicara, meski terdengar lebih sebagai gumam ke dirinya sendiri, "saya mah, mau cari kerja di kota juga, tapi tiap kali panen ama tandur pulang kemari. Lagipula masih ada kebun sawo punya keluarga juga.."&lt;br /&gt;Tak persis demikian kalimat mereka, namun semacam itulah. Dan sayapun jadi sadar, tentang apa artinya jadi petani buat (sebagian) anak petani. Adalah profesi yang liat dan pekat resiko. Adalah titik berangkat dari hidup mereka, dan bukan titik selesai. Kalau bisa, bukan titik selesai.&lt;br /&gt;Selang seminggu kemudian, salah seorang dari ketiga teman baru tadi pamit. "Mau ke Jakarta mas, ada kerjaan bangunan."&lt;br /&gt;Textbook ekonomi pertanian yang sempat (diwajibkan untuk) terbaca jaman kuliah dulu tak pernah ketinggalan menyebut upaya cocok tanam sebagai salah satu upaya ekonomis yang beresiko tinggi. Dari saat benih ditabur, perkara cuaca, hujan, migrasi serangga tahunan, cendawan-cendawan yang seolah berguguran dari awan-awan, gerombolan burung perampok, masalah air, pupuk dan sebagainya dan sebagainya sudah menghembalang. Lalu ketika panen tiba, masalah tak berhenti, hanya berganti nama jadi panjangnya rantai distribusi, perishability, serangga gudang, harga rendah et cetera..&lt;br /&gt;Bekerja dengan tanah, seorang bijak (yang juga empu di bidang akademik) pernah menatar kami di kelasnya yang lembab dan selalu berbau kayu basah, adalah menaklukan diri sendiri: ia menuntut kesabaran, keuletan, dan pada akhirnya kepasrahan...&lt;br /&gt;Saya tak serta merta setuju, meski pada akhirnya mesti menerima bahwa seperti itulah kenyataan petani kita.&lt;br /&gt;Dan ketika pagi tadi, seraya menunggu kopi masak, saya iseng membaca-baca satu &lt;em&gt;account&lt;/em&gt; korespondensi pemilik perkebunan kapas pra perang saudara di Amerika, tersua saya pada satu surat menarik. Dari saudara suaminya yang adalah seorang pekebun andal, petitah-petitih tentang berkebun:&lt;br /&gt;"I think the leaves that you enclosed, are both one kind ... and that the bush is periwinkle. Periwinkle is a small evergreen vine that bears blue flowers, very pretty near the pickets where they can run up them."&lt;br /&gt;Dan di satu surat lain:&lt;br /&gt;"The flower in the box is tender and needs to set in a shady place where the sun shines but little during the summer and must be covered from frost in winter. The flower first appears a greenish white and in several days becomes a beautiful pink colour: which lasts some days.. I have a small cutting of the yellow rose .. which I will send if it lives until next winter if you want it."&lt;br /&gt;Mary Weeks, kepada siapa surat-surat tadi ditulis, adalah istri pemilik perkebunan kapas di Louisiana, dan rumahnya "&lt;a href="http://www.shadowsontheteche.org/"&gt;Shadows-On-The-Teche&lt;/a&gt;" adalah salah satu rumah perkebunan paling apik di tenggara Amerika yang masih berdiri hingga sekarang. Konon, Mary Weks menghabiskan sebagian besar waktunya di taman dan kebun rumah ini, yang hingga sekarangpun masih jadi kebanggaan Louisiana.&lt;br /&gt;Deksripsi yang terpancar dari surat-surat di atas, menyiratkan cinta yang memancar pada kegiatan berkebun. Bekerja dengan tanah... yang meski masih mensyaratkan kesabaran, keuletan dan mungkin juga kepasrahan, namun memiliki warna yang ringan.&lt;br /&gt;Meski saya agak yakin, kalau para budak yang bekerja di perkebunan kapas nyonya Weeks, tak memiliki gambaran seringan beliau tentang kegiatan bercocok tanam...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-113969648470593087?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/113969648470593087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=113969648470593087' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/113969648470593087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/113969648470593087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/02/bercocok-tanam.html' title='Bercocok tanam'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-113961607808830964</id><published>2006-02-11T00:54:00.000+01:00</published><updated>2006-02-11T01:05:53.726+01:00</updated><title type='text'>kenapa??</title><content type='html'>Minggu depan ujian &lt;a href="http://www.auburn.edu/~clarkwe/4220.htm"&gt;morfologi serangga&lt;/a&gt;. Dan tema minggu ini tak ayal lagi, adalah 'trying to be studious', emphasize on trying, not studious..&lt;br /&gt;Kenapa kalau lagi butuh2nya kaya gini, wangsit buat duduk diam dan menekuni &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sclerite"&gt;sclerite demi sclerite&lt;/a&gt; dari invertebrata kecil lucu itu nggak pernah muncul?&lt;br /&gt;Kenapa kalau lagi kepepet2nya gini, konsentrasi malah jadi barang langka, perhatian lebih suka berpesta berhihi haha, dari liat-liat &lt;a href="http://ingetlah.blogspot.com/"&gt;blog temen&lt;/a&gt;, penasaran tentang &lt;a href="http://creativecommons.org/learnmore"&gt;creative commons&lt;/a&gt;, pengen tahu tentang &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Podcasting"&gt;podcasting&lt;/a&gt;, dan kegatelan jalan-jalan sampe nemu website macam &lt;a href="http://www.oxygen.com/"&gt;begini&lt;/a&gt;..&lt;br /&gt;kenapa??&lt;br /&gt;sob...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(selalulah tanya 'kenapa', sering kali ia berguna untuk menyembunyikan diri dari kenyataan...)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-113961607808830964?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/113961607808830964/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=113961607808830964' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/113961607808830964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/113961607808830964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/02/kenapa.html' title='kenapa??'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-113924041348225276</id><published>2006-02-06T16:29:00.000+01:00</published><updated>2006-02-06T16:44:19.206+01:00</updated><title type='text'>Rahang moyang siapa?</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com"&gt;&lt;img style="WIDTH: 357px; HEIGHT: 226px" height="210" alt="Image hosting by Photobucket" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/insect-fossil.jpg" width="339" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;na ya...&lt;br /&gt;gambar di atas tuh gambar apa coba? Bukan, bukan gambar bison (atau kuda sih itu? atau nenek moyangnya bison dan kuda?) dari &lt;a href="www.culture.fr/culture/arcnat/lascaux/en/"&gt;gua Lascaux&lt;/a&gt;.. bukan! Meski mungkin berasal dari kotak tua yang sama: masa prehistorik. Mungkin? Iya mungkin.. karena di sinilah sebenernya letak lucunya sains.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.cnn.com/2004/TECH/science/02/11/oldest.insect.ap/"&gt;Dua tahun lalu &lt;/a&gt;Grimaldi, empunya evolusi serangga yang udah nulis &lt;a href="http://www.amazon.com/gp/product/0521821495/sr=1-1/qid=1139240241/ref=sr_1_1/103-7462599-5956603?%5Fencoding=UTF8"&gt;buku segedhe gaban &lt;/a&gt;(dipake buat getok kecoak mati tuh kecoak) bilang kalau gambar di atas itu fosil serangga tertua yang menampilkan profil mandibel (homologinya rahang bawah manusia lah) dari moyangnya serangga-serangga (bermandibel tentunya.. karena banyak juga yang tanpa mandibel lho.. atau mau diasumsikan kalau serangga2 itu dulunya semua punya mandibel trus pada berevolusi ke arahnya masing-masing?).&lt;br /&gt;fosil serangga ya pak Grimaldi? hmmm.. buat saya lebih mirip lukisan abstrak a la Cromagnon.. (ini jelas komentar ngawur dari seseorang yang nggak terdidik di bidang sejarah seni, apalagi seni Cromagnon).&lt;br /&gt;Sains, pada akhirnya, butuh &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Leap_of_faith"&gt;leap of faith &lt;/a&gt;nya sendiri. Leap of faith untuk menyahihkan frame teori.. saya kok nggak yakin kalau iman semacam itu selamanya sehat..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-113924041348225276?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/113924041348225276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=113924041348225276' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/113924041348225276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/113924041348225276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/02/rahang-moyang-siapa.html' title='Rahang moyang siapa?'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6430381.post-113907724787384063</id><published>2006-02-04T18:42:00.000+01:00</published><updated>2006-02-04T19:27:18.590+01:00</updated><title type='text'>Saya teringat pada Playboy minggu lalu di gereja</title><content type='html'>&lt;img style="WIDTH: 174px; HEIGHT: 237px" height="315" alt="Image hosting by Photobucket" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/jim_elliot_story.jpg" width="156" align="left" hspace=9/&gt;Respon pujian akan taburnya Firman baru selesai dinyanyikan. Tak lama lagi kebaktian hari itu usai. Salah seorang gembala, seorang Profesor emiritus dari departemen &lt;em&gt;Agricultural Economics &lt;/em&gt;Universitas Auburn, mengambil tempatnya di mimbar dan mulai membacakan pengumuman-pengumuman. Kebanyakan berupa even-even sepanjang minggu depan. Community bible study, choir rehearsal, women bible study, prayer rally(phew.. hidup bergereja di selatan &lt;em&gt;Bible belt&lt;/em&gt; terkadang terasa berbeda begitu tajam dibanding dengan di ranah Jerman utara yang konon Lutheran itu..).&lt;br /&gt;Satu nomor pengumuman yang terakhir dibacakan cukup menarik perhatian: dari Children Ministry, akan diputar film animasi &lt;a href="http://www.christiancinema.com/catalog/product_info.php?products_id=792"&gt;Torchlighters:The story of Jim Elliot&lt;/a&gt; untuk anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.intouch.org/myintouch/mighty/portraits/jim_elliot_213678.html"&gt;Jim Elliot &lt;/a&gt;adalah sosok unik yang kemudian jadi tipikal Christian Heroes di jagad hidup bergereja di US yang -nampaknya- memang pekat tradisi evangelis. Lulusan Wheaton College, Illinois, Jim Elliot memilih pergi ke Ecuador untuk mengabarkan damai yang transenden pada penduduk asli. Mulia menurut satu standard. Meski mungkin nggak begitu mulia menurut mereka yang menangisi kikisnya cara hidup suku asli oleh imperialisasi baru bernama agama. Elliot dan teman2 setimnya gugur (ah..ah.. kenapa pula gugur? kenapa bukan mati? atau wafat? atau terjagal? ya.. ya.. pada akhirnya parsialitas adalah sisi tak terpisahkan -mengasyikkan?- dari menulis) di ujung tombak suku Auca. Adalah istri Jim, Elisabeth Elliot bersama seorang lagi janda dari rekan setim Elliot yang kemudian meneruskan upaya pekabaran Injil pada suku Auca dengan hidup di tengah mereka dan membantu mereka secara medis. Kesaksian yang hidup, karena menurut istiadat lokal kematian meminta kematian sebagai bayaran. Singkat kata, rantai kekerasan yang sebelumnya jadi konsekuensi nilai-nilai lokal tadi terputus tergantikan dengan cara hidup yang lebih damai. Kematian Jim Elliot tak sia-sia.&lt;br /&gt;Tapi, yang lebih menarik perhatian saya adalah pengumuman ikutan hari Minggu lalu itu: yaitu meski gereja menyediakan film tentang hidup Jim Elliot untuk diputar buat anak-anak, namun gereja mengingatkan orang tua akan adanya adegan kekerasan di dalamnya. Saya cukup yakin kalau adegan kekerasan yang terselip di sana nggak sebanal, katakanlah, &lt;a href="http://happytreefriends.atomfilms.com/index.html"&gt;Happy tree friends&lt;/a&gt;. Justru karena itu konsernitas gereja terhadapnya jadi menarik. Orang tua dihimbau untuk nonton dulu, lalu memutuskan apakah mereka akan membiarkan anaknya nonton itu film..&lt;br /&gt;Di sini orang tua dilihat sebagai subyek yang dapat memahami sejauh mana dampak 'adegan kekerasan' (se-&lt;em&gt;mild&lt;/em&gt; apapun itu) terhadap (meminjam istilah Pram) pedalaman anak2nya. Sahihkah cara berpikir demikian? Mungkin. Meski selalu ada probabilitas bahwa penilaian orang tua meleset.&lt;br /&gt;Menilai orang lain, siapapun itu, bukan barang gampang. Apalagi menilai diri sendiri, wah buat saya itu aktivitas paling delusif. Ada begitu banyak layer, lapisan, vested interests (vested dari siapa ya?) yang bisa muncul timbul tenggelam mempermainkan diri dalam aktivitas menilai diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 190px; HEIGHT: 215px" height="328" alt="Image hosting by Photobucket" src="http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Playboy_logo.jpg" width="250" align="right" /&gt;Entah bagaimana, dan entah apa hubungan pastinya (mungkin karena keduanya mengasumsikan kemungkinan bagi &lt;em&gt;mere mortal &lt;/em&gt;untuk memahami diri sendiri dan manusia lain) demi mendengar pengumuman di gereja Minggu pagi lalu saya kok jadi teringat ke diskursus terbitnya &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Playboy"&gt;Playboy&lt;/a&gt; Indonesia ya.. Saya sontak teringat ke sarannya Sirikit Syah yang mengetengahkan kemungkinan pembatasan penjualan majalah semacam ke pembaca di atas usia tertentu. Argumennya adalah di atas usia tertentu seseorang sudah cukup 'dewasa' untuk memilih dan bertindak secara bertanggung jawab. &lt;em&gt;Hidden assumption &lt;/em&gt;nya, ialah bahwa manusia memiliki fase-fase seragam yang serupa pada tiap orang atau paling tidak pada sebagian besar umat (what an idea of victorian progress) menuju ke satu titik usia di mana ia akan punya otoritas untuk bisa memahami diri sendiri (dan memahami anak-anak mereka)...&lt;br /&gt;Waa... kapan ya saya sampai ke sana...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6430381-113907724787384063?l=laluwaktu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laluwaktu.blogspot.com/feeds/113907724787384063/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6430381&amp;postID=113907724787384063' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/113907724787384063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6430381/posts/default/113907724787384063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laluwaktu.blogspot.com/2006/02/saya-teringat-pada-playboy-minggu-lalu.html' title='Saya teringat pada Playboy minggu lalu di gereja'/><author><name>Boe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10284418331082555249</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://img.photobucket.com/albums/v405/ratnahadi/Picture15.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
